
"Rara!. Apakah itu kau?. Apa yang kau lakukan di sini?. Dengan siapa?" Tanya Dragon benar-benar terkejut dan bertubi tubi pula
"Justru Rara yang harus bertanya. Apa yang kakak lakukan di sini?" Balas Rara juga ingin tahu
"Ya jelas kuliah lah!. Kakak mengambil mata kuliah di sini." Jawab Dragon apa adanya
"Tapi kenapa Rara tidak tahu?" Protes Rara tidak terima
"Ya mana kakak tau?. Ketemunya juga baru hari ini!" Jawab Dragon apa adanya
Jawaban Dragon yang seperti itu, membuat Clara sedikit kesal. Itu terbukti dengan wajahnya yang tiba tiba cemberut, Namun bukannya bertambah jelek, tapi malah jadi semakin cantik, imut dan menggemaskan.
Dragon yang menyadari kesalahannya, langsung berinisiatif untuk membujuknya dengan berkata. "Oh sekarang kakak tau. itu mungkin karena sudah lama kita tidak ketemu. Bagaimana kabarmu?"
"Kau mengambil jurusan apa?. Tapi bukankah usiamu masih...?" Ujarnya menggantung
"Kakak mau bertanya kan, bahwa tidak mungkin gadis seusia Rara sudah kuliah?. Begitu kan?" Jawab Rara langsung tau apa yang ingin Dragon tanyakan
"Ya itu dia!" Jawab Dragon kehabisan kata-kata
"Kakak harus tahu, bahwa Rara ini siswa jenius. Banyak prestasi yang sudah Rara torehkan."
"Nilai akademik Rara saja sangat tinggi, dan dinilai tidak pantas berada di level yang itu-itu saja."
"Mangkanya dewan guru sepakat untuk menaikkan Rara kejenjang yang lebih tinggi. Maka jadilah Rara bisa berada disini, dan masuk kuliah berbarengan dengan kakak."
"Begitu ceritanya. Hebat kan?" Ucap Rara berterus terang
"Sedangkan kakak sendiri sudah usia begitu, baru kuliah. Ke mana saja selama ini?" Ucap Rara menyakitkan
"Hehe!. Ke hati mu." Jawab Dragon bercanda
Kemudian melihat alur perubahan di wajah Rara yang sangat cantik itu. Ada semburat warna merah yang tersemat di kedua belah pipinya. Menambah kecantikannya semakin nyata
Rara tidak bisa berkata apa-apa. Sejak kecil dia memang menyukai Dragon, dan itu sudah tidak terbantahkan lagi. Dragonnya saja yang belum membuka hatinya
Tapi saat ini nampaknya Dragon sudah mulai berani menunjukan perasaannya. walau baru merupakan kata-kata saja, bukan tindakan nyata
Namun jawaban Dragon yang seperti itu, jelas saja membuat Clara menjadi senang dan malu-malu, serta mendadak membuat situasi menjadi canggung
Mereka tidak memperdulikan tatapan dari orang-orang yang masih ada di dalam ruangan itu, walau jumlah mereka hanya tinggal empat orang, tapi mereka tidak peduli. Ruangan itu cukup luas untuk mereka berbincang. Tapi Dragon merasa tidak nyaman kalau tetap berada di situ
Tak lama kemudian ia berinisiatif untuk mengajak Rara keluar, dan berbincang di sana
"Mengambil jurusan apa disini dik?" Tanya Dragon berusaha memecahkan suasana kaku di antara mereka, dan sudah mulai merubah panggilannya terhadap Rara, untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi hanya untuk sementara saja
"Apakah kakak tidak kangen dengan Rara?" Ucapnya tiba-tiba, dan tidak sesuai seperti apa yang diharapkan oleh Dragon
"Eh ini. Maksud ku..Apa ya?. Ah kangen juga." Jawab Dragon tersalah tingkah. Tapi itu sudah cukup bagi Rara, karena dia sudah tahu bahwa Dragon juga menyukainya
Namun sebagai seorang intelektual bermartabat, dia bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik, dan tidak ditunjukan secara berlebihan. Cukup hanya dengan tersenyum saja
"Kalau begitu temani Rara ke kantin. Rara lapar." Responnya tidak terduga
Kemudian merangkul tangan Dragon dan melangkah di sisinya
"Siapa bocah itu?. Kenapa Mahesa begitu akrab dengannya?" Batin Lola dalam hati, dan sepertinya dibenarkan oleh teman-temannya, yang berada tidak jauh dari tempat Dragon dan Rara duduk tadi
__ADS_1
"Wah!. Datang saingan baru!. Kau bakal terlupakan Lola!"
