Daddy Sugar Baby

Daddy Sugar Baby
178. Menjenguk


__ADS_3

Disebuah rumah terlihat Alice sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja di rumah sakit. Walaupun kejadian yang menimpa dirinya dan Nara sudah beberapa hari yang lalu pikiran Alice masih terus saja tertuju kepada Nara yang sampai saat ini Alice masih belum mengetahui bagaimana kabar Alice.


Alice tidak berani untuk menanyakan kabar Nara kepada Jimin karena Alice masih takut mengingat kemarahan Cenzo yang begitu besar kepadanya waktu itu.


"Bagaimana keadaan Nara sekarang ya" Ucap Alice sambil mengeluarkan motornya dari dalam garasi.


Setiap detik pikirannya selalu tertuju kepada Nara dan Jimin. Nara yang tak tau keadaannya seperti apa sekarang dan Jimin yang sudah sembuh atau belum sekarang Alice begitu bingung.


Saat melihat Cenzo yang marah seperti itu Alice juga tak menyalahkan Cenzo karena Alice juga lalai menjaga Nara dan membiarkan Nara sendirian walaupun bukan tanggung jawab dari Alice tapi tetap saja Alice merasa bersalah.


Andai saja waktu itu mereka berdua turun bersama dan Alice tak menjawab panggilan telepon itu mungkin Nara masih sehat sekarang dan Alice tak perlu merasa seperti ini.


"Sudahlah aku yakin Vincenzo akan melakukan apapun untuk kesehatan Nara, aku hanya perlu menyelinap untuk menjenguknya lain waktu" Kata Alice dan berlanjut menuju ke rumah sakit untuk bekerja.


.


.


Jimin dan Lucca sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Nara dengan paksaan dari Mate dan Clay yang dari tadi pagi sudah merengek terus-menerus membuat telinga mereka berdua sakit.


Jimin jadi ingat kejadian beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


****Flashback**** On


Jimin yang saat itu sedang pulas tertidur di kamarnya tiba-tiba dikejutkan dengan perbuatan Mate yang tiba-tiba masuk kedalam kamar dan naik keatas tempat tidur.


Begitu naik ke atas tempat tidur Jimin, Mate langsung melompat tempat disamping Jimin tidur hingga membuat Jimin terkejut dan langsung terbangun.


"Papa ayo bangun kita ke Mommy sekarang" Teriak Mate secara terus-menerus sambil melompat ke sana kemari.


Karena keributan yang diciptakan oleh anaknya itu mau tak mau Jimin harus bangun dan menghentikan Mate yang sedang melompat-lompat itu.


"Boy berhentilah" Ucap Jimin dengan suara yang serak layaknya orang bangun tidur sambil mengatur posisinya untuk duduk.


Bukannya mendengarkan Mate malah terus saja melompat hingga Jimin sudah tak tahan lagi dan menangkap Mate yang terus saja melompat tak karuan itu.


"Papa janji kan sekarang kita ketempat Mommy, ayo berangkat" Ucap Mate yang ada dalam dekapan Jimin


"Yes Boy, tapi kau mandi dulu ya, setelah mandi bangunkan Om Lucca karena kita akan berangkat bersamanya nanti"


Mate dengan cepat turun dari pangkuan Jimin dan berlari keluar menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.


Apa kalian pikir sudah selesai, belum. Jimin masih harus memandikan anak-anak dan memakaikan mereka baju belum lagi menyuapi mereka makan.

__ADS_1


Hanya Jimin yang melakukannya karena Suho yang sibuk bekerja dan Lucca yang masih tidur di kamarnya.


Flashback Off.


Beberapa saat kemudian mereka semua akhirnya sampai di rumah sakit. Mate dan Clay didalam mobil diam tidak bersuara sama sekali karena takut ada Lucca di sana.


Sebenarnya Lucca tidak galak tapi entah kenapa anak-anak begitu takut kepada Lucca. Mungkin karena wajahnya yang begitu datar dan tidak pernah senyum.


Ada saatnya Anak-anak bermain dan tertawa bersama dengan Lucca tapi kebanyakan anak-anak selalu diam jika bersama dengan Lucca beda jika anak-anak bersama dengan Jimin, Cenzo, Nara dan Suho.


"Papa ayo cepat masuk" Ucap Mate sambil menarik tangga Jimin.


Jimin yang baru saja sembuh pun masih kewalahan saat harus meladeni Mate dan Clay jika seperti ini.


Tak mau membuat Jimin kecapekan Lucca langsung menggendong Mate dan Clay secara bersamaan agar mereka bisa diam.


Sesampainya di ruangan rawat Nara Mate dan Clay langsung masuk berlari kedalam dan masuk kedalam pelukan Cenzo.


Jimin kadang sempat iri melihat kedekatan Mate dan Cenzo padahal dirinya adalah ayah kandungnya.


Mereka semua akhirnya saling bercerita satu sama lain dan Anak-anak tidak mau lepas dari Nara dan terus saja berada di samping Nara.

__ADS_1


Next....


__ADS_2