Daddy Sugar Baby

Daddy Sugar Baby
110. Aku mohon jangan seperti ini


__ADS_3

Pagi ini Nara sudah mulai membuka matanya. Yang pertama Nara lihat adalah Cenzo yang sedang memangku Mate dan berbicara dengan Lucca. Nara hanya diam tak berniat menegur Cenzo. Sampai pada akhirnya Jimin masuk untuk memeriksa keadaan Nara besama para suster.


"Pagi Sayang....." Sapa Jimin pada Mate dan menghampiri Mate setelah itu menciumnya.


"Diihhh..... Dasar kunyuk sialan" Ucap Lucca


"Kau jangan membuatku marah Lucca" Kata Jimin yang mendengar perkataan Lucca


"Sudah jangan bertengkar, lebih baik kau periksa istri ku sekarang" Ucap Cenzo.


Jimin pun segera pergi dan menghampiri Nara.


"Kau sudah lama bangun Nara" Tanya Jimin yang melihat Nara sudah membuka matanya sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.


Mendengar itu Cenzo langsung memberikan Mate pada Lucca dan berjalan menghampiri Nara.


"Baby, kau sudah sadar" Tanya Cenzo sambil memegang tangan Nara.


Nara hanya diam tak menjawab perkataan Cenzo. Cenzo dapat melihat pandangan mata Nara yang kosong dengan wajah pucat seperti ini membuat Cenzo tak tega.


"Jimin cepat periksa keadaan Nara" Ucap Cenzo


"Kau duduklah kalau begitu bagaimana aku bisa memeriksanya kalau kau berdiri disitu" Jawan Jimin


Cenzo segera pergi dan memperhatikan Nara dari jauh. Jimin memeriksa Nara kembali dan menyuntikkan obat pada cairan infus Nara.


"Keadaanya tidak begitu baik, dia masih syok, kau jangan membuat dia marah" Jelas Jimin


"Baiklah" Cenzo segera mendekat kearah Nara dan duduk di kursi sebelah Ranjang Nara.


Jimin berjalan menghampiri Mate dan akan membawa Mate pulang untuk berganti pakaian dan membeli makanan.

__ADS_1


"Aku bawa Mate pulang V" Ucap Jimin


"Baiklah"


"Aku ikut denganmu Jimin, aku juga butuh sarapan" Kata Lucca


"Cepatlah kau" ucap Jimin


"Kak aku pergi dulu ya, nanti saat kembali akan ku bawakan makanan" Lucca segera pergi menyusul Jimin yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Jimin dan Lucca tau kini saatnya memberikan waktu kepada Cenzo dan Nara untuk saling berbicara.


Cenzo meraih tangan Nara dan memegangnya.


"Baby, kau tidak apa-apa?" Tanya Cenzo.


Seperti tadi Nara hanya diam saja dengan pandangan mata kosong seakan tak memiliki semangat hidup.


Cenzo menyerah, Nara sekarang bukan hanya mengabaikan Cenzo tapi juga mengabaikan orang disekitarnya. Melihat Nara yang seperti ini membuat rasa bersalah Cenzo pada dirinya semakin besar.


Sesaat kemudian Suster datang membawakan Nara makanan dan meminta Cenzo untuk membantu Nara makan.


"Baby, ayo makan dulu, supaya kau bisa cepat sembuh" Ucap Cenzo sambil mengarahkan sesendok bubur ke mulut Nara. Cenzo menunggu Nara membuka mulutnya tapi sampai lama Nara tak kunjung membuka mulutnya juga.


"Baby, please jangan seperti ini" Cenzo mulai meneteskan air matanya. Cenzo tak bisa seperti ini. Gara-gara wanita ****** itu istri dan anaknya mengalami hal sulit seperti ini. Cenzo berjanji walaupun ke lubang semut Cenzo akan menangkap wanita itu.


Cenzo mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Lucca untuk segera bergerak.


"Cepat suruh anak buahmu menangkap tikus itu, Kalau dalam waktu satu hari ini tidak tertangkap maka anak buahmu sebagai gantinya" Ucap Cenzo pada Lucca


"Baiklah kak, aku akan memerintahkan mereka. Nanti aku akan ikut mencarinya agar dia cepat tertangkap"

__ADS_1


"Hemmm....." Cenzo segera menutup panggilan tersebut dan berjalan mendekati Nara kembali.


Cenzo dengan sekuat tenaga dan kesabarannya menghadapi Nara. Merayu Nara agar mau makan walaupun hanya sedikit. Bukan Nara namanya jika tak keras kepala, entah karena syok atau apa tapi jujur Nara terlihat seperti mayat hidup sekarang, pandangannya begitu kosong.


Setelah cukup lama Nara mulai merasakan pusing yang amat sangat. Nara berusaha menahannya dengan sekuat tenang tapi tidak biasa. Nara mulai duduk dan Nara memuntahkan darah segar dari mulutnya dengan sangat banyak. Cenzo panik melihat itu, dan segera memencet tombol darurat di sampingnya.


"Baby are you oke?, Tenanglah dokter sebentar lagi akan datang" Ucap Cenzo sambil membantu Nara memuntahkan darah itu dengan menggunakan jasnya.


Tak lama setelah itu dokter pun datang dan suster pun datang.


Nara memuntahkan darah itu sambil menangis dan memegangi kepalanya sangat begitu sakit seperti ditimpa batu yang sangat besar.


"Tolongggggg..... Sakit sekali" Ucap Nara sambil sesenggukan.


Melihat itu seketika Kaki Cenzo menjadi lemas, Cenzo terduduk diatas lantai sambil melihat keadaan Nara. Tangan dan baju Cenzo banyak sekali terkena bercak darah.


Beberapa saat kemudian Nara pingsan kembali. Suster segera membersihkan darah yang berceceran di lantai dan mengepelnya agar tidak berbau anyir.


"Tuan berdirilah dan bersihkan tubuh anda" Ucap dokter itu.


Cenzo seperti orang yang hilang arah hanya melamun melihat kearah Nara.


"Tuan tubuh anda terkena darah, bersihkan tubuh anda" Ucap Dokter itu kembali sambil menepuk bahu Cenzo


"Haaaa.... I-iya" Cenzo segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.


Di dalam kamar mandi Cenzo sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Cenzo memukul dinding beberapa kali hingga membuat tangannya berdarah meluapkan semua emosi yang ada di dalam hatinya.


Setelah cukup lama di dalam kamar mandi Cenzo keluar dan duduk di kursi sebelah ranjang perawatan Nara.


Penampilan Cenzo sungguh berantakan, dengan tangan yang terluka dan mengeluarkan darah. Pandangan Cenzo tak luput dari Nara yang sedang tidur atau pingsan itu. Cenzo begitu syok melihat keadaan Nara tadi.

__ADS_1


Next....


__ADS_2