
Hari sudah malam, keluarga besar Hitler sedang makan bersama. Semua berkumpul dimeja makan dan menikmati makanannya.
"Jadi Zia, kamu ingin kuliah dimana? Rusia, Jerman, atau di Indonesia?" tanya Grossvater.
"Indonesia Grossva. " Jawabnya.
"Kamu yakin?" Tanya grossmutternya gantian.
"Yakin seratus persen grossma" jawab Zia.
"Lalu kau Luis?" tanya Lee.
"Jika papa mama grossmutter dan grossvater mengizinkan aku ingin berkuliah di Indonesia menjaga sepupu ku yang paling kalian sayangi" jawabnya.
"Grossmutter mengizinkan kamu"
"Grossvater juga"
"Papa.. mengizinkan mu"
"Mama?" tanya Luis.
"Terserah padamu, keputusanmu akan mama dukung" jawab Yossie.
"Okesip jadi nanti tuan Luis kuliah di Indonesia?" tanya Zia.
"Ya, aku akan kuliah di Indonesia" jawab Luis.
"****** tuh Big Bang University." Sambung Zai.
"Kenapa?" tanya Zean.
"Gak Lo liat nih bang? Satu bule blasteran sama bule asli bakal kuliah disono. Waduh bakal histeris pasti. Aduh gak kebayang gue"
"Gejala gila nya kambuh" respon Zia. Yang lain hanya tertawa. Hp nya berdering tanda ada yang menelponnya.
"Zia sudah selesai makan, Zia ke taman dulu ada telepon"
"Kau seperti orang sibuk yang ditelpon setiap saat"
"Oh ayolah Luis, mereka susah hidup tanpa kehadiranku" jawab Zia.
"Penyakit narsisnya kumat" balas Zai semua hanya tertawa, Zia pun meninggalkan meja makan dan mengangkat teleponnya.
*Zia; iya halo? Ada yang bisa saya banting?
📞 Ivan; lo lupa jalan pulang menuju Indonesia?
Zia; ada apa bivan?
📞 Ivan; gue rindu, cepat pulang.
Zia; wah benarkah?
📞 Ivan; Lo kuliah dimana sih sebenarnya? Jerman? Rusia apa Indonesia?
Zia; Indonesia!
Zia; Lo tuh ya gak sabaran. Sama aja kayak icak
📞 Ivan; hah?
Zia; tau ah!
Zia mematikan teleponnya.*
"Deerrr" Luis mengejutkan Zia.
"Luisss" panggil Zia dengan nada kesal
__ADS_1
"Cemberut? Kenapa?" tanya Luis.
"Gak kenapa kenapa" jawab Zia.
"Ayok masuk, grossvater memanggil mu" suruh Luis, Zia pun mengikuti.
Saat masuk Zia terkejut melihat semua orang sudah membawa barangnya, dan didepan sudah ada helikopter yang Zia tidak tau kapan dia stand bay disitu.
"Ada beberapa perusahaan papa bermasalah. Kita harus pulang sekarang!"
"What? Sekarang? Aku belom mengemas barang pa" keluh Zia
"Barangmu sudah di mobil." Ujar Yossie.
"Benarkah tan?" tanya Zia, Yossie hanya mengangguk sambil menggendongi Lucas.
"Iya, ayo masuk." ajak Luis menuju helikopter.
"Helikopter?" tanya Zia.
"Cepat sayang. Waktu kita tidak banyak." Ajak Zeco.
"Baiklah" Zia berjalan mendekati Yossie dan menggendong baby Lucas, Zai menarik tangannya secara tiba tiba untuk masuk ke helikopter, Zia melepas tarikannya dan memberikan Lucas pada Yossie. Hampir saja baby Lucas ikut dengannya ke Indonesia.
"Maaf Tante, si Zai emang rada rada"
"Hahaha yaudah iya, gak kenapa kenapa. Kalian hati hati. Luis jangan terlalu banyak membuat kasus" ujar Yossie.
"Iya maa" jawab luis, kemudian mereka terbang ke udara menggunakan helikopter pribadi papanya.
Didalam helikopter
"Zia, bantu kelola perusahaan papa HzIn. Beberapa data bocor, papa tidak tau siapa yang melakukannya" ujar Zeco membagi tugas.
"Zean, bantu di perusahaan ThsHz. Ada informasi tentang para gangster yang mengincar barang itu. Barang langka yang memang selalu diperebutkan."
"Luis, bisa kamu bantu Zean?" tanya Zeco
"Bisa om." jawabnya
"Zai?"
"Apapun akan kulakukan" ujar Zai
"Bantu papa di perusahaan FvZ"
"Siap pa."
