
Setelah sampai dirumah Cenzo entah kenapa Mate terus saja menangis, Nara sampai kehabisan ide untuk membujuk Mate agar tidak menangis lagi.
"Mate, kan sudah janji akan menjadi anak yang baik, sekarang jangan menangis lagi ya" Ucap Nara
"Mama Mate kemana Aunty mama?" Tanya Mate.
Mendengar pertanyaan Mate, Nara seketika langsung terdiam.
"Oppa aku tak sanggup lagi, bagaimana cara memberitahu Mate" Ucap Nara pada Cenzo
"Biar aku yang urus, Kamu istirahat saja"
Cenzo pun berjalan menghampiri Mate yang sedang menangis itu.
"Mate. Mate kan sudah janji akan menjadi anak yang pintar dan tidak nakal" Ucap Cenzo
"Mama mate mana?"
"Mama Mate sekarang sudah pergi ketempat ya indah sekali, kan Mate sekarang sudah punya Papa, jadi Mama Mate mau kerja dulu" Jelas Cenzo
Mate yang mendengar penjelasan Cenzo seketika langsung terdiam.
"Jadi Mama Mate bekerja ditempat yang bagus Uncle? Papa?"
"Iya sayang. Kalau kau menangis terus nanti Mama Mate tidak mau pulang"
"Oke, Mate tidak akan menangis lagi"
"Anak pintar. Sekarang Mate istirahat ya"
"Siap Pa"
Melihat cerita Mate, Cenzo jadi ingat Papanya. Sudah berapa tahun Cenzo mencarinya tapi tidak ketemu. Mama Cenzo pun seakan tak ingin memberi tahu Cenzo dimana Papanya sekarang.
"Sepertinya aku harus bersabar untuk itu" Ucap Cenzo dan segera menyusul Nara dan Mate yang sedang istirahat.
Saat Cenzo masuk, Cenzo melihat Nara yang baru saja menidurkan Mate. Cenzo dapat melihat raut kesedihan di wajah Nara saat Nara menatap wajah Mate.
"Baby" Panggil Cenzo
"Oppa, kasihan sekali anak ini" Ucap Nara
"Sudah, sekarang kan Mate ada Kamu yang menggantikan Mamanya, kamu istirahat ya" jelas Cenzo sambil mengelus perut Nara.
"Baby aku tak sabar menantikan dia keluar Nanti" Ucap Cenzo dan mengecup perut Nara
"Masih lama Oppa"
"Tak bisakah dipercepat Baby?"
"Kau ini ada-ada saja. Kalau ingin dipercepat, sana buatlah kerjasama dengan tuhan" Ucap Nara sambil tersenyum.
Cenzo ikut tersenyum melihat Nara, hati Cenzo seketika menjadi hangat.
"Sekarang Baby tidur ya"
"Peluk" Ucap Nara dengan sangat manja.
"Baiklah sini bayi besar ku" Cenzo memeluk Nara dan membelai rambut Nara hingga Nara tertidur.
Cenzo pun kemudian ikut tertidur di sebelah Nara.
Ditempat lain Jimin baru saja selesai menyiapkan upacara pemakaman Cristal dibantu oleh Suho.
"Suho" Panggi Jimin dengan pelan
"Iya tuan"
__ADS_1
"Apa aku bisa membesarkan Mate sendiri tanpa dia"
"Tenanglah Jimin, Nyonya Nara pasti akan membantumu, Kau dengarkan saja perkataan Tuan Cenzo sekarang jangan sampai membuatnya marah lagi"
"Baiklah"
Jimin sekarang begitu lesu, tak biasanya melihat Jimin seperti ini. Dari kejauhan datang seorang pria muda sambil mengusap air matanya.
"Kakak...." Ucap pria itu sambil menangis.
Jimin yang mendengar itu langsung bangkit dan menghampiri pria itu.
"Siapa kau?" Tanya Jimin
Pria itu segera memalingkan wajahnya dan menghadap kearah Jimin.
"Kau siapa?" Tanya balik pria itu.
"Aku ayah dari anaknya"
Dengan sekejap pria itu langsung melayangkan tinjuannya ke wajah Jimin.
"Jadi kau pria brengsek yang membuat kakakku mengalami hidup yang sulit seperti ini" Teriak pria itu.
Saat pria itu akan memukul Jimin kembali Suho segera melerainya.
