
Hari ini adalah hari keberangkatan mereka ke itali. Sebelum berangkat Nara menyempatkan untuk mengunjungi papanya dipenjara bersama dengan Cenzo. Nara meminta izin kepada Papanya jika dia ingin menetap di Itali bersama suaminya dan Papa Nara mengizinkannya asalkan Cenzo bisa menjaga Nara sebaik mungkin begitulah kira-kira pesan dari Papa Nara.
Nara tak berpamitan dengan mamanya karena Nara sendiri tak tau kemana mamanya pergi. Bahkan Nara tak mendapat kabar apapun tentang Mamanya.
Mereka semua sudah packing dari kemarin dan Cenzo bilang kepada Nara untuk tidak membawa baju banyak-banyak karena merek bisa membelinya disana nanti dan sisa bajunya dibiarkan disini karena akan ada orang yang merawat rumah ini setelah mereka pergi.
Cenzo tak menjual rumah ini karena mereka pasti akan kesini lagi lain waktu walau hanya sekedar berlibur saja.
"Bagaimana kau sudah siap sayang?" Tanya Cenzo sambil merangkul Nara yang sedang menggendong Clay
"Tapi aku sedikit gugup, bagaimana jika aku tidak bisa menyesuaikan diriku dengan baik disana" Ucap Nara dengan raut wajah yang terlihat sangat gelisah
Cenzo mengusap-usap kepala Nara mencoba untuk menenangkan Nara agar tidak terlalu khawatir.
"Jangan seperti itu, disana ada aku, Lucca, Jimin, Suho Clay dan Mate juga ada. Kita semua bersama-sama jadi jangan khawatir oke Baby" Kata Cenzo
"Iya"
"Kak kita berangkat jam berapa?" Tanya Lucca yang baru saja keluar dari kamarnya sambil membawa satu koper kecil miliknya.
"Sekitar satu jam lagi"
Jimin juga terlihat keluar dari dalam kamarnya dengan membawa 2 koper berukuran besar dan Mate naik disalah satu koper tersebut.
Nara langsung menyerahkan Clay kepada Cenzo dan segera menghampiri Mate dan menggendong Mate.
"Boy kau tidak boleh duduk disana nanti kau bisa jatuh" Ucap Nara sambil menurunkan Mate dari gendongannya.
"Tapi kan ada Papa" Jawan Mate
"Kalau Mommy bilang tidak boleh ya tidak boleh Mate, Jadi jangan lakukan itu lagi oke" Ucap Nara sambil mengusap kepala Mate
__ADS_1
"Oke Mommy" Mate langsung berlari kearah Cenzo dan juga Clay.
Jimin hanya bisa mematung melihat Nara yang begitu perhatian kepada anaknya. Jimin juga kadang merasa kasian kepada Mate karena tak bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu lagi. Jika tidak ada Nara entah bagaimana dia bisa mengurus Mate.
Dengan keyakinan yang begitu kuat dihatinya Jimin berjalan menghampiri Dokter Alice yang baru keluar dari kamarnya dan segera menghadangnya.
"Maafkan aku dan Lucca karena sudah salah paham kepadamu dan memperlakukanmu dengan buruk" Ucap Jimin dengan suara yang sangat lantang
Semua orang melihat kearah Jimin dan Juga Alice. Cenzo dan Lucca sampai terkejut melihat itu tak biasanya Jimin akan melakukan hal tersebut kepada seorang wanita.
Alice pun hanya terdiam melihat Jimin yang sedang berdiri di depannya itu sambil menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Iya, sudah aku maafkan kok, aku jika ada diposisi kalian pasti juga begitu" Ucap Alice
"Baiklah sekarang jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi, aku juga sudah mewakili Lucca untuk minta maaf juga" Jimin langsung pergi meninggalkan Alice dan menghampiri Mate dan Clay
Senyum tiba-tiba muncul dari wajah Alice. Alice tak tau jika Jimin adalah orang yang gentle dan mau mengakui kesalahannya di depan banyak orang seperti itu.
