
"Cepat buka!." Teriak Yuni penasaran
"Aku tidak mau?. Kau saja!" Jawab Lola tidak terima
"Jangan buka!. Cepat keluar dari kamar ini. Aku mencium bau yang tidak enak." Ucap Leni menimpali
Mendengar peringatan yang sedikit mistis itu, bergegas mereka keluar, dan berlari dari dalam kamar, serta menuju ke teras depan untuk menyusun rencana
"Pakaian kita!. Tak mungkin kita pergi dengan cara seperti ini?" Ayo cepat kembali!" Teriak Sasmita mengingatkan
"Tinggalkan saja!. Aku tidak mau kembali!" Jawab Lola dengan ekspresi tegang
"Tidak bisa!. Bagaimanapun kita harus kembali!"
"Selain untuk mengambil pakaian kita. Kita juga harus memastikan, bahwa mereka berempat memang benar benar sudah pergi dari villa ini. atau setidaknya memastikan mereka tidak mati!" Sambung Sasmita memaksa
"Benar apa kata Sasmita itu. Kalau kita pergi begitu saja dan tiba tiba ada kabar bahwa mereka berempat mati. Kita juga yang akan susah, dan pasti akan ditanya macam-macam"
"Jadi aku sarankan kita kembali, dan mengambil barang barang kita dulu baru pergi." Sambung Yuni menguatkan
"Baik!. Tapi janji tidak akan memaksaku untuk membuka karung itu. Aku benar benar takut." Jawab Lola mengingatkan
"Tenang saja. Nanti karung itu akan aku sandingkan dekat kakimu. Jadi kau bisa memeriksanya dengan kaki saja." Sambung Sasmita bercanda
"Ah kau ini!. Kalau aku merajuk bagaimana?" Respon Lola tidak suka
"Ya udah!. Kau tinggal saja disini. Kami akan bawa seluruh barang barang kami, sedangkan barang barang mu akan kami tinggal."
"Kalau ada orang kemari dan menemukan baju bajunya, tentu kau yang akan ditanya. Bagaimana?" Jawab Sasmita lagi
"Aku ikut! aku ikut!" Reaksi Lola ketakutan
Kemudian mengikuti langkah Sasmita dengan langkah cepat, dan langsung menuju ke kamarnya
Tapi begitu ia sampai, karung yang tadi jatuh di dekatnya sudah tidak ada lagi di sana. dan itu membuat Lola merinding ketakutan. Lalu cepat cepat mengambil barang-barangnya dan bergegas pergi dari situ
"Menyeramkan!. Bukannya mendapatkan kesenangan dan melupakan beban. Eh malah dapat masalah seperti ini!"
"Dasar brengsek si Baron itu!. Awas kalau ketemu lagi. Aku akan membuat perhitungan dengannya!" Guman Lola dengan ekspresi geram
Kemudian buru buru mengemasi pakaiannya, dan bergegas memasukkannya kedalam ransel, lalu keluar dari kamar itu dengan langkah cepat
Tiga menit kemudian. Mereka berempat sudah berkumpul di teras depan, dan sedang merencanakan sesuatu bagaimana caranya untuk pulang
Dalam kekalutan seperti itu, berhembus angin yang cukup kencang, dan langsung menerbangkan mereka untuk masuk ke dalam lingkaran serta hilang setelahnya
Kini sepi yang ada. Vila tersebut sudah tidak berpenghuni lagi, dan senyap sama seperti sebelumnya
***
Sementara itu ditempat lain. Empat orang mahasiswa dan satu orang supir, terlihat sedang berguling guling di lantai dengan ekspresi kesakitan
Salah satu diantaranya adalah Barona. Dia yang paling menderita dalam rasa sakit itu, karena Lola menghajarnya habis habisan. dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk meminta maaf
__ADS_1
Disusul oleh Doni. Tino, Mugi, dan ditutup dengan Dito. Mereka berlima dibawa ke tempat itu atas perintah dari Dragon melalui pengikutnya
