
"David! Hentikan!."
"Apa yang kau lakukan?. Jangan membuat masalah disini!" Ucap Yunita memberinya peringatan
Tapi terlambat. Peringatan Yunita tidak ia dengarkan. Tinju David sudah meluncur ke wajah Dragon, dan sedikit lagi akan mengenainya
Namun tinggal si inci lagi tinju tersebut menghantam wajah Dragon, tiba-tiba tangan David bergetar dan berhenti di udara, lalu tidak bisa digerakkan sama sekali. dan itu tidak disadari oleh orang orang yang ada di situ termasuk oleh Yunita sendiri, karena secara diam-diam, Dragon menghantam tangan David dengan totokan pengunci otot bisep, dan langsung membuat pergerakan tangannya terhenti
Kemudian dengan gerakan cepat, Dragon pura-pura terdorong dan jatuh ke tanah, seperti terkena tinjuan David. Orang biasa tidak akan tahu dengan triknya itu, tapi bagi praktisi tenaga dalam, hal itu tidak bisa menipunya. Dragon pasti telah berbuat sesuatu. Untungnya di tempat tersebut tidak ada orang seperti itu
"Kak Mahesh!. Kau tidak apa apa?" Tanya Yunita merasa kasihan
"Aku tidak apa-apa. Cuma pipiku sedikit perih, karena kurasakan cincin yang ia pakai mengenai pipi ku ini." Jawab Dragon berpura-pura kesakitan. Sambil memperlihatkan pipinya yang berdarah
"Tapi ada apa dengan David, mengapa dia mematung seperti itu?"
"Apakah kau yang melakukannya?" Respon Yunita tidak begitu paham
"Mana aku tahu!. Tadi dia meninju ku begitu keras. Jadi aku tadi tidak tahu ia kenapa!" Jawab Dragon pura-pura linglung
"Hai kalian!. Kenapa bengong saja?. Cepat bawa tuan kalian ini! Aku khawatir penyakit ayan nya kambuh lagi!" Ucap Yunita pada enam orang pengawal David sambil mengarang cerita
"Tidak perlu!. Aku sudah bangun!"
"Tapi apa yang barusan kau katakan Yunita?. Apakah kau mengataiku?" Respon David tidak terima
"Aku berkata apa?. Perasaan aku hanya diam saja dari tadi!. Benar kan begitu kalian berenam?" Jawab Yunita berusaha membalikkan fakta
"Hah sudahlah!. Aku malas berdebat denganmu!"
"Tunggu saja laporan ku masuk pada ayahmu, pasti sebentar lagi kau akan dimarahinya!" Respon David seperti sedang mengancam Yunita
"Katakan saja, aku tidak takut!. Memang itu buktinya!"
"Kau memang mempunyai penyakit ayan!. Buktinya kau diam begitu lama, padahal kau bisa menarik tanganmu tadi. Tapi kenapa tidak kau lakukan?"
"Bukankah itu pertanda kau menderita penyakit ayan?"
"Terus terang saja, aku tidak akan menyebarkannya." Jawab Yunita asal mengarang cerita
David tak mau meladeninya. Dia malah menatap ke arah Dragon, kemudian berkata. "Bocah!. Jangan kira dengan hari ini kau akan bisa tenang!"
"Aku akan membuat perhitungan denganmu!"
"Kalau kau jantan, hadapi aku di arena pertarungan!"
"Besok pukul 02.00 siang, aku tunggu kau di sana."
"Kalau kau tidak hadir, aku anggap Kau pengecut!" Ucap David memberikan tantangan
Kemudian pergi begitu saja, diikuti oleh enam orang anak buahnya
"David!. Kau tidak boleh seperti itu!. Dia mahasiswa baru di sini. Jadi jangan menakutinya!" Teriak Yunita tidak terima
"Aku tidak peduli!. Mau mahasiswa baru atau mahasiswa lama sama saja bagiku!"
"Tapi tunggu dulu!. Kau bilang dia mahasiswa baru?. Sungguh berani dia!"
"Dia belum tahu siapa aku!" Jawab David ketus. Kemudian pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan teriakan Yunita
"Tunggu!. Kamu belum memberikan keputusan, Bagaimana dengan uang 10 miliar ya aku minta?"
"Apakah kau mau pergi begitu saja, dan tidak mau bertanggung jawab?" Teriak Carens bertanya
"Kau minta saja pada kuburan di atas sana!. Di situ kau akan menemukan uang 10 miliar yang kau inginkan!" Jawab David asal-asalan berkata
"Huh dasar laki-laki buaya!. Semuanya di mana saja laki laki itu sama!. Buaya!"
