Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Pesta Bian


__ADS_3

Tok tok tok


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Eh kamu udah balik, tumben cepet" sambut Zia sambil menghampiri Aska.


"Hm" hanya itu yang Aska jawab, dia pergi merebahkan tubuhnya di kasur.


"Kamu capek? Mau aku pijetin? Kamu mau minum apa?" tanya Zia. Aska malah menarik Zia ke pelukannya.


"Gak mau apa apa, cuma mau kamu"


"Ck. Kang kerdus. Banyak kerjaan ya?" lagi-lagi Aska berdehem.


"Kenapa gak kasih ke Zia tadi? Kan Zia bisa bantu" Aska melepas pelukannya lalu menatap Zia.


"Kamu kerasukan apa jadi berubah?"


"Apaan sih, berubah apanya? Nggak sayang nggak" jawab Zia.


"Massa" Zia memeluk Aska sambil berdehem.


"Kamu bauu, mandi dulu gih. Aku juga mau bikinin teh hijau" kata Zia.


"Bau bau masih tetep di peluk" Zia cengengesan.


"Yaudah, mandi sana. Aku buatin teh nya dulu" Zia melepas pelukan lalu pergi.


"Hati hati" Zia tersenyum.


--


Saat membuat teh hijau untuk Aska, Zia kembali ke kamarnya. Aska sudah selesai mandi.


Dia mengenakan baju putih lengan pendek, dan celana jeans pendek warna hitam.


"Nih minum"


"Makasih sayang" bukan meminum tehnya, Aska malah nyosor ke Zia.


"Malah nyosorrr" protes Zia setelah Aska berhenti. Aska tertawa lalu meminum tehnya.


"Masih mau ke pasar? Ayok" ajak Aska.


"Is ini jam berapa sayang? Pasar udah tutup lah" kata Zia.


"Masih jam empat, belum tuh. Ayok" ajak Aska lagi.


"Kalau udah gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana" jawab Aska.


"Kita tanya mbak ma aja ya" Aska mengangguk. Mereka berdua keluar mencari pembantu dirumah Hitler.


"Mbakk maa"


"I- iyaa nonaa" mbak ma datang tergesa-gesa.


"Mbak, pasar jam segini masih buka?" tanya Zia.


"Nggak tau nona, biasanya sih tutup jam tiga sore. Sekarang kan jam empat sore, kemungkinan udah tutup" jelas Mbak Ma.


"Oh yaudah mbak" mbak ma membungkuk lalu pergi.


"Tuhkan, ngeyel sih" kata Zia pada Aska.


"Di cek aja dulu, siapa tau belom" Aska menarik Zia.


"Zap, ikut uncle yuk" ajak Aska pada Zafran yang main sendirian.


"Kemana uncle?"


"Pasar"


"Ikut ikutt"


"Yuk" Aska menggendong Zafran.


"Lucas mana?"


"Abang Lucas sakitt aunty. Belsin-belsin, telus batuk-batuk" jawab Zafran.


"Oo"


"Yaudah ayok"


"Ni anak gak izin dulu?" tanya Zia ke Aska.


"Nggak usah, paling kecarian nanti emak bapaknya" kata Aska cengengesan. Mereka pun masuk ke mobil biru Aska.


--


"Eh sayang, kalau Zafran ikut undangan nanti gimana?" Ajak Zia.


"Yaa terserah kamu" jawab Aska.


"Papi dapat undangan juga kan?" Zia mengangguk.


"Ajak aja yaa, terus kita cariin baju anak gitu yang warnanya sama"


"Nanti kita cari"

__ADS_1


Aska kembali fokus ke jalan, sedangkan Zia mengawasi Zafran yang sedang melihat animasi Tayo dari ponsel.


"Zapp, kamu nanti malam mau ikut aunty sama uncle nggak?"


"Kemana aunty??"


"Em.. ketempatnya om Bian makan-makan. Mau nggak?" Zafran cuma mengangguk antusias.


"Imutnyaaaa sayang aunty" Zafran senyum pepsodent.


"Eh, da tutup sayang. Sepi" kata Aska setelah tiba.


"Kan aku bilang juga apa, ngeyel sih" Aska cengengesan.


"Minimarket aja? Kamu mau beli apa?"


"Pulang aja sayang, aku tadi mau beli kue tradisional gitu. Tapi udah tutup"


"Besok kesini lagi"


"Kamu banyak kerjaan, gak usah boloss"


"Ya sebentar doang"


"Nggak usah, besok titip aja sama mbak ma" .


"Jadi kita kemana?"


"Balik, sebelum balik cari baju Zafran"


"Oke nona Kusuma"


"Apasih" mereka berdua tertawa.


–—


"Assalamualaikum papa mama"


"Waalaikumsalam, kamu darimana?" tanya Febby panik.


"Pergi sama aunty sama uncle ma"


"Lihatlah, betapa tidak ada akhlaknya dua manusia ini" cibir Zean saat melihat Aska dan Zia yang baru memasuki rumah.


"Dih napaaa abang?" tanya Zia.


"Kenapa kenapa, lu colong anak gue gak ngomong ogebb" jawab Zean. Zia dan Aska cengengesan.


"Lo nya aja ngilang" Aska ngeles.


"Papa papa, Zaflan nanti mau ikut uncle sama aunty" izin Zafran pada papanya. Zafran memang sering mengganti panggilan pada orang tuanya.


