
"Papa sudah kasih kamu waktu, mengapa kamu tidak menyelesaikannya, Zean? Lama sekali kamu!!"
"Zean... Zean udah nyari, pa. Tapi gak ketemu."
"Kamu itu laki-laki, Zean, panutan adek-adekmu. Jadi jangan lemah, mengapa tugas begini saja kamu tidak bisa melakukannya??!"
"Pa udah, pa, kasian Zee."
"Tidak bisa, ma. Dia seorang abang, kalau selau begini, seterusnya dia tidak bisa diandalkan." Zean menunduk, terasa tatapan tajam dari papanya. "Papa bangga padamu untuk beberapa bulan yang lalu, tapi sekarang kamu membuat papa kecewa."
Papanya diam sejenak. "Sesuai kesepakatan, semua fasilitas kamu papa sita. Pergilah ke kampus jalan kaki."
"Tapi, pa.. gimana Zean mau menemukan pelakunya jika Zean tidak punya fasilitas yang cukup?"
"Jangan terlalu banyak alasan. Papa sudah kasih kamu waktu, kamu yang sia-siakan begitu saja, kan? Itu salah kamu. Kamu lambat, Zean, lambat! Sudah, tidak usah bicara lagi sama papa sekarang."
"Pa.. jangan gitu dong, pa. Pa? Papaaa? Jangan dong, paa, Ze mohon jangann..."
Byurrr!!
"Cukup membagongkan, mimpi apa belio ini?" tanya Zai heran sambil berkacak pinggang. Zean yang disiram air seember pun akhirnya terbangun. "Haa, bangun juga kau, bang."
Zean duduk terdiam sembari ngos-ngosan. "Huh huh huh.. untung cuma mimpi," gumamnya. Zai mengerutkan alisnya, benar-benar heran. "Mimpi apaan lu, bang? Tumben banget sampe segitunya?"
"Gue mimpi papa pulang, marah-marah sama gue karena belom nuntasin kasus Zia," jawab Zean mengusap kasar wajahnya lalu mengambil ponsel.
^^^Syila? Gue nitip absen sama lu yaa? Gue ada urusan beberapa hari ke depan gak bisa ditunda. Jadi tolong kerjasamanya.^^^
Zean langsung mematikan teleponnya setelah mengatakan kalimat itu. "Lu prepare cepat. Berangkat sekolah nanti gue ikut."
"Bang jangan gila, bang. Sekolah gue bakal rame ntar kalau lu dateng," larang Zai. "Gue cuma mau ketemu Aska sama Ivan, gak yang lain. Udah sono cepet." Zai pergi bersiap dan Zean pun sama.
Selesai sarapan mereka pergi ke sekolah dengan dua mobil. Keduanya mendadak jadi pusat perhatian karena kendaraan yang dibawa Zean merupakan idaman banyak orang. Ditambah lagi muka Zean yang tampan, berhasil menggaet hati para siswi.
"Zai, anterin gue ke kelas Zia, " suruh Zean. "Lu tu kudu laporan dulu kalau mau masuk ke kelas, bang."
__ADS_1
"Udah aman itu ntar, anterin aja gue dulu." Mau gak mau, Zai membawa Zean menuju kelas Zai.
"Guru baru apa?" tanya Ica dan yang lain ketika melihat Zean. "Kok ganteng ya?" Jimmy auto menutup mata Alya.
"Sensor. Alya sold out!" ujar Jimmy, mengundang gelak tawa. Tanpa disadari, Zean sudah tiba di kelas Zia. Zai pun langsung pergi dengan alasan mau nyontek tugas di kelas.
"Permisi, gue mau tanya, Brivant Alexand sama Aska ada di mana ya sekarang?" tanya Zean. "Mereka di kantin, bang," sahut Samuel.
"Okee, thanks, Sam." Zean keluar, baru satu langkah jalan, Zean berbalik. "Sam, bisa tunjukkan jalannya ke gue?"
"Sama gue aja gimana, bang?" tawar Joshua, Zean mengangguk. "Boleh, ayo." Keduanya pun berjalan bersama menuju kantin.
Joshua penasaran, sangat penasaran. Ia memberanikan diri untuk bertanya. "Abang siapa? Ada perlu apa sama dua anggota kelas saya?" tanya Joshua.