"Mama hati hati dirumah sama Febby. Papa akan tambah bodyguard untuk kalian" suruh Zeco
"Pa tidak apa apa jika Zia ikut?" tanya Zeva.
"Mama tenang aja. Zia gak apa apa kok" jawab Zia. Mereka pun cemas. Apa yang terjadi selanjutnya.
Saat di helikopter. Zia mendouble seluruh pakaiannya menjadi warna hitam agar terlihat misterius. Dia mengikat rambutnya sangat pendek dan memakai topi dan masker agar dianggap seperti pria. Dia memakai baju yang agak besar untuk penyamarannya. Begitu juga dengan yang lainnya.
____
Zia tiba di Indonesia pagi hari dan langsung menuju HzIn. Kekacauan terjadi dimana mana 'ini pasti ulah orang dalam' batin Zia.
Zia pun menuju ruangan papanya, membuka laptop yang dibawanya. Mengecek semua kamera tersembunyi yang diletakkan dengan sengaja, juga ada perekam suara yang diletakkannya ditempat tersembunyi. Tidak berlama lama dia menemukan orang yang melakukan semua ini. Dan ternyata tepat dugaan Zia, semua terjadi karena ulah orang dalam yang masih bekerja didalam perusahaan ini.
"Tolong panggilin saya Mr. Kiw." suruh Zia pada sekretaris papanya.
"Baik tuan" suara Zia yang dibuat serak serak basah mengira bahwa dirinya pria. Mr. Kiw masuk ke ruangannya.
"Ada apa tuan?" tanya nya tanpa rasa bersalah. 'menjijikkan' batin zia
"Anda?" tanya Zia.
__ADS_1
"Kiw, tuan ada apa?"
"Saya tau anda Kiw. Apa jabatan anda disini"
"Bagian penyimpan data"
"Lalu mengapa? MENGAPA SEMUA DATA BISA BOCOR?" teriak Zia, kiw hanya diam dan sekujur tubuhnya berkeringat. Ruangannya yang Zia gunakan pintunya terbuka, semua karyawan pun bisa mendengar teriakannya.
"Tuan Zeco marah? Benarkah?"
"Kapan tuan Zeco datang? Bukannya dia sedang di Jerman." bisik para karyawan. Zia mendengarnya. Dia keluar ruangan dan berkata.
"Bisakah kalian berhenti menggosip dan MEMBUAT SAYA MARAH?" gertak Zia. Semua terkejut dan menunduk.
"Kamu siapa?" tanya Karyawan Teladan.
"Aku? Apa penting bagimu siapa aku?" tanya Zia. Semua orang hanya diam.
"Mr. Kiw, keluar dari ruanganku!" Kiw pun keluar dan berada tidak jauh dari Zia.
"Perlukah aku memecat kalian semua?" tanyanya masih santai.
"Ja- jangan tuan" jawab mereka bersamaan.
"Lalu, apakah gaji kalian kurang selama ini?"
"Ti- tidak tuan."
"Apakah bos kalian pernah berlaku kasar selama ini?"
"Ti- tidak tuan"
"Ada apa tuan." tanya Kiw dengan wajah tanpa bersalah. Semua orang gemetaran karena Zia mengeluarkan aura membunuh yang tidak pernah dikeluarkan sebelumnya.
"Kau mengatakan ada apa?"
"Bukan apa apa. Aku hanya berfikir apakah kau sudah bosan hidup? Apa perlu aku membunuhmu sekarang?" tanya Zia.
"Siapa yang bekerja satu tim dengan Mr Kiw? Berdiri disampingnya!" suruh Zia, mereka yang bekerja satu tim dengan Kiw pun beranjak dan berbaris di samping Kiw.
"Siapa ketua tim?" tanya Zia.
"Pak Kiw."
"Penyimpan banyak data?"
"Pak Kim"
"Penghianat yang membocorkan data?" tanya Zia santai
"Pak Kiw" mereka menjawab santai kemudian terkejut. Zia tersenyum sinis, Kiw melihat mereka dengan tatapan marah.
"Kalian tau semuanya dari mana?" tanya Zia santai semua hanya diam.
"JAWAB AKU CEPAT!" teriak Zia.
"Ka.. kami melihat pak kiw berinteraksi dengan musuh kita saat itu tuan" jawab salah seorang karyawan.
"Lalu?" tanya Zia lembut.
"Aku mendengar dia memberikan data itu tuan" sahut karyawan lainnya.
Prok..
Prok..
Prok..
Tepuk tangan Zia menggema, aura membunuhnya sudah keluar dan membuat semua orang takut.
__ADS_1