
Setelah selesai dengan urusan makanan, Zeco kembali fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk. Gak lama kemudian ada panggilan masuk di ponselnya.
βHansβ
π Hans; Assalamualaikum, kau dimana Ze?
Zeco; FiveZ. Kenapa?
π Hans; Aku ingin bertemu.
Zeco; Dimana?
π Hans; di Perusahaan ku saja. Cepat kutunggu.
Zeco; 25 menit lagi aku akan sampai.
π Hans; terserahmu (memutuskan panggilannya).
"Ada apa tuan?" tanya Luga.
"Ada sesuatu yang perlu saya urus. Bisa kamu membatalkan jadwal saya hari ini luga?" tanya Zeco.
"Akan saya usahakan." jawab Luga.
"Baiklah, terimakasih. Saya pergi dulu" pamit Zeco.
"Hati hati tuan" kata Luga, Zeco tersenyum lalu pergi.
β-β
Sesampainya Zeco di ruangan Hans.
"Ada apa manggilku kesini?" tanya Zeco.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Bersangkutan dengan tragedi Zia" jelas Hans.
"Apa itu?" tanya Zeco.
"Ah, sebentar. Tunggu detektif ku datang" suruh Hans. Mereka pun menunggu.
5 menit kemudian.
"Maaf Aska terlalu lama" ujar Aska tidak enak, dia menyalimi tangan papanya dan tangan Zeco.
"Maaf Aska mengganggu waktu om dan papa." kata Aska lagi.
"Jangan terlalu banyak permintaan maaf nak, ada apa?" tanya Zeco.
"Peneroran, orang suruhan, dan tragedi kemaren. Semua sudah terungkap" ujar Aska memulainya.
"Siapa? Siapa dalangnya?" tanya Zeco antusias.
"Orang yang membully Zia kemarin dikampus" jawab Aska.
"Hah? Kamu tidak salah kan Aska?" tanya Hans.
"Tidak pa, semua sudah Aska selidiki. Beserta buktinya sudah Aska dapatkan" ujar Aska.
"Apa buktimu nak?" tanya Hans.
"Sebentar" Aska mengambil laptop dari dalam tasnya, lalu memutar video. Mereka semua mengamatinya.
"Bukti pertama tentang teror, asisten om Zeco bilang pelaku laki laki, nyatanya pelaku itu perempuan. Dia memakai pakaian seperti laki laki untuk mengelabui kita." ujar Aska menjelaskan.
"Kamu tau dari mana?" tanya Hans.
"Emm, ini sedikit.. aduh Aska bingung jelasinnya." Aska memutar kembali videonya.
"Video ini di bagian kasir, lihat di dadanya ada.. itulah pokoknya. Dan ini" Aska menunjuk video yang dihentikannya.
"Ada namanya, Hany Adelia"
"Jenius, kenapa luga tidak melihatnya?" tanya Zeco.
"Khilaf mungkin" jawab Hans.
__ADS_1
"Aska udah cari di Instagram, foto Hany Adelia itu sama seperti foto orang yang papa tunjukkan kemarin"
"Dia itu anaknya Adef, musuh mu" kata Hans.
"Aku tau" jawab Zeco.
"Selanjutnya, bukti tentang orang suruhan yang buat tangan Zia terluka" ujar Aska.
"Aska merekamnya dengan kacamata perekam yang elite, belinya mahal tau"
"Kamu promosi atau minta ganti rugi" tanya Hans
"Papa jangan suudzon kek" suruh Aska sambil melihat Hans datar.
"Papa bercanda Aska"
"Aska tau pa" jawab Aska.
Tok tok tok..
"Minumnya tuan" kata office girl.
"Lama kali mbak, udah haus saya" keluh Aska, dia langsung meminum minumannya.
"Iya maaf tuan, tadi ke supermarket dulu" kata OG itu. Kemudian dia pergi.
"Oke lanjut" ujar Aska setelah minum. Dia memutar video berikutnya.
β[Video saat bicara dengan preman yang menghantam Zia]β
"Katakan pada saya, siapa yang menyuruh anda saat itu!" suruh Aska tegas.
"Tidak ada untungnya sama Lo. Kejadiannya juga udah lamakan." jawab preman.
"Jangan buat saya marah, anda tinggal katakan siapa orangnya!"
"Udah gue bilang bukan urusan Lo cupu" aska menendang preman itu, hingga dia tersungkur. Preman itu tidak tinggal diam dia membalas Aska. Mereka pun bertengkar, sampai akhirnya preman itu kalah. Aska memijak dada pria itu.
"Bagaimana? Anda bisa mati ditangan saya sekarang jika anda tidak mengatakan semuanya pada saya!" ancam Aska.
"Bagus, coba saja anda mengatakannya dari tadi. Kita tidak perlu bertengkar dan menghabiskan tenaga." ujar Aska. Aska mendekatkan dirinya ke preman itu. Membogemnya sekali lagi.
