Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Kelompok semut


__ADS_3

"Anak anak!. Beri mereka contoh bagaimana harus menghargai orang lain!"


"Tunjukkan pada mereka, bahwa kita bukan kelompok lemah!" Ucap Damaji pada 125 orang anak buahnya


"Siap komandan!. Serahkan itu pada kami!"


"Cukup satu menit mereka semua pasti sudah mati!" Jawab anak buahnya sombong sekali


"Kalau begitu tunggu apa lagi?.Serang mereka!" Ucap Damaji memberi perintah


"Siap komandan!" Jawab anak buahnya patuh. Kemudian serentak meluru kearah Burgon, untuk memberikan pelajaran berharga padanya


Tak lama berselang. Pertarungan tak seimbang segera terjadi, antara Burgon dengan 125 orang anak buah Damaji, dan tak seorangpun kawan kawannya datang membantu


Menurut Dragon itu tidak perlu, karena dengan Burgon seorang saja, Kelompok semut itu sudah bisa dikalahkan. Dan perkiraan tersebut terbukti benar


Dengan mudahnya mereka dikalahkan. Dan tidak diberi kesempatan untuk mencelakainya


Ilmu inti pedang yang dikuasainya. Berhasil membuat serangan mereka terhenti. Mengandalkan ilmu itu, Burgon membantai orang orang tersebut, dan langsung lenyap hingga tidak tersisa


Tubuh mereka hangus saat terkena sinar laser itu, dan meledak seketika. Tanpa bersusah payah meladeni keberingasan orang orang tersebut


Melihat itu Damaji jadi merinding ketakutan. Dan tidak bisa berbuat apa apa, apalagi membantu anak buahnya. Karena Burgon tidak memberikan jeda buat anak buah Damaji untuk melawan. Apalagi melarikan diri


Mau tidak mau harus pasrah menerima serangan, dan siap menyongsong kematiannya


Baru setelah sepertiga anak buahnya mati tanpa jasad itu. Damaji tersadar dengan apa yang terjadi di situ


Dengan langkah tergesa gesa, Dia mendatangi Burgon, ingin meminta belas kasihan.Tapi Burgon tidak memberi kesempatan sama sekali


Beruntung saat itu Dragon bersuara."Cukup paman!. Hentikan serangan mu itu!"


"Biarkan dia datang, dan mengutarakan maksudnya pada kita!" Ujarnya


"A a ampun tuan pendekar!. Sungguh kami tidak tahu betapa kuatnya anda!"


"Tolong ampuni nyawa kami!. karena kami masih punya keluarga untuk di hidupi!" Ucap Damaji dengan muka memelas


"Kalau sudah tahu bahwa ditindas itu sakit. Kenapa masih suka berbuat jahat?" Tanya Abhicandra datang menyela


"Ka ka kami tidak tahu tuan pendekar!"


"Kami hanya menjalankan perintah!" Jawab Damaji menolak bertanggung jawab


"Perintah dari siapa?" Tanya Dragon ingin tahu juga


"Siapa kamu?. Jangan ikut campur urusan orang tua!. Pergi!" Hardik Damaji pada Dragon


Bamm!


"Hugh!" Teriak Damaji kesakitan, saat tiba tiba ditendang oleh Leon, karena telah berani bersikap kurang ajar pada tuannya


"Dasar tidak tahu diri?. Beraninya membentak tuan muda kami!"


"Ingin mati kau?" Teriak Leon sangat marah sekali


"A a ampun!. Ampun tuan! Saya mengaku salah!" Jawab Damaji sambil meringis kesakitan


Dia tidak menyangka, bahwa orang yang dibentak nya tadi adalah seorang tuan muda


Jika dari awal dia tahu, mungkin pembantaian tersebut tidak akan terjadi


"Katakan dimana orang yang bernama Bison itu!"


"Bukankah dia bos mu?" Ucap Bumi ikut campur pula. Sambil mencengkeram kerah baju Damaji. dan ingin dibantingnya ke tanah


"Tahan kawan!. Serahkan urusan ini pada ku!" Respon Langit ingin ikut ambil bagian karena merasa geram juga


"Huh!. Sampah seperti ini tidak perlu dikasihani. Tangkap langsung hajar!. Selesai!" Jawab Bumi tidak senang


"Minggir lah!. Serahkan dia padaku." Ucap Dragon menengahi


"Baik tuan muda!" Jawab yang sedang berebut peluang itu patuh


Kemudian membawa Damaji ke hadapan tuannya


Tap!


Zeet!


Dret!


Dret!


"Argh!" Teriak Damaji kesakitan. Saat semua ilmunya dilenyapkan oleh Dragon, sambil memindai keberadaan Bison, tuan dari Damaji tersebut


Dari hasil memindai jiwa dan isi kepala Damaji, Dragon bisa merasakan, bahwa Bison baru malam tadi meninggalkan tempat ini, dan pergi ke tempat yang cukup jauh


Tapi Dragon masih bisa merasakan aura negatifnya, dan terus memantau dengan mata elang semesta nya


"Di situ rupanya kau Bison!"

