
Luis tiba di kampusnya, lagi lagi big bang heboh karena mobil yang dikenakan Luis berbeda dari sebelumnya. Banyak cewek yang mengidolakannya karena wajah bulenya yang sangat tampan. Saat tiba di kampus dia langsung mendatangi Ivan dan yang lainnya. Karena kebetulan mereka sama sama ada jam siang hari.
"Mana Zia?" tanya Ica
"Masih dirumah dia" jawab Luis
"Gila apa gimana tu anak?" tanya Ivan.
"Gibahin gue ya Lo pada" ujar Zia yang baru tiba di kampusnya.
"Laju amat ya lu" sahut Luis.
"Ya iyalah, emang lo" jawab Zia sambil cengengesan.
"Abis berantem kan Lo? Jujur sama gue!!" Kata Ivan.
"Eh?!"
"Bibir Lo Ziaa" jawab Ivan.
"Ohh ini, halah gak sakit aja sello aja boss" jawab Zia. Tania memegangnya dan Zia meringis kesakitan.
"Katanya gak sakit" sahut Dimas.
"Ye kagak sakit kalau gak dipegang!" jawab Zia.
"Serah lo dah serahh!" jawab Ica.
"Kuy masuk kelas, udah mau masuk" ajak Tania,
"Beda kelas ya kitaaa, byebyeee" sapa Zia.
"Ntar kumpul tempat biasaa" teriak Dimas pada Ica dan Tania, mereka hanya membalas dengan isyarat tangan. Zia, Ivan, Dimas, dan Luis pun masuk ke kelas mereka.
*Di tempat lain,
"Han, kayaknya susah deh kalau Lo mau ngeganggu itu maba" kata seorang cewek bernama Widya.
"Susah kenapa?" tanya Hany.
"Bodyguardnya banyak ege, dia punya pacar bule itu satu, temen cowoknya lagi ada dua. Terus Bi..-"
"Eish, udah santuy aja napasih Lo!" Suruh Hany memotong ucapan Widya.
"Serah lo dah Han, serah!!" sahut Widya.
—
—
Akhirnya kelas Zia selesai, dia ingin pulang kerumah. Luis, Ivan dan Dimas, mereka sudah duluan sebelum kelas berakhir katanya ada urusan. Tinggallah Zia yang berjalan di lorong kampus yang sepi. Tiba tiba datang Hany, dan Widya yang menghadangnya. Zia yang lagi malas ribut saat itu, hanya melewati mereka tanpa bicara sedikit pun. Mereka bicara saja Zia tidak mendengarnya. Karena dia menggunakan headphone. Tetapi ada beberapa kata yang didengarnya dan berhasil menghentikan langkahnya.
"Woi, maba miskin simpenan om om!" ujar Hany. Zia menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Lo senior disini bukan? Tapi kenapa Lo gak punya attitude? Jaga omongan lo sebelum Lo menyesal!" Ancam Zia.
"Wah, songong banget ya Lo!" sahut si Widya.
"Gue gak ngomong sama lo, jadi Lo diem aja!" suruh Zia.
"Lo simpenan om om kan?" tanya Hany dengan santainya. Zia tersenyum sinis.
__ADS_1
"Lo sebelum ngomong kayak gitu sama gue pernah mikir gak sih?" tanya Zia.
"Mikir, hahaha mikir apaan?" tanya Hany meremehkan.
"Atas dasar apa lo nanyain hal gak penting yang LO gak tau kebenarannya?" tanya Zia, Hany hanya diam begitupun dengan Widya.
"Lo siapa sih?" tanyanya.
"Hany Adelia, anak dari tuan Adef yang mempunyai perusahaan it tersukses di Indonesia" ujarnya sombong 'mau ngibulin gue ya? Kaga bisa bro kaga bisa! Yang tersukses mah perusahaan bokap guee' batin Zia. Dia tersenyum sinis lagi.
"Bokap lo kan bukan Lo? Mikir nih ya, Lo dan gue sama yang lain itu cuma numpang di bumi, jadi jangan sok jadi pemilik ataupun penguasa bumi! Paham" sahut Zia, Hany pun menjadi geram.
"Wah, asli. Songong banget Lo! Lo pasti irikan sama guee?!" Ujar Hany. 'kegeeran lagi dih hajab hajab. Mending gue cabut aja dah daripada ni anak makin bacot ngebuat gue emosii' batin Zia lagi. Dia pun meninggalkan Hany.
"Eh woi, mau kemana lo??" teriak Hany, Zia hanya mengabaikannya dan terus berjalan. Dia melihat kebelakang cukup lama, dan saat dia melihat kedepan,
Brukkk..
Zia menabrak seseorang.
"Aduuuuh" keluh Zia.
"Sakit?" tanya pria itu.
"Varo?! Lah ngapa Lo lagi sihh?" tanya Zia.
