
"Untuk saat ini papa tidak punya solusi."
"Mama sajalah yang menyelesaikannya!" Ucap Dion santai. Kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut, dan pergi entah kemana
"Huh!. Dasar papa!" Omel Ivory tidak senang, sesaat setelah suaminya pergi
"Maafkan Draco bu. Gara-gara persoalan itu, membuat ayah dan ibu bertengkar." Ucap Dragon merasa tidak enak hati
"Tidak! tidak! tidak!. Itu bukan salah mu, dan itu ibu anggap wajar."
"Ibu cuma tidak senang, kalau papamu terkesan lepas tangan." Respon Ivory mencoba tegar
"Mengenai persoalan mu itu. jujur ibu katakan, bahwa ibu juga belum mempunyai solusi."
"Karena permasalahan tersebut, menyangkut perasaan seseorang, yang apabila salah dalam mengambil keputusan, bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri."
"Jadi saran ibu, untuk saat ini, kau biarkanlah dulu masalah itu. Toh usia kalian pun masih terlalu muda, dan masih banyak waktu untuk memikirkannya." Ucap Ivory cukup bijaksana
"Baiklah kalau begitu bu. Draco akan memikirkannya setelah Draco benar benar dewasa."
"Untuk saat ini, Draco fokus dulu untuk memasuki dunia kampus, yang sepertinya perlu Draco prioritaskan." Respon Dragon mantap
"Nah itu baru bagus!. Ini baru anak mama!"
"Jangan cengeng begitu!. Menghadapi wanita saja sudah bingung, bagaimana kalau berumah tangga nanti?"
"Ibu ingin kau tegar, dan bisa memutuskan mana yang terbaik untuk hidup mu nanti." Reaksi Ivory senang
"Tapi ngomong ngomong, waktu pendaftarannya masih cukup lama kan?. Jadi kau masih bisa berpetualang, untuk mencari jati diri dan pengalaman diluar." Ucap Ivory lagi
"Apakah ibu lupa, bahwa Draco lulus dari jalur khusus, dan diterima di banyak universitas, baik dalam maupun luar negeri tanpa tes?" Sambut Dragon mengingatkan
"Oh ya ibu lupa. Untung Draco mengingatkan. Kalau tidak ibu akan menghubungi kawan ibu, yang sekarang sudah menjadi dekan di salah satu universitas yang ada di ibu kota."
"Padanya ibu akan meminta tolong, agar mengurus proses masuk mu itu."
"Tapi karena kau merupakan mahasiswa pilihan, maka ibu tidak akan memaksa, kau harus masuk ke universitas mana."
"Ibu serahkan semua itu pada pilihan mu sendiri." Ucap Ivory cukup Legawa
"Tapi berhubung masa orientasi itu masih cukup lama, alangkah baiknya jika Draco pertimbangkan usul ibu tadi, yaitu mengembara di merata negeri, dan temukan jalan hidup mu sendiri di sana. Bagaimana?" Ucap Ivory menegaskan usulnya tadi
"Kedengarannya cukup menarik usul ibu itu. Draco akan membicarakannya dengan ayah juga kakek nanti."Jawab Dragon mulai tertarik
"Nah itu lebih baik!. Tapi jangan lupa bawa pengawal sebanyak banyaknya, agar kau tidak di celakai orang nanti." Ucap Ivory serasa tidak masuk akal
"Kalau membawa pengawal banyak, itu bukan berpetualang bu, tapi pamer kekuatan." Jawab Dragon mengingatkan
"Ibu tidak mau tahu!. Pokoknya kau harus membawa banyak pengawal, untuk memastikan keselamatan mu di sana!"
Bantah Ivory tetap ngotot
"Baiklah bu. Nanti akan Draco pikirkan setelah mendapat persetujuan dari ayah juga kakek buyut." Jawab Dragon mengalah
Kemudian meminta izin untuk keluar dari ruangan itu, dan pergi menemui para pengawal nya
***
Keesokan harinya. Apa yang dikatakan oleh Dragon, benar benar dilaksanakannya
Saat ini dia sedang bersama dengan. Dion, tuan Birawa juga Ivory
Bersama dengan mereka, juga ada Abhicandra, Adiwilaga, Adipramana, Robin, Hans, Burgon, Govin, Leon, Jenifer, Awan, Langit, Bumi, Eric, Rudolf, Anjani juga Sukma
Tak lupa pula hadir Deon, Austin, Rams, Taraka, Shio Lung, Upasama, James, Pai Zu Xian, Erisha. Dan masih banyak lagi pengawal pengawal elit lainnya yang juga di undang untuk kesitu
Mereka tentu bertanya tanya, ada apa gerangan mereka dipanggil itu, karena sudah hampir setengah bulan, sejak kembali dari Thailand, praktis mereka tidak pernah menghadiri pertemuan, karena Dion menyuruh mereka mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas mereka
Kecuali Iron, Hans, Leon, Jenifer. Ling Shia. Ling Ma serta Ling Hwa. juga beberapa orang pengawal lainnya
Mereka selalu hadir dan terus mendampingi, baik Dion, tuan Birawa, maupun Dragon. Tak lupa pula mendampingi Dyah Isma Prameswari
__ADS_1
Jadi saat mereka dipanggil itu, tentu saja muncul seribu tanya di benak masing masing. Tapi demi menjaga wibawa tuan mereka. tak satupun yang berani bertanya, dan tetap menunggu apa yang akan disampaikan oleh tuan besar mereka itu
Setelah dirasa cukup penasarannya, Dion memulai membuka suara." Aku pun baru tahu tentang ini pagi tadi."
