Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Sekeluarga pada bacott


__ADS_3

Setelah mereka makan, Bian mengantarkan Zia pulang.


"Thanks udah anterin gue pulang. Gak mau mampir dulu?" tanya Zia. Mereka berdua sedang di luar mobil.


"Nggak deh kayaknya, udah malem. Besok ngampus" ujar Bian.


"Ngadi ngadi lu, besok Minggu" jawab Zia.


"Hah masa iya?" tanya Bian, dia langsung mengambil hpnya dan melihat kalender.


"Lah iya Minggu. Mau ngedate?" tanya Bian.


"Emmm.. kabarin aja besok" jawab Zia.


"Oo yaudah" lanjut Bian.


"Sini deket" suruh Bian.


"Buat apaan?" tanya Zia heran. Bian pun berjalan dan berdiri dibelakang Zia. Dia memasang kalung yang sangat cantik pada Zia.


"Jagain baik baik, gue balik" bisik Bian


"Geliii" balas Zia


"Iya gue jagain kok" jawab Zia.


"Balik gih udah malem."


"Eh kok disuruh balik?" tanya Zeva.


"Lah mama sejak kapan disitu? Gaib bangett'" sahut Zia.


"Sembarangan, kamu fikir mama apaan?"


"Mampir dulu Bian sini. Maafin Zia yang ngusir kamu" ujar Zeva.


"Zia gak ngusir maaa"


"Zia gak ngusir kok tante, udah malam jadi Bian mau pulang aja" pinta Bian.


"Nggak usah, ayok masuk. Masukkin mobil kamu ke garasi. Ada kejutan di dalam rumah" suruh Zeva


"Kejutan apaan? Calon mertua Lo modus kak" bisik Zia pada Bian dan tanpa sengaja dia mengatakan kata 'kak'.


"Zia mama denger" sahut Zeva.


"Udah ayok masuk." Ajak Zeva paksa.


"Pak win tolong masukkin mobil Bian ke garasi ya" suruh Zeva pada satpamnya.


"Siap nyonya" jawab pak win lalu memasukkan mobil Bian ke garasi.


"Awas aja mama nipu ya" wanti Zia. Zeva tidak menjawab dan melanjutkan jalannya masuk rumah. Pintu pun terbuka, mereka masuk.


"Gak ada apa apa pun, mama ngadi ngadi" jawab Zia. Zia pun jalan dengan santuy dan terhenti saat tiba diruang keluarga.


"Tante Yossie, Grossmutter, grossvater. Ongkellll" teriak Zia lalu datang memeluk Yossie.


"Kapan sampe? Kok gak kasih tau Zia? Baby Lucas mana?" tanya Zia bertubi-tubi.


"Banyak tanya lu ya" sahut Zean.


"Suka suka gue dong ya," jawab Zia. Mereka tertawa melihat pertikaian penuh candaan diantara mereka


"Tante doang yang di peluk? Ongkel nggak?" tanya Lee.


"Nggak" jawab Zia tegas.


"Kenapa? Karena udah punya calon suami?" tanya Lee


"Bukan ongkell" jawab Zia.


"Jadi apa?"


"Ntar Luis marah" jawab Zia lagi.


"Lah kok guee?" Tanya Luis.


"Ya iyalah, Lo gak inget dulu. Setiap gue meluk ongkel Lee, Lo marah marah terus nangis" jawab Zia.


"Huaaaaa, papa Luis di ambil samaa ziaaaaa" ledek Zean dan Zia bersamaan. Sepersekian detik mereka tertawa mengejek lalu bertos.


"Lah emang gitu?" tanya Luis.

__ADS_1


"Kok gue gak tau?" tanya Zai.


"Lo masih kecil gak tau apa apa" jawab Zean.


"Masih inget aja ya kalian" sahut Yossie.


"Ya jelas dong Tante" jawab Zia.


"Udah udah, kasian si Luis nya" lerai Zeco.


"Mereka emang tega om" ujar Luis dramatis.


"Utututu, bayi dugongg" sahut Zia.


"Zia" panggil grossmutter


"Eh? Iya grossmutter?" tanya Zia.


"Kamu dari tadi godain Luis, itu cowok yang disebelah kamu gak dikenalin?" tanya Grossmutter.


"Oh iya sampe lupa"


"Ini Bian, calon suami Zia beberapa tahun lagi" ujar Zia.


"Bian, ini grossmutter, grossvater, ongkel Lee, sama Tante Yossie." Ujar Zia sambil menunjuk mereka.


"Dia gak tau dudung, emang rada begoan lu ya" sahut Zai.


"Eh iya ya" ujar Zia.


"Itu grossmutter di Indonesia bilangnya nenek, mama bokap gue. Itu grossvater di Indonesia bilangnya kakek, papa bokap gue. Itu ongkel Lee, abangnya papa gue, bokapnya si Luis. Itu Tante Yossie, istrinya ongkel Lee nyokapnya Luis" jelas Zia.


"Oh hai, saya Bian, calon suami Zia" ujar Bian dengan bahasa Jerman.


"Lah kok lu tau bahasa Jerman?" tanya Zia.


"Kamu lupa Zia? Calon suami kamu itu pebisnis muda terkenal yang sampe luar negeri. Masalah bahasa gampang sama dia" jelas Zeco.


"Oo hah eh?" tanya Zia heran. Bian hanya tertawa. Tingkah Zia emang selalu bisa bikin mereka tertawa.


"Ongkel Lee sama yang lain ngapain ke Indonesia?" tanya Zia.


"5 hari lagi kamu tunangan Zia, lupa?" tanya Lee. Zia dan Bian terkejut, '5 hari lagiiiii??' tanya Zia dalam hati.