"Tapi dia sudah membuat hidup Kakakku seperti ini"
"Maafkan aku. Aku berjanji akan mengurus Mate dengan baik" Kata Jimin
"Dasar bajingan"
"Sudah. Bicarakan nanti dengan baik-baik"
Pria itu segera pergi dan mendoakan Kakaknya kembali tanpa memperdulikan keberadaan Jimin disitu.
Suho yang tidak ingin situasi itu terjadi lagi segera menghubungi Cenzo agar cepat datang kesini.
Di kamarnya Cenzo yang baru saja tertidur harus bangun lagi karena mendengar suara ponselnya.
Cenzo melihat ternyata yang menghubungi adalah Suho, Cenzo dengan cepat mengangkat panggilan itu.
"Kenapa?" Tanya Cenzo
"Tuan Jimin baru saja berkelahi dengan seorang pria yang mengaku sebagai adik Nona Cristal tuan" Jelas Suho dari sebrang telepon
"Baiklah sebentar lagi aku kesana" Cenzo segera mengakhiri panggilan tersebut.
Cenzo membangunkan Nara dengan pelan.
"Baby ayo ke upacara pemakaman Cristal" Ucap Cenzo.
Nara yang mendengar itu seketika langsung terbangun.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Mate Oppa?"
"Kita ajak saja, bagaimanapun ini upacara pemakaman Mamanya"
"Baiklah kau siap-siap saja terlebih dahulu, biar aku yang membangunkan Mate"
Cenzo pun dengan cepat bersiap-siap dan Nara sudah selesai membangunkan Mate segera menyusul Cenzo dan bersiap-siap juga.
Mereka semua sudah rapi dan akan berangkat ke tempat upacara pemakaman itu.
"Aunty Mama kita mau kemana?" Tanya Mate
"Jangan banyak bertanya sayang, Nanti mate juga akan tau" Ucap Nara
"Baik Aunty mama"
Sekitar 30 menit akhirnya mereka pun sampai. Cenzo segera menghampiri Nara dan merebut Mate dari gendongan Nara.
Saat masuk keruangan itu Cenzo melihat seorang pria yang sedang khusyu berdoa. Cenzo dan Nara segera menghampiri Suho dan Jimin.
"Apakah itu dia?" Tanya Cenzo
"Iya bos"
Cenzo dan Nara pun mendekat kearah pria itu dan ikut mendoakan Cristal. Jimin yang melihat Mate seketika air matanya menetes.
"Papa kenapa?" tanya Mate
"Tidak, mata Papa hanya kemasukan debu boy" Jawab Jimin sambil menghapus air matanya.
Pria itu yang mendengar suara Mate segera menghampiri Jimin dan berniat merebut Mate.
"Berikan keponakanku" Ucap Pria itu.
Cenzo segera datang dan melerai mereka. Cenzo merebut Mate dari gendongan Jimin dan meminta Suho untuk membawa Mate keluar bersama dengan Nara.
"Kenapa kau membawa keponakanku" Teriak pria itu
"Lantas apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Cenzo
"Aku yang akan mengurusnya mulai sekarang"
"Tidak. Aku ayahnya, dan aku yang akan mengurusnya" Tolak Jimin
"Kau lupa, kau kan sudah menelantarkannya" Ucap Pria itu
"Tapi Cristal sudah meminta Jimin mengurus anaknya" Kata Cenzo
"Tidak bisa. Aku pamannya dan aku yang akan mengurusnya"
"Memang kau bisa memenuhi kebutuhannya dengan layak?, Kau ingin Mate hidup sengsara lagi seperti dulu" Ucap Cenzo
Pria itu seketika langsung terdiam mendengar perkataan Cenzo.
"Memang aku miskin, tapi aku akan bekerja dengan sangat tekun untuk Mate" Kata pria itu
"Lantas jika kau bekerja kau akan meninggalkan Mate sendiri dirumah" Tanya Jimin
"Orang kaya memang selalu benar dengan uang mereka" Ucap pria itu dan langsung pergi dari sana.
Jimin berusaha akan mengejar pria itu tapi Cenzo dengan cepat menahannya.
"Sudahlah biarkan saja dia. Dia juga sedang berduka" Ucap Cenzo. Jimin langsung memeluk Cenzo
"Tenanglah aku tau ini berat. Tapi kau juga harus membesarkan Mate dengan baik" Kata Cenzo mencoba menyemangati Jimin.
"Kau memang sahabat terbaikku. Thanks bro" Ucap Jimin.
Next.....
__ADS_1