Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Sisi lain Dragon


__ADS_3

"Ceritanya bermula saat anak bapak ini sedang sakit."


"Saat itu bapak tidak punya uang, dan berniat meminjam uang pada juragan kaya, untuk biaya pengobatan anak ku ini."


"Tapi syaratnya sangat menakutkan sekali."


"Juragan tersebut mengharuskan, agar anakku yang masih kecil ini melayaninya setelah dia sembuh."


"Kalau tidak mau, maka tanah dan rumahku akan dia ambil."


"Karena bapak tidak mau Mela menjadi korban pria hidung belang itu, maka bapak merelakan syarat peminjaman tersebut dengan jaminan sebidang tanah dan rumah."


"Sayangnya sampai batas waktu yang ditentukan, bapak tidak bisa melunasinya. Maka rumah dan tanah bapak itu, diambil alih oleh juragan tersebut."


"Terpaksa bapak merelakan rumah beserta tanah itu, dan keluar dari sana, serta pergi kemana mana, hanya sekedar untuk mencari makan."


"Sampai di kota kecil ini. Bapak dan melati terpaksa menjadi gelandangan dan terpaksa mengemis untuk sekedar mengisi perut."


"Suatu ketika kami bertemu dengan kelompok itu. Mereka memaksa agar bapak menyerahkan melati pada mereka."


"Permintaan mereka tentu saja bapak tolak, karena tidak mungkin menyerahkan seorang perempuan pada singa lapar seperti itu."


"Pada awalnya mereka marah, tapi karena bapak punya alasan, bahwa melati punya penyakit kutukan, maka mereka jadi jijik pada melati."


"Takut ketiban sial katanya!"


"Sebagai gantinya kami diharuskan mengemis, dan hasilnya harus diserahkan pada mereka."


"Hari berganti, bulan dan tahun pun menjelang, kami masih tetap bekerja untuk mereka sampai saat ini."


"Namun karena tidak tahan dipaksa menjadi seperti itu, kami lari. Tapi sayangnya ketahuan juga."


"Hari ini saat kami sedang istirahat dan duduk di pangkalan sehabis mengemis. Diketahui mereka datang, dan terjadilah peristiwa seperti tadi." Ucap Darso menceritakan kronologis nya secara panjang lebar, dan Dragon tetap setia mendengarkannya


"Hemm!.Ternyata begitu." Respon Dragon mulai paham, walau tidak diceritakan semuanya oleh Darso


"Dengan pak...?


"Oh maaf anak muda!. Kenalkan nama bapak Pramudya Aminata."


"Sedangkan yang ini Shakti Anindya Aminata, putri bapak satu satunya yang masih hidup"


"Sehari hari dia dikenal dengan nama Melati saja, yang bapak panggil dengan sebutan Mela."


"Anak boleh memanggil bapak dengan sebutan Darso dan melati dengan Mela saja, Karena masyarakat desa cuma mengenal kami dengan nama itu."


"Baiklah pak Darso dan Mela. Kalau boleh tahu dimana kampung halaman bapak itu?" Tanya Dragon ingin tahu


"Disebelah tenggara kota S, berbatasan dengan wilayah otoritas kota B."


"Atau persisnya berada ditengah tengah antara ke dua wilayah itu."


"Desa tersebut bernama Argomulyo, yang kabarnya sudah berubah jadi sebuah kota, karena ditangani oleh seorang penguasa besar nasional kala itu."


"Desa Argomulyo?" Ucap Dragon terlepas kata, hingga membuat perkataan Darso terhenti


"Ya benar!. Apakah anak tahu tentang desa itu?" Tanya Darso ingin tahu


"Oh tidak. Tapi pernah dengar tentangnya." Jawab Dragon terpaksa berbohong, padahal dia sendiri penguasa tempat tersebut demi penyamarannya tidak terbongkar


"Teruskan!" Ucap Dragon cepat, untuk menghilangkan kecanggungan nya karena telah berbohong


"Sebenarnya bapak dan Mela ini ingin kembali kesana. tapi ongkos tidak ada. Lagipula dimana kami akan tinggal kalau memaksa kembali?" Ucap Darso atau Pramudya Aminata lirih


