Daddy Sugar Baby

Daddy Sugar Baby
106. Wanita Perusak rumah tangga


__ADS_3

Waktu berjalan terasa sangat cepat. Sekarang kehamilan Nara sudah memasuki usia 8 bulan. Kurang lebih satu bulan lagi bayi mereka akan keluar. Perut Nara yang sudah membesar membuat Nara semakin malas untuk melakukan apa-apa. Seperti hari ini, Nara hanya duduk diruang tengah menonton televisi dan memakan buah segar sambil menemani Mate bermain.


Setelah kehamilan Nara yang memasuki bulan kedelapan ini, Cenzo tidak lagi berangkat ke kantor. Semua pekerjaan akan Cenzo kerjakan dirumah dan Cenzo akan datang kekantor untuk melakukan meeting saja. Hari ini Cenzo sedang pergi kekantor karena harus melakukan rapat bulanan bersama para divisi di kantornya.


"Mami, Apa Mate boleh mencium perut Mami?" Tanya Mate tiba-tiba.


"Kenapa Mate ingin menciumnya?"


"Aku sering melihat Daddy mencium perut Mami dan Mate juga ingin melakukannya"


Perkataan Mate membuat Nara mejadi malu. Pipi Nara menjadi merah karena itu.


"Ciumlah saja jika Mate mau".


Dengan cepat Mate mendekat kearah Nara dan mencium perut Nara sambil memegangnya.


"Mami di dalam sini apa isinya?"


"Disini ada adikmu, Nanti setelah dia keluar kau harus menjaganya ya, jangan buat dia menangis" Kata Nara


"Tentu saja, Mate akan menyayangi adik seperti Mate sayang Papa, Mami dan Daddy"


Nara memeluk Mate dan mencium seluruh wajah Mate hingga Mate tertawa karena geli. Saat Nara sedang bergurau dengan Mate tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu.


Tokk... tokkk... tokkkk....


"Ajuma tolong lihat siapa yang datang" Teriak Nara. Cukup lama Nara menunggu tapi para pelayan tidak ada yang datang, pintu terus saja diketuk jadi mau tak mau Nara harus membukanya.


"Mate tunggu disini dulu ya, Mami akan membukakan pintu ada tamu yang datang". Nara berjalan kearah pintu dan segera membukanya.


"Cari siapa?" Ucapan Nara tertahan melihat seorang yang sedang bertamu di rumahnya itu.


"Selamat siang" Ucap wanita tersebut menyapa Nara.


Nara memperhatikan wanita itu mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Siang, mau cari siapa?" Tanya Nara kepada wanita itu.


"Pertama-tama perkenalkan dulu nama saya Laura, apakah benar ini rumah Vincenzo Wartheimer" Tanya wanita bertubuh seksi itu.


"Betul, tapi suami saya sedang ke kantor, jika ada pesan bisa anda bicarakan kepada saya, nanti akan saya sampaikan ke suami saya"


Bukannya mendengarkan perkataan Nara wanita bernama Laura itu langsung menerobos masuk kedalam rumah.


"Nona bisakah anda keluar" Ucap Nara sambil mengejar wanita itu.


"Bisa tunjukkan dimana kamar tuan Vincenzo" Kata Laura sambil terus berjalan


"Nona bisakah anda sopan sedikit. Ini rumah saya, jadi saya mohon keluarlah sebelum saya panggilkan satpam"


Laura terus saja berjalan mengabaikan perkataan Nara. Mate yang saat itu sedang duduk diruang tengah memperhatikan Nara dan wanita asing itu dengan tatapan bingung.


"Pasti kamarnya ada di atas" Ucap Laura dan akan naik ke tangga. Nara dengan cepat menahan tangan wanita itu agar tak meneruskan jalannya.


"Kau ini siapa?, Kenapa seenaknya saja masuk kedalam rumah orang dan sekarang malah ingin masuk ke kamar suamiku" Ucap Nara


Namaku adalah Laura anak dari Tuan Albert rekan bisnis kekasih saya tuan Vincenzo" Jelas Laura dengan tampang mengejek.


