
"Eh bang udah dari tadi?" tanya Aska.
"Udah karatan gue nunggu kaliann!"
"Ya maap bang.." kata dimas.
"Mau makan gak? Kalau makan ke lantai dua."
"Eh ada Sam juga, Baguslah! Terus temen temen Zia yang cewek mana?"
"Itu bang" kata Ivan sambil menunjuk ke arah Qiara dan teman temannya.
"Pesen apa?" tanya Zean setelah semua tiba.
"Bang gak ada makanan?" tanya Dimas.
"Dih pengen gue gaprak. Kan udah gue bilang kalau mau makan kita ke lantai dua." jelas Zean.
"Pada mau makan? Ayok ke lantai dua" ajak Zean.
"Kafenya ajaib sih, masak tempat makan sama minum dipisah." protes Samuel.
"Namanya perbedaan." jawab Qiara. Zean pun melambaikan tangannya memanggil pelayan.
"Iya bos?" tanya pelayan.
"Bantu mereka ke lantai dua, saya mau nunggu seseorang disini."
"Oke boss" jawab pelayan.
"Sono, nikmatin ya. Ntar gue datang." Suruh Zean. Mereka pun pergi ke lantai dua.
Didalam lift.
"Ini kafenya siapa mbak?" tanya Alya.
"Ini kafe nona Zia mbak." jawab pelayan. Mereka semua pun terkejut.
"Semua desain dan biayanya itu dari nona Zia." lanjut pelayan.
"Wahhh.. gimana bisa kafe tingkat Zia sendiri yang biayain?" tanya Dimas. Mereka pun tetap diam.
__ADS_1
Dilantai satu, Zean sedang menunggu Febby datang. Karena Zean mengajak Febby ikut gabung malam ini. Gak lama setelah Zean menunggu Febby pun datang.
"Maaf lamaa" kata Febby saat tiba.
"Kalau nunggu princess emang harus sabar. Yaudah ayok ke atas, yang lain udh nunggu." Ajak Zean, lalu memegang tangan Febby dan berjalan menuju lift.
Setelah semua tiba di lantai dua.
"Itu bang Zean gandeng siapa?" tanya Ica. Mereka pun melihat kearah Zean.
"Kenalin pacar gue." Kata Zean saat sampai dimeja mereka.
"Febby Kania Syahwa" ujar Febby sambil tersenyum.
"Gue pikir lo jones bang" kata Aska asal jeplak.
"Ya nggaklah. Zean Yudhania Jonesss" kata Zean pamer.
"Eh bang ini beneran kafenya Zia?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
"Iya.. kafe dia, semua biaya, desain segalanya pokoknya ide dia." jawab Zean.
"Yang bener aja lo bang, kafe tingkat kayak gini masa iya dia yang biayain gimana bisa?"tanya Dimas lagi.
"Zia itu bisa bantuin bokap dikantornya, IQ dia diatas rata rata, jadi setiap bulan pasti ditransfer sama bokap, tapi dia orangnya hemat, jadi uangnya netep aja di ATM dia. Kemaren itu ntah terkumpul berapa, dia minta izin bikin kafe. Yaudah jadilah ini ZiCF." Jelas Zean.
"Susah amat bang bilang Z i c f" protes Dimas.
"Eh ini anak bisa dibuang aja gak sih kelaut? Banyak amat omongnya." Kata Qiara mereka pun hanya tertawa.
"Ngucapkannya itu Zi cafe." jelas Zean.
"Eh itu makanannya udh datang." kata Zean. Pelayan pun menatanya dimeja.
"Selamat menikmati" sapa pelayannya.
"Danke ahh maksud saya terimakasih." kata Zean. Pelayan pun meninggalkan mereka.
"Kebiasaan sih" protes Febby. Zean pun hanya cengengesan.
"Kak Febby tau bahasanya bang Ze?" tanya Alya.
__ADS_1
"Tau sedikit sedikit, Zean pernah ngajarin kakak"
"Kak Febby udah berapa lama pacaran sama bang ze?" tanya Tania.
"Dari awal masuk kuliah sampe sekarang, kakak gak pernah ngitung sih berapa lamanya." jawab Febby.
"Ketemunya gimana kak?" tanya Ica.
"Sebenarnya kakak sama Zean itu dulu sering banget berantem waktu SMA. Kami dulu satu SMA, jadi tuh pas masuk kuliah gak sengaja ketemu di kantin, sama sama kaget waktu itu karena dulu emang gak janjian kalau mau satu universitas. Beberapa hari setelah ospek, kami dijurusan yang sama dan di kelas yang sama. Hari tu ada tugas kelompok, Zean ngajak kakak kerjain bareng. Eh pas kakak ikut dia malah ngajak kesuatu tempat yang romantis banget, nah disitu dia ngajak kakak pacaran." jelas Febby.
"Roman romannya si Aska sama Zia bakalan kek gitu dah." kata Tania asal, Aska yang lagi makan pun tersedak.
"Pelan pelan geblek!" suruh Ivan.
"Gue diem dari tadi jadi sasaran juga kan." protes Aska, mereka pun tertawa.
"Emang Aska sama Zia kenapa?" tanya Zean.
"Mereka sering berantem bang. Aska pun sekarang udah beda bang, dia lebih sering ngomong, mau ngomong juga sama cewek. Kalau dulu, irit suara banget. Pernah ada suatu insiden bang, Zia itu mm.." omongan Ica terhenti karena Ivan menginjak kakinya karena duduk sebelahan.
"Insiden apa ca?" tanya Zean.
"Gak jadi bang.. udah lupa." kata Ica ngeles.
"Gak jelass. Yaudah lanjutin makannya." Suruh Zean.
Setelah selesai makan dan berbincang bincang, mereka pun pulang.
"Ica, hampir aja lo keceplosan kan" ujar Ivan mengingatkan.
"iyaaa.. mon maap namanya gue lupa" sahut Ica.
"Jangan bilang kebarbaran tu anak, kasian ntar ngamuk abangnya mangfus kita" sahut Ivan.
"yekan gue uda minta maap si pan, sensi amat jadi orang"
"yauda si jangan marah" sahut Ivan sambil mencubit pipi Ica.
"Woi, tolong ada saya yang jones disini." sindir Tania.
"Sama gue aja, mau gak?" tawar Dimas.
__ADS_1
"Gue buang ke kandang buaya ntar lu" ledek Tania. Mereka pun tertawa, dan beranjak pergi menuju rumah masing-masing.