"Kan yang kemarin ditunda Zii" jawab Zeco.


"Lah? 5 hari lagi lagi?" tanya Zia terus menerus.


"Jadi manusia pikun banget" cibir Zean.


"Gue gak ada dikasih tau iprit, bukan pikun" balas Zia.


"Dah lah bodoamat, terserah. Baby Lucas mana tan?" tanya Zia


"Tante tinggal" jawab Yossie


"Lah yakali ditinggal" jawab Zia.


"Ini Lucas sama mama" sambar Zeva.


"Baby lucass," panggil Zia, Zeva memindahkan gendongan Lucas ke Zia.


"Gemoyy ya kamu" ujar Zia.


"Udah cocok kamu jadi mama muda" ledek Grossvater.


"Mama muda? Kayak lirik lagu di tiktok. Udah ah nceng, Zia mau ke kamar"


"Dih baper amat, ajaib nih kakak gue" sahut Zai.


"Maap anda siapa"


"Anjayyy dalemmmm" ledek Luis. Mereka pun tertawa sekaligus menggelengkan kepala.


"Gue capek zayii. Bukan baper" jawab Zia sambil menyubit pipi Zai.


"Sakit kak" protes Zai.


"Kalian pulang kok gak bilang bilang? Cokelat buat Zia mana??" tanya Zia.


"Dikamar kamu" jawab Lee.


"Nah gitu dong ongkel, pengertian" ujar Zia lalu berlari menuju kamarnya. Saat tiba dikamarnya, Zia melihat ada kotak berukuran sedang. Saat dibuka ternyata isinya penuh dengan coklat kesukaan Zia.

__ADS_1


"Demi apaa? Dibeliin sekotak penuh ukuran sedang" gumam Zia. Dia buru buru mandi, mengganti bajunya dengan baju tidur. Mengambil satu cokelat membuka dan memakannya sambil turun menghampiri keluarganya.


"Putri baju tidur udah datang" cibir Zean, Zia hanya menyueki saja sambil terus memakan cokelatnya.


"Pengertian banget si ongkel" ujar Zia


"Gue bagi dong" minta Zai.


"Ogah, beli sendiriii" suruh Zia.


"Nyelekit banget ngomongnya ni anak sumpah" protes Zai.


"Ntar gue kasih" ujar Zia, Zai pun tersenyum lebar.


"Seperempat" lanjut Zia.


"Kampret, seperempat doang?" tanya Zai.


"Seperempat kotak" sahut Bian.


"Bukan, seperempat potongan cokelat" jawab Zia asal lagi lagi mereka tertawa. Kemudian Zia duduk disamping Bian. Bian melihat Zia makan belepotan. Bian mengambil tissue dan mengelapnya.


"Duh gue sendiri jones disini" sahut Luis.


"Tenang bang, ada gue" jawab Zai.


"Terus? Ya kali gue sama Lo. Jeruk makan jeruk dong jadinya" jawab Luis.


"Ya Allah, gue dibuli mulu malam ini" ujar Zai dramatis. Semua orang tertawa melihatnya.


"Bian, kamu nginep disini aja ya." suruh Grossvater


"Tidur disebelah kamar Zai" sambung Zeco.


"Jadi ngerepotin om," ujar Bian tidak enak.


"Udah gak apa apa" jawab Lee.


"Dududuuduuu" sahut Zia


"Gak tau lagi mo bilang apaan, anak gue gini amat tingkahnya" balas Zeco. Semua tertawa mendengar perkataan spontan dari Zeco.


"Kalau boleh Bian tau, Luis kok sebaya sama Zia? Bukannya ongkel Lee abangan om Zeco?" tanya Bian hati hati.


"Papanya Luis telat lakunya Bian" jawab Zeco.


"Enak aja, kamu yang kecepatan nikah sama Zeva." protes Lee.


"Lah nggak, Abang aja yang kelamaan ngeresmiin Kak Yossie." protes Zeco nyolot.


"Lah pantesan kita bertiga sering berantem. Papa sama ongkel Lee juga gitu," protes Zean.


"Iyak betull" jawab Zai.


"Lah?" tanya Zeco dan Lee bersamaan.


"Tumben Zia gak nyamber?" tanya Febby sambil menuju dapur tanpa melihat Zia. Mereka melihat ke arah Zia. Ternyata Zia sudah tertidur dan bersandar di bahu Bian.


"Udah tidur anaknya? Cepet bangett" tanya Zean.


"Kecapekan mungkin," jawab Grossvater.


"Bian gendong ke kamar dulu ya" pamit Bian. Dia pun menggendong Zia dan menuju kamarnya.


"Kalem banget muka dia kalau ketiduran gitu" protes Zai.


"Emang muka kalem dia tu, tingkahnya aja yang gak bisa kalem" jawab Zean.


"Semoga aja Bian suami yang cocok buat Zia" ujar Lee.


"Iya" jawab mereka bersama, lalu pergi ke kamar masing masing. Mereka memutuskan untuk tidur karena orang yang ngebadut juga udah tidur.


-


Dikamar Zia, Bian meletakkan Zia dikasurnya dengan hati hati. Lalu dia menyelimuti Zia agar tidak kedinginan.


"Good night, semoga Lo mimpi indah" ujar Bian setelah mencium kening Zia. Lalu dia keluar dari kamar Zia. Zai menunggu Bian didepan kamarnya. Ketika Bian keluar dari kamar Zia, dia terkejut melihat adanya Zai.


"Kayak hantu aja dah" protes Bian.


"Maap bang bi, ini kamar Lo. Disebelah kamar gue" ujar Zai.


"Oh oke. Thanks. Selamat malam" ujar Bian lalu masuk ke kamar yang ditunjuk Zai. Zai pun juga masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2