
Saat ini Lucca sedang berdiskusi dengan para anak buahnya untuk menangkap wanita ular itu.
"Kalian dengarkan semua perintahku, jangan ada yang melakukan dengan keinginan kalian sendiri atau nyawa kalian jadi taruhannya" Ucap Lucca
"Baik bos" Jawab para akan buah Lucca secara bersamaan.
"Oke, kalau begitu sekarang kita berangkat. Aku akan ikut dengan kalian, Kak V sudah mengirimkan alamat rumah wanita itu padaku tadi jadi kita langsung ke sana saja"
Mereka semua bergerak bersama menuju rumah keluarga Albert. Setelah dari rumah sakit Lucca terpaksa tidak makan terlebih dahulu karena Cenzo memerintahkannya secara mendadak.
Tak butuh waktu lama Lucca dan anak buahnya sudah sampai di rumah Albert. Lima mobil masuk kedalam pelataran rumah Albert. Saat baru saja sampai tadi satpam dirumah itu tam mengizinkan Lucca masuk, Anak buah Lucca bergerak dengan cepat menabrak gerbang rumah Albert hingga terbuka.
Lucca turun dari mobil setelah dibukakan pintu oleh Anak buahnya. Dengan menggunakan jas formal berwarna hitam dan kacamata hitamnya juga membuat penampilan Lucca sang bos mafia terlihat sangat memukau.
Tanpa menunggu lama lagi Lucca segera memerintahkan anak buahnya untuk segera bergerak. Lucca masuk kedalam rumah Albert dan melepaskan tembakan ke segala arah.
Albert yang saat itu sedang berada diruang kerjanya terkejut mendengar suara tembakan yang begitu nyaring.
"Apa yang terjadi?" Ucap Albert dan segera turun ke bawah untuk melihat sesuatu yang terjadi.
Saat sampai dibawah Albert terkejut melihat orang yang sangat banyak sedang berada di dalam rumahnya.
"Siapa kalian?" Tanya Albert
Semua anak buah Lucca menepi dan terlihat Lucca sedang duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Siapa kamu?" Tanya Albert lagi yang melihat Lucca disana
"Hallo tuan Albert yang terhormat. Aku akan langsung ke intinya saja sekarang. Dimana putrimu?" Ucap Lucca sambil memainkan pistol di tangannya
Albert mulai ketakutan melihat Lucca yang sedang memegang pistol.
"Laura sedang ada di kamarnya" Ucap Albert sambil menunjuk ke kamar Laura yang berada di lantai dua.
Lucca segera memerintahkan anak buahnya Dengan satu intrusi anak buahnya itu segera pergi untuk menangkap Laura.
"Kenapa kau berkeringat tuan?, apa kau haus?" Tanya Lucca
"Kalian ini siapa?" Tanya Albert
"Aaaaaa.... untung saja kau ingatkan, aku belum memperkenalkan diriku padamu ya. Kenalkan namaku adalah Lucca Wartheimer" Ucap Lucca
"Wartheimer......?" Ujar Albert
"Apa kau tidak asing dengan nama itu?"
Tiba-tiba anak buah Lucca datang menghampiri Lucca. "Bos dia tak ada di kamarnya" Ucap salah satu anak buah Lucca.
Lucca langsung berdiri dan mendekat kearah Albert.
__ADS_1
"Kau mau membodohi ku ya?" Ucap Lucca sambil menodongkan pistol ke kening Albert
"Aku sungguh tak tau kemana dia pergi tuan, tadi dia membawa koper dan akan pergi ke Amerika tapi aku sudah mengambil paspornya" Jelas Albert dengan ketakutan.
"Mana paspornya?"
"Disana tuan" Albert menunjuk laci yang ada di depannya dan anak buah Lucca segera mengambilnya setelah itu memberikannya kepada Lucca.
"Baiklah kalau begitu kau jadi jaminan terlebih dahulu" Ucap Cenzo sambil memerintahkan anak buahnya untuk membawa Albert ke markas.
"Jangan bawa saya tuan, saya tak tau masalah apa yang sedang terjadi sekarang. Jadi lepaskan saya" Teriak Albert yang menolak dibawa oleh Lucca.
Lucca dengan cepat memukul tengkuk leher Albert hingga dia pingsan.
"Bawa dan ikat dia. Aku akan ke rumah sakit terlebih dahulu. Jangan lupa bawa semua ponsel dan laptop milik bajingan ini"
"Baik bos"
"Perintahkan salah satu dari kalian untuk menghapus rekaman CCTV disini"
Lucca segera pergi menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Cenzo.
