
Beberapa hari setelahnya, hari ini hari Sabtu. Nanti malam, ada pertemuan tidak resmi antara Aska si pemilik Asz group dengan Aksa pemilik KSM group.
Entah mengapa namanya sama sama ada groupnya.
Pagi menjelas siang dini hari, Aska dan Zia berputar mengitari supermarket. Mereka ingin menyambut baik Aksa, meskipun belum tau kejelasan tentang pria yang mirip Aska ini.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Aska, dia sengaja tidak kerja karena dia tidak ingin kerja dihari Sabtu dan Minggu. Jika begitu, tugasnya akan menumpuk di hari Senin dan dapat dipastikan dia lembur.
·
Rafael dengan Kinan sudah berhubungan baik dengan ibu mereka. Dua hari setelah pertemuan, ayah Rafael menyusul dan memilih meninggalkan pekerjaannya. Pertama kalinya setelah Kinan dewasa, dia merasakan keluarga yang utuh.
·
"Emmm.. aku mau beli kemeja sama apa ya? Untuk ngantor" ujar Zia.
"Eh. Kamu gak boleh pake pakaian seksi di luaran. Pake hoodie aja sama celana panjang" balas Aska.
"Dih apaan. Malu maluin" jawab Zia.
"Loh sayangg.. kamu selama ini pake baju apa si?" tanya Aska.
"Pake baju kemeja terus pake celana sih. Setelannya kamu" jawab Zia cengengesan.
"Ya udah, kita beli baju setelan ku. Kamu yang pake. Eh nggak, kita kongsian" balas Aska.
"Is, kamu tuh. Kayak gak bisa beli baju aja sampe kongsian" ujar Zia sambil memanyunkan bibirnya. Aska gemas lalu mengecupnya sekilas.
"Yaudah gak kongsi, tapi bajunya kayak setelan ku" Zia berdehem.
"Terus ini udah?"
"Ya belom dong. Aku belom beli cemilan, belom beli es krim" jawab Zia.
"Is kamu tuh hobi banget yang manis manis. Pantesan suaminya manis kek gini" ujar Aska.
"Dih kamu mah kepedean" Aska senyum sambil menampakkan deretan giginya yang rapi. Mereka terus berkeliling mencari apa yang kurang. Kali ini bukan pembantu yang masak untuk Aksa, tapi Zia. Itu atas usul Aska.
—•~•–
"Ay, bagusan peach atau item?" tanya Zia.
"Peach" jawab Aska
"Is tapi aku pengen item"
"Kenapa tanya kalau gitu sayang? Lagian kamu cewek, jangan keseringan pake item deh" suruh Aska.
"Oke oke, abu abu aja" balas Zia.
"Astaghfirullah sayang. Kamu kan nanya nya item atau peach kenapa yang dipilih abu abu?"
"Is aku bingung ayyy, kamu malah bikin tambah bingung" keluh Zia.
"Ya udah, biar aku yang pilihin" Zia mengangguk. Aska pergi berkeliling. Setelah itu dia menghampiri Zia dengan membawa beberapa baju setelan.
"Ay navy bagus tau di kamu" kata Zia.
"Aku bagus pake apa aja sayang, apalagi kalau yang pilihin kamu" balas Aska.
"Sa ae kutil badak" ujar Zia sambil tertawa.
"Eh ini mah yang beli baju kamu, bukan aku"
"Kamu tinggal pilih loh sayang"
"Aku bingung" jawab Zia.
"Emm.. aku ambil navy. Kamu ambil peach, abu abu tua, samaaa..."
"Ini" Zia menunjuk warna hitam.
"Kok hitam sih? Nggak ganti, tunggu aku pilih dulu"
"Samaaa krim aja kali ya? Kan bagus nih" kata Aska.
"Eh iya, yaudah ini. Aku tiga kamu cuma satu?" tanya Zia.
"Nggak, aku ambil satu lagi warna hitam" jawab Aska.
__ADS_1
"Is kamu mah, eh tapikan warna hitam dirumah banyak"
"Nggak banyak, cuma dua" balas Aska.
"Lebih dari satu itu banyak" ujar Zia.
"Iya sayang iya"
"Ay, coba muter balik" suruh Zia.
"Ngapain?"
"Puter balik aja" suruh Zia lagi. Aska pun berputar.
Dia melihat ada Bian dan Lindi yang menuju ke toko yang mereka datangi.
"Bagus deh kalau mereka berdua, jadi gak ada lagi pemisah di hubungan kita" Aska merangkul Zia. Zia mengangguk setuju dengan perkataan Aska.
∞·∞
"Ntar malem kan?" tanya Zia. Aska berdehem.
"Rap datang?" Aska menggelengkan kepalanya.
"Gak usah ngomong aja sekalian" balas Zia.
"Dih dih ngambek, sayangnya Aska ngambek. Jangan ngambek dong" bujuk Aska. Zia tidak perduli dan berfokus pada Drakor yang ada di laptopnya. Sedangkan Aska bermain game di sebelah Zia.
"Ay.. kok aku pengen rujak yang kayak di Bali waktu itu?" tanya Zia.