"Sebaiknya jangan!. Lebih baik kalian tinggal di kota kecil ini saja, dan berprofesi sebagai pedagang." Jawab Dragon secara spontan


"Kenapa begitu?" Tanya Darso penasaran


"Saya lihat bapak punya bakat untuk itu. Lagipula tempat ini cocok untuk kalian." Jawab Dragon menerka saja


"Kalau bertahan ditempat ini, dimana kami akan tinggal anak muda?" Tanya Darso lagi


"Itu gampang!. Saya akan mencarikan kalian rumah sewa, dan kalian boleh tinggal di sana sampai kapan pun." Jawab Dragon asal asalan


Entah mengapa dia bisa berbuat baik seperti itu, padahal mereka baru pertama kali bertemu


Dalam hati Dragon bisa melihat, bahwa kedua orang itu latar belakangnya tidak biasa. Mungkin dulunya mereka itu orang penting, atau ada hubungannya dengan orang kaya


Karena suatu sebab, mereka memutuskan meninggalkan kehidupannya, dan memilih menjadi orang biasa, serta tinggal disebuah desa terpencil, yang dulunya masih terisolir


"Lebih baik aku mencari informasi tentang kedua orang ini."


"Firasat ku mengatakan, bahwa mereka ada hubungannya dengan musuh ayah ku dulu!"


"Jadi aku harus bertindak hati hati sebelum semuanya jelas, agar tidak timbul penyesalan dikemudian hari " Batin Dragon dalam hati

__ADS_1


"Oh ya pak Darso. Kalau boleh tahu siapa nama juragan yang menginginkan anak bapak ini?" Tanya Dragon ingin tahu


"Braga Aminata. Baru baru ini bapak baru tahu, kalau dia masih ada hubungan darah dengan bapak. Tapi dari belah mana bapak tidak tahu."


"Karena sudah sejak lama bapak berpisah dengan keluarga besar bapak, karena suatu permasalahan perebutan harta dan kekuasaan."


"Karena bapak tidak mempunyai dukungan, ditambah ibuku hanya seorang gadis kampung yang dinikahi oleh ayah ku waktu itu, maka bapak hanya mendapatkan sedikit bagian dari harta mereka, dan harus keluar dari lingkungan orang kaya tersebut."


"Bersama dengan ibuku, karena ayah sudah meninggal, kami terpaksa keluar, dan pergi mencari kehidupan ditempat lain."


"Maka jadilah kami sebagai orang yang terbuang."


"Saat itu usia bapak masih muda, bahkan masih kecil lagi. Jadi tidak begitu tahu berita tentang keluarga besar almarhum ayah ku yang lain ada dimana."


"Bertahun tahun kami menjalani kehidupan susah, berprofesi sebagai petani."


"Setelah dewasa, bapak bertemu dengan seorang gadis di sana, menikahinya dan akhirnya menjadi ibunya Mela." Ucap Darso menjelaskan secara panjang lebar pada Dragon


"Wah ini namanya cerita bersambung pak Darso. banyak banget lika liku hidupnya!" Ucap Dragon pula


Padahal dalam hatinya sangat terkejut, karena baru tahu bahwa orang yang sedang ada di depannya itu, adalah bekas keluarga besar Aminata


Mungkin Aminata itu nama moyang dari keluarga besar Aminata, dan keturunannya juga memakai nama Aminata, orang yang sempat memerangi Dion, dan sempat pula menghancurkan kota B juga kota Emas sebagiannya


Mengetahui itu, Dragon memutuskan untuk bertindak hati hati, karena dia tidak mau ada permasalahan dan gesekan kepentingan dengan dua orang itu


"Maaf mengganggu pendekar!. Kalau boleh tahu siapa nama anda, dan dari mana anda berasal?" Tanya seorang Jagabaya, yang berperan sebagai orang yang bertanggung jawab atas keamanan kota kecil itu atau sebut saja sebuah desa, tapi sudah mempunyai pasar sendiri


"Siapa ya?" Jawab Dragon ragu ragu


"Oh ya!. panggil saja aku pendekar, karena sebutan yang kalian berikan padaku tadi cukup bagus."


