Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Karma Zean


__ADS_3

Ceklek..


"Kalian ini kenapa sihh, ribut ajaaa?!" Febby keluar kamar.


Bukan, bukan Zia yang membuka pintu melainkan Febby. Dia terbangun karena terganggu.


"Ahhh itu Aska.."


"Gak usah nyalahin orang kalau kamu juga salah!! Ganggu aja. Kamu tidur diluar. Gak usah masuk!!!" Febby masuk membanting pintu.


"Bwhahahahahaa mammpus lu mammpusss mammpusssss" ledek Aska gantian sambil tertawa.


"Dua menit lagi pintu ini terbuka, gak mungkin lah Febby nyuruh gue tidur diluar. Mana bisa dia gak kelonan sama gue" balas Zean dengan kepedean nya.


"Gak yakin. Kita tunggu aja" ajak Aska. Aska bersandar di dinding sebelah pintu.


Dua menit kemudian..


Benar saja, pintu kamar Zean dan Febby terbuka.


"Sudah kubilang~~" ujar Zean bangga. Zean ingin masuk ke kamarnya.


Ehh malah....


"Ngapain kamu? Siapa suruh masuk? Aku buka pintu cuma mau kasih ini" Febby meletakkan selimut, bantal, dan boneka kecil di tangan Zean.


Zean menatap barang di tangannya lalu menatap ke Febby. Saat ingin menerobos masuk, Febby sudah menutup pintunya dengan keras.


Aska yang melihat langsung kejadian itu tertawa ngakak yang mengandung unsur ejekan.


Aska mendekat ke Zean.


"Apa ini? Selimut pink, bantal pink, terus boneka? Bwhahahahahaa, abang ipar gua persis kek banci kaleng" Aska ngakak terpingkal-pingkal.


"Sialan lo" Aska masih tetap tertawa.


"Heh bapak bapak kena karma, kenapa ribut bener si? Untung semua orang pada gak dirumah, kalau dirumah mampuss lu pada di amuk masa" sahut Zai, dia bersandar di dekat tangga sambil bersidekap.


"Bacot" Aska dan Zean kompak.


"Cocok bangett masyaallah. Bang Aska jadi cowoknya, bang Zean jadi ceweknya, Perfect bangett ya ampun" ujar Zai.


"Sabar Zean sabarr" Zai tertawa lalu melewati mereka berdua.


"Selamat tidur diluar ya abang-abang" Zai masuk ke kamarnya.


Zean menatap sinis Zai, lalu menatap kamar disebelahnya. Kamar Zafran.


"Aa beruntungnyaa" ujar Zean. Aska menatapnya heran. Zean maju mendekat ke Aska.


"Selamat pinggang encok, badan remuk ya adek ipar" Zean menepuk pundak Aska lalu pergi. Aska tidak membalasnya dan memperhatikan kemana Zean.


"Kamar Zafran? Ehh gue ikutt bangg" pinta Aska mengejar Zean.


"Ogah!!" Zean langsung menutup pintunya.


"Solimi banget sama adek iparnya astaga" keluh Aska. Aska kembali ke depan pintu kamarnya.


"Sayang buka pintunya dong. Aku janji bakal undang boyband Korea SuperM, Exo, atau Bts kerumah. Tapi buka dulu pintunya" pintu tetap tertutup.


"Yaudah deh, maaf ya sayang. Selamat malam, Aku sayang kamu" Aska pergi ke ruang keluarga.


Aska rebahan di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi. Tiba tiba ponselnya berbunyi.


–Rafael–


πŸ“ž "Big bos, lu dimana?"


"Big home Hitler, kenapa?"

__ADS_1


πŸ“ž "Bantu guee"


"Hah kenapa?!" Aska panik seketika.


πŸ“ž "Motor gue mogok, mesinnya encok"


"Sialannn, gue kira kenapa" Rafael tertawa di seberang.


"Panggil Dandi aja, gue gak bisa keluar kunci mobil di kamar"


πŸ“ž "Lah lu dimana?"


"Ruang keluarga, bini gue lagi mood mood-an. Gue kena sasaran"


πŸ“ž "Mesakno, tidurlah di sofa tuh ha. Remuk semua badan lu"


"Gak ada bedanya emang lo sama Zai sama bang Ze" Rafael tertawa lagi.


πŸ“ž "Besok lu ngantor?" Aska berdehem.


πŸ“ž "Yoda deh kalau gitu. Selamat menikmati tidur diluar ya bos. Hahaha"


"Sialan lu"


πŸ“ž "Ampun dahh. Assalamualaikum" Rafael mematikan telepon. Aska menjawab salam Rafael dalam hati.


"Keajaiban tolong saya.. ya kali beneran tidur disini" keluh Aska. Aska bangun dari rebahannya menuju kamarnya dan Zia.


Ternyata, kamar itu masih terkunci dan tertutup rapat. Aska turun tangga lagi menuju dapur mengambil beberapa makanan dan minuman.


Setelahnya dia kembali rebahan di sofa ruang keluarga. Bosan dengan semua yang di hadapannya, Aska mengambil ponsel dan bermain game.


Ketika main, dirinya malah kalah terus-menerus. Aska pun mengakhiri permainan dan meletakkan ponselnya di meja dengan sedikit membanting.