__ADS_1


"Jangan kau kira bisa lari dariku, setelah apa yang telah kau buat pada anak buah ku di pulau ini!"


"Kemanapun kau pergi, aku akan tetap bisa menemukan mu!" Ucap Dragon pada diri sendiri, dan terlihat sangat serius


Kemudian mengalihkan pandangannya pada Abhicandra. Lalu berkata. "Kakek Abi!. Urus sampah tidak berguna ini. Cari dan temukan kelompok lainnya!"


"Aku ingin dalam satu jam, mereka sudah tidak ada lagi di wilayah ini!" Ucap Dragon memberi perintah


"Siap laksanakan tuan muda!" Jawab Abhicandra patuh. Kemudian memimpin anak buahnya untuk menyisir setiap parameter wilayah tersebut


Sedangkan buat Damaji dan 19 anak buahnya yang masih tersisa. Dia menyerahkannya pada tiga orang pengawal. Dan dibawa entah kemana


Nampaknya kali ini Dragon tidak main main dalam bertindak. Karena dia malas lagi berurusan dengan orang orang jahat. Dan tidak memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri


Satu jam kemudian, semua tempat tersebut sudah bersih dari para pengganggu keamanan. Dan rata rata berhasil di kalahkan


Sedangkan sisanya melarikan diri, dan meninggalkan semua barang berharga yang mereka punya


Ditengah perjalanan. Salah seorang dari mereka berkata. "Siapa sebenarnya orang orang itu?. Kenapa kekuatannya sangat besar sekali?"


"Hanya sekali tampar, Fuso yang terkenal kuat dan tahan banting, mati dalam seketika."


"Berarti kekuatan orang tersebut tidak bisa dianggap main main!"


"Kalau Fuso saja kalah, apalagi kita!" Ujarnya sambil bergidik ngeri


"Kau benar!. Apalagi orang yang selalu menggunakan tanah sebagai senjatanya itu."


"Begitu juga kawan-kawannya yang lain. Rata-rata mereka mempunyai keterampilan serta teknik yang berbeda-beda, hingga kekuatan kita yang sudah tersusun rapi menjadi berantakan!"


"Kalau tadi kita tidak melarikan diri. Aku yakin kita berempat ini pasti sudah mati!" Jawabnya membenarkan


"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Apakah kita akan pergi ke kota itu, dan bergabung dengan bos besar kita di sana?" Tanya salah seorang dari mereka pada temannya


"Untuk sementara kita bersembunyi dulu di sini, sampai keadaan benar-benar aman, baru kita kembali untuk menyusun rencana." Jawab temannya memberi usul


"Aku tidak setuju!. Dan aku tidak mau lagi kembali ke tempat tersebut!"


"Aku ingin pergi dari tempat ini, dan bergabung dengan kelompok besar milik bos kita!"


"Aku yakin tuan muda Bison mempunyai solusi untuk mengatasi orang-orang tersebut!" Bantah temannya tetap pada pendiriannya


"Bagaimana dengan yang lain?. Apakah kalian setuju dengan usul teman kita ini?" Tanya orang yang sebelumnya menempati posisi sebagai ketua dua di kelompoknya ingin mendapat masukan


"Entahlah!. Tapi nampaknya usul tersebut cukup bagus juga!"


"Kalau kita nekat melawan, apalagi berniat menyusun kekuatan. Aku yakin belum apa-apa kita sudah mati!"


"Oleh karena itu. Lebih baik kita pergi dari tempat ini, dan bergabung dengan bos besar kita!" Jawab temannya setuju


"Baiklah!. Jika itu sudah keputusan kalian, aku ikut saja!"


"Lagi pula usul kalian itu cukup bagus, dan aku sangat menyetujuinya." Respon Stefan malu malu


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita lanjutkan perjalanan!" Sambut temannya tidak sabaran


***


Sementara itu ditempat lain. Tak jauh dari tempat persembunyian orang orang tersebut


Empat orang anak buah Burgon, terus mengikuti langkah enam belas bekas anak buah Fuso tersebut, dan sempat mendengarkan isi perbincangan mereka


"Cepat laporkan situasi ini pada ketua Burgon. Sebelum mereka semakin menjauh!"


"Aku tidak ingin orang yang sempat menamparku itu, berhasil melarikan diri!" Ucap ketua kelompok mata mata tersebut tegas


"Baik!" Jawab salah seorang anak buahnya patuh


Kemudian mengaktifkan interkom yang selalu terpasang di telinganya, untuk menghubungi Burgon


Tapi jawaban Burgon, sempat membuat mata mata tersebut kecewa, karena sakit hatinya bakal tidak terbalaskan


"Biarkan mereka untuk sementara, karena tuan muda sudah mempunyai rencana lain terhadap mereka."