"Wajahnya begitu cantik, imut dan menggemaskan. Beda jauh denganmu. Bagaimana ini?. Bakal ada yang akan sakit hati karena terabaikan?" Ucap Leni menyakitkan
"Hus!. Orang lagi sedih malah kau provokasi seperti itu. Pergi sana!" Sergah Yuni terkesan tidak senang. Padahal matanya sempat berkedip ke arah Leni, dan memberitahukan bahwa dia setuju dengan pendapat Leni barusan
"Hah!. Aku tidak peduli!. Siapa juga yang mendapat saingan?. Aku tidak suka Mahesa. Titik!" Respon Lola tidak terduga. Kemudian pergi dari tempat itu sambil menitikkan air mata
"Kenapa dengan Lola?. Kenapa dia berkata seperti itu?"
"Sekilas ku lihat ada air mata di pipinya. Apakah dia menangis?. Apakah Lola benar-benar mencintai Mahesa?" Tanya Leni bertubi tubi
"Ah kau ini!. Sudah tahu bunga kuncup mulai mekar, malah kau siram dengan air panas, ya matilah!. Dasar kau ini!" Jawab Sasmita tidak senang. Kemudian menyusul langkah Lola untuk menghiburnya
"Kak Dragon!. Apakah kakak kenal mereka?" Tanya Lola tiba tiba begitu sudah melewati rombongan itu
"Yang mana?" Respon Dragon berpura pura
"Empat gadis cantik yang sejak Rara datang terus mengamati kita. Itu dia!" Jawab Rara sedikit kesal
"Oh mereka?. Ya tentu kakak kenal!. Mereka itu teman sekelas kakak." Jawab Dragon apa adanya
"Tapi sepertinya..?" Protes Rara ragu ragu
"Ah sudahlah!. Ayo kita pergi!."
"Lebih baik kita makan di restoran, karena pilihan menunya lebih banyak, daripada harus makan di kantin, yang menunya itu itu saja. Bagaimana?" Ucap Dragon guna mengalihkan pembicaraan
"Baik!. Tapi kakak yang traktir ya?" Respon Rara mendadak senang
Kemudian terus berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil kendaraannya
Namun saat mereka tengah asyik berbincang sambil berjalan itu, Kebetulan Baron and the Genk melihatnya
Timbul perasaan benci pada Dragon, karena gadis yang sedang diincarnya ada bersama dengannya. Dragon bukan tak tahu tatapan itu. Tapi dia hanya diam saja, dan terus berjalan menuju motornya
"Ayo naik!. Ini kendaraan kakak."Ucap Dragon tanpa malu malu
"Ini?. Apa tak salah kak?"
"Orang ka.." Reaksi Rara tidak kesampaian
"Ssst!" Jangan teruskan. Kakak sedang menyamar!" Ucap Dragon lirih
"Kenapa?" Tanya Rara merasa penasaran
"Nanti kau akan tau!. Ayo cepat naik!" Jawab Dragon tegas
"Tapi mobil ku di sana?" Protes Rara ragu ragu
"Bukankan ada empat orang pengawal mu?. Suruh saja mereka yang bawa." Jawab Dragon memberi saran
"Apa tidak merepotkan mu kak?" Protesnya lagi
"Apa mau kakak gendong atau diikat dipunggung kakak saja?" Jawab Dragon terdengar lucu
"Ah kakak ini. Tapi baiklah. Ayo!" Respon Rara mantap
__ADS_1
Kemudian naik ke motor yang Dragon bawa, lalu keluar dari gerbang kampus, dan menuju ke suatu tempat
Setelah 10 menit berkendara, Dragon menghentikan motornya, dan langsung mengajak Clara untuk masuk ke mobil mewahnya
"Ternyata ini taktik kakak ya?. Jenius sekali!" Reaksi Rara benar benar tidak menyangka
"Kamu mau tahu Rara, Kenapa kakak berbuat seperti ini?" Tanya Dragon sesudahnya
"Ya tentu saja Rara ingin tahu. Rasanya aneh sekali?" Jawab Rara penasaran
"Di kampus itu banyak sekali orang yang suka menjilat."
