
Sementara itu di dunia nyata. Avatar Dragon yang ditugaskan untuk mengikuti kuliah bisnis dan manajemen, ilmu hubungan internasional. ilmu kedokteran, hukum dan perundang-undangan, saint dan teknologi, teknik mesin, ilmu komputer, serta keterampilan elektronika dan instrumentasi. telah menunjukkan hasilnya, dan itu mereka itu sangat memuaskan.
Hanya dalam waktu yang relatif singkat. Dragon sudah mendapatkan banyak penghargaan bahkan gelar di berbagai bidang. Salah satunya adalah penghargaan saat dia menang dalam debat terbuka antar beberapa universitas terkemuka dunia.
Saat itu mereka memasang mosi debat dengan judul. "Degradasi moral dipengaruhi oleh rendahnya literasi siswa dan mahasiswa" Dan hebatnya kelompok Dragon yang keluar sebagai pemenangnya.
Berkat itu nama Dragon semakin terkenal. Dimana mana orang membicarakannya. Banyak orang ingin menjalin relasi dengan Dragon. termasuk dosen dan mahasiswa. bahkan yang senior juga ada.
Tapi sampai sejauh ini, orang belum juga mengetahui jati diri Dragon, walau sudah banyak media yang meliputnya, Itu semua bisa terjadi, lantaran Dragon menyembunyikan rahasianya itu dengan baik.
Namun ada beberapa orang mahasiswa, yang sampai saat ini masih juga penasaran. Selama ini dia terus menyelidiki, siapa Dragon yang sebenarnya.
Tapi sekeras apapun dia berusaha, status Dragon masih menjadi misteri, dan itu membuatnya semakin penasaran.
"Untuk apa kau berusaha sekeras ini Ros?. Bukankah kau tidak suka dengannya?, Tapi kenapa masih juga penasaran?" Tanya Puspita keheranan.
"Bagaimana aku tidak penasaran Ta?. Mahesa itu aneh?"
"Masih muda, mahasiswa baru, tapi sudah pasca sarjana?. Bahkan saat ini dia sedang mengambil gelar magister atau program doktoral."
"Mungkin sebentar lagi dia akan mendapatkan gelar doktor bahkan profesor!. Apa tidak gila itu namanya?" Jawab Rosmita apa adanya.
"Biasa aja kali?. Itu namanya berun...Eh, apa kau bilang?. Program doktoral?. Jangan bercanda kamu Ros?"
"Mana ada orang yang seperti itu di dunia. Belum lama masuk tapi sudah dapat gelar?. Merapek tu namenye!" Respon Puspita menggunakan bahasa ibunya.
"Lantak kau lah kalau tak pecaye!. Aku dah kaba dah bahwa Mahesa tu bukan Oghang biase. Tapi lua biase!" Balas Rosmita dengan bahasa yang same, eh sama.
"Betul ke yang kau kate tu Ros?. Boleh tak kau kenalkan aku dengan die?. Lagi pule aku lebih lawa daripada kau tu?.Aku nak tengok muke die juge?"
"Kalau kacak bolehlah dengan aku?" Reaksi Puspita percaya diri.
"Hahahaha!. Muke macam berok tu nak dengan Mahesa?.Apa tak salah telinga ku ni denga?" Respon Rosmita merasa lucu.
"Ala!. Paling paling nanti kau cemburu?"
"Aku bukan tak tau kalau kau tu suke same die!. Ye kan?"Reaksi Puspita tidak terduga
"Ssst. Jangan kuat kuat!. Tedenga Oghang malu aku!"
"Hidung tak mancung pipi tersurung surung!. Nak di tarok mane muke aku ni ha?" Respon rosmita malu malu.
"Hai!. Apa yang kalian lakukan di sini?" Tumben cuma berdua?. Mana yang lain?" Ucap seseorang datang mengagetkan mereka.
"Ma ma Mahesh!. ngagetin aja!"
"Kau juga ngapa sendiri?. Mana teman mu itu. Udah putus ya?" Reaksi Rosmita kaget bercampur senang.
"Teman?. Putus?. Teman yang mana?"
"Bukankah teman ku cukup banyak, termasuk kalian?" Kenapa kau tanya begitu?" Jawab Dragon keheranan.
"Ah salah, salah, salah!. Maaf!. Aku hanya kaget saja!. jadi sembarangan berkata."
"Ada apa ini?. Tumben datang kemari?. Apakah ada sesuatu yang sedang kau cari?" Ucap Rosmita berusaha menenangkan perasaannya.
