
Sudah satu minggu Nara dan Junior dirawat dirumah sakit tapi Nara tak ada perkembangan apa-apa dan Junior sudah sembuh dan Cenzo sekarang harus merawat Junior.
Entah apa yang membuat Nara sampai begitu. Kejadian-kejadian buruk yang sudah Nara timpa seperti bercampur jadi satu hingga Nara merasa sangat ketakutan dan takut bertemu orang banyak dan masih tak mau berbicara.
Saat ini terlihat Cenzo sedang menggendong Junior yang baru saja keluar dari ruang NICU dan akan membawanya ke ruang rawat Nara.
Saat Cenzo masuk terlihat Nara masih tertidur pulas. Cenzo menaruh Junior di tempat bayi yang sudah Jimin sediakan tadi.
"Aaagghhhh.... lenganku sakit sekali, baru juga sebentar gendong junior" Ucap Cenzo sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Baru saja Cenzo mendudukkan bokong tiba-tiba junior menangis dengan sangat kencang.
Cenzo langsung berlari menghampiri Junio dan mencoba untuk menenangkannya.
"Huussttt..... Junior diamlah, kau tidak boleh menangis, laki-laki harus kuat tidak cengeng" Ucap Cenzo. Cenzo bingung bagaimana cara menenangkan bayi yang menangis.
"Junio diamlah kau ini laki-laki jangan menangis seperti itu. Daddy jadi pusing" Teriak Cenzo. Bukannya diam Junior malah menangis dengan sangat kencang.
Samar-samar Nara mendengar bayi yang menangis dan membuat Nara terbangun. Nara melihat sekitar ruangan dan mendapati Cenzo bersama dengan seorang bayi yang ada di dalam box bayi. Nara langsung bangun dan duduk diatas tempat tidurnya.
"Apa itu anakku?" Ucap Nara dengan suara yang sangat pelan.
Cenzo dengan cepat langsung menoleh kearah sumber suara itu dan melihat Nara yang sedang terduduk di ranjangnya.
Cenzo mendekat kearah Nara sambil membawa box bayi Junior.
"Kau sudah bangun Baby" Tanya Cenzo.
Nara hanya menanggapi pertanyaan Cenzo dengan anggukan.
Pandangan Nara beralih ke bayi yang sedang menangis itu.
"Bisakah aku menggendongnya?" Ucap Nara. Cenzo segera mengangkat Junior dan memberikan kepada Nara.
Jangan tanya bagaimana Cenzo bisa menggendong Junior. Sebelum Junior keluar dari ruang NICU, cenzo rela mengikuti kelas bayi. Setiap hari Cenzo mengikuti kelas itu selama satu minggu. Cenzo sempat akan menyerah, tapi mengingat keadaan Nara yang masih belum pulih jika bukan Cenzo yang merawat Junior nanti siapa lagi.
__ADS_1
Nara menggendong Junior yang sedang menangis itu. Seketika naluri keibuan Nara langsung muncul. Nara dengan cepat langsung memberikan asi kepada Junior. Untung saja asi milik Nara keluar jadi Junior langsung diam meminum susunya.
Cenzo yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya saja. Melihat Nara menyusui Junior seperti itu membuat Cenzo juga ingin merasakannya.
Cenzo mendekat kearah Nara dan matanya masih memandang Junior.
"Kau kenapa?" Tanya Nara
"Baby apa aku juga boleh merasakannya?" Ucap Cenzo
"Do not try anything with me"
"Kau sudah mau bicara padaku" Kata Cenzo secara tiba-tiba.
"Hemm.... Dari kemarin-kemarin lidahku begitu kelu untuk berbicara. Tapi entah kenapa melihat Junior tiba-tiba membuatku seakan-akan langsung sehat"
"Syukurlah kalau begitu. Aku kira kau marah padaku" Ucap Cenzo
"Sebenarnya aku juga marah padamu, tapi melihat kau seperti itu beberapa hari ini membuat rasa marahku luntur"
"Me too"
Mereka berdua melihat kearah Junior yang sudah tertidur. Cenzo dengan Cepat langsung mengambil Junior dari gendongan Nara dan meletakkan kembali ke box bayi. Sekarang waktu Cenzo dan Nara bermesraan, tidak boleh ada yang mengganggunya sekarang.
"Baby, apa aku boleh meminumnya juga?" Tanya Cenzo
"Kau ini jangan bicara macam-macam" Jawab Nara
"Tapi aku ingin itu, ya ya ya.... sedikit saja" Cenzo merengek seperti anak kecil yang keinginannya tidak dituruti.
"Kau ini seperti Mate saja"
"Ya Baby, Sedikit saja. Boleh yaa...."
"Baiklah"
__ADS_1
Cenzo dengan cepat mendekat kearah Nara dan langsung menerkam Nara. Cenzo menyusu seperti bayi yang sedang kehausan selema beberapa menit. Tiba-tiba pintu ruangan Nara terbuka dan muncullah Jimin yang saat itu baru saja datang bersama dengan Lucca dan Mate.
"Dasar gila" Teriak Jimin sambil berbalik membelakangi Cenzo.
Cenzo langsung melepaskan mulutnya dan merapikan baju Nara kembali.
"Sangat lezat" Bisik Cenzo kepada Nara
"Kalian kenapa datang tak mengetuk pintu terlebih dahulu. Pakek acara teriak-teriak segala lagi, Junior nanti bisa bangun" Ucap Cenzo
"Kau sudah selesai" Tanya Jimin
"Sudah"
Jimin dan Lucca kemudian berbalik kearah Cenzo kembali sambil melihat Nara yang berpura-pura tidur.
"Kau lupa biasanya juga aku langsung masuk kesini tanpa mengetuk pintu dulu. Kau saja yang tidak punya malu" Ejek Jimin
"Yaakk... dia istriku, terserah aku lah mau melakukan apa, memangnya kau tidak punya istri" Ucap Cenzo tak mau kalah.
"Sudahlah kalian berdua diamlah, Junior bisa bangun mendengar suara bising kalian" Ucap Lucca dan meninggalkan Jimin dan Cenzo yang sedang ribut.
Mereka bertiga pun langsung duduk di sofa. Cenzo langsung merebut Mate dari Gendongan Jimin.
"Boy, Bagaimana kabarmu?" Tanya Cenzo
"Mate baik Daddy. Itu adik Mate ya" Ucap Mate sambil menunjukkan kearah box bayi Junior.
"Yes, itu adik Mate. Nanti mate harus menjaganya ya"
"Mate janji Mate akan menjaga adik bayi dan akan menyayangi adik bayi"
"Anak pintar"
Mereka bertiga pun melanjutkan obrolan mereka dan Nara yang tadi pura-pura tertidur sekarang malah tidur sungguhan mungkin karena terbawa suasana.
__ADS_1
Next