"Melihat orang kaya langsung nempel, sedangkan jika orang itu miskin akan dijauhi."
"Kakak kan tidak suka jika ada hal-hal yang tidak berguna, apalagi didekati karena mereka tahu tentang kakak."
"Jadi kakak melakukan ini karena tidak mau menjadi pusat perhatian. Lebih bagus bersikap sederhana daripada harus pamer tapi milik orang lain."
"Jadi itulah cerita yang sebenarnya. Kenapa kakak harus melakukan ini." Jawab Dragon berterus terang
"Ternyata begitu. Tapi bagaimana dengan Rara?. Apakah kakak tidak takut jika Rara membocorkan masalah ini?" Respon Rara menggoda
"Kalau kamu membocorkannya, maka kakak tidak akan lagi mau mengenal mu!" Jawab Dragon enteng
"Ah kakak ini!. Rara kan hanya bercanda." Respon Rara malu malu. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Dragon, hanya sekedar ingin ber manja
***
Sementara itu di tempat lain. Ada seseorang yang sedang marah. Dia adalah Baron, yang terus dikompori oleh Doni, karena dia ingin membuat Baron berselisih dengan Dragon, dan yang akan mendapatkan untung adalah dirinya sendiri
Secara diam-diam Doni sudah mendatangi Lola, dan meminta maaf secara tulus. Dia beralasan waktu kejadian itu dalam keadaan tidak sadar, karena terpengaruh oleh minuman keras
Tapi Lola tidak percaya, dan tidak mau lagi berteman dengannya. Beruntung dia tidak melaporkan masalah itu pada polisi, karena dia tidak mau repot-repot ditanya bukti, saksi dan lain sebagainya
Maka jadilah mereka masih berkeliaran, dan bebas mengganggu siapa saja, termasuk mengganggu Rara seperti saat ini. Padahal mereka tau, bahwa barangnya sudah tidak berfungsi lagi
Namun sikap liarnya masih tetap saja membara, dan selalu ingin mendapatkan barang bagus seperti Rara
Jika mereka tahu siapa Rara sebenarnya, tentu mereka terutama Baron, tidak akan mau berurusan dengan Rara. Mereka menganggap bahwa Rara hanya seorang gadis cantik, imut, lemah dan menggoda. Tapi sebenarnya Rara adalah monster cantik, yang siap ******* siapa saja yang ingin mengganggunya
Namun sampai sejauh ini, mereka terutama Baron belum berani mendekatinya, karena secara samar mereka melihat, Rara selalu dikawal oleh empat orang laki-laki berbadan tegap, yang menyamar sebagai mahasiswa. dan itu mereka tahu
Tapi terkadang sikap liarnya tidak mau tahu. Sesekali dia mendekati Rara, dan mencoba untuk menyapanya. Namun Rara selalu bersikap cuek
Walaupun dia berasal dari fakultas lain. namun tidak menghalangi Baron untuk mendapatkannya
Tapi saat melihat wanita pujaannya bersama dengan orang lain, hatinya jadi membara, dan sangat dendam dengan orang itu, yang dia anggap saingannya
"Tenang kawan!. Mahesa itu apalah!"
"Kau anak orang kaya. Perempuan mana yang tidak suka dengan laki-laki tampan dan kaya seperti mu?"
"Aku yakin suatu saat nanti kau bisa mendapatkannya, walau tidak bisa menyelesaikan jurus yang diinginkan oleh setiap wanita!" Ucap Doni memberi semangat pada temannya
"Ngaco kamu!. Kau tidak lihat pengawal-pengawalnya itu?. Jika aku nekat, bonyok nanti aku dibuatnya!" Reaksi Baron tidak berdaya
Tapi hatinya penuh dendam dengan Dragon, dan berniat ingin membuat perhitungan suatu saat nanti
__ADS_1