"Oh itu?. Kebetulan aku ingin menemui seseorang yang katanya sedang menunggu di sini. Tapi setelah aku cari yang ada cuma kalian!" Jawab Dragon berterus terang.
"Menemui seseorang? Siapa?" Respon Rosmita kebingungan.
"Aku!" Jawab Puspita berterus terang juga.
"Kau?" Respon Rosmita penasaran.
"Ya. kenapa?. Heran?" Jawab Puspita malah balik bertanya.
"Tapi untuk apa?. Bukankah kau belum mengenal Mahesa?. Tapi kenapa bisa menyuruhnya kemari?"
"Apakah ada yang kau kau sembunyikan?" Reaksi Rosmita kebingungan.
"Jujur saja aku katakan, aku memang belum mengenal Mahesa. Tapi aku bertanya kepada orang-orang, Bagaimana rupa Mahesa itu?. dan mereka mengatakan bahwa dia itu lumayan!"
"Jadi aku bilang pada orang dekatnya untuk menemui seseorang di taman ini, dan ternyata dia benar-benar datang. Tapi bukan untukku tapi untuk dia!" Jawab Puspita mengejutkan temannya.
"Siapa?" Tanya Rosmita ingin tau.
"Aku!" Jawab seseorang yang muncul dari balik pohon, yang sebenarnya Dragon pun sudah tau.
"Carens!. Ternyata itu kau?"
"Kenapa kau bersembunyi di situ?. Apakah kau yang ingin menemui Mahesa?" Respon Rosmita penasaran.
__ADS_1
"Ya?. Tapi atas suruhan seseorang. Itu mereka!" Jawab Carens apa adanya.
"Ka ka kakek Tama!. Dokter Nara?" Reaksi Rosmita tidak percaya.
"Ya ini aku cucu ku yang bandel!. Disuruh menjadi dokter tak mau. Tapi kau malah memilih jadi ahli ekonomi."
"Kau lihat anak sahabat ku ini. Masih muda tapi sudah jadi dokter. Sedangkan kau sarjana saja belum. Mau sampai kapan?" Jawab profesor Tama mengejutkan.
"Tapi.? Tapi..?" Respon Rosmita kurang senang.
"Sudah, sudah!. Jangan dibahas lagi!" Ucap Tama merasa tidak enak hati. Kemudian melirik ke arah Dragon lalu pada cucunya.
"Ngomong ngomong! Apakah kau kenal dengan master Mahesa?" Ucap Tama ingin bertanya.
"Master Mahesa?. Sejak kapan?. Apakah Ros tidak salah dengar kek?" Reaksi Rosmita penasaran.
"Sejak kau belum lahir!" Jawab profesor Tama bercanda.
"Sekarang cepat katakan!. Apakah kau mengenal master Mahesa?" Ucap profesor Tama sekali lagi bertanya.
"Bukan kenal lagi kek!. Tapi sangat kenal!, karena dia selalu muncul di perkuliahan umum dan menjadi pembicara di sana!"
"Dosen asli selalu berhalangan hadir karena usia. Jadi dia yang disuruh untuk mewakili dosen itu."
"Pada awalnya banyak mahasiswa senior yang menolaknya, Bahkan mereka mengadakan boikot terhadap Mahesa."
"Namun setelah perkuliahan berlangsung selama 3 menit, barulah orang-orang itu percaya, karena apa yang disampaikan oleh Mahesa itu sangat luar biasa!"
"Profesor Akie saja tidak mampu mengungkapkan fenomena itu, tapi Mahesa bisa."
"Bahkan dengan mudahnya dia memecahkan satu persoalan, yang selama ini belum ditemukan jawabannya."
"Sejak saat itu jika mendengar ada perkuliahan umum, dan pengajarnya adalah Mahesa, maka berduyun duyun orang datang, demi untuk mendengarkan kuliahnya, serta mendapatkan ilmu darinya."
"Jadi tidak ada alasan untuk ku tidak mengenalnya. karena aku juga salah satu mahasiswanya!" Jawab Rosmita berterus terang.
"Apa?. Jadi Mahesa ini sudah menjadi dosen pengganti profesor Akie itu. Apakah kau sedang tidak bercanda cucu ku?" Tanya Tama merasa penasaran.
"Untuk apa juga aku bercanda denganmu kek?. Tidak ada untungnya juga!" Jawab Rosmita apa adanya.