"Sekarang kembali dan bergabung dengan kami!" Ucap Burgon tegas


"Baik ketua!" Jawab mereka serempak. Kemudian pergi dari tempat itu, untuk bergabung dengan yang lainnya


***


"Dasar orang orang tidak berguna!"


"Menghadapi kelompok kecil seperti itu saja tidak mampu!"


"Percuma berjumlah banyak. kalau akhirnya kalah juga!" Ucap Bison saat mendengar laporan dari Stefan tentang kekalahan kelompoknya tersebut


"Ma ma maaf tuan muda!"


"Mereka memang benar benar kuat!"

__ADS_1


"Ketua Fuso saja mati hanya dengan sekali tampar!"


"Jika kami terus melawan, pasti kami juga akan mati, dan tidak ada yang bisa melaporkan ini pada anda!" Jawab Stefan beralasan


Bugh!


"Hugh!" Teriak tertahan Stefan, saat perutnya ditendang oleh Bison


Lalu berkata. "Kalau kau tidak mati karena orang itu. maka aku yang akan membuat mu mati!" Ujarnya emosi


"Tahan Nanda!" Ucap pengawal pribadi Bison tegas. Berniat mencegah tindakan bodoh keponakannya itu


"Kenapa paman mencegah ku?. Apakah paman ingin melawan ku juga?" Reaksi Bison tidak terima


"Kau salah Nanda!. Bagi paman melawan mu itu masalah kecil."


"Kekuatan mu masih belum berarti apa apa buat paman!"


"Paman mencegah mu tadi karena tidak ingin anak buah mu semakin sedikit."


"Kalau kau bunuh dia juga mereka. Maka usaha mu selama ini akan sia sia!"


"Jadi sadarlah anak ku!. Anggota mu sekarang sudah semakin sedikit."


"Lebih baik fokus pada rencana penyerangan jangka panjang, agar mereka terselamatkan!" Ucap Oldham, nama samaran orang yang mengaku sebagai paman dari Bison itu sangat menohok sekali


"Ah terserah paman sajalah!"


"Aku sudah muak dengan bentuk kekalahan, dan tidak akan ku biarkan terus berlangsung!" Jawab Bison membandel. Lalu pergi dari tempat itu dengan muka masam


"Hah!. Dasar anak muda tidak sabaran!"


"Baru begitu saja sudah ngambek.".


"Bukannya berpikir untuk mencari jalan. Tapi malah emosian begitu."


"Pakal saja kakang Bergolapati menitipkan anak itu pada ku."


"Kalau tidak, sudah lama ku tinggal dia!" Guman Oldham pada diri sendiri. Lalu menggerutu sendiri


"Huh!" Keluhnya tidak senang


Tak lama kemudian. Dia seperti menelepon seseorang, dan terlihat sangat serius sekali


"Aku butuh bantuan mu kakang Bergo!. Anak yang kau titipkan itu terus berulah!"


"Belum waktunya tapi sudah bergerak duluan!"


"Sembilan dari sepuluh ketua yang kau tunjuk, semuanya telah takluk ditangan seseorang. Dan kini keberadaan mereka tidak bisa ditemukan!" Ucap Oldham berterus terang


"Kenapa baru sekarang kau beritahu?. Kemana saja kau selama ini?" Jawab Bergolapati tidak senang


"Aku pun baru mengetahuinya!. Itupun cucu mu yang memberitahu!"


"Kalau tidak ku sangka semuanya baik baik saja."


"Tapi ternyata semua sudah hancur!"


"Kelompok yang tersisa cuma yang dipimpin oleh cucu mu itu."


"Jadi..?"


"Jadi apa?" Lanjutkan!" Tanya Bergolapati penasaran


"Pulanglah ke Indonesia!. Bantu cucu mu itu agar tidak terpuruk!"


"Kalau kau terus sibuk dengan urusan perempuan mu itu. Yakinlah!. Tak lama lagi cucu mu yang bodoh itu akan mati!" Jawab Oldham apa adanya


"Jangan kurang ajar Bodan!. Cucu ku ya cucu mu juga!"


"Bramantyo nya saja yang lepas tanggung jawab!"


"Padahal dia yang dulunya membawa sanak Merviana itu untuk di besarkan."


"Tapi ditengah jalan malah diberikan pada kita."


"Hanya gara gara tersinggung di cap sebagai pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Dia malas lagi memelihara Bison, dan tanggung jawabnya dialihkan pada kita."


"Dasar Bramantyo laknat!.Torangga yang lemah. Bagaspati menantu gelapnya itu yang serakah. Merviana yang gelap mata."


"Akhirnya kita yang jadi tumbalnya!"


"Jadi mau tidak mau kita yang harus membantunya."


"Besok aku akan pulang ke Indonesia, dan bergabung dengan mu."


"Aku ingin tahu siapa Dragon itu!"


"Apakah kekuatannya memang benar benar hebat?"


"Jika baru satu jurus saja sudah kalah, berarti sia sia aku pulang ke Indonesia ?" Ucap Bergolapati sombong sekali

__ADS_1


__ADS_2