Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Perubahan ><


__ADS_3

Lima menit kemudian, Syifa dan Luis sudah bergabung dengan Zafran, Aska dan Zia. Zafran banyak mengomel karena Luis yang kalah bermain dengan Zia. Mereka terus bermain sampai tiga puluh menit lamanya. Setelah selesai mereka kembali ke lantai dasar.


"Sayang kamu mau ice cream?" tanya Zia pada Zafran. Zafran berfikir.


"Zafran gak punya uang aunty, tadi gak minta sama Daddy." jawab Zafran.


"Heyy, ada Ongkel Luis dan Samchon Aska yang beliin. Kamu tinggal pilih aja, mau nggak?" tanya Syifa. Zafran mengangguk, matanya berbinar-binar. Tangan kanan Aska menggenggam tangan Zia, tangan kirinya menggenggam tangan Zafran. Sedangkan Luis, tangan kirinya menggenggam tangan Syifa dan tangan kanannya menggenggam tangan Zafran. Zafran berada ditengah tengah Luis dan Aska.


Mereka pun pergi menuju kafe dalam mall yang menjual ice cream. Aska menggendong Zafran lalu menyuruhnya memilih ice cream yang dia suka. Saat Luis ingin membayarnya, Aska menolak.


"Gue aja," kata Aska.


"Oh yaudah" balas Luis, dia mengambil alih gendongan Zafran. Aska mengambil dompetnya, lalu membayar ice creamnya. Setelah itu, mereka berjalan ke salah satu meja dan menikmati ice cream yang dibeli.


Saat menikmati es itu. Ada seorang pria datang bergabung bersama mereka.


"Udah punya anak ya zia?" tanya pria itu. Mereka semua mendongak.


"Wah pak Roy, duduk pak." sahut Aska. Pria itu adalah Roy, Royerd Otesi. Zia dan Aska menyalimi tangan pak Roy, pak Roy pun duduk. Syifa dan Luis bertanya tanya.


"Guru SMA gue sama Zia" kata Aska.


"Luis pak, sepupu Zia" sahut Luis pada pak Roy.


"Istri Luis pak" kata Syifa menyalimi tangan pak Roy juga.


"Roy" kata pak Roy membalas mereka berdua.


"Apa kabar bapak? istri mana istri?" tanya Zia.


"Alhamdulillah baik, saya belum nikah" jawab pak Roy.


"Gak mungkin deh pak, masa iya bapak kalah sama saya" balas Aska.


"Ohh kamu mau sombong?" tanya Roy.


"Bisa dibilang begitu lah pak" kata Aska. Roy dan Aska tertawa.


"Kok bapak masih muda? Masih ganteng mirip Lee Min-ho" celetuk Zia.


"Hahahaha, bisa aja kamu Zia."


"Ini siapa? anak Aska sama Zia, atau anaknya Luis?" tanya pak Roy, pak Roy tau kalau Aska dan Zia sudah menikah. Pernikahan mereka yang mewah membuat banyak orang yang mengetahuinya.


"Anaknya bang Zean pak, ini keponakan kita" jawab Luis.


"Zafran ayo salam ke guru aunty" suruh Zia.


"Halo om, my name is Zafran Ferry Hitler. Zafran anaknya Daddy Zean sama mommy Febby" kata Zafran.


"Pinter banget kamu" sahut Pak Roy sambil mengacak rambut Zafran.


"Sama siapa disini pak?" tanya Aska mengalihkan pembicaraan.


"Sama istri saya, tuh disana" jawab pak Roy sambil menunjuk suatu toko.


"Tadi katanya gak punya istri pak" sahut Aska. Roy tertawa.


"Seorang pak Roy gak punya istri? mustahil sayang" kata Zia pada Aska. Mereka tertawa.

__ADS_1


Syifa yang dari tadi diam saya ternyata sedang mengamati gamis yang cocok dimatanya. Luis melihat arah pandang Syifa.


"Mau beli?" tanya Luis.


"Hem?" tanya Syifa balik.


"Kamu mau beli baju?" Tanya Luis lagi.


"Enggak, enggak" jawab Syifa.


"Gak usah malu malu fa, habisin aja duitnya Luis" kata Zia.


"Iya, Lulu banyak duit kok" sahut Aska.


"Serah kelen dahhh"


"Ayok" ajak Luis.


"Ongkel, mau kemana?" tanya Zafran.


"Tante Syifa mau beli baju, kamu mau nggak?" tanya Luis.


"Emmm.. baju Zafran banyak. Zafran liatin aja" jawab Zafran.


"Aunty gak beli baju?" tanya Zafran.


"Nggak"


"Nggak salah lagi" sahut Aska. Zia cengengesan.


"Ya udah ayok kesono" ajak Luis.


"Jalan aja samchon. Samchon sama ongkel pasti capek gendong Zafran" jawab Zafran.


"Kalau gak sama aunty sini" tawar Zia.


"Zafran jalan aja" Zafran menjawab sambil tersenyum manis.


"Ya udah, kalau gitu" balas Aska.


"Pak kita duluan ya" pamit Aska. Pak Roy mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun pergi menuju toko itu.


"Zafran jangan kemana mana, gandeng tangan samchon, aunty, tante, atau ongkel. Oke?!" tanya Syifa. Zafran mengangguk.