"Sepertinya nama itu cocok, walau terkesan berlebihan buat ku" Jawab Dragon lagi


"Bagaimana kalau kami panggil anda dengan panggilan tuan naga saja?" Tanya yang lain, yang tiba tiba berkerumun di lokasi itu


"Ah itu boleh juga!. Tapi terserah kalian mau panggil aku apa, ya?" Jawab Dragon merendah


"Aku kebetulan sedang melewati tempat ini, dan kebetulan juga melihat tindakan mereka pada kedua orang ini."


"Dan cerita selanjutnya kalian tahu sendiri." Ucap Dragon menambahkan


"Lalu bagaimana dengan orang orang itu, apakah mereka bisa dipercaya?" Tanya seorang pedagang pada Dragon


"Paman tenang saja!. Saya jamin mereka tidak akan bertingkah lagi. Saya jamin itu!"


"Tapi syaratnya, kalian harus patuh!. Jangan lagi membuang sampah secara sembarangan."


"Baik kami akan patuh tuan pendekar, eh tuan naga!" Jawab puluhan pedagang itu patuh


"Tapi kalau boleh kami tahu dari mana asal tuan naga ini?" Tanya seorang ketua pasar, mewakili teman temanya


"Oh saya berasal dari wilayah barat pulau ini. Kebetulan singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan." Jawab Dragon asal ngarang saja


Dia tidak mau identitasnya terbongkar, karena misinya sangat rahasia di tempat itu


"Baiklah kalau begitu tuan pendekar!. Kalau ada waktu silakan singgah ke rumah kami."


"Siapapun yang tuan pilih, kami akan menerimanya dengan senang hati." Ucap salah seorang pedagang menawarkan kebaikan


"Terima kasih bu!. Kebetulan saya ingin menginap satu hari di sini."


"Tapi tolong tunjukkan, apakah ada rumah atau kios yang mau disewakan atau dijual?" Tanya Dragon pada ibu yang menawarkan jasanya tersebut


"Oh kebetulan disebelah rumah saya ada rumah sekalian toko yang mau disewakan."


"Pemiliknya pindah ke kota lain, dan semua urusan diserahkan ke saya." Jawab ibu itu apa adanya


"Baik kalau begitu. Tolong urus kan administrasinya ya bu. Saya ingin menyewanya barang satu atau dua tahun ke depan." Ucap Dragon lagi


"Baik tuan pendekar!" Jawab ibu tersebut merasa senang


Entah apa yang dia senang kan itu. Mungkin bakal dapat komisi, atau bisa menjodohkan anaknya dengan Dragon. Tapi itu masih perkiraan


"Siapa yang bertanggung jawab terhadap pasar ini?" Tanya Dragon tiba tiba


"Saya tuan pendekar!. Ada apa ya tuan bertanya seperti itu?" Jawab Jagabaya merasa penasaran


"Apakah pasar ini berdiri dilahan seseorang atau memang milik kota kecil ini?" Tanya Dragon pula


"Yang saya tahu, tempat berdirinya pasar ini, dulunya adalah milik kepala desa, periode 25 tahun yang lalu."


"Tapi katanya telah dibeli oleh seseorang, yang sekarang sudah pindah ke kota besar." Jawab Jagabaya itu masih ragu ragu


"Apakah orangnya sama dengan yang mau menyewakan ruko nya itu?" Tanya Dragon lagi

__ADS_1


"Benar tuan Naga!. Kebetulan saya tahu tentang itu, karena dia telah mengatakannya pada ku saat mau meninggalkan kota kecil ini." Jawab ibu yang tadi


"Apakah ibu tahu alamat atau nomor kontaknya?" Tanya Dragon


"Tahu tuan pendekar. Dia waktu itu bilang akan membuka usaha di kota emas yang dimiliki oleh Birawa Group itu."


"Tapi alamat persisnya ibu tidak tahu."Jawab ibu Faidah, perempuan yang dipercayakan oleh pemilik ruko tersebut apa adanya


"Kota Emas?" Ucap Dragon lirih


"Benar tuan pendekar!. Apakah anda tahu tentang kota itu?"


"Kabarnya kota tersebut sangat bagus, megah dan mewah lho!"