"Master Mahesa!. Benarkan itu?"Tanya Nara ingin penjelasan.
"Kebetulan pertanyaan yang para mahasiswa itu ajukan, jawabannya sudah aku tahu, karena aku sudah membaca buku tentang itu sebelumnya."
"Jadi dengan mudahnya pertanyaan yang dianggap sulit itu bisa aku atasi!" Jawab Dragon terkesan tidak mau membanggakan dirinya.
"Itu bukan namanya kebetulan tapi jenius. Masternya saja yang tidak menganggapnya ada!" Reaksi profesor Tama datang menyela.
"Ya aku juga setuju profesor!. Master Mahesa ini memang sangat luar biasa. Jadi wajar kalau dia bisa menjadi asisten dosen yang sangat berpengalaman."
"Tapi ngomong-ngomong bagaimana perkembangan pelajaran master di universitas ini?. Apakah sudah mendapatkan gelar sarjana?" Tanya Nara ingin tahu.
"Bukan sarjana lagi, tapi pascasarjana!. Bahkan gelarnya sudah ia dapatkan."
"Sekarang yang bersangkutan sedang menjalani program magister, dan sebentar lagi kabarnya akan mendapatkan gelar doktor." Jawab Rosmita menjawab pertanyaan dokter Nara.
"Luar biasa!. benar-benar manusia jenius!" Respon Nara kagum dan tidak bisa disembunyikannya lagi.
"Tapi ngomong-ngomong juga. Tumben kalian berdua datang ke sini?. Apakah ada sesuatu hal penting yang ingin kalian bicarakan?"
"Kau Carens?. Kenapa kau bisa bertemu dengan mereka. Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Dragon benar-benar penasaran
"Oh kalau itu hanya kebetulan saja!. Saat mereka berdua masuk, mereka bertemu denganku, dan langsung bertanya tentang keberadaanmu!"
"Jadi aku jawab saja bahwa aku pernah bertemu denganmu walau tidak begitu dekat."
"Namun ada seseorang yang temannya cukup tahu tentang orang ini, karena dia teman sekelasku."
"Maka aku meminta tolong padanya agar pura-pura menjadi seseorang yang sangat penting, dan ingin bertemu dengan mu."
"Maka jadilah seperti ini. Tapi saat kami ingin muncul, kalian sedang asik-asiknya berbincang tentang Mahesa. Maka kami diam saja, dan menunggu waktu yang tepat untuk menemui mu!" Jawab Carens atau Lolita berterus terang.
"Humm!. Ternyata begitu! Lalu setelah bertemu, Apakah ada berita yang ingin kalian sampaikan padaku?" Respon Dragon langsung mengalihkan pertanyaan pada profesor Tama dan dokter Nara, agar mereka berdua mau berterus terang kenapa datang.
"Ayo profesor Tama!. Berterus terang saja jangan ragu ragu!" Bisik Nara pada seniornya.
"Jangan berbisik-bisik seperti itu!. Aku bisa mendengarkannya!. Bukankah kalian ingin meminta pertolongan dariku untuk menyembuhkan seseorang?" Tanya Dragon langsung pada intinya.
"Bagaimana kau tahu master?, Padahal kami belum mengatakannya?" Respon profesor Tama keheranan.
"Aku sudah tahu sifat kalian berdua. Jadi belum dikatakan pun aku bisa membaca apa yang kalian inginkan!" Jawab Dragon membuat mereka heran.
__ADS_1
"Benar, kami mengaku kalah!"
"Sejujurnya kami berdua ini diutus oleh ayah Nara, untuk memberitahukan padamu, bahwa atasannya menteri pertahanan, ingin meminta bantuan dari mu. Tapi..?" Jawab profesor Tama ragu-ragu.
"Meminta bantuan untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya kan?. dan kebetulan aku tahu bahwa orang itu menderita penyakit langka yang belum ditemukan obatnya, benar kan?" Tebak Dragon langsung pada intinya lagi.
"Benar sekali master!. Apa yang kau katakan itu tidak salah!"
"Kata dokter luar negeri yang memeriksanya, jenderal Ruky menderita Ceroderma Pigmentosum, atau sindrom vampir, karena yang bersangkutan tidak tahan jika terkena terkena sinar ultraviolet."
"Kalau dia mau keluar juga, dokter yang menanganinya harus memberikan serum atau antibodi untuk melawan sinar tersebut."
"Pada awalnya jendral Ruky masih bisa bertahan. Tapi lama kelamaan menyerah juga."
