
"Huh siapa takut!. Aku general manager di hotel ini. Siapapun harus tunduk pada ku termasuk kau!"
"Aku bisa saja menahan mu atas tuduhan pencemaran nama baik juga percobaan pembunuhan karakter atas anak ku. Dan kau pasti tidak bisa berbuat apa apa kan?"
"Kalau aku mau detik ini juga kau akan tumbang!" Respon Junandi Pratama tidak terduga
"Benarkah?. Kok aku jadi takut ya?. Kalau begitu aku mengalah saja dan tidak jadi melawan anak mu yang tidak tau diri itu."
"Permisi!" Tanggapan Dragon terdengar lucu, tapi membuat Junandi Pratama kelabakan
"Tunggu!. Kau sudah datang jadi harus menghadapi anak ku!"
"Kalau kau pergi berarti kau yang kalah. dan Ariandi yang keluar sebagai pemenangnya!"
"Kalau begitu aku akan mengumumkannya di media!" Respon Junandi Pratama merasa senang
"Ayah!. Mau sampai kapan kalian diskusi seperti itu?. Acara akan segera dimulai!" Teriak Ariandi cukup lantang. Hingga bisa didengar oleh tamu tamu undangan lainnya
"Oke!. Ayah akan segera kesana!" Jawab Junandi cukup kuat juga
"Ingat!. Kau harus mengalah pada anak ku!"
"Jika anak ku kalah, maka aku akan membuat perhitungan dengan mu!"
"Tapi jika kau mengalah, maka aku akan menerima mu sebagai karyawan magang di hotel bintang lima ku ini dengan gaji tinggi. Bagaimana?. Tertarik kan?" Ucap Junandi Pratama berbisik pada Dragon
"Nantilah akan kita pertimbangkan!"
"Tapi sepertinya aku menolak, bahkan akan memberi pelajaran pada kalian, biar kalian tau bahwa diatas langit masih ada langit!" Jawab Dragon tidak segan
"Baik!. Kau sedang menggali kuburan mu sendiri!. Tunggu saja pembalasanku!" Reaksi Junandi terkesan berlebihan
Kemudian bergegas meninggalkan Dragon, sambil menggerutu geram. Berjalan menuju kursi kebesarannya, yang bersebelahan dengan deretan profesor yang diundang
"Aku perkenalkan. Ariandi Pratama, mahasiswa semester lima di universitas ternama di kota ini, adalah putra dari bapak Junandi Pratama. General manager di hotel ini "
"Dia merupakan mahasiswa teladan, yang sudah dinobatkan oleh pihak kampus sebagai mahasiswa ter jenius di abad ini."
"Hari ini dia ditantang oleh seorang mahasiswa baru, yang mengatakan, bahwa dia sanggup mengalahkan tuan Ariandi hanya dalam hitungan detik!"
"Jadi mari kita buktikan perkataannya itu. Apakah benar atau tidak?"
"Oleh karena itu. Mari beri tepuk tangan pada putra bapak Hermawan, untuk menyemangatinya!" Ucap pembawa acara sungguh mengejutkan. Dan menganggap remeh Dragon yang duduk berseberangan dengan Ariandi
"Konyol!. Membuang buang waktu saja saja!"
"Cepat umumkan!. Bagaimana tata aturannya dalam debat kali ini!"
"Jangan membual terus!. Masih banyak yang harus aku kerjakan!" Ucap Dragon meradang
"Sombong sekali anak itu!. Aku jadi tidak suka!" Ucap salah seorang profesor pada temannya
"Begitulah sikap anak muda. Dia menganggap sudah terlalu pandai. Jadi meremehkan orang lain termasuk kita!"
"Aku berharap putra dari bapak Hermawan itu bisa mengalahkannya!" Respon teman sesama profesornya mengagetkan
"Kita tunggu saja hasilnya!" Sambung temannya pula sambil tersenyum penuh misteri
__ADS_1
Baru saja dia berkata seperti itu. Dari arah depan terdengar pembawa acara membacakan aturannya. "Debat kali ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama menjawab soal, dan sesi kedua membacakannya. lalu pihak lawan menanggapinya!" Ujarnya lantang menggunakan pengeras suara
Kemudian menyuruh orang lain membagikan kertas soal, yang terdiri dari 200 item, yang terbagi menjadi empat bagian, dan harus dikerjakan dalam waktu empat menit. Sungguh gila!
Dua ratus soal, dikerjakan dalam empat menit. Memangnya bisa?. Untung saja dalam bentuk pilihan ganda. Jadi cukup melingkarinya saja, dan itu tidak menyulitkan Dragon sama sekali
Ariandi tersenyum melihatnya. Karena dia sudah mengantongi jawabannya. Jadi tinggal melingkari beres, tanpa perlu membaca soalnya, ingat saja urutan, selesai!