"Mau enaknya sendiri. Setelah puas ditinggalkan." Gerutu Carens sangat kecewanya
"Nona Yunita!. Aku peringatkan. Agar kau berhati-hati terhadap laki laki. apalagi orang ini!"
"Dia bertampang lugu. dan aku rasa dia tidak cocok denganmu. apalagi ku lihat dia sangat menyedihkan." Ucap Carens sangat menyakitkan
"Kau!" Respon Yunita tidak terima. Tapi sudah terlambat. Carens sudah tidak ada lagi di tempat itu. Dia sudah berada 10 langkah dari mereka. Kemudian pergi begitu saja
"Huh dasar orang-orang gila!" Guman Yunita lirih. Kemudian memberikan pertolongan pada Dragon, dengan mengelap sedikit darah yang keluar dari pipi kirinya, yang sebenarnya itu bukan darah
"Kau tidak apa-apa Mahesh?. Sakit kah?. Apakah perlu pergi ke rumah sakit?" Tanya Yunita bernada khawatir
"Luka begini kecil mau pergi ke rumah sakit?. Mengada-ada saja kamu!" Jawab Dragon kelihatan geli hati sendiri
"Huh!. Diberikan pertolongan bukannya berterima kasih, tapi malah ngeledek seperti itu!"
"Ah sudahlah!. Aku malas berbicara lagi denganmu!" Ucapnya ketus. Kemudian bergegas pergi dari hadapan Dragon. dan berlari dengan raut wajah sedikit kesal. Tapi tak lama kemudian ada sesungging senyum yang terukir di bibirnya yang indah
"Ah!. Hari pertama yang melelahkan!"
"Tapi orang itu sudah membuatku marah. Dia kira dia itu siapa?"
"Berani-beraninya menantangku untuk duel. Aku akan meladeninya!"
"Tapi aku tidak tahu di mana tempat itu. Lebih baik aku memindainya dari sini, karena besok aku pasti akan datang ke sana." Guman Dragon lirih. Kemudian melangkah pergi untuk memulai perkuliahannya
__ADS_1
***
Sementara itu di tempat lain, atau satu menit setelah mereka sampai di arena latihan. David melampiaskan kemarahannya, dengan meninju kuat kuat karung yang biasa digunakan untuk berlatih tinju juga keterampilan bertarung lainnya, hingga membuatnya mengayun cukup kencang, hampir saja talinya putus karena itu
Anak buahnya yang melihat itu hanya diam saja. Mereka tahu bahwa bos mudanya tersebut sedang dalam kondisi marah, jadi mereka tidak berani ikut campur. Baru setelah kemarahan bosnya mereda salah seorang dari mereka berkata. "Bos!. Apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa tadi bos diam saja?"
"Apakah bos merasa kasihan dengan anak itu, hingga tidak jadi meninjunya, atau bos melihat hantu yang duduk di sana ?" Tanya Coran ingin tahu
"Sembarangan!. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba tinjuku berhenti seperti itu!"
"Tiba-tiba saja tanganku kebas, dan tidak bisa digerakkan." Jawab David berterus terang
"Tapi kenapa bocah itu terjatuh?. Apakah karena efek dari tinjuan bos yang cepat itu, hingga membuat dia ketakutan?" Tanya orang yang dipanggil Coran itu lagi semakin berani
"Entahlah!. Aku sendiri tidak yakin"
"Tapi sepertinya tinjuku mengenai pipinya, karena ku lihat ada sedikit darah di sana. Mungkin cincin ini telah mengenainya." Jawab David ragu ragu
"Aneh!. Tinju tidak sampai, tapi dia terjatuh. Apakah bos menggunakan tenaga dalam?" Reaksi Coran tidak percaya
"Ngaco kamu!. Mana ada aku ilmu seperti itu, karena aku belum sempat mempelajarinya!"
"Lalu..?"
"Lalu apa?. Segera selidiki anak itu, dan cari tahu tentangnya!"
"Kalau dia bukan berasal dari keluarga berpengaruh, habisi saja!. Aku tidak mau dia menjadi sainganku. Apalagi telah berani mempermalukanku di depan Yunita!" Jawab David memberi perintah
"Baik bos!. Dengan senang hati akan kami Lakukan!" Respon Coran cepat sedikit patuh
"Kalau begitu tunggu apa lagi!. Cepat mata-matai dia, dan cari tahu di mana tempat tinggalnya?"
"Siap bos!. Tapi...?"
"Tapi apa lagi?. Uang kan?"
"Benar bos!. Bos tahu saja!"
"Huh!. Dasar mata duitan!. Nih ambil satu juta. Bagi untuk kalian Berenam."