Mereka pun berjalan menuju toko.


Sesampainya di toko. Syifa, Luis, dan Zafran berjalan menuju baju gamis dan sebagainya. Sedangkan Zia menuju baju Hoodie.


"Hoodie kamu udah banyak, mau beli lagi? Mau dijual? Yang bener aja. Cari baju lain gih. Ntar dikata orang suaminya kagak mau beliin baju selain hoodie" suruh Aska.


"Masa bodo sama omongan orang. Aku suka Hoodie, Hoodie is my life" jawab Zia.


"Ya nggak gitu juga sayang. Cari baju lain dong. Lagian, kamu udah punya semua warna Hoodie" balas Aska.


"Mau pake apaan? Gaun? Emang mau istri kamu pake baju yang tubuhnya terekspos kayak pacarnya Zai?" tanya Zia.


"Ya nggak gitu jugaa sayang... Ah udahlah, emang bener perkataan orang. Cewek selalu benar" ujar Aska, Zia cengengesan melihat suaminya.


"Ngomong apaan tadi sama papa?" tanya Zia setelah berkeliling, dia tidak jadi membeli hoodie, lalu memilih menghampiri Syifa, Luis, dan Zafran.

__ADS_1


"Nggak ada, urusan kerjaan" jawab Aska.


"Kenapa gak kasih tau ak–"


"Ayok" ajak Syifa sambil menarik tangan Zia. Zia mengikuti Syifa yang membawanya menuju ruang ganti.


"Kamu cobain ini ya. Aku keluar dulu" kata Syifa lalu pergi meninggalkan Zia di dalam ruang ganti.


"Mana my bini?" tanya Aska.


"Lagi ganti baju" jawab Syifa. Mereka semua menunggu Zia keluar dari ruangan itu.


Cukup lama, ntah apa yang Zia lakukan didalam sana. Sampai akhirnya, Syifa menghampiri Zia.


"Zi, kamu masih hidupkan?" tanya Syifa.


"Masih kok, sello aja" balas Zia.


Beberapa menit kemudian, Zia keluar dari ruangan itu. Dengan menggunakan baju gamis berwarna cream dan hijab berwarna sama. Tampilannya yang berbeda, membuat banyak pengunjung menatapnya kagum. Bahkan sampai saat ini, Aska belum mengedipkan matanya.


••


Aska POV


Gue khawatir sama Zia, kenapa dia lama banget di ruangan itu. Pikiran pikiran buruk mulai bermunculan. Gue gelisah dan gak tenang. Gue takut kehilangan Zia, gue gak sanggup kehilangan sosok wanita yang gue cinta. Gue lihat syifa menghampiri ruangan itu. Dan ternyata Zia membalas perkataan Syifa. Gue lega karena Zia masih disana. Tapi, dia ngapain selama itu di dalam ruang ganti?


Setelah lama gue tunggu, akhirnya Zia keluar. Spectacular!! Pertama kalinya gue lihat Zia pake baju gamis dan hijab. She so perfect! Dia selalu sempurna di mata gue. Sekalipun dia pake daster, dia tetap cantik.


Gue beruntung punya Zia di hidup gue. Gue beruntung karena ketemu Zia. Gue bahagia bisa miliki Zia seutuhnya.


"Woi setan! Kedip!!" teriak Luis tepat ditelinga gue.


Sepupu laknat ya gini, gak bisa apa lihat gue menikmati pemandangan yang luar biasa ini.


"Diem deh ah!" gue balas teriak di telinga Luis.


Gue lihat lagi kearah Zia. Zia senyum, senyum yang sangat manis. Gak tau lagi gue mau bilang gimana, Zia super duper cantik pake pakaian syar'i kayak gitu.


Gue samperin Zia yang masih berdiri gak jauh dari ruang ganti. Gue kecup keningnya, habis itu gue peluk.


"Kamu cantik. Aku makin sayang" gue berbisik ke Zia. Zia gak ngebalas perkataan gue, tapi gue yakin dia senyum senyum.


Gue peluk Zia karena banyak para jantan yang ngelihat ke Zia. Bahkan mereka juga gak kedip sama kayak gue tadi. Makanya gue pilih buat peluk dia, yang tujuannya untuk kasih tau ke mereka kalau Zia milik gue. Dan gue milik Zia.


Author POV..


"Eh dugong listrik, kelamaan meluknya!" cibir Luis.


"Kenapa? Lo mau gantian peluk ISTRI gue?" tanya Aska masih sambil memeluk Zia. Dia membesarkan volume suaranya saat berkata 'ISTRI'.


"Gue punya Syifa, ngapain meluk bini Lo" balas Luis. Aska melepas pelukan Zia, mengecup keningnya lalu memeluk lagi.


"Huaaaaa.... Hiks hiks hiks" Zafran menangis.


"Eh, Zafran kenapa?" tanya Syifa. Aska melepas pelukannya dengan Zia dan menghampiri Zafran.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Aska.


"Samchon jaattt. Masa samchon pelukan sama cewek lain bukan sama aunty. Nanti Zap bilang sama opa. Huaaaa...." kata Zafran air matanya mengalir jauh, seperti rucika. Luis, Zia, Syifa, dan Aska pun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2