"Jodoh emang gak kemana, kawin yok" ujarnya.
"Masyaallah geli gue geli, cabut ahh" ujar Zia lalu pergi menuju parkiran kampus.
"Eh tunggu gue becandaaa" kejar Bian sambil tertawa.
"Bibir Lo kenapa?" tanyanya.
"Gue gak bodo Ziaa" protes Bian.
"Yang bilang lu bodo siapa Varo"
"Ngeselin ya lu!!" protes Bian.
"Baru sadar" jawab Zia sambil cekikikan.
"Gue balik duluan ye!"
"Hm, tihati" balas Bian. Zia pun mengabaikan perkataan Bian dan langsung menuju rumahnya. Sedangkan Bian yang dikampus tersenyum senyum seperti orang gila.
"Obat Lo abis?" tanya Kris tiba tiba.
"Ah ngerusak mood gue aja ilahh!" jawab Bian, Kris hanya tertawa.
"Kerasukan makhluk astral dari mana"
"Dari badanlo" jawab Bian kesal.
"Tadi senyum senyum sekarang marah marah. Heran gue heran" protes Kris.
Bian pun pergi meninggalkan Kris, dia menuju ke kelasnya untuk mengambil tasnya. Sesampainya di kelas dia tidak melihat barang yang dicarinya. Dia kembali ke parkiran dan bertanya pada Kris.
"Kris, tas gue man..—" belom selesai perkataan Bian, Kris meletakkan tas itu tepat di depan mukanya.
"Bukannya bilang Lo kampret!"
__ADS_1
"Lo nya aja asal nyelonong gak make nanya!!!" Balas Kris, Bian hanya menyengir. Mereka pun berjalan ke parkiran, mereka pulang dengan kendaraan masing-masing dan kerumah masing-masing.
—
—
"Zia pergi duluu," pamit Zia.
"Eh mau kemana kamu Zi? Baru pulang udah pergi lagi" tanya mamanya.
"Mama lupa Zia nih wanita muda berkarir"
"Halah lahh, prett" sambar Zai.
"Sepi ya kagak ada si Zean." keluh Zia. Tiba-tiba..
"Assalamualaikum, Zean comeback!!!!" Seru Zean kuat kuat.
"Berisikkk banget astaga, mulut lo tu ya bang. Kagak bisa diukur gitu tangga nadanya?" tanya Zia, Zean menghampiri Zia dan Febby menuju dapur.
"Kagak bisa, suara gue mah gak bisa ditawar" jawabnya makin keras sambil mengacak rambut Zia.
"Dateng dateng rusuh, heran gue" balas Zia.
"Sebelum dateng tadi bilangnya 'sepi ya kagak ada zean' giliran udah dateng ributttt mulu kagak ada abis abisnya" protes Zeco. Zia hanya tersenyum sambil mengangkat kedua jarinya membentuk 'V'
"Ziaaa, Zaii, Luis sini dehh" panggil Febby. Zia dan kedua pria itu pun berjalan menuju Febby.
"Apaan kak?" tanya Zia.
"Wahh wahh wahhh, kakak ipar buat kuee?" tanya Zai.
"Nikmat emang punya kakak ipar bisa masak. Gendut lah itu si Zean di masakin kue mulu sama kak ipeb" komen Zia, dia ingin mengambil kue itu dengan tangannya, tetapi tangannya dipukul oleh Zeco.
"Tangannya Ziaa, cuci tangan dulu sana. Kalau gak pake sendokk" suruh Zeco.
"Ceileh bapakk" komen Zia, lalu dia mengambil sendok dan memakan kue itu. Gak berselang lama teleponnya berbunyi.
—Ivan laki Icak—
Zia; hm.. apaan? (sambil mengunyah kue).
"Telan dulu baru ngomong!" suruh Luis.
📞 Ivan; lo sama Luis dimana ege? kita nungguin nihh.
Zia; emang mau ngapain??
📞 Ivan; nanem tulang ikan, biar jadi pohon!
Zia; wah, nyantuy dong bang. Kagak bisa santuy? (berlari menuju kamarnya).
📞 Ivan; lah Lo sih! Udah cepetan sini. Berkarat kita nungguin loo!
Zia; dimana kalian???
📞 Ivan; Tokyo, Jepang.
Zia; (terkekeh, sambil berjalan keluar kamar) gak sabaran amatt sih lu. Iye nih gue otw.
📞 Ivan; cepetann!! (mematikan teleponnya)
__ADS_1
"Luis, ayok go! Ditunggu sama si ivannn" ajak Zia, Luis pun berjalan menuju kamarnya untuk berganti baju. Kemudian keluar kembali dan berangkat menuju lokasi.
"Zia nginep di apartemen yaa" izin Zia pada mama papanya. Kedua orang tuanya pun hanya mengangguk setuju.