
"Lebaran kedua kalinya tanpa adanya Zia, this so boring" ujar Zai. Sudah dari semalam mereka semua melesu disoffa ruang keluarga seperti kehilangan semangat hidup. Berbeda dengan dua tahun yang lalu, mereka begitu ceria saat tragedi itu belum menimpa Zia.
Dua tahun terlewati, Zia masih setia dengan mata tertutup, ntah kapan dia akan bangun. Semua sudah menunggunya untuk kembali membuka mata. Sampai Zean sudah menjadi ayah dari —Zafran Ferry Hitler— anaknya, Zia masih saja terpejam. Mereka sudah sangat merindukan bacotannya Zia.
Bukan hanya keluarganya, teman temannya pun juga. Mereka semua sudah sukses, Dimas dan Ivan yang berandal, sudah menjadi pengusaha muda yang sukses. Ica dan Tania sudah menjadi dokter spesialis yang cantik. Samuel-Qiara mereka sudah menikah. Ivan-Ica, Dimas-Tania sudah bertunangan. Alya dan Jimmy? Mereka sedang mempersiapkan pernikahan di Indonesia. Aska? Dia bahkan sudah sangat sukses di Amerika, jomblo pun masih menjadi julukannya padahal Aska banyak fans disana. Dan Bian, dia masih sangat setia menunggu Zia.
"Zafran, kapan tante mu bangun?" tanya Zean pada anaknya.
"Ini benar benar tidak nikmat," sahut Lee. Dua bulan setelah tragedi Zia, Lionard, Zorisya, Lee, Yossie serta Lucas kembali ke Jerman. Dan tiga bulan yang lalu mereka kembali ke Indonesia. Mereka sudah mahir berbahasa Indonesia. Sekarang Abizar sudah menetap di rumah Zeco.
"Bosan, ku sangat bosan" kata Zai.
"Coba aja dulu Luis ajak Zia masuk ke supermarket pasti gak bakal kayak gini dia" ujar Luis, dia masih menyesal dan merasa bersalah.
"Sudah om bilang, bukan salahmu" balas Zeco.
"Zia laper gak sih? Haus gak sih? Kenapa kagak bangun sih?" tanya Zai.
"Kapan cucu perempuanku tersadar?" tanya Lionard.
"Biasanya Zia sama Zai bakal rebutan kue lebaran. Padahal banyak cadangan." sahut Zeva.
"Rebutan THR, padahal punya banyak uang" balas Zeco.
"Kapan Zia bangun? Zafran belum bertemu dengan nya" kata Zean lagi.
"Febby rindu Zia yang minta dibikinin kue" sahut Febby.
"Aku rindu teriakan Zia yang berkata Zia rindu sama Tante" ujar Yossie.
"Abi rindu saat Zia panggil Abi bang Izar" tambah Abizar
"Aku juga rindu rengekan Zia yang minta coklat" balas Lee. Tiba tiba ponsel Zeco berbunyi. Tanpa melihat nama yang tertera Zeco mengangkatnya.
"APA?! ANDA JANGAN BERBOHONG!!" teriak Zeco mengagetkan
"BAIKLAH!! SAYA KESANA SEKARANG!" dia pun mematikan teleponnya.
"Bisa tidak jika kamu tidak teriak Zeco?" tanya Lee dengan ekspresi datar.
"Aku tidak bisa bang. Ini sebuah berita menggembirakan" ujar Zeco.
"Ada apa Zeco?" tanya Zorisya.
"Lebaran ini penuh berkah, bersiaplah" suruh Zeco.
"Ada apa? Katakan! Jangan buat aku penasaran" suruh Lee.
"ZIA SUDAH SADAR" jawab Zeco berteriak.
"APAAAA? AKHIRNYAAAAAAAA" teriak mereka semua. Tertawa haru menghiasi wajah mereka. Yang tadinya datar menjadi bahagia.
"Jangan nipu pa" kata Zai datar.
"Ayok kita ke RS" ajak Zean.
"Luis, hubungi teman temannya Zia." suruh Zeco. Luis pun menghubungi Ivan. Setelah selesai, mereka bergegas dan menuju rumah sakit.
ΩΩΩ
"Zia sayang" panggil papanya saat melihat Zia yang sudah duduk.
"Papa" panggil Zia masih dengan suaranya yang melemah.
"Ada yang sakit sayang?" tanya Zeco sambil mengelus rambut hitam anaknya.
"Nggak"
"Kakak" panggil Zai dengan air mata bahagianya.
"Adekk, ngapain nangis?" tanya Zia. Tanpa menjawab Zai memeluk Zia.
"Tega Lo sama gue,"
__ADS_1
"Utututu, jangan nangis. Kamu ngapain pake peci?"
"Lupa lepas, inikan lebaran" jawab Zai.
"Geser Lo, gantian" suruh Zean, Zai geser sambil menatap sinis abangnya.
"Ingat kan Lo sama gue?" tanya Zean.
"Kamu? Siapa?" tanya Zia pura pura.
"Is udahlah" kata Zean pura pura merajuk.
"Abang Zia yang paling ganteng sejagat raya" balas Zia. Zean memeluk Zia.
"Jangan tinggalin gue," bisik Zean. Zia mengangguk, Zean melepas pelukannya.
"Sayang" panggil Zeva.
"Mamikuuu" panggil Zia.
"Jangan kayak gini lagi ya" suruh Zeva sambil memeluk Zia. Zia mengangguk.
"Zia?" panggil Lee.
"Saya tidak mengenal anda jika tidak membawakan saya coklat" sahut Zia.