"Kenapa sedikit sekali bos?. Kami berenam. Sedangkan ini satu juta?. Bagaimana cara kami harus membaginya?. Jelas saja tidak cukup!" Reaksi Coran tidak berdaya
"Dasar lelet!. Bukan harus dibagi, tapi gunakan untuk membeli makanan saat kalian sedang memata-matai nya. Paham?" Jawab David terdengar kejam
"Paham bos!. Maafkan kekeliruan kami."
"Ya sudah!. Pergi sana!"
"Sebelum dapat, jangan kembali!" Ucap David tegas
"Beres bos!. Kami akan melakukannya. Bos hanya tinggal diam saja. dan memetik hasilnya."
"Sudah pergilah!. Dari tadi kalian hanya banyak bicara saja!"
"Hehehehe. Kalau begitu kami pergi dulu bos."
"Ya sudah!. Cepat pergi sana!" Reaksi David sangat kesal
"Ada apa ketua?. Kenapa hari ini kau sangat marah sekali?"
"Apakah ada yang menyinggung mu?" Tanya seorang pelatih padanya dengan ekspresi keheranan
"Kau mau bantu aku Rio?" Ucap David penuh misteri
"Bantu apa?" Respon Rio atau Marlio penasaran
"Menghabisi seseorang. Eh bukan!. Memberi pelajaran padanya saja. kurasa sudah cukup." Jawab David berterus terang
"Memang ada masalah apa, sampai kau semarah ini, juga mengutus anak buah mu untuk mencari orang itu sampai ingin mencelakainya?"
"Apakah dia telah mempermalukanmu?" Tanya Marlio semakin penasaran
"Bukan sekedar mempermalukan ku, tetapi dia sudah membuatku seperti putus asa!"
"Kau tahu Yunita kan?" Jawab dan tanya David seperti mengingatkan
"Ya aku tahu dia. Dia anak pejabat sekaligus pengusaha. Tapi ada apa dengannya?" Jawab Marlio bertambah penasaran lagi
"Kau kan tahu bahwa orang tuanya sangat menyukaiku. Jadi dia berniat ingin dijodohkan ku dengan Yunita."
"Tapi sayangnya dia tidak suka dengan ku."
"Bahkan barusan aku memergokinya sedang bersama dengan laki-laki lain, dan sikapnya sangat mesra sampai memanggil kakak segala."
"Ditambah lagi ketika aku memarahinya. Dia sangat berpihak pada laki-laki itu."
"Karena peristiwa itulah aku menjadi sangat dendam padanya. dan kalau bisa menghabisinya. Tapi itu sangat beresiko buat aku."
"Jadi kau mau apa dengannya?. Meminjam tangan orang lain. Begitu?" Celetuk Marlio to the poin saja
"Aku hanya menyuruh anak buahku untuk mencari informasi tentangnya. Siapa dia, di mana rumahnya, dan apakah dia berasal dari keluarga yang berpengaruh atau tidak?"
"Jika jawabannya tidak. Mau tidak mau aku harus menyingkirkannya, karena ku anggap dia sebagai saingan beratku. Dan itu melalui tangan mu!" Jawab David tanpa malu malu
__ADS_1
"Dasar kau laki laki buaya!. Sudah dapat Carens, Julia, Novi dan lain lain, masih juga mau dengannya!"
"Mau berapa banyak lagi perempuan yang akan kau gaet?. Apakah menunggu kau jatuh ke tanah baru berhenti?"
"Setahuku kau sudah mempunyai belasan pacar. dan satupun tidak ada yang jadi. Bahkan kemungkinan semua sudah kau rusak?" Komentar Marlio terdengar menyakitkan
"Sialan!. Aku memberitahu masalah ini bukan untuk kau ceramahi, tetapi untuk kau bantu!. Kau bersedia atau tidak?" Respon David kesal
"Baik! Baik! Baik!. Aku akan membantumu. Katakan di mana aku bisa menemui orang tersebut?" Respon Marlio gugup
"Kau tidak perlu mencarinya. Nanti siang sekitar jam 02.00, dia akan datang ke sini."
"Aku hanya ingin menyelidiki, apakah dia kuat atau tidak?"
"Jadi aku meminta bantuan mu untuk menghadapi dia dulu. Kalau dia kalah, berarti memang benar dia tidak kuat."
"Tapi kalau kau kalah, berarti dia memang orang hebat, dan aku harus mencari cara untuk menghadapinya." Jawab David seperti seseorang yang sedang putus asa
"Hahahaha!. Seorang ketua pelatih, yang di percayakan oleh guru, untuk mengajarkan karateka, taekwondo dan wing Chun, takut dengan bocah seperti itu!. Sangat menyedihkan!"
"Apakah kau tidak malu dengan guru guru kita?"