.
.
.
.
"Kau tampan sekali boy" Ucap Cenzo sambil memandangi anaknya itu
"Maafkan Daddy ya yang tidak bisa menjaga kau dan Mommy. Daddy pergi dulu ya, bye my love"
Cenzo segera pergi dan kembali ke ruangan rawat Nara karena tidak ada yang menjaganya.
Saat Cenzo baru saja masuk terlihat Nara yang sudah sudah siuman. Cenzo mendekat ke arah Nara dan memegang tangan Nara.
"Baby sudah bangun. Sekarang makan ya supaya cepat sembuh" Ucap Cenzo
Tapi ucapan Cenzo tak ada jawab apapun dari Nara, bahkan Nara tak mau melihat kearah Cenzo.
"Baby, aku benar-benar minta maaf. Tolong bicaralah" Ucap Cenzo tapi Nara tetap diam dan langsung membelakangi Cenzo.
"Aku lebih suka kau marah dan memaki diriku dari pada kau diam seperti ini Nara. Kau boleh memukulku sepuasmu tapi bicaralah" Teriak Cenzo yang mulai kehabisan kesabarannya.
Nara menangis mendengar perkataan Cenzo, Sebenarnya Nara juga ingin berteriak dan memaki Cenzo tapi mulutnya sangat sulit untuk berbicara. Setiap Nara akan berbicara Nara merasa sangat ketakutan hingga bibirnya bergetar.
"Jangan seperti itu, aku takut mendengar suara dengan nada yang tinggi" Ucap Nara di dalam hatinya.
__ADS_1
Karena Nara menangis itu membuat kepala Nara sakit kembali, sakit yang sangat tidak wajar. Nara memukuli kepalanya agar sakitnya cepat mereda tapi itu membuat sakitnya lebih parah lagi.
Cenzo yang melihat Nara memukuli kepalanya langsung mendekat kearah Nara dan memegang tangan Nara dengan sangat kencang.
"Jangan pukuli kepalamu" Teriak Cenzo
"Sa....sa...sakit Se...ka...li" Ucap Nara dengan terbata-bata bahkan suaranya sangat pelan.
Dengan memeluk Nara Cenzo kembali memencet tombol darurat itu.
"Bertahanlah, sebentar lagi dokter datang" Ucap Cenzo dengan air mata yang membasahi pipinya.
Pas saat itu Lucca datang dan melihat Cenzo sedang memeluk Nara yang sedang kesakitan sambil memukuli kepalanya sendiri.
Lucca sangat kasihan melihat itu. Lucca pun segera pergi keluar memanggil dokter.
"Dokter cepat tolong istri kakak saya" Teriak Lucca
"Baik, saya juga akan kesana sekarang. Pasti sakit kepalanya kambuh lagi" Ucap Dokter itu.
Mereka segera menuju keruangan Nara setelah itu Dokter segera menyuntikkan obat penenang ke Nara. Nara mulai kehilangan kesadarannya kembali.
"Tuan tolong jangan berbicara dengan nada yang tinggi kepada pasien dan jangan membuatnya menangis" Dokter itu mencoba menjelaskan pada Cenzo apa saja yang tidak boleh dia lakukan kepada Nara
"Baiklah dok. terimakasih" Ucap Cenzo
"Saya permisi dulu" Kata dokter itu dan segera pergi dari ruangan Nara
"Duduklah kak" Lucca membantu Cenzo untuk duduk di sofa.
"Aku pusing sekali Lucca, entah kapan ini semua akan berakhir. Aku tak tega melihatnya selalu kesakitan seperti itu" Ucap Cenzo. Cenzo terlihat sedang menahan air matanya.
"Kau sabarlah dulu, ini semua pasti akan membaik, kau yakinlah"
"Hemmm....."
"Sekarang aku akan berbicara serius dengan mu" Ucap Lucca.
"Bicaralah"
"Aku baru saja dari rumah Albert tapi tak menemukan keberadaan anaknya. Tapi aku sudah membawa Albert ke markas dan anak buahku sedang melacak ponsel dan mobil ****** itu" Jelas Lucca
"Ayo kesana sekarang, aku butuh melampiaskan kemarahan ku sekarang. Kau hubungin Suho dan Jimin untuk menjaga Nara"
"Oke. Ayo sekarang berangkat"
Mereka berdua pun menuju ke markas tempat Albert disekap.
Next.....
__ADS_1