"Banyak orang yang ingin pergi kesana. Tapi orang miskin macam kami manalah bisa!" Jawab Faidah merasa sedih


"Saya tahu kota itu. Kalau tak salah, pemiliknya seorang pengusaha kaya bersekala dunia."


"Kebetulan kakek ku kenal baik dengannya. Jadi mudah bagiku untuk menemukan pemilik tempat ini yang sudah pindah kesana."


"Tapi tolong katakan. Siapa nama orang itu, biar kakek ku yang akan menemukannya di sana." Tanya Dragon terkesan bersandiwara, tapi tak ada satupun yang menyadarinya


"Pandu Dinata. Itulah pemilik tempat ini tuan pendekar" Jawab ibu Faidah berterus terang


"Baik terima kasih!"


"Nanti saat bertemu dengan orang itu, aku ingin bernegosiasi, agar dia mau menjual tempat ini, untuk dibangun pasar yang jauh lebih besar dan bersih."


"Jalan jalannya pun akan dibuat lebar dan beraspal, dan pasarnya berupa gedung terbuka."


"Setelah siap, kalian boleh menempatinya secara gratis, dan berlaku secara turun temurun." Ucap Dion penuh wibawa


"Siapa sebenarnya anak ini, kenapa keyakinannya begitu besar, dan punya cita-cita ingin membangun pasar dan diberikan secara gratis?"


"Zaman sekarang mana ada yang serba gratis!." Ucap orang orang itu mulai merasa ragu dengan tekad Dragon. Dan diucapkan secara berbisik pada temannya


"Saudara saudara semua!. Percayalah dengan apa yang saya ucapkan tadi."


"Desa kecil ini, belum pantas disebut kota."


"Saya berniat ingin merubahnya menjadi sebuah kota beneran."


"Apakah kalian tidak mendukung atau tidak tertarik dengan rencana saya itu?" Ucap Dragon dengan suara kuat, yang disertai sedikit tenaga dalam


"Uh!. Kekuatan suara apa ini?"


"Kenapa telingaku jadi sakit, dan dadaku berdetak kencang?" Tanya dua orang yang tadi meragukan ucapan Dragon


"Tuan pendekar!. Kami percaya dengan apa yang tuan sampaikan tadi."


"Cuma masalahnya kami tidak tahu tuan itu siapa dan dari mana?"


"Jika kami tahu layar belakang tuan, maka kami akan percaya 100 persen pada omongan anda." Ucap seorang pedagang lainnya


"Baiklah kalau begitu!. Beri aku waktu satu minggu, untuk membuktikan ucapan ku tadi "


"Mungkin dalam waktu seminggu itu, perwakilan Birawa Group akan datang kesini."


"Percayalah!. Kakek ku orang penting di sana!" Respon Dragon bersikap sabar


"Maaf tuan pendekar!.Tugas sudah kami selesaikan."


"Apa yang harus kami lakukan lagi tuan?" Tanya Barong yang tiba tiba datang menyela


"Dimana kalian tinggal di desa ini?" Jawab Dragon malah balik bertanya


"Kami bukan berasal dari wilayah ini tuan. Kami hanya mencari makan saja disini."


"Ada apa tuan bertanya seperti itu?" Jawab Barong berterus terang


"Apa kalian punya keluarga?" Tanya Dragon lagi


"Ada tuan!"


"Tujuh diantara kami sudah berkeluarga. kecuali yang tiga orang itu."


"Mereka belum laku laku juga sampai sekarang." Jawab Rojak mewakili ketuanya


"Hemm. Ternyata begitu!" Reaksi Dragon kalem, dan diucapkannya secara perlahan


"Tuan!. Jika nanti masuk ke kota Emas, dan ketemu dengan penguasanya.Tolong katakan padanya, bahwa kami mengucapkan banyak terima kasih!" Ucap ibu Faidah bernada memohon, dan tidak memperdulikan keberadaan Rojak dan Barong


"Dan satu lagi tuan pendekar. Kabarnya orang itu mempunyai seorang putra, yang kebaikannya melebihi siapapun."


"Mungkin usianya sama dengan tuan saat ini."

__ADS_1


"Apakah tuan pernah bertemu dengannya?" Tanya ibu Faidah bersemangat


__ADS_2