
"Jangan sombong dulu anak muda!. Aku belum mengerahkan seluruh kemampuan ku!"
"Sekarang, coba kau rasakan ini!"
"Tekanan ribuan gunung!"
"Hiiaaaaa!"
Bouummm!
Sedetik setelah dia berteriak begitu. Sebuah kekuatan lebih besar, dua kali lipat ganda nya, segera memenuhi tempat itu, dan semakin membuat udara menjadi sesak
Anak buah Jindaka, Kolaka serta Rubasama yang masih tersisa. Segera merasakan tekanan itu. Dan banyak yang mengeluarkan darah dari hidung, telinga serta mulutnya
Jangankan prajurit biasa. Para komandan serta jendral yang berilmu tinggi pun terkena imbasnya
Banyak dari mereka yang terduduk di tanah. Bahkan ada yang terguling dan meronta kesakitan di sana
Tekanan aura itu benar benar kuat. Raja Rubasama dan Kolaka juga merasakan tekanan tersebut, dan segera membentengi tubuh mereka dengan aura jiwa yang mereka miliki
Namun Dragon dan anak buahnya tenang tenang saja. Baginya kekuatan yang seperti itu, dianggap hanya semilir angin saja. Dan tidak menganggap itu sebagai ancaman serius
Kekuatan yang sepuluh kali lipat pun, bahkan jika lebih, tidak akan mampu mempengaruhi Dragon juga orang orangnya. Karena kitab kekosongan benda segera bereaksi, saat merasakan tuan juga pengawalnya dalam bahaya
Akibatnya tekanan iblis atasan Jindaka, tidak berpengaruh apa apa padanya
"Mana kekuatan yang kau banggakan itu Jindaka?"
"Kenapa aku tidak bisa merasakannya?" Ucap Dragon bertanya
"Aneh!. Siapa sebenarnya bocah itu?"
"Kenapa aura iblis Jarasura, tidak mampu menindasnya?"
"Kekuatan apa yang dia miliki?" Batin Jindaka mulai merasa khawatir
"Jindaka!. Apakah pertunjukan mu sudah selesai?"
"Kalau sudah. Giliran ku pula yang memperagakan sedikit kekuatan dihadapan kalian!" Ucap Dragon sangat mengintimidasi sekali
"Jangan berani macam macam kau!"
"Rasakan serangan ku ini!" Respon Kolaka merasa geram
Kemudian mendorong tangannya ke arah Dragon dan sedetik kemudian dia berseru lantang."Teknik penghancuran jiwa!"
"Aktifkan!"
Swing!
Tras! Tras!..
Blar!
Sebuah kekuatan yang sangat besar, telak mengenai tubuh Dragon, dan membuat tubuhnya terkurung oleh sebuah lingkaran berbentuk kubus, yang mengeluarkan cahaya sangat menyilaukan
Kubus itu segera bereaksi, dengan berusaha menyerap jiwa Dragon, dan diniatkan untuk menguras seluruh energinya supaya cepat mati
Tapi bukan Dragon namanya, kalau dengan serangan seperti itu akan kalah
Kubus yang diharapkan bisa mengurung Dragon serta membunuhnya.Tiba tiba hancur tidak tersisa. Dan orang yang membuatnya terpental cukup jauh
"Ugh!" Keluh Kolaka kesakitan. Sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa kubus jiwa itu bisa pecah, dan kekuatannya menyerang pemiliknya sendiri?" Guman Rubasama seakan tidak percaya
"Bagaimana Kolaka?"
"Apakah masih ada jurus atau teknik mu yang belum kau gunakan?"
"Kalau masih ada!. Segera gunakan. Karena sebentar lagi kau akan mati!" Ucap Dragon sangat mengintimidasi sekali
"Bagaimana ini?. Kekuatannya tidak sederhana penampilan nya?"
"Ternyata dia bukan orang lemah!"
"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Kolaka dalam hati
"Raja Rubah!. Kau yang aku lihat kuat!. Kenapa tidak menyerang?. Mumpung suasana hati ku sedang tidak baik!"
"Kalau kau tidak mau!. Biar aku yang menyerang duluan. Karena aku sudah mulai bosan!" Ucap Dragon pada Rubasama sambil memindai tubuhnya
"Hemm!. Ternyata kau di situ Rubah Api?"
"Aku kira iblis Pancasoka yang mendiami tubuh rubah mu itu!. Ternyata kau rupanya!" Ucap Dragon kuat kuat. Ditujukan pada mahluk yang mendiami tubuh Rubasama itu
"Hehehehe!" Jeli juga matamu bocah!"
"Mentang mentang ada banyak jiwa yang mendiami tubuh mu. kau langsung pamer kekuatan pada ku!"
"Apakah kau kira aku takut ha!" Respon Rubah Api terdengar menggelikan
"Benarkah begitu Ruba!"
"Apakah kau mencoba melawan ku?" Sambut Ditya Prabu kesal, melalui tranmisi suara yang dikirimkan langsung pada Rubah Api itu
"Ka ka kau?"