"Penutupan, makasih ya. saya pergi dulu" pamit Aska lalu pergi.
~
"Bengis juga kamu ya" cibir Hans.
"Jangan lupa kamu juga gitu Hans, darah mu mengalir pada Aska" sahut Zeco.
"Om Zeco bener" jawab Aska.
"Anak guaa dikata cupu, lah dia apaan?" tanya Hans.
"Papa bahasanya udah rada gaulan gitu ya?" tanya Aska.
"Hah? ehh?" tanya Hans, Zeco tertawa.
"Papa kamu, papa zaman now Aska" sahut Zeco.
"Terserah mu dah Ze" balas Hans.
"Papa baperan hahahahaha" ujar Aska.
"Skip deh ya, ini gak ada yang Aska jelasin kan, pasti taulah. Gisell itu adiknya tuan Kiw. Nah tuan Kiw itu orang yang berkhianat di HzIn kan om?" tanya Aska.
"Iya" jawab Zeco.
"Okee.. nextt" kata Aska.
"Aska laper pa" keluh Aska. Zeco langsung menyambar ponselnya, menelpon orang untuk membawa 3 bungkus makanan untuk mereka.
"Teman, suami dan papa yang siaga" cibir Hans.
"Terserahmu!" balas Zeco, gak lama kemudian makanan tiba, mereka pun makan.
__ADS_1
"Papa dan om Zeco sejak kapan berjumpa? Setau Aska nih ya, om Zeco kan warga negara Jerman. Lah papakan orang lokal?" tanya Aska setelah selesai makan.
"Papa gak lokal lokal amat ka, uyut kamu dari Amerika" cela Hans.
"Om Zeco itu baik, dia pernah tolongin papa waktu papa kesasar di Jerman." lanjut Hans.
"Mmm.. pantesan Zia, bang Zean, sama Zai baik" ujar Aska.
"Kamu demen sama Zia kan?" tanya Zeco.
"Hah? Oke lanjut. Ini video rekaman cctv di supermarket waktu Zia kecelakaan."
"Eh dasar," cibir Hans. Mereka pun menonton rekaman itu. Gisell yang melempar hp, adu mulut diantara mereka dan lainnya semua terlihat dengan jelas.
"Sialan," umpat Zeco.
"Sabar om sabar" sahut Aska.
"Yang nabrak itu siapa Aska?" tanya Hans.
"Plat mobilnya gak kelihatan pa, Aska gak bisa temuin. Tapi intinya ini salah mereka berdua. Kalau mereka gak lempar hp Zia semua gak bakal terjadi" jawab Aska.
"Kamu lebih cocok jadi detektif daripada jadi pengusaha" kata Zeco.
"Jangan menjerumuskan anakku Ze" sahut Hans.
"Tidak" kata Zeco. Aska tertawa melihatnya.
"Aku pergi dulu, aku ingin membunuhnya" ujar Zeco.
"Eh Om, om Zeco santai aja. Jangan dibunuh, Aska juga pengen bunuh tapi gak jadi. Nanti Aska bakal balas semua perlakuan mereka" kata Aska.
"Au tuh, langsung bunuh aja dah. Sabar sabar" suruh Hans.
"Anakku menderita karena mereka"
"Santuy mas santuy" suruh Hans.
"Bapak bapak tau kata santuy juga ya?" tanya Aska sambil memasukkan laptopnya.
"Eh dasar, anak siapa lah ini?" tanya Hans. Aska dan Zeco tertawa karena Hans.
"Om serahin aja sama Aska, nanti Aska balasan dendamnya om ke mereka. Kalau gitu Aska pergi dulu, mau lihat Zia. Assalamualaikum" pamit Aska lalu pergi.
"Sepertinya perjodohan Zia dengan Bian akan aku batalkan selamanya" ujar Zeco.
"Mengapa?" tanya Hans.
"Aku ingin menjodohkan Aska dengan Zia"
"Jangan seperti itu, jangan lupa tentang perjanjian dan hutang budimu dengan Mahen"
"Aku tau, tapi, saat kejadian saja dia terlambat datang. Sedangkan Aska, dia benar benar suami siaga sepertiku"
"Jangan memuji diri sendiri, sana pergi aku banyak kerjaan"
"Kau menyuruhku kesini dengan cepat, sekarang kau mengusirku teman macam apa kau"
"Jangan baper Zeco"
"Terserah padamu, aku balik dulu. Eh tunggu"
"Apa lagi?"
"Apa kau menjodohkan Aska dengan wanita lain?"
"Tidak pernah, aku tidak ingin mengekangnya tentang cinta"
"Bagus, kalau gitu aku pergi" Zeco pun langsung pergi dari ruangan Hans.
_____________________________
Bonus satu chapter dengan syarat, komen yang banyak tanpa kata "Up", "Lanjut", dan sebagainya :)
_____________________________
__ADS_1