"Jika bukan karena menyangkut keselamatan anak ku. Mungkin cukup satu atau dua orang yang aku panggil."
"Tapi ini kasusnya berbeda. Dragon ingin berpetualang di merata negeri, sambil mencari pengalaman di luar."
"Itu akan dilakukannya selama kurang lebih satu atau dua bulan."
"Untuk itu aku meminta saran pada kalian. Persiapan apa yang harus dilakukan, agar anak ku ini tidak kesusahan saat bertualang nanti."Ucap Dion terkesan dipaksakan
"Izin menjawab tuan besar! Menurut hemat ku, lebih baik membawa pengawal dalam jumlah banyak, untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi."
"Alasannya?" Tanya Dion memotong usul dari Adiwilaga
"Sudah sama sama kita tahu, bahwa pihak musuh yang kita kalahkan dulu, kemungkinan masih ada, dan menaruh dendam, serta mencari kesempatan untuk membalasnya." Jawab Adiwilaga cukup masuk akal
"Apakah kalian lupa, siapa cucu buyut ku ini?"
"Alih alih mengawalnya, malah kalian sendiri yang butuh perlindungan?"
"Jadi menurut ku, bawalah pengawal secukupnya saja, jangan tampil mencolok dan menarik perhatian."
"Tujuan Dragon adalah ingin menjadi orang biasa, dan pengawalan yang tidak begitu ketat, agar orang tidak tahu siapa dia itu."
"Jadi kalian tidak perlu repot repot memikirkannya."
"Tujuan kalian dipanggil ini, adalah untuk mengetahui saja, sambil menentukan, daerah mana saja yang harus di kunjungi oleh Dragon, dan berapa orang pengawal nanti. "Ucap tuan Birawa cukup panjang sekali
"Ternyata begitu!". Batin Adiwilaga tidak enak hati. Tapi dalam hatinya masih berkecamuk perasaan lain
"Biarkan aku yang tampil dan memberikan keputusan!" Ucap Dragon datang menyela
"Silakan anak ku!" Jawab Dion penasaran
"Menurut hemat ku. Jumlah pengawal yang akan ikut cukup 10 orang saja."
"Sedangkan yang mengawal Draco secara langsung, hanya tiga orang saja. Yaitu kakek Abi, senior Jenifer dan paman Leon."
"Nanti dalam petualangan itu, kakek Abi berperan sebagai kakek ku. Sedangkan paman Leon dan kak Jenifer, berperan sebagai sepasang suami istri. dan Draco adalah anaknya."Ucap Dragon terkesan lucu
"Hahahaha!. Tidak disangka usul mu itu cukup lucu juga Draco. Buyut jadi tidak tahan mendengarnya." Reaksi tuan Birawa tidak terduga
"Dimana lucunya kek!. Bukankan itu wajar dan terkesan alami?" Ucap Dragon protes
"Apakah kau tidak lihat, jarak umurmu dengan Jenifer itu tidak terpaut jauh?. Mungkin sekitar sepuluh atau dua belas tahun saja!" Jawab tuan Birawa apa adanya
"Kalau menjadi kakak mu itu mungkin. Tapi kalau menjadi ibumu, ya harus dipertimbangkan." Jawab tuan Birawa lagi
"Begitu ya?" Reaksi Dragon lirih
"Apa yang dikatakan oleh kakek buyut mu itu benar anak ku."
"Kalau menjadi kakak itu mungkin. Sedangkan untuk Leon bisa saja menjadi kakak tertua mu, dan jenifer kakak kedua mu pula."
"Sementara kakek Abi, ya seperti yang kau katakan tadi. Bagaimana?" Ucap Dion menguatkan
"Draco ikut mana baiknya saja .Yang penting misi kali ini berhasil, dan Draco mendapatkan pengalaman hidup nantinya." Jawab Dragon mengiyakan
"Baiklah kalau begitu. dan sudah diputuskan, bahwa Dragon akan di dampingi oleh tiga orang saja."
"Sementara 10 yang lain, bertugas memantau dan membuka jalan, agar perjalanan tim tidak mendapat hambatan."