"Bagaimana mungkin ditubuh anak itu ada penguasa kuat seperti mu?"
"Apakah aku tidak salah dengar?" Reaksi Ruba ketakutan
__ADS_1
"Apakah kau meragukan ku Ruba?" Tanya Ditya Prabu tidak senang
Slash
Bugh!
"Arg!" Teriak Rubasama kesakitan. yang sebenarnya itu adalah suara Rubah Api
"Masih tetap meragukan ku ha?"
"Apakah kau mau aku hukum?"
"Ja ja jangan yang mulia!"
"Aku mengaku salah. Aku akan keluar dari tubuh reot ini, dan kembali ke dalam kurungan!" Jawab Ruba gugup
"Bagus!. Kalau begitu cepat lakukan! sebelum cucu ku ini marah!" Respon Ditya Prabu tegas
"Ba ba baik!"
Blush!
"Argh!"
"Apa yang terjadi?. Kenapa tubuh ku tiba tiba lemah dan kekuatan ku seperti hilang?" Teriak Rubasama tidak mengerti
"Itu karena mahluk yang mendiami tubuh mu sudah aku ambil, dan aku masukkan ke dalam kerangkeng langit!"
"Jika dia berani keluar!, maka tubuhnya akan meledak!"
"Sekarang ditubuh mu, sudah tidak ada apa apa lagi!"
"Oleh karena itu mari kita tentukan!. Siapa yang akan mati duluan?" Jawab Dragon cukup jelas
"Badjingan!. Dasar manusia curang!"
"Akan ku bunuh kau!" Reaksi Rubasama marah
Kemudian berkelebat kearah Dragon, dan berniat ingin membunuhnya
Blush!
"Eh!. Kenapa pukulan ku tidak mengenainya?. Padahal jelas jelas sudah aku kunci!"
"Tapi kenapa tidak berpengaruh apa apa?" Ucap Rubasama pada diri sendiri
"Kau mau tahu Ruba?"
"Tubuh yang kau pegang itu bukan tubuh ku. Tapi tubuh anak buah mu sendiri!"
"Kau lihatlah baik baik siapa orang itu?" Jawab Dragon berterus terang
"Jendral Kobar?. Bagaimana bisa?" Ucap Rubasama keheranan
"Sekarang susul lah jendral mu itu, dan temani dia di neraka!"
Slash!
Dhuaar!
"Tidaaak!"
"Kau sudah menggagalkan rencana ku untuk membalas dendam!"
"Seharusnya aku yang akan membunuhnya, bukan kau!"
"Sekarang terimalah kemarahan sesembahan kami!"
"Rawana menelan bumi!"
"Hiiaaaaa!"
Bamm!
Tubuh Jindaka mendadak menjadi besar, sesaat setelah dia berteriak begitu. dan berubah menjadi tubuh lain, yang auranya jauh lebih kuat dan mengerikan dari aura mahluk berkepala tiga sebelumnya
Wajah mahluk lain pun segera terlihat, dan langsung mendominasi keadaan di tempat itu
Raja Kolaka beserta seluruh prajuritnya yang masih hidup. Ditambah dengan prajurit Rubasama dan prajurit Jindaka sendiri, langsung menjatuhkan diri ke tanah, dan menyembah perubahan wujud Jindaka ke Rawana yang sangat mereka hormati itu
Dragon dan anak buahnya yang melihat itu jadi tercekat diam. Awal mulanya tengah membantai lawan lawannya, dan nyaris tanpa perlawanan
Tapi tiba tiba mereka dibuat bingung, karena lawannya tidak memperdulikan serangan mereka, dan lebih memilih menyembah wujud perubahan Jindaka
"Hahahaha!"
"Akhirnya aku bebas!"
"Aku akan membalas dendam, pada orang yang telah menyakiti ku!" Ucap Rawana sambil tertawa kuat kuat
Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh areal pertarungan tersebut, dan mendapati banyak sekali jiwa jiwa yang mati penasaran
Di situ dia juga melihat, ada ribuan sinar sangat menyilaukan, yang terpancar dari tubuh Dragon, dan membuatnya seperti pernah melihatnya
"Siapa kau?. Kenapa di dalam tubuh mu ada banyak sinar dan aura dari musuh ku?"
"Apakah kau keturunannya?" Tanya Rawana pada Dragon
"Benar!. Dia adalah keturunan ku!. Orang yang diutus untuk membinasakan mu!" Jawab sebuah suara dari dalam tubuh Dragon
"Hahahaha!. Ditya Prabu!. Ternyata itu kau!"
"Kemana murid murid mu yang sok kuat itu?"
__ADS_1
"Apakah mereka sekarang takut pada ku?" Reaksi Rawana merasa geli
"Aku disini pecundang!" Jawab sebuah suara yang juga berasal dari tubuh Dragon
"Brawijaya!. Ternyata kau masih hidup dan tidak jadi masuk neraka ya?"