Disisi lain


Zia menonton drakor sambil sedikit tertawa-tawa. Dia mendengar tadi pembujukan Aska akan mengajaknya ke Korea ataupun membawa idol kerumah. Tapi Zia tidak ingin itu sekarang.


Tiba-tiba suara perutnya berbunyi.


"Ah kampret" Zia pun perlahan-lahan keluar dari kamarnya. Menuruni tangga dengan perlahan. Dia melihat Aska tidur dan berjalan santai menuju dapur.


Di dapur, Zia hanya menemukan mie instan. Zia membuka kulkas. Hanya ada minuman kaleng dan roti Regal.


Zia menutup pintu kulkas lalu pergi lagi ke kamarnya. Ketika ingin ke kamarnya, Zia menoleh.


"Pantesan gak ada makanan, di ambil semua sama askaa" gumam Zia. Zia menuju ke arah Aska.


Memperhatikan Aska tidur.


Beneran tidur gak sih?' batin Zia. Aska terlihat gelisah dan berkeringat.


Mimpi buruk?' Zia celingak-celinguk.


Ohh bukan, ac-nya kagak nyala ternyata' Zia menghidupkan ac diruangan itu.


Kemudian Zia pergi ke atas mengambil selimut untuk Aska lalu memakaikan selimut itu pada Aska.


Zia tidak langsung ke kamarnya setelah memakaikan selimut, melainkan menonton televisi. Dia duduk lesehan sambil memakan cemilan yang ada di meja.


Ehh..


Lama kelamaan, Zia pun ketiduran dengan kepala bersandar di kaki Aska.


-~


Matahari terbit menyilaukan mata Aska. Dia membuka matanya untuk memulai aktivitas baru di hari Rabu pagi.


Aska langsung terkejut karena semua keluarga berkumpul, bahkan ada Luis juga. Wah.. kalau Luis memotretnya ketika dia tidur, Aska auto viral:v

__ADS_1


Aska ingin bangun dari tidurnya, tetapi kakinya terasa berat seperti tertahan. Aska melihat kebawah.


"Loh Zia?" Zia tidak bangun namun sedikit terusik. Zia menggeser kepalanya mencari posisi enak. Aska pun bisa bangkit.


"Kalian berantem? Apa gimana?" tanya Lee, papa Luis.


"Enggak Ongkel, cuma tadi malem salah paham. Zia suruh Aska tidur diluar, eh malah Zia juga diluar nih" jawab Aska.


"Salah paham apa? Tentang nikah Bian?" tanya Zeco.


"Nggak papi, yaa.. gitulah. Bukan tentang Bian pastinya" Aska bergerak sedikit.


"Kenapa malah tidur disini jugaa coba?" gumam Aska. Aska pun perlahan mengangkat Zia ke gendongannya.


"Aska bawa Zia ke kamar dulu ya, permisi" Aska berbisik lalu pergi menuju kamarnya.


Aska tiba di kamar dan meletakkan Zia perlahan-lahan. Setelahnya Aska menuju kasur sebelah untuk melanjutkan tidurnya.


Namun terganggu karena panggilan dari... Rap!


"Apa lagi ini anak?!" keluh Aska. Aska mengangkat teleponnya.


"Halo?"


πŸ“ž "Masih tidur lu?"


"Hm"


πŸ“ž "Ngantor woi"


"Hm"


πŸ“ž "Lagi paduan suara ya? Biar kayak Nissa Sabyan?"


"Hm"


πŸ“ž "Ah mampusss. Eh bos..."


"Lo dimana?"


πŸ“ž "Dirumah"


"Oh yodah" Aska ingin mematikan teleponnya, matanya berattttt untuk terbuka.


πŸ“ž "Ehh tunggu jangan dimatikan!!"


"Apolai?!"


πŸ“ž "Lu tau kagak? Pernikahan Bian lebih populer waktu nikah lu dulu"


"Kagak tau. Populer kenapa emang?"


πŸ“ž "Ternyata, Bian nikahin Lindi karena kebobolan. Tau kan kebobolan?"


"Hah?! Serius?!"


"Sayang..."


"Eh kamu udah bangun? Kenapa tidur diluar juga?" tanya Aska.


"Nggak apa apa, aku masih ngantuk. Tidur lagi boleh kan? Kamu jangan berisik ya" Zia berbicara tanpa membuka mata. Aska berbaring lalu mendekatkan kepala Zia ke dada bidangnya.


"Tidurlah, aku gak bakal berisik" ujar Aska sambil mengelus rambut Zia. Zia kembali mencari posisi enak untuk tidur. Dia masih tetap berada di dekapan Aska. Aska mematikan teleponnya sepihak.


Setelah Zia tertidur pulas dan sudah berpindah tempat. Aska bangun lalu menuju kamar mandi untuk bersiap.


Selesai bersiap-siap, ponsel Aska berbunyi lagi. Aska mengangkat teleponnya.


πŸ“ž "Asal matiin bae"

__ADS_1


"Bini gue tidur, ntar lu berisik. Terus tadi kenapa?" tanya Aska.


πŸ“ž "Nah, tadi malem pas lu udah balik......"


__ADS_2