"Belum apa-apa kau sudah menyerah, dan menyuruh orang lain untuk menghadapinya. Sementara kau sendiri kenapa?" Reaksi Marlio Saputra menjengkelkan
"Ah sudahlah!. Aku tak mau lagi berdebat denganmu!"
"Kalau kau mau menuruti permintaanku, maka uang 10 juta akan menjadi milikmu. Tapi kalau kau tidak mau, aku akan cari orang lain!"
"Sepuluh juta tidak cukup untuk membayarku, karena resikonya sangat besar. Bagaimana kalau 25 juta?. Aku rasa itu pantas." Reaksi Marlio apa adanya
"Huh dasar mata duitan!"
"Tapi baiklah!. Aku akan turuti keinginan gila mu itu!"
"Tapi dengan syarat kau harus bisa mengalahkannya!"
"Jika kau kalah!. Serupiah pun aku tidak akan membayarmu!"
"Kau dengar itu?" Ucap David cukup tegas
"Oke deal!. Masalah kecil seperti itu serahkan saja pada ku!"
"Besok sore aku yang akan menghadapinya. Kau lihat saja bagaimana aku akan menghajar nya di depan mu!" Jawab Mario sangat sombong sekali
"Oke sip!. Aku tunggu aksi mu!" Sambut David mulai senang
"Tapi traktir aku dulu. Perutku sudah mulai lapar." Ucap Marlio pula
"Kalau begitu ayo!. Aku akan membawa mu ke klub Amarta. Kau makanlah sepuasnya di sana!"
"Aku yakin kau bisa mengalahkannya!" Jawab David terlalu semangat
"Tapi apakah dia benar-benar kuat, sampai kau setegang ini?" Ucap Marlio bertanya
"Untuk masalah itu kita buktikan besok. Aku pun masih ragu, Apakah dia kuat atau tidak?" Jawab David apa adanya
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari teman sesama pelatihnya, dia pergi dari tempat itu untuk menuju mobilnya, serta pergi ke klub Amarta yang dia sebutkan tadi
***
Satu hari kemudian, atau empat setengah jam setelah Dragon selesai dari kuliahnya. Dia sudah berada di depan ruang latihan, untuk berbagai macam keterampilan, seperti karate, taekwondo serta wing Chun. bahkan silat tradisional juga ada
Tak lama kemudian dia pun masuk, dan mendapati bahwa di tempat tersebut sudah banyak yang datang. Apakah sebagai penonton atau murid-murid perguruan dia belum tahu
Saat ini Dragon terlihat datang sendirian. Tapi tanpa mereka sadari, di setiap sudut ruangan, tengah dan belakang, bahkan di atas atap. ada puluhan pengawalnya yang berjaga-jaga, jika orang-orang tersebut berlaku curang, walau sebenarnya itu tidak Dragon perlukan
Namun sebagai orang yang sangat dijaga oleh mereka, Dragon tidak mau mengecewakan hatinya. Maka mau tidak mau dia memberitahukan juga tentang masalah yang sedang dihadapinya, yaitu tantangan dari seseorang yang akan berlangsung sekitar pukul 2 siang ini
Lalu setelah Dragon masuk. Dia langsung disambut oleh David, yang wajahnya berpura-pura ramah. Tapi sebenarnya menyimpan dendam yang sangat besar
"Apakah acaranya sudah dimulai?" Tanya Dragon santai
"Ini bukan acara makan, tapi acara untuk menghajarmu, karena kau sudah berani merebut wanitaku!" Jawab David penuh emosi, dan mulai tidak bisa menyembunyikan sifat aslinya
"Saudara David!. Aku ingatkan!. Sejujurnya aku tidak kenal dengan perempuan yang bernama Yunita itu. Tiba-tiba saja dia mendekatiku, dan langsung mengajak berkenalan!"
"Apakah yang seperti itu kau sebut merebut?. Aku rasa tidak!. Kau nya saja yang salah paham, sampai membuat masalah seperti ini, dan mengumpulkan banyak orang."
"Aku tahu mereka adalah murid-murid perguruan yang kau latih, dan mereka akan membantumu jika kau kalah!"
"Sejujurnya aku katakan lagi. Aku tidak mau bertarung, karena aku tidak terlalu pandai bertarung. Tapi jika kau mau berdebat tentang disiplin ilmu yang ada di di kampus ini, aku tidak berkeberatan!. Bagaimana?" Ucap Dragon membingungkan
"Marlio!. Hancurkan kesombongannya itu!. Aku ingin lihat seberapa kuatnya dia?"
"Apakah tangannya sekuat mulutnya itu?" Reaksi David tidak terima
"Hiaaaa!"
Plak!
Bam!
"Argh!" Rintih seseorang saat tubuhnya terbang dan terbentur dinding beton di belakangnya hingga berguncang
__ADS_1