Didalam mobil Nara hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya Cenzo tau itu jika hati Nara masih berat untuk meninggalkan tempat tinggalnya ini karena memang Nara sudah dibesarkan di Korea dari dulu dan tiba-tiba dirinya harus pindah jauh sekali seperti ini siapa yang tidak terkejut.
Cenzo merangkul pundak Nara dan Cenzo hanya bisa menguatkan Nara saja sambil membuat Nara merasa aman disana nanti.
Clay di dalam mobil bersama dengan Alice dan Mate dalam pangkuan Cenzo. Jimin sudah membujuk Mate tadi untuk ikut bersama mobilnya tapi Mate tak mau karena tidak ada Clay katanya.
Sekitar 45 menit perjalan menuju bandara pribadi milik Cenzo dan mereka pun akhirnya sampai. Para anak bawahan Cenzo dan juga Lucca yang ada disana langsung bergegas membantu membawakan koper mereka semua dan memasukkan kedalam pesawat jet pribadi milik Cenzo karena perjalan akan dimulai 15 menit lagi.
Cenzo dan yang lainnya menunggu didepan mobil sampai semuanya selesai. Setelah semua koper dan barang bawaan mereka sudah dimasukkan Cenzo pun mengajak mereka untuk segera masuk kedalam sekarang juga.
Alice yang baru pertama kali menyaksikan itu hanya bisa terbengong melihat pesawat besar di depannya yang itu adalah pesawat pribadi milik suami Nara bukan milik umum.
Nara setelah sampai di dalam pesawat langsung masuk kedalam kamar pribadi yang ada didalam pesawat tersebut dan menguncinya dari dalam.
__ADS_1
"Baby kenapa dikunci aku dan Clay akan masuk" Ucap Cenzo sambil mengetuk-ngetuk pintu tersebut tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Nara.
Cenzo sekali lagi hanya bisa menghela nafasnya mungkin Nara masih butuh waktu sendiri untuk semua itu dan Cenzo harus bisa memahaminya.
Karena pesawat akan segera lepas landas jadi mereka semua diminta untuk duduk terlebih dahulu di kursi penumpang dan mengencangkan sabuk pengaman milik mereka.
Nara sendiri yang sedang ada didalam kamar langsung duduk di kursi yang ada di dalam kamar tersebut tanpa berniat untuk keluar sedikitpun.
Pesawat kini sudah lepas landas dan mereka semua sudah bisa menikmati perjalanan ini.
"Kakak ipar kemana?" Tanya Lucca sambil duduk disamping Cenzo
"Ada di kamar" Ucap Cenzo sambil mengelus-elus kepala Clay yang baru saja tertidur.
"Pasti dia sedang marah" Kata Jimin yang juga sedang menggendong Mate yang akan tertidur
Jimin ikut serta duduk di depan Cenzo dan Juga Lucca.
"Kau ini tau saja dasar duda" Ucap Cenzo
"Aku belum duda ya" Kata Jimin
"Nah ini kan anakmu" Ucap Lucca sambil menunjuk Mate yang sudah terlelap dalam tidurnya
"Tapi aku kan belum menikah bodoh dan Mate memang anakku" Jelas Jimin
Suho yang duduk disebelah Alice hanya bisa diam saja melihat para orang bodoh yang sedang berdebat di depannya itu.
"Jangan kau dengarkan nona lebih baik kau tidur sama sambil mendengarkan musik lewat earphone" Ucap Suho dan Alice pun menurutinya.
Setelah Clay dan Mate sudah tertidur Cenzo pun meminta Jimin untuk menidurkan mereka di kamar satu lagi dan menyuruh Jimin menjaga mereka karena Cenzo masih harus mengecek beberapa pekerjaan di laptopnya.
__ADS_1
Next....