Kadang memanggil papa mama, ayah bunda, papi mami, daddy mommy, abi umi, dan masih banyak lainnya. Zean dan Febby tidak mempermasalahkan hal itu selagi masih sopan dan enak didengar.


"Mau kemana sayang?" tanya Febby.


"Di sogok apa anak gue?" tanya Zean sinis.


"Dih, inini jadi abang syirik bangett heran!" protes Zia.


"Tau ah, abang mu tu jadi aneh" sahut Febby.


"Gegara kurang jatah tu kak" balas Aska.


"Astaghfirullah berdosa banget, Zap denger tau" kata Zia.


"Jatah makan maksudnya. Negatif sih" Aska cengengesan.


"Jadi lu bedua ntar datang ke pestanya Bian?" Aska dan Zia mengangguk.


"Yakin?"


"Why not?"


"Yaudah yaudah. Kamu papa izininnn" kata Zean pada anaknya.


"Timakasi papa"


"Kamu pake baju apa nanti malam?" tanya Febby pada anaknya.


"Udah dibeliin baju kok sama uncle sama aunty ma" jawab Zafran.


"Pantesan mau, disogok" Aska dan Zia tertawa.


~—–·


"Subhanallah istriku"


"Aaa jadi malu" Zia memeluk Aska.


"Ngapain malu? Kamu cantik banget sumpah deh"


"Kamu juga ganteng, awas aja sampe goda cewek lain ya!!"


Cup~


"Nggakk kok. I'm always stay with you" balas Aska.


"Thank you sayang"


"Untuk?"


"Semuanya"

__ADS_1


"Aku yang harusnya bilang gitu"


"Uncle, aunty ayok" Zafran masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kok ponakan uncle gak ketuk pintu?" tanya Aska mensejajarkan tinggi dengan Zafran.


"Hihi, maap uncle aunty"


"Gak apa apa, udah yuk" mereka bertiga keluar dari kamar menuju ruang keluarga.


"Gila gila gila!! Sepupu gue bukan ini? Ngapa kalem bangett?" tanya Luis ketika melihat Zia pakai gaun semata kaki berwarna abu-abu.


"Sepupu lo lah, ya kali sepupunya Lucas"


"Ya kan lo sama Lucas emang sepupuan goblokk" Zia tertawa.


"Ni anak gue berasa anak kalian benerann" ujar Zean ketika melihat anaknya digendongan Aska.


"Iyaa, couple banget lagi kayak Aska" sahut Febby. Zafran dan Aska memakai setelan yang serupa. Kemeja abu-abu seperti Zia dan celana berwarna hitam.


Cekrek..


"Aaa paparazi" teriak Zia.


"Lebay" ledek Zai yang memfoto mereka.


"Hahaha"


"Btw, papi mami dah pergi?" tanya Aska.


"Belum, bentar lagi turun kayaknya"


"Cie cariin papi" Zeco turun sambil menggandeng istrinya.


"Ezzzeee, pasangan satu ini emang romantisnya sampe ketulang" ledek Zia.


"Hahaha"


"Berangkat bareng nih?" tanya Zeco.


"Foto dulu dongg mama papa berduaa, baru tu kak Zia bang Askaa berdua, yang terakhir berlima" pinta Zai.


"Kelamaan" protes Zeco.


"Is papa ni, ayolah" ajak Zai. Zeco menuruti kemauan anaknya. Mereka berfoto beberapa kali sampai akhirnya lelah sendiri.


"Kebanyakan foto ini mah, udah males pergi gue" kata Aska. Zai tertawa.


"Udah? Ayok pergi"


"Tihatiii" teriak mereka bersamaan.


–··


"Wah, jodoh emang gak ada yang tau ya Zeco? Aku maunya Zia jadi menantu malah yang lain jadi menantu aku" ujar Mahendradatta.


"Haha.. semuanya udah diatur yang mahakuasa. Kita tinggal menjalaninya"


·Disisi lain


"Wah itu tuan Aska kan? Sama istrinya?"


"Iya, cantik banget istrinya"


"Eh itu anaknya? Kok udah gede?"


"Gosip teross, untung acara orang. Kalau bukan, anda saya gusur. Ini keponakan saya, jadi gak usah gosip!" balas Aska. Yang gosip tadipun menunduk.


Zia tertawa melihatnya.


"Widiii, ganteng juga lo" puji Bian.


"Ck, yajelas lah ganteng kalau nggak mana mau Zia sama gue" balas Aska.


"Ngarang! Kamu fikir aku mandang fisik apa?"


Cup~


Kecupan di kening Zia.


"Nggak kok sayang nggak"


"Yak!! Emang gak tau tempat" Aska dan Zia tertawa.


"Halo Zafran?"


"Halo om Biyan"


"Gemesinn bangett"


"Buat makanya!!" balas Zia.


"Bacot dah" lagi lagi Aska dan Zia tertawa.


"Mana bini Lo?" tanya Aska.


"Itu lagi sama temennya"


"Bisa pisah pula?" tanya Zia heran, Bian tertawa.


Bian pergi menjemput istrinya lalu kembali ke Zia dan Aska.


"Kenalin istri gue" kata Bian. Istri Bian yang menunduk perlahan-lahan menengadahkan wajahnya.

__ADS_1


Ternyata diaa.....


"Lindi?"


__ADS_2