"Ada hal penting," jawab Zean singkat.
Sementara itu kelas 12 IPA 3 sedang ribut.
"Sam, lu kenal?" tanya Qiara. "Kenal, itu abangnya Zia."
"Ganteng banget cokk, keluarga Zia gak ada yang gagal rasa gue. Zai ganteng, abangnya juga ganteng bangeett anjayy," kata Qiara. Samuel menatap Qiara tajam.
Merasa mendapat tatapan tajam, Qiara menatap Samuel dengan senyuman. "Kamu ganteng juga kok, hehe."
...—·—...
Sesampainya Zean di kantin, Joshua langsung berpamitan pergi setelah membeli permen karet. Zean sendiri datang mendekat ke arah Aska, Ivan dan Dimas. Mereka terkejut.
"Lhoo, bang? Lu ngapain di sini?" tanya Aska. "Doyan bolos kan kalian bertiga? Ayok ikut gue sekarang," ajak Zean.
Walaupun bingung mau diajak ke mana, mereka bertiga manut mengikuti Zean. "Bang, gue sama yang lain lewat belakang. Ntar lu ke basecamp kita aja, ngobrolnya di sana."
"Dia gak tau basecampnya begooo," sahut Dimas. "Oh iya anjrit, bener."
"Ke kafe yang ada di depan tu aja, agak depan banget yang bukan deket sekolah. Tau, kan?" Mereka mengangguk. "Oke, gue tunggu."
__ADS_1
Zean pergi duluan dari depan, sementara ketiga manusia itu lewat belakang. Setelah berhasil lompat pagar, mereka pergi ke kafe yang Zean sebutkan.
"Apaan, bang? Kenapa buru-buru?" tanya Ivan setelah sepuluh menit berlalu, mereka juga sudah memesan minuman. "Sebelum itu, ini cecunguk satu siapa?" tanya Zean sambil menunjuk Dimas.
"Temen gue juga, bang. Dia juga bisa bantu kita kok," jawab Aska. "Gue Dimas Pradesh, bang," kata Dimas mengulurkan tangannya.
"Zean Yudhania Adler, abangnya Zia."
"Ini udah hari ketiga Zia di skors tapi gue belum dapet bukti apapun. Kalau kalian tau sesuatu tolong kasih tau gue sekarang."
Aska mulai menceritakan segala kejadian yang dialami Zia, mulai dari tragedi di kantin sampai feeling mereka tentang kasus pemfitnahan Zia. Zean yang mendengar merasa geram, tidak terima adeknya diperlakukan seperti itu.
"Oh anak kepsek ya? Gue yakin pasti mereka sekongkol. Di mana rumahnya? Ayok anterin gue." Mereka beranjak.
"Kalian bertiga naik apa tadi?"
"Taksi, bang," jawab Dimas mewakili. "Kalian naik mobil gue aja kalau gitu." Ketiganya menurut.
Zean membawa mobilnya dan menuju ke bank sebentar untuk mengambil uang. Lalu mereka pergi menuju komplek perumahan Nabila. Mereka menunjuk masih sambil di dalam mobil memantau.
"Kosongkan rumahnya?" tanya Zean. "Iya, bang, cuma ada satu art sama satpam sih setau gue."
Zean turun disusul ketiga 'anak buahnya'. Mereka masuk ke rumah itu dan meminta rekaman CCTV dari seluruh penjuru rumah Nabila. Tentu satpam tidak mengizinkan mereka.
Demi melihat rekaman CCTV itu, Zean rela mengeluarkan uang tiga ratus ribu sebagai sogokan. Satpam itu pun akhirnya mau menunjukkannya.
"Ternyata itu gunanya ke bank tadi," gumam Dimas yang hanya didengar Ivan. "Kalau punya banyak duit, apapun bisa kita lakuin, Dim."
"Jadi semangat mau kaya gue."
"Sekolah aja demen cabut lu pada" sahut Zean yang ternyata dengar. "Anjayy. Agak tertampar, tapi gakpapa. Bolos itu enak."
"Bocah kesesat."
^^^Revisi, 2023.^^^
__ADS_1