
Satu minggu telah berlalu, Nara terlihat sedang mengantarkan Cenzo yang akan berangkat bekerja.
"Oppa berangkat dulu ya" Ucap Cenzo sambil mengecup kening Nara
"Iya hati-hati dijalan, cepat pulang ya"
"Iya tunggu saja mungkin aku pulang sekitar jam 5 nanti kalau di kantor sedang tidak sibuk"
"Ya sudah cepatlah berangkat, Suho sudah menunggu"
Cenzo pun akhirnya masuk kedalam mobil menyusul Suho dan mereka berdua pun berangkat.
Nara kembali kedalam untuk membersihkan dirinya dan merapikan kamarnya. Nara tidak suka jika kamar yang mereka berdua tempati harus dibersihkan oleh orang lain.
Kamar mereka itu privasi jadi hanya mereka saja yang boleh menyentuh barang-barangnya apalagi tempat tidur.
.
.
.
Ding dong.... Ding dong..... Ding dong
Bel rumah berbunyi dan menandakan sedang ada tamu yang datang ke rumah mereka.
Bibi pun segera membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.
Ceklekkkkk....
Pintu terbuka, menampilkan seorang wanita yang berusia cukup tua berdiri didepan pintu dengan gaya berpakaian yang begitu terlihat sopan.
"Selamat pagi, anda mencari siapa nyonya?" Tanya bibi
"Apa Cenzo nya ada di rumah?" Tanya wanita itu
"Tuan Cenzo baru saja berangkat ke kantor bersama tuan Suho"
"Kalau begitu bagaimana dengan Lucca dan Jimin?" Tanyanya lagi
"Tuan Lucca dan Tuan Jimin juga dari kemarin belum pulang kesini, sepertinya mereka sedang sibuk bekerja"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu"
"Jika memang nyonya sedang memiliki hal penting untuk disampaikan kepada tuan-tuan sekalian, Nona Nara sedang ada di rumah sekarang anda bisa menyampaikan kepadanya" Jelas Bibi
"Nara, siapa dia?"
"Nona Nara adalah istri dari Tuan Cenzo Nyonya, jika anda ingin berbicara dengannya saya bisa panggilkan sekarang"
"Baiklah tolong panggilkan dia ya"
"Baik nyonya silahkan masuk dan menunggu di dalam"
Bibi pun segera naik kelantai atas untuk memanggil Nara. Bibi mencari Nara dikamar tapi sudah mengetuk beberapa saat tidak ada respon sama sekali dari Nara.
Jadi bibi berinisiatif untuk pergi ke kamar anak-anak saja pasti Nara sedang ada di sana. Baru beberapa langkah lagi Bibi sampai dikamar itu dia sudah bisa mendengar suara ricuh Nara dan Anak-anak yang sedang bermain.
Tok tok tok....
"Masuk" Ucap Nara dari dalam
Bibi pun langsung masuk kedalam dan menyampaikan pesan itu kepada Nara.
"Maaf mengganggu waktunya Nona, dibawah sedang ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" Jelas Bibi
"Entahlah Nona saya juga tidak tau, dari penampilannya sih begitu sopa kalau dilihat-lihat usianya sekitar 50an"
"Siapa ya. Ya sudah aku turun dulu untuk melihatnya. Anak-anak mau ikut Mommy apa bermain sendiri disini?"
"Ikut mommy saja"
Nara pun turun kebawah untuk menemui tamu itu dengan menggendong Clay dan menuntun Mate.
Mereka turun menggunakan Lift karena tak mungkin jika Nara mengajak anak-anak turun melalui tangga itu terlalu berbahaya.
Kaki Nara sudah sembuh beberapa hari yang lalu, gips sudah dilepas dan syukurlah kaki Nara sembuh seperti sebelumnya.
Tinggg.....
Pintu lift sudah terbuka dan menandakan mereka sudah sampai dilantai bawah, Nara segera menghampiri orang itu.
Saat berjalan Nara masih tak tau siapa wanita tua itu tapi setelah beberapa langkah lagi Nara tau siapa orang yang sedang bertamu kerumahnya sekarang.
__ADS_1
"Mama" panggil Nara dan membuat wanita itu langsung menoleh kearahnya dan berdiri.
Wanita itu hanya memandang Nara dan anak-anak secara bergantian. Pandangannya begitu dalam hingga membuat hati Nara terenyuh.
"Mama sudah lama sampai disini?, Maafkan aku karena membuat Mama menunggu" Ucap Nara sambil mendekat kearah Mama dan duduk disebelahnya.
"Anak-anak perkenalkan ini adalah Nenek" Ucap Nara
"Apa kami punya Nenek Mommy" Tanya Mate
"Punya ini dia ada didepan kalian cepat sapa Nenek"
"Hallo Nenek aku Mate" Ucap Mate
"Aoo Nenek atu Clay" Ucap Clay dengan gemasnya
"Apa mereka anak Cenzo?" Tanya Mama
"Yang besar ini adalah anak Jimin dan yang kecil anak kami, tapi kami sudah menganggap Mate seperti anak kami sediri" Jawab Nara
"Berarti Jimin sudah menikah kemana istrinya?"
"Mama Mate sudah meninggal ma, jadi Jimin masih sendiri sekarang"
"Ya tuhan maafkan mama ya"
"Tidak apa-apa ma"
Setelah percakapan itu mereka pun diam, suasana seketika menjadi canggung.
"Nara, apa kau sudah tau cerita dari suamimu saat dia pergi ke Korea kemarin?"
"Tau ma, Oppa sudah aku kasih pengertian secara perlahan agar dia bisa mengerti"
"Sebenarnya ini juga adalah salah mama karena menyembunyikan masalah sepenting ini dari Cenzo"
"Sudah ma, sudah terlanjur juga, aku yakin lambat laun Oppa pasti mengerti"
Mereka berdua mengobrol cukup lama hingga Mama berpamitan untuk pulang karena sudah terlalu lama dia pergi. Mama juga berpesan agar tidak memberitahukan kepada Cenzo jika dirinya datang.
Setelah melihat kepergian Mama, Nara begitu senang hubungannya dengan ibu mertua sekarang sudah berangsur-angsur membaik.
__ADS_1
Next.....