
Beberapa tahun sudah berlalu sejak menghilangnya Nara. Cenzo sudah menyerah. Sudah semua negara dia datangi untuk mencari keberadaan Nara, tapi Nara seperti hilang ditelan bumi.
Cenzo masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Nara. Jika masih jodohnya makan kemanapun Nara pergi pasti dia akan kembali ke pelukan Cenzo.
Semenjak Nara pergi Cenzo menjadi sosok laki-laki yang begitu angkuh dan dingin. Cenzo hanya akan bersikap lembut kepada Clay dan Mate.
Mereka berdua tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan. Clay sekarang sudah duduk di bangku sekolah pertama dan sebentar lagi akan lulus dan Mate di bangku sekolah atas.
Cenzo hanya akan menghabiskan waktu dikantornya. Dia berangkat pagi sekali dan pulang larut malam begitu seterusnya. Dulu waktu anak-anak masih kecil di hari libur Cenzo akan mengajak mereka jalan-jalan sebagai pengganti Nara.
Banyak sudah wanita yang menggoda Cenzo, tapi Cenzo menolaknya secara mentah-mentah. Bahkan jika wanita itu berani menyentuhnya Cenzo tak segan-segan untuk memukulnya.
Cenzo paling benci jika ada wanita yang menyentuhkan kecuali Nara.
Surat cerai yang Nara tinggalkan sampai saat ini Cenzo belum menandatanginya. Cenzo tak akan mau melakukan itu. Dan sampai detik ini Nara masih menjadi istrinya walaupun Cenzo tak tau dimana Nara sekarang.
Cenzo tak sepenuhnya menyalahkan Nara atas keputusan yang dia ambil. Mungkin dia pun akan melakukan hal yang sama jika menjadi Nara. Cenzo terlalu takut jika sesuatu terjadi kepada orang yang dia sayang.
Tapi bodohnya Nara kenapa dia tidak memberitahu masalah yang sedang dia hadapi kepada Cenzo suaminya sendiri.
__ADS_1
Sebagai balasan atas apa yang menimpanya Cenzo mengasingkan Mamanya. Cenzo membawanya pergi jauh ke pulau terpencil. Cenzo mengurusnya di sana.
Tapi masalah kebutuhan Cenzo mencukupi semua kebutuhan Mamanya. bahkan ada anak buah Cenzo yang Cenzo tugaskan untuk mengirim setiap bahan makanan ataupun keperluan rumah yang habis ke sana.
Tapi untuk memaafkan Cenzo masih belum bisa. Cenzo tak benci kepada mamanya, tapi dia marah dan kecewa.
.
.
"Uncle diaman Daddy?" Tanya Clay Kepasa Suho yang sedang duduk di runang tengah sambil memainkan ponselnya.
"Kantor. Kau tau kan kalau Daddy mu itu gila kerja" Jawabnya
Masalahnya Clay juga khawatir dengan kesehatan Cenzo. Sekarang sudah jam 8 malam tapi Daddy belum kunjung pulang juga.
padahal Clay dan Mate sudah sering mengingatkan untuk tidak kerja dengan berat dan lembur terus menerus Cenzo hanya mengangguk tapi tak dihiraukan perkataan dari anaknya.
Kerja boleh tapi harus sesuai dengan waktu. Seperti sekarang jam 8 Cenzo belum pulang, mungkin nanti jam 9 atau jam 10 dirinya baru pulang, setelah itu paginya jam 6 dia sudah berangkat lagi ke kantor. Begitu terus seterusnya.
__ADS_1
Clay dengan mendengus mengambil ponsel yang ada di mejanya kemudian menelepon Cenzo.
"Daddy pulang sekarang atau aku pergi dari rumah dan tinggal bersama kak Mate di apartemen" Ucap Clay dengan kesal.
"Haha maaf boy, sekarang Daddy pulang kau tidurlah dulu" Jawab Cenzo dari balik telpon dan langsung mematikan panggilan tersebut.
Clay langsung merebahkan dirinya di tempat tidur sambil menatap ke langit-langit kamar.
"Andai saja Mommy tidak pergi, semua ini tidak akan terjadi. Diaman Mommy sekarang, apa kabarmu baik. Cepatlah pulang aku rindu Mommy, Daddy rindu Mommy dan kak Mate juga" Ucap Clay dengan lirih.
Clay selalu berdoa agar suatu hari nanti Nara akan kembali. Clay kasihan melihat Daddy-nya yang seperti orang gila kesana kemari mencari Nara tapi tak pernah ketemu.
"Semoga saja Mommy cepat kembali dan bisa berkumpul bersama-sama lagi. Tuhan bantulah kami" Ucap Clay terus memejamkan matanya
.
.
.
__ADS_1
Hay readers untuk cerita Nara dan Cenzo sementara sudah selesai ya. Author sedang menulis cerita baru jadi selamat mampir ya... Terimakasih sudah setia membaca cerita ini.
Jangan lupa baca Cerita Arabella by Navindra yaa...