"Misi kali ini bukan hanya mencari pengalaman hidup dan memberikan bantuan. Tapi sekaligus mencari peluang untuk melebarkan sayap perusahaan."
"Siapa tahu daerah yang akan dikunjungi, menyimpan potensi yang cukup besar." Ucap Dion tegas
"Aku tidak setuju kalau hanya 10 orang yang akan mengawal Draco."
"Aku ingin jumlah pengawalnya ditambah, menjadi 30 atau 50 orang.Jika perlu lebih!"
__ADS_1
"Bawa beberapa orang ninja, penembak jitu juga tentara itu!"
"Bawa juga Langit, Awan dan Bumi, juga beberapa pengawal perempuan, untuk mempersiapkan keperluan anak ku di sana!" Ucap Ivory tidak mau kalah
"Ini mau perang atau mencari pengalaman ma?"
"Daerah yang akan mereka datangi bukanlah zona perang atau zona berbahaya."
"Mungkin mereka akan lebih banyak berada di desa desa, atau kampung kampung miskin, dan bukan di kota besar!" Bantah Dion mengingatkan
"Pokoknya mama tidak mau tahu. Titik!" Jawab Ivory tetap ngotot
"Hah!. Terserah mama sajalah!" Sambut Dion mengalah
"Kakek Adi!. Tolong persiapkan segala sesuatunya, dan pilih siapa siapa saja yang akan diajak mendampingi anak ku nanti." Ucap Dion memberi perintah
"Baik tuan besar!" Jawab Adiwilaga semangat
"Izin menyampaikan tuan besar!" Ucap Burgon tiba tiba
"Silakan!" Jawab Dion tegas
"Menurut mata mata yang sudah diterjunkan ke daerah SS dan L itu, diketahui memang ada sekelompok kecil pengacau, yang lokasinya berpindah pindah. Sehingga menyulitkan tim untuk menghitung jumlah mereka "
"Tapi baru baru ini diketahui, ternyata jumlah mereka cukup banyak, dan tersebar di beberapa buah kota di dua provinsi itu."
"Mungkin jumlah mereka sekitar 3 sampai 4 ratus orang".Ucap Burgon apa adanya
"Siapa mereka itu dan apa tujuannya?" Tanya Dion ingin tahu
"Untuk sementara mereka sepertinya sedang menyusun kekuatan, dan belum terlihat mencurigakan."
"Tapi ada sekelompok kecil dari mereka telah menunjukkan taji nya."
"Sering sekali mereka mengganggu karyawan wanita, dan bila dikejar mereka selalu lari, serta menghilang dalam sekejap mata."
"Jika diurut urut, sepertinya ada hubungannya dengan aktifitas sekelompok orang dulu, saat Melviano juga istrinya itu masih hidup."
"Atau jika ditarik benar lurus, masih ada hubungannya dengan Torangga juga anak perempuannya itu." Jawab Robin cukup lancar
"Tunggu dulu!. Barusan kau mengatakan Melviano, Torangga. Siapa mereka?" Ucap Dion seakan lupa
"Seorang pengusaha cukup disegani di provinsi SS dulu, yang perusahaannya telah kita ambil, dan diberikan pada pemilik yang sebenarnya."
"Namun yang menjadi biang keladinya bukan Melviano tapi Bramanta, rekan satu tim kami dulu." Jawab Burgon menjelaskan
"Lalu apa hubungannya dengan Torangga yang sudah mati itu?. Apakah arwahnya bangkit dan membahas dendam?" Tanya Dion terdengar lucu
"Torangga mempunyai seorang anak perempuan bernama Meriana yang dinikahi oleh Melviano."
"Setelah dia mati. Meriana menikah pula dengan Bagaspati. Seorang pengusaha sekaligus ketua gangster kecil di kotanya."
"Meriana itu sebelum menikah dengan Bagas, telah mempunyai seorang anak laki laki, yang sekarang telah tumbuh dewasa, dan telah memimpin organisasi milik atasan Torangga dulu."
"Mungkin mengandalkan kelompoknya itulah, dia berusaha ingin membalas dendam."
"Tapi itu hanya asumsi ku saja tuan besar!" Ucap Burgon merendah
"Hemm!. Cukup menarik!"
"Awan, Langit dan Bumi!. Aku perintahkan kalian untuk mendampingi anak ku, bersama dengan Burgon, Shio Lung, James dan yang lainnya."
"Kepada Anjani!. Ku perintahkan kau untuk mendampingi Jenifer."
"Sedangkan Eric!. Ku tugaskan untuk memimpin 150 pengawal elit, sebagai tim bayangan."
"Buat semuanya seolah olah alami."
"Cari dan temukan, serta berantas kelompok kecil yang ingin bangkit itu, dan hancurkan ambisinya untuk memberontak!" Ucap Dion memberi perintah
"Siap laksanakan tuan besar!" Jawab mereka serempak dan bersemangat sekali
__ADS_1