Daddy Sugar Baby

Daddy Sugar Baby
151. Sudah ditentukan


__ADS_3

Setelah pembicaraan serius itu Cenzo pun mengajak Nara untuk istirahat mengingat keadaan Nara yang belum pulih secara total jadi Nara masih dalam masa pemulihan.


Cenzo melihat Nara yang sudah terlelap dalam pelukannya. Cenzo mengelus-elus kepala Nara sambil terus menciumi kepala Nara.


"Tetaplah disamping ku hingga kita tua nanti, Love you" Ucap Cenzo dan menyusul Nara tidur juga.




Ditempat lain terlihat Lucca dan Jimin sedang berada di salah satu bar milik Cenzo. Lucca dan Jimin memesan satu botol wine dan meminumnya sambil duduk di kursi.



"Ini semua gara-gara kau Park Jimin" Ucap Lucca sambil meminum Wine tersebut dengan satu kali tegukan.


"Bukannya kau juga yang memintaku untuk mengurusnya" Kata Jimin yang tak mau disalahkan oleh Lucca



"Kau tau kan Lucca bagaimana jadinya jika Cenzo marah ke kita secara Cenzo sudah bucin akut ke Nara" Kata Jimin


"Kau benar, tapi aku juga tak bisa meminta maaf pada wanita itu dengan mudah, kau tau kan siapa aku" Ucap Lucca


"Kau pikir hanya kau yang seperti itu aku juga bodoh, selama hidupku aku hanya pernah meminta maaf kepada Cenzo saja. Malah orang lain yang akan meminta maaf kepadaku walaupun aku yang salah" Jelas Jimin panjang lebar.



Mereka berdua dibuat galau oleh hal tersebut, tapi memang salah mereka juga yang mengira bahwa Alice adalah orang yang menculik Nara dan Clay waktu itu.



"Aaaggghhh Sudah lah masa bodoh dengan Kak Cenzo yang ngamuk nanti, harga diriku nomor satu. Dalam hidupku tidak ada prinsip jika Lucca harus meminta maaf terlebih dahulu kepada perempuan" Ucap Lucca yang sudah mulai frustasi.


"Kau benar. Jika Cenzo marah biarkan saja dia marah jangan kita pedulikan" Jimin ikut membenarkan perkataan Lucca dan memilih tidak menuruti perintah Nara untuk meminta maaf kepada Alice.



.


.



Hari sudah malam, Cenzo membangunkan Nara yang sedang tertidur dengan sangat pulas itu.


"Baby bangun sudah malam, ayo kita makan malam makanannya sudah siap" Ucap Cenzo dengan suara yang sangat lembut



Nara bukannya bangun malah menarik selimutnya hingga menutupi seluruh badannya. Cenzo hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari Nara itu. Bukannya marah Cenzo malah ikut masuk kedalam selimut bersama dengan Nara.



"Baby ayo bangun" Ucap Cenzo sambil meraba-raba tubuh Nara.

__ADS_1


"Eeemmmm Oppa, apa aku boleh meminta sesuatu" Kata Nara dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kau ingin apa hemm?"


"Aku ingin itu, apakah boleh?" Ucap Nara dengan sangat pelan tapi Cenzo mendengarnya dengan jelas.



Cenzo diam sesaat setelah mendengar perkataan Nara baru saja. Tidak biasanya Nara memintanya terlebih dahulu, biasanya Cenzo dengan susah payah membujuk Nara agar mau. Kadang-kadang Cenzo sampai membutuhkan waktu beberapa jam hingga Nara menyetujuinya.



Tepi sekarang Cenzo tak perlu membujuk Nara malah Nara sendiri yang meminta kepadanya.



"Baby tidak salah bicara kan" Tanya Cenzo mencoba untuk memastikan lagi takut-takut Nara berubah pikiran


"Yes Oppa, apakah boleh" Kata Nara



"Tapi bahu mu sedang sakit, nanti kalau tambah sakit bagaimana" Ucap Cenzo


"Kalau begitu biarkan aku yang ada di atas agar lukaku tam terkena sesuatu" Bisik Nara dengan nakal tepat di telinga Cenzo



Cenzo sudah merasa panas dingin sekarang. Sudah lama juga Cenzo tak mendapatkan haknya dari Nara, jadi jika ada kesempatan tidak boleh disia-siakan.



"Baiklah tapi suapi aku ya" Nara pun menyetujui permintaan Cenzo dan mereka berdua pun turun kebawah untuk makan malam.



Setelah sampai di meja makan Cenzo dan Nara langsung duduk dan memulai makan. Sebelum makan tadi Nara sudah meminta kepada pelayan untuk memanggil Alice agar ikut makan bersama dengan mereka.



Nara sambil makan masih harus menyuapi Clay juga.


"Boy, kau lihat kan Mommy sedang sakit apa Anak Daddy yang tampan ini tidak bisa makan sendiri" Ucap Cenzo kepada Clay yang melihat kearah Cenzo yang sedang berbicara kepadanya juga.


"Daddy, biar Mate saja yang menyuapi adik bayi" Ucap Mate dan langsung berjalan kearah Clay dan menyuapi Clay makan.



"Sungguh menggemaskan" Ucap Nara sambil mengelus kepala Mate dan Clay.


"Kau memang bisa diandalkan Boy, ayo Mate juga makan ya sambil menyuapi adik bayi" Kata Cenzo.



Mereka semua yang ada di meja makan memperhatikan Mate yang dengan sangat sabar menyuapi Clay makan. Mate sangat menyayangi adiknya itu.

__ADS_1



Tapi setelah beberapa saat Lucca dan Jimin datang dan langsung ikut bergabung dimeja makan. Lucca dan Jimin langsung mengambil makanan kedalam piring meraka dan memakannya dengan lahap tanpa memperdulikan tatapan dari ya lain.



"Kalian dari mana saja?" Tanya Cenzo


"Dari luar cari udara segar" Jawab Lucca tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari piringnya.



"Oh ya sudah, cepat selesaikan makan kalian dan segeralah pergi tidur. Mungkin Lusa kita akan kembali ke Itali" Ucap Cenzo



Jimin yang saat itu sedang minum langsung tersedak mendengar perkataan Cenzo.



Uhukkk.... uhukkkk....


"Kembali ke Itali bagaimana?" Tanya Jimin yang sedikit tidak mengerti maksud perkataan dari Cenzo



"Kita semua akan pindah ke Itali, disana mungkin akan lebih aman dari pada disini, aku tak ingin mengambil banyak resiko disini. Kejadian serupa bisa saja terjadi disini, aku tak ingin Mate juga ikut terlibat" Jelas Cenzo



"Baiklah jika itu mungkin yang terbaik bagi keluargamu, aku akan segera mengurus pengunduran diriku di rumah sakit" Ucap Jimin


"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Lucca


"Aku akan ikut pindah ke Itali juga" Jawab Jimin



"Kau disini saja, jangan terus mengikuti ku" Ucap Lucca


"Kau gila ya, anakku dibawa oleh Cenzo dan akan akan diam saja disini tak mendampinginya" Jimin sudah mulai emosi menghadapi Lucca yang selalu saja berbicara seenaknya sendiri


"Oh gitu" Kata Lucca dengan cuek



"Sudah jangan ribut cepat habiskan makanan kalian jangan seperti anak kecil" Ucap Cenzo



Mereka pun menghabiskan makanan mereka dengan damai. Hanya ada suara tawa antara Mate dan Clay disana.



Next....

__ADS_1


__ADS_2