Tempat itu adalah tanah kosong, yang berada di belakang rumah Baron, yang dia sendiri belum menyadarinya, karena rasa sakit yang dia alami
Sekitar satu jam mereka sudah berada di tempat itu dan sampai saat ini sakitnya belum juga mereda. Mereka tidak bisa menghubungi siapapun, karena ponselnya sudah diambil semua termasuk ponsel Dito
Sedangkan mobil yang mereka gunakan ditinggalkan di tepi jalan, tak jauh dari rumah Baron, dengan kondisi lampu yang masih hidup
Setelah dua jam. Barulah rasa sakit itu mulai mereda. Tino dan Dito yang berhasil bangkit duluan. Disusul oleh Doni dan Mugi. Sedangkan Baron orang terakhir yang bisa bangkit. Itupun setelah ia paksakan untuk berdiri
"Di mana kita?. Kenapa tiba-tiba bisa berada di sini?. siapa yang melakukannya?" Tanya Baron mendahului
"Mana kami tahu!. Bukankah kita sama-sama merasakan sakit akibat disiksa oleh Yola?" Jawab Tino malah membuat bingung temannya
"Lola?. ada apa dengan dia?. Apakah dia yang telah membawa kita ke sini
"Membawa kepalamu!. Apakah kau tidak ingat saat di dalam villa itu?"
"Bukankah kau hampir berhasil mendapatkan Lola. Bahkan aku lihat kau sudah melakukannya?" Respon Doni bingung
"Mendapatkan kepalamu!. Aku merasakan seperti sedang menindih sosok penuh bulu, dan kulihat wajahnya sangat menyeramkan!" Jawab Baron berterus terang
"Bohong!. Kau pasti sudah mendapatkan Lola!"
"Kulihat waktu itu kau benar-benar sedang menindih Lola, dan bukan seperti apa yang kau katakan barusan!" Bantah Doni tidak terima
Ada terbersit rasa cemburu di ucapannya. Kenapa harus Baron duluan yang mendapatkan Lola, bukan dirinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa mau dikata. Barang sudah terjadi. Itu pikiran yang ada di benak Doni
"Sudah! sudah!. Jangan berdebat lagi!. Apapun yang kau lihat itu tidak penting. yang penting sekarang adalah bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini dan kembali ke rumah!" Ucap Tino pada keduanya
"Dasar pikun!. Manalah kami tahu!. Kita saat ini sama-sama dalam kondisi bingung. Jadi ayo cepat kita kenali tempat ini!" Jawab Mugi menimpali
"Tunggu!. Sepertinya aku sudah ingat!. Ini tanah lapang yang ada di belakang rumahku!"
"Tempat ini dulunya akan dijadikan lapangan golf oleh salah satu pengembang. Tapi proyeknya terhenti karena terbentur biaya dan perizinan." Ucap Baron baru mengingatnya
"Tapi bagaimana kita bisa berada di sini?, padahal beberapa jam lalu kita masih berada di dalam villa?" Tanya Dito dengan ekspresi penasaran
"Kau carilah jawabannya sendiri!. Jangan tanya kami!. Sopir apaan kau itu?" Jawab Doni tidak senang
"Sudah! sudah!. Jangan membuat kepalaku semakin pening!.Ayo cepat pergi!" Sergah Doni juga tidak senang
Kemudian mengikuti langkah Baron untuk keluar dari tempat itu, dan menuju ke rumahnya
"Awas kau Doni!. Aku akan bongkar kebusukan mu!"
"Kau janji akan memberikan uang satu juta setelah berhasil mendapatkan ramuan pemikat itu."
"Tapi jangankan uang, mobilku pun ikut lesap bersama hilangnya angan-angan ku untuk mendapatkan jatah setelah kalian."
"Kalau ponsel itu masih ada aku bisa gunakan untuk memeras Doni juga yang lain."