"Kamu benar benar ponakanku" balas Lee sambil memeluk Zia.
"Enkelin" panggil Lionard.
"Grossvater, kenapa grossvater tidak menua?" tanya Zia dengan bahasa Jerman.
"Grossvatermu suka perawatan" kata Zorisya dengan bahasa Indonesia.
"Grossmutter bisa bahasa Indonesia?" tanya Zia.
"Grossvater juga bisa" sahut Lionard. Zia tersenyum lebar.
"Apa kabar kamu?" tanya Yossie.
"Biasa saja, ini siapa?" tanya Zia menunjuk Lucas.
"Dia adeknya Luis" jawab Lee. Zia membulatkan mulutnya, dia tidak kenal dengan bayi itu.
"Hey, kamu ingat abang?" tanya Abizar.
"Bang izarr, kenapa tidak pernah kerumah?" tanya Zia.
"Sekarang bang Izar mu sudah tinggal dirumah" sahut Zeco.
"Yang benar? Ahh senangnya Ziaa." sahut Zia.
"Zi" panggil Luis.
"Sepupu handsome yang selalu kepedean" panggil Zia, Luis memeluknya.
"Maafin gue, gara gara gu-"
"Zia gak tau sih apa salah Luis dan kenapa jadi salah Luis, tapi Zia gak mau ketemu sama Luis kalau Luis masih nyalahin diri sendiri," potong Zia.
"Jangan gitu dong!"
"Jangan salahkan diri sendiri makanya!" suruh Zia.
"Oke, oke fine" balas Luis.
"Ini siapa?" tanya Zia menunjuk baby yang digendong Febby.
"Ini keponakan lo, anak bang Ze" jawab Zean.
"Dibelakangnya?" tanya Zia.
"Ka- kamu tidak mengingatnya?" tanya Zeco.
__ADS_1
"Zia tidak tau" jawab Zia.
"Ini kak Febby sayang, kakak ipar kamu. Kamu sering minta dibuatin kue sama kak Febby" jawab mamanya.
"Hah?" tanya Zia kebingungan.
"Zia kenapa bisa disini?" tanya Zia. Belum sempat terjawab, teman temannya datang ke kamar rawat Zia.
"Lo udah bangun? Ah syukurlah" ujar Ivan sambil memeluk Zia.
"Maaf, saya tidak kenal kamu. Bukankah tidak sopan memeluk sembarang orang?" tanya Zia sopan, Ivan melepas pelukannya perlahan dengan keterkejutannya.
"Zi-zia" panggil Ica.
"Kalian siapa?" tanya Zia.
"Lo gak kenal sama kita?" tanya Alya.
"Maaf, tapi saya gak tau" jawab Zia. Tadinya mereka datang dengan senyuman, tapi sekarang malah jadi kecewa. Mereka cuma bisa senyum terpaksa menghadapi Zia.
"Kita keluar dulu bentar ya" pamit Qiara. Beberapa dari mereka pun keluar dari ruangan itu, Zeco mengikuti mereka, dia juga menarik dokter yang baru melewati ruang rawat Zia.
"Apa yang terjadi pada Zia? Kenapa dia melupakan teman dan kakak iparnya?" tanya Zeco pada dokter.
"Otaknya yang cedera menyebabkan dia amnesia sementara. Dia hanya bisa mengingat ingat hal yang paling berdekatan dengannya, saya tau kalian kecewa tapi mau bagaimana lagi. Agar ingatannya kembali kalian cukup membiasakannya dan saya harap tidak memaksanya, saya akan memberikan Zia vitamin dan suplemen untuk membantu memulihkan ingatan Zia." jawab dokter itu.
"Saya pergi dulu" pamit dokter lalu pergi.
"Maaf ya anak anak, kalian pasti kecewa" ujar Zeco.
"Ini bukan ketersengajaan om, kita bisa maklumi" jawab Jimmy kalem.
"Kalian sudah bilang pada Aska?" tanya Zeco.
"Belum, biar Ivan aja yang telepon" jawab Ivan.
"Ya sudah, om masuk dulu ya. Nanti om bantu kalian supaya Zia bisa ingat kalian"
"Iya om" jawab mereka serentak. Zeco pun langsung masuk. Sebelumnya dia sudah menelepon Mahendradatta.
Ivan menelpon Aska.
—Bigboskocak—
📞 Aska; waalaikumsalam
Ivan; gue belum ngucap salam geblek!
📞 Aska; oh iya, maap bro, ada apa?
Ivan; Zia udah bangun, tap—
📞 Aska; Ahhh syukurlah, gue kagak bisa balik, bokap nyokap gue ada disini soalnya. Kirim salam aja sama Zia. Oke bye. (mematikan teleponnya)
"Gue belum siap bicara, si kampret ini" umpat Ivan.
"Kenapa?" tanya Ica.
"Dia matiin teleponnya, gue belum sempat bilang kalau Zia lupa ingatan" jawab Ivan.
"Ya udahlah gak apa apa, yang penting dia tau Zia udah bangun," sahut Samuel.
"Iya, toh juga amnesia Zia cuma sementara" sambung Jimmy.
"Gimana caranya kita kembaliin ingatan Zia?" tanya Qiara.
"Gimana ya?" tanya Tania sambil berfikir fikir.
"Gini aja deh, kita tunggu aja Zia pulih, kalau dia pulih kita ajakin dia hal hal yang biasa kita lakuin bareng dia" usul Ica.
"Jenius, ya udah kita masuk aja lagi" ajak Ivan, mereka pun kembali masuk
__________________________________
__ADS_1