
"Sebenarnya aku akan...."
"Bicaralah yang jelas Jimin. Kau terlalu banyak diam" Ucap Cenzo yang sudah tidak sabar
"Aku akan kembali ke Italia besok pagi. Thanks untuk semua yang kau berikan disini" Kata Jimin
"Kau serius?. Lantas bagaimana dengan masalah yang kau bicarakan kemarin?"
Sejenak Jimin menjadi gelisah. Jujur Jimin masih belum siap untuk menikah sekarang walau usianya sudah berkepala tiga. Setelah melihat bagaimana kehidupan teman-temannya setelah menikah membuat Jimin sedikit was-was.
"Itu... Aku sudah membereskannya. Katanya dia juga tak keberatan karena itu hanya sebuah kesalahan jadi dia tak begitu mementingkan" Jelas Jimin
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Kau akan kembai bekerja ditempat mu yang dulu disana" Tanya Cenzo
"Iya, kemarin Dr. Zayn menghubungiku jadi aku harus segera pergi ke sana"
"Kalau kau tidak keberatan kau bisa menggunakan pesawat pribadi milik ku Jimin"
"Tak usah V, aku sudah sangat banyak merepotkan mu. Kalau begitu aku pamit dulu barang-barang ku masih banyak yang harus ku bereskan"
"Oke bro. Hati-hati dijalan. Hubungi aku kalau kau akan berangkat besok. aku akan meminta Suho mengantarmu"
"Baiklah"
Harapan Jimin saat ini hanyalah semoga saja wanita itu tidak hamil anaknya. Jimin sebenarnya tau kalau keputusannya ini salah, tapi mau bagaimana lagi Jimin masih belum siap untuk menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita.
Cenzo kembali ke ruangannya saat Jimin sudah pergi. Cenzo melihat Nara sudah bangun dan sedang memainkan ponselnya.
"Oppa kau dari mana" Tanya Nara
"Dari ruang meeting baby, tadi ada temanku datang"
__ADS_1
"Oh... Oppa apa kau sudah bertemu dengan papaku?"
"Sudah"
"Jadi bagaimana kelanjutannya?"
"Papamu memberikan izin padaku, tapi tidak dengan mamamu yang sepertinya menentang hubungan kita karena tau kalau aku seorang duda"
"Tak masalah tentang statusmu Oppa kau adalah orang baik, dan aku mencintaimu dan jangan lupa, kau begitu tampan"
Perkataan Nara membuat Cenzo menjadi lebih yakin kalau pilihannya sekarang tepat. Seorang wanita yang miliki hati yang lembut seperti Nara.
"Ya sudah sekarang kau lanjutkan saja pekerjaanmu dan kita cepat pulang" Ucap Nara
"Siap baby"
"Oppa apa aku boleh pergi ke cafetaria, aku sendang ingin kopi"
Cenzo pun langsung menghubungi Raya untuk membawakan 2 cangkir kopi ke dalam ruangannya.
Setelah beberapa saat Raya pun datang dengan membawakan pesanan yang diminta oleh Cenzo.
"Tuan kopinya" Ucap Raya
"Letakkan saja di meja"
"Maaf merepotkan mu ya" Kata Nara
"Tak masalah Nona, itu sudah tugas saya. Saya permisi"
Nara dengan tidak sabar langsung meminum kopi tersebut dan ternyata itu sangat panas hingga membuat cangkirnya jatuh ke lantai.
__ADS_1
Cetarrrrrrrr......
"Aauuhhh panas...." Ucap Nara
Cenzo pun terkejut dan langsung menghampiri Nara.
"Kenapa kau ceroboh sekali baby" Ucap Cenzo dengan panik dan mengelap bibir Nara dengan saputangannya
"Oppa aku tak apa. Hanya panas sedikit saja"
Nara pun langsung membersihkan pecahan cangkir itu dan saat baru saja Nara menyentuhnya Cenzo menyenggol tangganya hingga tangan Nara terkena serpihan Cangkir itu.
"Oppa" Teriak Nara
"Baby tanganmu berdarah, maafkan aku" Ucap Cenzo sambil membantu Nara bangun dan mendudukkan Nara di sofa.
"Raya bawakan kotak P3K dan panggilkan OB untuk membersihkan ruangan ku" Teriak Cenzo dari dalam ruangan.
Untung saja saat itu pintu ruangan Cenzo tidak tertutup rapat jadi Raya masih bisa mendengar suara Cenzo. Jika pintunya tertutup entah apa jadinya nanti karena ruangan Cenzo kedap suara.
Raya dengan cepat langsung masuk memberikan kotak P3K yang diminta Cenzo.
Cenzo langsung membersihkan luka ditangan Nara dan menutupnya dengan perban.
Setelah Cenzo mengobati luka Nara OB pun datang membersihkan pecahan Cangkir tadi.
"Baby sekarang kau istirahat saja. Sebentar lagi aku selesai" Ucap Cenzo sambil membantu Nara berbaring di sofa.
Setelah Nara kembali istirahat Cenzo pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Nara Nara..... Membuatku khawatir saja" Ujar Cenzo dengan pelan.
__ADS_1
Next.....