Nara seketika terdiam. Pikiran Nara tiba-tiba menjadi kosong setelah mendengar kata kekasih.


"Apa maksudmu?" Tanya Nara yang masih tidak mengerti maksud dari perkataan Laura


"Kau tuli ya, aku bilang Tuan Vincenzo adalah kekasihku, kami menjalin hubungan sekitar enam bulan yang lalu setelah rapat"


Nara menutup mulut saking terkejutnya mendengar perkataan itu. Wahh.... Sungguh Nara tak tau harus melakukan apa sekarang. Laura yang melihat Nara sedang melamun langsung naik menuju kamar Cenzo.


Baru saja seperempat tangga Nara menahan tangan Laura kembali.


"Kau jangan main-main dengan perkataan mu" Ucap Nara


"Hey sadarlah, aku tidak menarik lagi bagi Tuan Vincenzo, lihat saja dirimu tidak ada menarik-narik. Dasar rendahan"

__ADS_1


Nara yang sudah kesal langsung menampar Laura dengan sangat kencang setelah itu Nara menarik rambut Laura.


"Apa kau tidak sadar siapa yang rendahan disini, kau atau aku?. Kau memang cantik, tapi kecantikanmu tidak berlaku jika kau merebut suami orang. Sekarang orang hanya akan melihat dirimu yang menjijikkan"


Ucapan Nara baru saja memancing emosi Laura dengan cepat Laura menampar Nara kembali dan mendorong Nara hingga Nara terjatuh dari tangga.


"Mamiiii......" Teriak Mate saat Nara terjatuh dan tergeletak di lantai. Mate segera berlari menghampiri Nara. Terlihat darah segar mulai mengalir dari hidung dan ************ Nara.


"Gawat, kenapa bisa sampai seperti ini" Ucap Laura dan segera berlari meninggalkan rumah Cenzo.


Mate menangis disamping Nara. Nara yang saat itu masih sedikit sadar memegang tangan Mate.


"Boy, anak laki-laki tidak boleh menangis. Mami tidak apa-apa, Mate jangan menangis ya" Ucap Bara sambil menahan rasa sakit diperutnya.


Sebelum kehilangan kesadarannya Nara kembali mengingat kesehariannya yang sudah dia habiskan bersama dengan Cenzo selama ini semua itu seakan berputar diingatannya.


"Aku kira semua akan berjalan dengan baik kali ini, tapi aku salah. Semua perkiraanku salah" Ucap Nara dan setelah itu Nara kehilangan kesadarannya.


Mate yang melihat itu segera berlari keluar untuk mencari pertolongan. Dengan langkah yang masih sedikit belum seimbang, Mate terus saja terjatuh tapi Mate tidak menyerah. Mate berlari ke halaman untuk manggil satpam agar dia bisa membantu Nara.


"Pak satpam" Teriak Mate sambil berlari


"Ada apa tuan, Kenapa lari-lari seperti ini, nanti kalau Nyonya Nara tau tuan pasti akan dimarahi" Ucap satpam tersebut.


"Pak, tolong bantu Mami, mami baru saja jatuh dan keluar banyak darah" Jelas Mate


Satpam itu terkejut dan langsung lari masuk kedalam rumah untuk melihat keadaan istri bosnya itu. Dan benar saja, satpam itu melihat Nyonya nya sedang terbaring tak sadarkan diri dilantai.


Satpam itu segera mengangkat tubuh Nara dan memasukkan kedalam mobil.


"Ahjussi tolong bawa Nyonya ke rumah sakit. cepatlah sepertinya Nyonya mengalami pendarahan. Aku akan memberikan kabar ini ke Tuan di kantor" Ucap Satpam itu kepada sopir pribadi Cenzo


"Baiklah"


Sopir itu segera membawa Nara ke rumah sakit dan pak satpam bergegas kekantor dengan membawa Mate yang terus saja menangis.

__ADS_1


Next.....


__ADS_2