"Oleh karena itu atas rekomendasi dari bawahannya, agar dokter Ruky meminta bantuanmu untuk mengobatinya!" Jawab profesor Tama apa adanya
"Humm!. sindrom vampir ya?. Kedengarannya penyakit yang sangat mengerikan?"
"Ternyata hanya penyakit genetik biasa. Jika ditangani dengan tepat, tak membutuhkan waktu lama penyakit tersebut akan hilang."
"Jadi menurutku itu penyakit biasa. dan penyebabnya pun biasa juga. Obatnya sangat mudah di cari dan bisa digunakan kapan saja diperlukan."
"Mudah-mudahan aku bisa menyembuhkannya?"
"Namun aku harus bertemu dengan orangnya langsung, agar bisa memberikan pengobatan secara dekat" Ucap Dragon memberikan harapan.
"Benarkah begitu master?. Kalau begitu ayo kita temui orang tersebut, agar secepatnya bisa disembuhkan!" Respon dokter Nara senang.
"Tunggu dulu!. Ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan pada kalian!" Cegah Dragon mengejutkan.
"Ada apa lagi master?. Apakah ada sesuatu yang ingin master ketahui?" Tanya Tama merasa penasaran.
"Ya jelas ada!. yaitu tentang Rosmita. Apakah benar dia cucumu profesor?" Tanya Dragon tiba-tiba.
"Apakah master meragukan ku?" Tanya Rosmita pula.
"Eh tunggu dulu!. Biasanya kau terus memanggilku dengan Mahesa atau kau kau saja?. Tapi sekarang kenapa ikut ikutan memanggilku dengan sebutan master?" Reaksi Dragon mencengangkan.
"Oh tentang itu?. Selama ini aku hanya tenggelam pada egoku sendiri, dan tidak menganggap bahwa kau ada!"
"Walau sejujurnya aku mengetahui, bahwa ilmumu jauh lebih tinggi dari senior sepertiku. tapi aku belum bisa juga mengalahkan ego buruk ku tersebut."
"Tapi setelah membuktikan bahwa ilmumu tiada bandingannya. Lama-lama aku merasa malu sendiri, Apalagi setelah kakekku yang bergelar profesor pun, bahkan dokter Nara yang terkenal jutek, juga memanggil anda master."
"Jadi apa salahnya jika aku memanggil anda dengan sebutan master juga?" Jawab Rosmita apa adanya.
"Lalu?"
"Lalu apa lagi?. Aku mengagumi mu!" Jawab Rosmita berterus terang.
Bam!
"Nah benarkan persangkaan ku?. Kau tu menyukai Mahesa. Tapi berusaha di sembunyikan!"
"Untuk kakek mu datang kalau tidak...?"
"Jangan tunggu lama-lama nanti lama-lama dia diambil orang?" Lantun lidah Puspita menyindir temannya dengan lagu yang sudah sangat terkenal.
"Apaan sih kau?. Siapa yang menyukai orang?. Aku cuma kagum saja!"
"Apakah itu berarti aku mencintai seseorang?" Respon Rosmita tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, walaupun lidah berusaha membantahnya
"Alah ngaku sajalah kak Ros? Kenapa masih malu-malu?"
"Kalau kau tak mau bia untuk aku saje!" Respon Puspita mengaduk-aduk perasaan temannya.
"Benar!. Aku juga mau kalau kau tidak mau mengakuinya. Bagaimana?" Ucap Carens juga mengaduk perasaan Rosmita.
"Ah terserah kalian sajalah!. Aku mau pergi!" Respon Rosmita malu malu. Lalu berlari dari tempat itu, untuk bersembunyi di suatu tempat di bulan.
"Gawat!. gadis itu sepertinya menyukaiku?. Apa yang harus aku lakukan?" Batin Dragon dalam hati. Kemudian memandang kepada profesor Tama, lalu beralih kepada dokter Nara
Dragon tahu bahwa dokter Nara juga menyukainya. Tapi sebagai orang yang berpengalaman, dokter Nara tidaklah seperti Rosmita. Dia bertindak hati-hati, karena bagaimanapun dia tidak pernah jatuh cinta.
Sekali jatuh cinta, maka tidak akan bisa dirubah lagi, karena baginya jatuh cinta itu sakral, dan kebetulan cinta pertamanya itu adalah Dragon.
"Weleh, weleh, Weleh!"
"Beruntungnya kau nak?"
"
__ADS_1