Dia menganggap Dragon pasti kalah, karena dia harus membaca soalnya terlebih dahulu. Sedangkan Ariandi tidak. Sungguh lucu!. Pikirnya
"Bersiap untuk memulai!" Ucap moderator memberi tanda
"Siap?. Mulai!" Ucapnya memberi aba aba
Ariandi langsung melingkari jawabannya tanpa perlu membaca soal soalnya lagi. Sebentar saja dia sudah menjawab 50 soal, dan sekarang sudah memasuki soal yang ke 70
Sedangkan Dragon hanya diam saja. Tidak terlihat sedang mengerjakan soal tapi di kertas jawabannya sudah ada 150 soal yang sudah terjawab, dan itupun baru berlangsung dua detik, dan akhirnya setelah tiga detik, semua soal sudah dia kerjakan.
Itulah kenapa dia terlihat hanya duduk saja, tanpa terlihat sedang mengerjakan soal. Namun sebenarnya tadi dia menggunakan gerakan cepat, disertai formasi ilusi untuk mengerjakan soal-soal itu
Sementara Ariandi masih berkutat dengan soal soalnya. Itulah yang dilihat orang terhadap Dragon. kenapa bocah itu diam saja? sedangkan waktu tinggal dua menit lagi. Ariandi saja belum selesai, karena sepertinya dia mengalami sedikit kesulitan
Itu diketahui setelah sekilas membaca. Baru diketahui bahwa antara soal dengan jawabannya tidak sama. Dia sudah mulai Keringatan. Dia memandang jam tangannya. Waktu tinggal satu setengah menit lagi. Jika tidak bergegas, pasti dia yang akan kalah
Kemudian dengan panik, dia menelusuri dari awal. Ternyata banyak jawabannya yang salah
Kenapa bisa terjadi?. Apakah jawaban yang ia pegang itu palsu? Tapi rasanya tidak mungkin, karena yang membuat soal juga jawabannya adalah orang-orang pandai, yang sudah mendapat gelar profesor?
Namun itulah yang terjadi. Walaupun waktu masih ada satu setengah menit. Ariandi masih bisa menyelesaikannya dan akhirnya di detik-detik terakhir, 200 soal yang disodorkan padanya sudah selesai. Sedangkan Dragon masih tetap duduk dengan tenang dan tidak terlihat mengerjakan soal
Menurut pandangan orang biasa. Dragon pasti menyerah dengan soal sebanyak itu, yang harus diselesaikan dalam waktu 4 menit. Orang se jenius apapun, tidak akan mampu menjawabnya, karena soal-soalnya terlalu panjang. Ada bacaan, ada rumusan masalah, dan harus menentukan jawabannya. Benar-benar soal yang menjebak
Segera setelah itu. Dua kertas jawaban yang dikerjakan oleh Dragon dan Ariandi sudah berada di meja panitia, dan dimasukkan satu persatu ke dalam mesin
Kertas jawaban pertama yang dimasukkan itu adalah kertas jawaban Ariandi, yang orang sudah yakin bahwa jawabannya pasti 100 persen benar
Tapi kenyataannya berbeda. Di layar monitor. Nilai yang diperoleh oleh Ariandi hanya mencapai 65 jawaban benar. Sedangkan sisanya salah
Situasi sontak menjadi kacau. Ariandi termangu diam, dengan wajah pucat pasi. Sementara ayahnya juga demikian, Dia tidak percaya bahwa Ariandi bisa berbuat seperti itu, dan jawabannya banyak yang salah
Namun karena masih dalam sesi penilaian. maka dia terpaksa diam saja. Para profesor yang ikut diundang juga ikut diam. Tapi ada sesungging senyum sinis yang terpatri di bibirnya
Mereka mengira bahwa Dragon juga akan mengalami hal demikian, karena soal yang mereka buat benar-benar sangat sulit. Mahasiswa semester akhir saja tidak akan mampu menjawab hanya dalam waktu 4 menit.Jika selesai juga pasti banyak yang salah, apalagi Dragon yang terbilang mahasiswa baru itu
Tapi yang mereka tidak sangka adalah. Kenapa jawaban yang diberikan oleh salah seorang profesor itu tidak semuanya benar. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Cepat pindai kertas jawabannya!Kami semua ingin melihat apa hasil yang anak itu peroleh!" Ucap para penonton diluar tim intelektual itu dengan nada tidak sabar
"Cepat! Cepat!. Lakukan!. Aku juga ingin melihat apa hasilnya!" Sambung Junandi Pratama tidak sabaran juga
"Baik!. Segera dikerjakan!" Jawab ketua panitia gugup
Kemudian memasukkan kertas jawaban Dragon ke dalam mesin scanner dengan hati-hati, sambil tangannya bergetar halus. Entah mengapa itu bisa terjadi? Mungkinkah Dragon sudah meninggalkan aura kesadarannya di kertas itu?
Belum bisa dibuktikan!
"Apa?. Bagaimana mungkin jawaban anak itu 100 persen benar, dan tidak satupun yang salah?" Ucap salah seorang penonton memecah kesunyian
__ADS_1
"Benar!. Aku juga melihatnya!. Anak itu benar-benar jenius dari jenius yang ada!" Sambung temannya pula
"Bagaimana mungkin?. Kenapa bisa terjadi?"