"Kamu mau? Itu kan jauh"
"Yaa.. tapi aku pengen banget"
"Kamu ngidam? Aska junior?" tanya Aska.
"Apaan sih, gak usah kejauhan mikirnyaa" balas Zia.
"Bisa jadi sayang" ujar Aska.
"Is"
"Caranya?"
"Suruh rap"
"Dih gak usah nyusahin orang" balas Zia.
"Jadi kamu mau nyusahin siapa?"
"Kamu"
"Aku bukan orang?" tanya Aska.
"Hah apa gimana?"
"Kamu bilang jangan nyusahin orang, kan aku orang"
"Is bukan gitu lo ayy" balas Zia kesal. Aska tertawa.
"Kamu mau aku pergi ke Bali buat beli itu?"
"Gak jadi, aku pengen burger"
"Beneran ada Aska junior nih pasti" Aska bersiap siap lalu pergi mencari burger.
"Iyakah? Ih kok takutnya nggak, kalau nggak gimana? Kecewa pasti? Hyaaa" keluh Zia. Dia pergi mendekati cermin.
"Emm.. kok rada aneh sih? Ah gak tau ah. Gak beraniii" Zia kembali ke laptopnya.
-
Lima belas menit berlalu, Aska kembali dengan paper bag berisi burger yang Zia mau.
Zia mengambil satu lalu memakannya. Baru sekali gigitan, dia merasa mual lalu berlari ke kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapaa?" tanya Aska panik. Dia memeriksa burger yang dibeli, tapi tidak ada hal yang aneh didalamnya.
Setelah semua makanan yang dimakan keluar, Zia kembali ke tempat tidur dengan muka pucetnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" tanya Aska masih panik.
"Aku gak apa apa, paling masuk angin" jawab Zia. Tanpa ba-bi-bu, Aska menggendong Zia lalu membawanya kerumah sakit.
~‘·-·’~
"Selamat, kalian berdua akan jadi seorang ayah dan ibu" ujar dokter.
"Nona Zia sudah mengandung selama empat Minggu" lanjutnya.
"Se- serius dok?" tanya Aska. Dokter itu tersenyum. Aska dan Zia berpandang pandangan dengan senyum yang sangat lebar.
"Ini vitamin untuk nona Zia. Jangan lupa diminum ya"
"Baik dok, terimakasih ya dok"
"Sama sama" Aska dan Zia pun keluar dari ruangan dokter. Aska langsung memeluk Zia karena kebahagiaannya. Zia membalas pelukan erat dari Aska.
"Makasih sayang" ujar Aska. Zia tidak membalas tapi tersenyum bahagia. Aska melepas pelukannya lalu mengecup kening Zia. Setelahnya Aska menggenggam erat tangan Zia lalu pergi ke mobil.
"Berarti, waktu kita di Bali kamu udah hamil?" tanya Aska saat dijalan.
"Mungkin, aku gak tau" jawab Zia.
"Huh.. untung bukan kamu yang ketembak kemaren" ujar Aska sambil mengelus pipi Zia. Zia tersenyum sangat lebar.
·
Sesampainya dirumah, mereka masih bergandengan tangan. "Nanti yang masak untuk Aksa mbak Jum aja ya, aku gak mau kamu kecapekan" pinta Aska.
"Nggak usah aku aja" tawar Zia.
"Sayang"
"Boleh ya" Zia menatap Aska dengan puppy eyesnya.
"Is kamu tu, yaudah iya. Tapi jangan sampe kecapekan" Zia mengangguk, lalu mengecup pipi Aska. Setelahnya dia berlari menuju kamar.
"Jangan lari lariiii" teriak Aska.
"Gaaakkkk dengerrrrr" balas Zia cengengesan. Aska pun menyusulnya sambil berlari juga.
•'≈|≈'•
Malam harinya..
Aksa datang bersama dengan Refiona.
"Wah benar benar sukses sekali anda tuan Aska, rumah anda begitu mewah" ujar Aksa.
"Bisa aja. Sepertinya agak canggung jika kita menggunakan bahasa formal, bisa kita pakai bahasa non formal?" Tanya Aska.
"Ah tidak masalah" jawab Aksa.
"Zia dimana?" tanya Refiona.
"Ah itu lagi bantu bantu di dapur" jawab Aska.
"Kenapa bukan pembantu?"
"Kedatangan kalian begitu istimewa, jadi kami juga ingin menyediakan yang istimewa" jawab Aska.
"Bisa saja" balas Aksa , mereka cengengesan.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah selesai makan malam. Dan sedang berkumpul diruang keluarga.
"Emm Aska" ujar Aksa. Aska tidak menjawab tapi menatap Aksa.
"Lo tau kan siapa gue? Gue Aksa. Aksa Kusuma" ujarnya.
Deg! Deg! Deg!
Cubit gue sekarang juga! Batin Aska.
"Gue bener bener Aksa, anak papa Hans" Aska beranjak lalu memeluk Aksa.
"Maaf gue keluar terlalu lama" Aska melepas pelukannya.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa? Kenapa lo baru muncul?" tanya Aska.
__ADS_1
"Jadi gini.."