
"Lo berdua tu ya, sakit bege" protes Zia sambil memegang kepalanya yang tadi digeplak Ica dan Ivan. Mereka hanya tertawa mendengar protesannya Zia.
"Udah cepetann pesen dah" suruh Bian.
"Iya bawel" balas Zia. Mereka pun memesan makanan, yang selalu mereka pesan.
"Gue kagak?" tanya Kris.
"Kagak" jawab Bian.
"Ca, ini orang siapa namanya?" tanya Zia.
"Kak Kris kan?" tanya Ica pada Kris, Kris hanya mengangguk.
"Kasian Kak Kris Varo, beliin sekalian deh. Kan temen Lo" ujar Zia.
"Manggil si Kris kakak, manggil gue nama doang. Gak ada akhlak" ujar Bian.
"Hahahahahaha" tawa Zia.
"Yaudah iya, pesan sekalian lo Kris" Kris pun memesan makanannya.
"Lo makan sini juga ?" tanya Zia
"Ya iyalah" jawab Bian.
'kedua kalinya kak Bian sama maba itu?'
'ya allah, gue juga pengen kali disamperin sama tu idola kampus.'
Bisik para penggosip, mereka mendengarnya hanya saja berpura pura tidak mendengar. Sampai akhirnya Hany tiba diantara mereka.
"Kenapa?" tanya Hany.
"Kak Bian makan bareng sama maba bule itu" jawab salah satu diantara mereka.
"Hah?" tanya Hany, Hany pun menuju ke arah Bian.
"Bian, kamu kok disini sih? Aku nyariin tau" kata Hany dengan manja.
"Eh lo?" tanya Zia.
"Lo kenal?" tanya Tania.
"Ini manusia kemaren bilang gue simpenannya om om" jawab Zia, sontak mereka semua tertawa terkekeh, kecuali Kris, Hany, dan Zia yang lagi makan makanannya sambil tersenyum sinis.
"Simpenan om om?" tanya Dimas
"Atas dasar apaan Lo bilang kayak gitu?" tanya Ivan
"Simple aja sih, dia tiap hari bawa mobil gonta ganti, pasti dibeliin sama om om kan?" tanya Si Hany.
__ADS_1
"Gini nih, kalau mulutnya kagak pernah disekolahin" protes Zia sambil memakan makanan ringan.
"Gonta ganti mobil belom tentu simpenan om om, otaknya sempit banget ya?" Tanya Ica
"Mending lo pergi deh" suruh Ivan.
"Iya, mending Lo pergi. Sebelum Zia ngelakuin apa yang seharusnya Zia gak lakuin" sahut Tania
"Gue kesini bukan buat ngurusin dia kali, gue kesini mau nemuin pacar gue, Bian" ujar Hany.
"Sejak kapan gue jadi pacar Lo?" tanya Bian dengan dingin. Zia yang mendengar tertawa sangat sangat kencang, setelah ketawa, dia mengeluarkan aura mematikan yang jarang sekali dia keluarkan. Semua yang merasakan aura itu menjadi ketakutan, termasuk teman temannya.
"Gak diakuin kan? Mending Lo pergi" ujar Zia
"Sono pergi lu hama pengganggu" sahut Kris. Tanpa sekata pun hany pergi dengan muka yang kesal, 'awas aja ya lo, gak bakal tenang hiduplo' batin Hany. Hany pun menjadi bahan gosip para lambe turah dikampusnya.
'ngarep sih hahahaha'
'anying anying auranya bikin gue merinding'
'zia beneran simpenan om om'
Tanya para penggosip itu.
Zia yang mendengarnya menggebrak meja dan membuat semua orang terkejut.
"Anj*** kaget" kata Dimas sambil mengelus dadanya.
"****** ngamuk" sahut Tania
"Mau gue bayar berapa sih mulut mulut kalian itu? Hah?" tanya Zia membentak.
"Ya Allah, baru berapa hari gue dikampus ini. Digosipin mulu" ujar Zia lagi.
"Udah tenang sabar sabar!" suruh Luis.
"Sabar pala lu peang. Mana bisa gue sabar kalau gini! Ngerusak mood gue aja pun!" Balas Zia lalu meninggalkan kantin.
"Zia, makanan lo belom habiss woi!" teriak Ica, Zia hanya mengabaikannya saja.
"Yang ngomong tadi, siap siap aja jadi mangsanya Zia" kata Ivan, lalu pergi mengikuti Zia. Luis, Ica, Dimas, dan Tania pun ikut pergi. Para penggosip pun menjadi was was, mereka pun juga membubarkan diri. Tinggallah Bian dan Kris disitu.
"Itu anak siapa? Lo punya utang apa sama dia?" tanya Kris.
"Dia siapa? Gue gak bisa ngasih tau Lo. Yang jelas dia bukan simpenan om om yang kayak dibilang si Hany."
"Jadi gini ceritanya, gue kemaren mau ke apartemen. Jumpa mobil dia, gue ajakin balapan dong. Tapi cuma ngekode gitu gak gue bilang. Dan dia malah nantangin. Eh gak lama gue oleng nyerempet mobil Limited editionnya itu. Kegores dah tuh mobil. Dia ngamuk, abis tu ngajak gue balapan beneran, gue terima tantangan dia. Kalau gue menang dia jadi pacar gue, kalau kalah dia minta mobilnya diobatin plus bayarin makan mereka berenam sebulan. Dan ternyata gue kalah" jelas Bian.
"Lo kalah bi? Yang bener aja???" tanya Kris.
"Iya asli gue kalah, tanpa mengalah sedikit pun." Jawab Bian
__ADS_1
"Gila gila, itu cewek." Ujar Kris.
"Gue tadi pagi kerumah dia buat jemput, karena mobilnya kan di bengkel langganan gue. Eh ternyata pas gue jemput dia tetap naik mobilnya yang lain"
"Wah wah wahh, terus pas Lo kerumahnya bokap nyokap nya gimana?" tanya Kris.
"Bokap nyokap nya kenal sama gue. Ya gue gak bilang sih kalau balapan. Tapi dia bilang, mobil dia gue serempet" jawab Bian.
"Serem juga itu anak, dia punya aura membunuh sama kayak lo" lanjut Kris.
"Dia mah ajaib" kata Bian sambul tersenyum.
••
Ditempat lain.
"Zia, Lo mau kemana nyet?" tanya Ica.
"Gak kemana mana" jawab Zia, dia berhenti dari jalannya.
"Masih ada kelas gak van?" tanya Zia.
"Gak ada"
"Lo berdua ada kelas?" tanya Zia pada Ica dan Tania.
"Kagak ada" jawab Ica.
"Nonton film horor di bioskop kuy" ajak Zia sambil tersenyum.
"Tadi dia ngamuk ngamuk, sekarang?" Tanya Luis.
"Santuy santuyy,, gue yang bayar. Ayoklaaa" ajak Zia.
"Oke ayok" jawab mereka bersamaan. Mereka pun menuju tempat yang dimaksud.
•••••
"Sial sial, malu gue jadinya" ujar Hany.
"Lo sih dibilangin ngeyel, dia itu banyak yang ngebelain." Ujar Widya.
"Lah Lo makin bikin gue kesel aja. Suport gue kek" pinta Hany. Widya hanya menyedikan bahunya.
"Aha gue tau, gue teror aja dia" ujar Hany sambil tersenyum sinis.
"Jangan gila Han, Lo yakin?" tanya Widya.
"Iyalah" jawab Hany mantap.
"Oke terserah lo, gue gak mau ikut campur" balas Widya, Hany hanya tersenyum sinis.
__ADS_1