"Padahal jawaban yang aku berikan padanya itu benar, karena kami yang membuat soal-soal itu berikut jawabannya!"
"Tapi kenapa bisa salah?. Apa yang terjadi?"
"Apakah Ariandi telah salah memasukkan jawaban, sehingga kacau seperti itu?" Batin salah seorang profesor dalam hati, sambil memandang ke arah Dragon dengan niat yang kurang baik
Selagi mereka berdebat baik secara terbuka, berdua, beramai-ramai maupun dalam hati. Dragon sudah meninggalkan tempat itu. Tapi belum juga keluar dari aula megah tersebut, terdengar sebuah suara yang cukup keras
"Berhenti!. Kamu tidak bisa seenaknya keluar dari tempat ini!"
"Kami masih harus menyelidiki mu!" Ucap salah seorang profesor pada Dragon dengan suara keras
Semua orang memandang ke arah profesor tersebut. Mereka tidak tahu kenapa profesor itu menghentikan langkah Dragon. Padahal sudah jelas-jelas dia yang menang, dan Dragon mempunyai hak untuk pergi begitu saja. karena bagaimanapun dan dibawa kemanapun dia tetap keluar sebagai pemenangnya, dan itu dibuktikan oleh mata kepala mereka sendiri. dan tidak perlu dilanjutkan ke sesi kedua
"Bagaimana kau bisa menang?. padahal soalnya sebanyak itu?. Sedangkan kau tidak terlihat mengerjakannya? Apakah kau sudah berbuat curang?" Ucap profesor Tama pada Dragon
"Jangan tanyakan padaku!, tapi tanyakan pada anak itu!"
"Bukankah yang sudah berbuat curang itu dia?, dan aku tahu siapa yang memberikannya? Jawab Dragon cukup tegas
"Apa yang kau katakan?. Bukankah soal yang dibagikan itu sama, dan urutannya juga sama? Tapi kenapa kau bisa menjawabnya?. Padahal kau tidak terlihat mengerjakannya?" Respon profesor Tama bertubi tubi, seperti ingin mengalihkan pembicaraan
"Aku tahu spesial bidangmu adalah urologi dan cabang nya itu. Tapi tidak semua tentang itu kau kuasai, apalagi murid didikmu itu!"
"Kau memang sudah bergelar profesor. Tapi sangat disayangkan, tidak sesuai dengan gelar yang kau dapatkan dengan susah payah itu!"
"Hanya karena uang!. Kau sanggup menghianati dedikasimu sebagai seorang terpelajar. Aku sangat malu melihat itu!" Jawab Dragon menohok sekali
"Jangan bersikap kurang ajar!. Aku jauh lebih tua darimu!. Apalagi kau hanya seorang mahasiswa baru!. Ilmumu masih cetek, dan kau belum bisa melawanku!" Reaksi Tama tidak terima
"Begitukah?. Aku jadi merasa tertantang."
"Kalian semua perhatikan!. Aku sedang tidak bersikap kurang ajar pada bapak ini. Tapi kalian semua tahu, bahwa dia yang memulai keributan. Apakah aku harus diam saja?" Ucap Dragon pada hadirin yang ada
"Ya!. Kau tidak salah. Sebenarnya kau sudah hampir sampai di dekat pintu, dan keluar setelah memenangkan pertandingan."
"Tapi profesor itu menghentikan mu, serta memarahimu juga menghina mu!"
"Jika itu aku!. Aku pasti akan melawan!" Respon penonton tiba tiba membela Dragon
Profesor Tama mukanya menjadi masam. Dia tidak menyangka bahwa statemennya itu telah membangkitkan kemarahan orang-orang. Padahal tadi diniatkan ingin mempermalukan Dragon dengan statement seperti itu. Tapi nampaknya dia salah perhitungan
Dia belum tahu siapa Dragon. Jika dibandingkan dengan ilmunya. Mungkin dia akan kalah. Karena sudah pernah dikatakan, bahwa Dragon ilmunya jauh lebih tinggi dari ilmu orang yang mengajarnya. Tapi karena dia bersikap rendah hati, Maka dia diam saja dan patuh mengikuti perkuliahan
Namun apabila ditantang di luar itu, maka dia akan menunjukkan tajinya, dan itu benar-benar dilakukannya.
"Jadi apa yang akan kau lakukan apakah kau akan melaporkanku kepada pihak berwajib, karena aku telah memenangkan pertandingan?" Tanya Dragon tiba-tiba
Kemudian mendekati profesor Tama, lalu berbisik di telinganya
"Bukankah kau mengalami gangguan inkontinensia?" Jadi aku sarankan jangan berteriak kuat kuat apalagi tertawa."
"Bisa bisa celana mu basah karena tidak mampu menahan kencing?" Ucap Dragon di telinga Tama
__ADS_1
Deg!
"Bagaimana kau tahu aku menderita penyakit itu?" Reaksi Tama tidak terduga