"Tapi sayangnya ponsel yang aku gunakan untuk merekam aksi mereka sudah tidak ada lagi padaku. Jadi aku tidak punya bukti. Ah sial!." Batin Dito dalam hati, sambil terseok-seok melangkah meninggalkan tempat itu
__ADS_1
Namun hatinya penuh dendam, karena niat baiknya tidak dihargai. Sampai kapanpun Dito akan selalu mengingatnya, dan akan membuat pembalasan saat waktunya tiba
***
Satu minggu kemudian, rasa sakit yang mereka rasakan sudah tidak ada lagi, karena rata-rata mereka pergi ke dokter untuk mengobatinya
Tapi hasil yang mereka dapatkan sangat mengejutkan. Barang berharga milik mereka sudah tidak bisa lagi digunakan, alias mati rasa atau disfungsi ereksi
Bukan salah siapa-siapa, tapi salah mereka sendiri, dan mau tidak mau mereka harus menerimanya. Namun rahasia besar itu, akan tetap menjadi rahasia tersakit buat mereka sepanjang masa
"Kak Mahesh!. Apakah kau masih mengenali ku?" Tanya Lola dengan ekspresi sedikit malu malu
"Ya tentu kenal la!. Lola Junita, mahasiswa seangkatan dengan ku, mengambil jurusan teknik dan informatika, anak orang kaya dan selalu menganggap orang yang tidak se frekwensi sebagai rivalnya!" Jawab Dragon bercanda
"Bukan itu maksudku. Tapi ...?" Lola tidak jadi mengatakannya, karena ada terbersit rasa malu di dalam hati, sebab beberapa hari yang lalu dia sangat membenci Dragon
Tapi hari ini dia mulai bersikap lain. Senyumnya terus mengembang saat bertatap dengan Dragon, seperti sedang mengisyaratkan sesuatu, bahwa dia sudah siap untuk ditembak
namun Dragon menanggapinya dengan sikap lain walau sebenarnya dia tahu bahwa Lola sudah mulai membuka diri untuk berteman dengannya
"Maaf Lola!. Aku tidak mengerti apa maksudmu. Tolong jelaskan!" Reaksi Dragon pura-pura tidak tahu
"Mahesa, mahesa?.Tak tahukah kau bahwa Lola mulai menyukaimu?"
"Apakah kau tidak merasakannya, dan tidak melihat perubahan besar dari dirinya?. Dasar bodoh!" Bisik Sasmita tiba tiba
"Menyukaiku, kenapa?. Lalu di mana Baron dan Doni?. Bukankah mereka yang sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan Lola?"Jawab Dragon dengan ekspresi yang dibuat-buat keheranan
"Huh! Badjingan badjingan itu!. Jangan kau sebut lagi nama mereka. Aku benci!" Ekspresi Lola tidak terduga
"Memang ada apa?. Biasanya kalian kompak, tapi kenapa sudah pecah kongsi?" Respon Dragon pura-pura tidak tahu
"Pokoknya mereka badjingan!. Titik!" Jawab Lola menegaskan
lalu pergi dari ruang itu dan menyendiri di luar ruangan
"Kau ni Mahes!. Padahal Lola sudah memberikan kesempatan padamu untuk mendekatinya. tapi kaunya saja yang cuek. Bukankah kau selama ini ingin mendapatkan perhatiannya?"
"Siapa?. Aku?" Respon Dragon sambil menunjuk diri sendiri
"Ya kamu!. Siapa lagi!" Jawab Sasmita merasa geram
"Ah jangan dibuat bercanda!. Aku mana pantas jika harus berdampingan dengan Kola."
"Dia anak orang kaya, sedangkan aku ini apa?" Jawab Dragon tidak terduga
"Ah dasar bodoh!. Sudah diberi kesempatan tak mau menyambarnya juga."
"Jangan menyesal jika nanti Lola diambil orang lain." Respon Sasmita serius. Lalu bersama dengan teman-temannya meninggalkan Dragon sendiri
"Clara!. Tiba tiba aku teringat dirimu. Dimana kau sekarang?" Guman Dragon lirih
Tapi tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari luar ruangan
__ADS_1
"Kakak!. Ternyata kau kuliah di sini!. Aku senang melihatnya!"