"Mana Pringgandani yang sok suci itu?"
"Aku sangat merindukannya!"
Slash
Bugh!
"Hugh!"
"Aku disini Wana!"
"Apakah kau sudah rindu tamparan ku?" Jawab sebuah suara yang ternyata adalah Pringgandani
"Hahahaha!. Kau semakin cantik Andini!"
"Aku jadi tidak sabar ingin memeluk mu!" Reaksi Rawana kegirangan
Padahal dadanya sesak akibat dipukul oleh Andini, nama panggilan Pringgandani, yang selalu di ucapkan oleh Rawana
Dari dulu dia memang tergila-gila pada Pringgandani dan selalu ingin mendapatkan hatinya. Namun peringandani atau Andini selalu menolaknya, dan sering terjadi perkelahian antar mereka berdua
Tidak ada yang menang ataupun tidak ada yang kalah. Kekuatan mereka selalu seimbang, dan akhirnya pertempuran tersebut berhenti sendiri. Itupun saat Ditya Prabu turun tangan, dan hendak menangkap Rahwana untuk dikurung di penjara langit
"Kau tidak pernah berubah Wana!. Dari dulu sampai sekarang, masih tetap genit seperti itu!"
"Hari ini aku akan merobek mulut mu agar bisa bersikap sopan!" Ucap Andini marah
"Ayo kita buktikan!. Siapa yang paling kuat diantara kita!"
"Kalau aku kalah. Aku tidak akan ikut campur lagi masalah mu!"
"Tapi jika kau kalah!. Maka kau harus bersedia menjadi istri ku!" Jawab Rawana memberi tawaran
"Siapa yang sudi bernegosiasi dengan mu?"
"Matilah kau!"
Whush!
Bhouumm!"
Tubuh Rawana meledak, akibat diterjang oleh ilmu menelan langit milik Andini
Tapi itu sebenarnya bukan tubuh Rawana. Tapi tubuh Jindaka
"Hahahaha!. Ternyata kau sudah semakin kuat Andini!"
"Rapi sayangnya belum mampu membunuh ku!" Ucap Rawana sambil tertawa
"Bagaimana kalau dengan ini?" Jawab Dragon mengintimidasi. Dan langsung mengeluarkan Cemeti Amar Rasuli, serta langsung menyerang Rawana
Cetar!
"Aaaarrrgghhh!" Teriak Rawana kesakitan, saat sebagian tubuhnya terbakar akibat sebatan cemeti itu
"Awas kalian!. Aku belum mengaku kalah. Dan akan membalas dendam melalui orang terdekat mu!" Teriak Rawana kuat kuat. Lalu menghilang dari tempat itu, dan tidak bisa dikejar lagi
"Huh menyebalkan!" Respon Andini merasa kesal
Bruk!
Bruk!
Sesaat setelah Andini berkata seperti itu. Tiba tiba saja. Lebih dari 1.500 bangsa jin, Rubah dan serigala api, menjatuhkan lututnya ke tanah, dan memohon pengampunan pada Dragon. Termasuk yang berbuat seperti itu adalah raja Kolaka serta para jenderalnya
"Eyang!. Apa yang harus aku lakukan pada mereka?" Tanya Dragon ingin mendapatkan saran
"Ampuni mereka!, dan buat mereka menjadi pengikutmu!"
"Ikat hati dan jiwa mereka agar tidak memberontak!" Jawab Ditya Prabu memberi saran
"Baik eyang!" Jawab Dragon merasa senang
Kemudian melakukan seperti apa yang diperintahkan. Lalu memasukkan seluruh tawanan itu ke dalam penjara langit, untuk mendapatkan hukuman sementara
"Pindahkan tiga dunia mereka ke dalam cincin ini!, agar penduduknya tidak menyadari bahwa rajanya telah kau kalahkan!"
"Setelah waktunya tiba, baru kau bisa muncul di tempat itu, dan membuat orang-orangnya tunduk pada mu!" Ucap Ditya Prabu kembali memberi saran
"Dengan senang hati eyang guru!" Jawab Dragon semakin senang
Lalu kembali mengerjakan perintah dari eyang gurunya tersebut, yang sepertinya sangat mudah dilakukannya
Tak lama kemudian Dragon mendekati tubuh Andini lalu berkata. "Kembalilah ke tubuh adikku!, dan biarkan dia muncul di depanku!" Ucap Dragon memberi perintah
"Siap tuan muda!" Jawab Andini patuh
"Kakak!"
"Kenapa adik ada di sini dan siapa orang-orang itu?" Reaksi Dyah senang bercampur bingung, setelah Andini masuk kembali ke dalam tubuhnya
"Ceritanya panjang adik!"
"Mari ikut dengan kakak. Nanti akan kakak ceritakan duduk perkara yang sebenarnya." Jawab Dragon cukup bijaksana
Kemudian mengajak adiknya pergi untuk mengikutinya
__ADS_1