Daddy Sugar Baby

Daddy Sugar Baby
159. Jimin yang malang 2


__ADS_3

Cenzo kembali keruangan Jimin setelah bertemu dengan dokter. Dokter bilang kaki Jimin harus di gips dan mendapatkan perawatan rutin selain dari kakinya tidak ada luka yang serius.


Benturan di kepala Jimin juga tidak sampai berakibat fatal.


"Jadi kita harus menunggunya disini begitu" Ucap Lucca


"Ya bagaimana lagi, Dokter bilang kita boleh memindahkan Jimin ke rumah sakit lain tapi jika Jimin sudah sadar" Jelas Cenzo


"Kita tunggu disini saja dulu bos sampai Jimin sadar. Tapi sebelum itu saya sangat lapar bos apa kalian tidak lapar" Ucap Suho


"Kau benar Suho, aku sangat lapar ayo kita cari makanan" Lucca segera berdiri dan berjalan kearah Suho berniat untuk mengajak Suho segera pergi dari sana.


"Bos tidak mau makan juga?" Tanya Suho


"Tidak, pesankan aku Satu burger dan soda saja. Aku akan menjaga Jimin disi kalian pergilah" Ucap Cenzo


"Baiklah kalau begitu, Bye kak" Lucca langsung menarik Suho keluar.


Cenzo hanya duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya dan sesekali melihat Jimin yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit.


Walaupun Cenzo dan Jimin memang sering bertengkar tapi mereka berdua saling perduli satu sama lain dan saling menjaga.


Hubungan pertemanan meraka memang pantas diacungi jempol. Semua teman Cenzo maupun Lucca, Jimin dan semuanya saling melindungi satu sama lain. Mereka akan saling membantu sekuat tenaga mereka untuk menolong teman yang sedang ada dalam Masalah.


Setengah jam telah berlalu, Jimin perlahan-lahan mulai membuka matanya. Setelah menyesuaikan cahaya diruangan tersebut Jimin pun membuka matanya dengan lebar dan bingung dimana dirinya sekarang.


Jimin langsung bangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang.


"Aaahhhhgggg....." Teriak Jimin saat duduk dan merasakan kakinya yang begitu sakit.


Cenzo yang sedang enak-enak memeriksa dokumen di ponselnya langsung terkejut mendengar teriakan dan Jimin. Cenzo pun segera berjalan kearah Jimin.


"Kau ini kenapa teriak-teriak" Ucap Cenzo


"V kaki, kaki ku sakit banget" Kata Jimin sambil memegangi kaki kirinya yang di gips itu


"Gitu aja teriak dasar duda" Ejek Cenzo


"Kau tak tau aku sedang sekarat seperti ini kasih saja menggodaku" Kata Jimin


"Kalau kau sekarat aku akan lebih bahagia lagi sepertinya Jimin" Ucap Cenzo dan langsung mendapatkan pukulan tepat di kepalanya dari Jimin


"Sialan Kau. Mana yang lain" Tanya Jimin


"Beli makan. Oh ya, mobilmu tapi kebakar jadi tidak bisa digunakan lagi. Lalu sebentar lagi kalau keadaanmu sudah sedikit membaik kita akan membawamu ke rumah sakit kita saja agar tidak terlalu jauh dari rumah" Jelas Cenzo


"Baiklah terserah kau saja. Aku mau istirahat lagi dulu masih ngantuk" Cenzo dengan cepat membantu Jimin berbaring kembali.

__ADS_1


Sekitar setengah jam lebih Lucca dan Suho pun kembali dengan membawakan makanan yang diminta oleh Cenzo tadi.


"Kak ini" Ucap Lucca sambil menyerahkan makanan itu ke Cenzo.


"Thanks, kalian berdua duduk saja dulu sambil menunggu aku makan, setelah itu kita bawa Jimin ke rumah sakitku" Kata Cenzo


"Dia sudah sudah sadar kak?" Tanya Lucca


"Sudah bodoh" Sahut Jimin secara tiba-tiba


"Cepat pulih juga kau ya" Lucca berjalan menghampiri Jimin yang sedang berbaring itu


"Kau kira aku akan mati"


"Bisa jadi"


"Dasar kunyuk sialan"


Sambil menunggu Cenzo yang sedang makan, Lucca, Suho dan Jimin berbincang-bincang sejenak. Lucca bertanya bagaimana kronologi kecelakaan itu kepada Jimin.


"Kau itu bodoh atau apa kenapa mobilmu bisa sampai menabrak pohon" Ucap Lucca


"Bukan aku yang bodoh tapi dirimu, kau tidak tau ada mobil yang menabrak mobilku dibelakang" Ujar Jimin


"Emang iya ya Suho" Kata Lucca


"Ayo cepat pulang aku sudah rindu anak dan istriku" Ucap Cenzo sambil berdiri


"Langsung pulang ke rumah apa ke rumah sakit nih" Tanya Lucca


"Ya ke rumah sakit bodoh, Cepat kau urus surat pindahnya Jimin" Kata Cenzo


"Kenapa aku sih kak, kau saja lah apa Suho" Lucca merengek seperti anak kecil kepada Cenzo


"Kau ini badan aja besar kelakuan kayak anak kecil. Cepat berangkat sana" Cenzo tak habis pikir dengan adik satunya ini. Bos besar mafia yang ditakuti semua orang tapi jika sedang berkumpul dengannya seperti anak kecil usia 10 tahun.


Lucca pergi dengan sana sambil menghentak-hentakkan kakinya saat berjalan. Cenzo hanya bisa menepuk jidatnya saja melihat kelakuan Lucca.


"Lihatlah kelakuan si kunyuk itu" Ucap Cenzo


"Dia memang bayi besar mu dari dulu" Kata Jimin


Suho hanya tersenyum melihat itu.


Mereka bertiga menunggu Lucca sekitar 30 menit, akhirnya Lucca datang bersama dengan dokter.


"Selamat sore Dokter Jimin" Sapa dokter itu

__ADS_1


"Sore" Jawab Jimin


"Nanti setelah sampai disana pastika alat-alatnya dipasang dengan lengkap ya Tuan, juga maksimal perjalanan harus 40 menit tidak boleh lebih dari itu" Jelas dokter itu


"Baiklah dok" Ucap Cenzo


"Suster cepat lepas alat-alatnya dan ganti tempat infusnya dengan tiang agar mudah dibawa, tiangnya yang pendek saja agar mudah masuk kedalam mobil" Ucap Dokter itu


Suster itu langsung menjalankan perintah dari dokter itu.


"Sus mau pindah ke rumah sakit saya tidak" Rayu Jimin, Suster itu hanya bisa tersenyum saja mendengar perkataan Jimin


Lucca langsung datang menghampiri Jimin dan memukul kepala belakang Jimin.


"Dasar buaya"


"Sialan sakit bodoh"


Dokter itu terkejut saat Lucca memukul kepala Jimin tadi. Tapi Cenzo sudah memberitahu dokter itu agar tidak perlu khawatir.


Mereka pun akhirnya pulang dari sana. Cukup sulit tadi saat Jimin akan masuk. Karena Jimin tak mau diantarkan oleh pihak rumah sakit menggunakan ambulans.


Mobil yang selalu Cenzo gunakan di Itali



Tapi akhirnya Jimin bisa masuk tadi Lucca yang ada disampingnya harus memegangi botol infus milik Jimin.


"Kau ini sekali menyusahkan orang, dasar sialan" Ucap Lucca.


"Kau ini sedang membantu temanmu yang sabar dong" Kata Jimin sambil bersandar dan memejamkan matanya.


"Kalian berdua diamlah jangan terus aja berdebat telingaku panas mendengar kalian yang terus saja ribut" Ucap Cenzo


Jika Cenzo sudah berbicara mereka berdua langsung terdiam dan hanya saling melirik saja sambil beradu mulut tanpa mengeluarkan suara.


Selama perjalanan mereka hanya diam saja. Cenzo pun juga sibuk memeriksa pekerjaannya lewat ponsel. Dimana pun dia berada jika sedang senggang Cenzo akan selalu mengerjakan pekerjaannya lewat ponsel. Jadi Cenzo tak akan pernah bisa meninggalkan ponsel, tablet ataupun laptopnya.


Bahkan Laptop dan tabletnya sudah menyatu didalam tas dan hanya tinggal membawanya saja. Tapi jika ada urusan genting seperti ini Cenzo hanya akan membawa ponselnya saja.


Perjalanan mereka memakan waktu sekitar 30 menit saja karena Suho melajukan mobil dengan kencang. Meraka sekarang sudah sampai dirumah sakit.


Suho dengan cekatan membantu Jimin turun dan membawakan botol infusnya karena Lucca sudah tak sanggup memeganginya lagi. Jimin harus menggunakan kursi roda karena kakinya yang sakit itu dan Jimin masih tidak boleh berjalan terlebih dahulu.


Setelah mengantar Jimin ke ruangan rawat VVIP mereka bertiga pun pulang dan membiarkan Jimin istirahat terlebih dahulu nanti malam mereka akan datang lagi.


Next....

__ADS_1


__ADS_2