
Dor! dor! dor! dor!
Bom! bom! bom! bom!
"Hahahaha!. Mampus kalian!"
"Berani beraninya mau melawan kelompok kami!" Teriak dan tawa Sujana kegirangan
Tapi sedetik kemudian, mulut dower nya menganga lebar, karena apa yang dia harapkan, tidak kunjung menjadi kenyataan
Abhicandra dan anak buahnya, masih tetap berdiri diam, dan tidak terluka sedikitpun. Malah tersenyum mengejek kearah mereka
Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kembali Sujana memerintahkan. agar menembaki orang orang itu, untuk membuktikan bahwa penglihatannya masih berfungsi
Namun yang terjadi malah membuat Sujana dan yang lain semakin terperangah tak percaya
Abhicandra dan anak buahnya masih baik baik saja, bahkan luka sedikitpun tidak
"Bagaimana ini?. Apakah mereka masih tergolong manusia?"
"Tidak mungkin peluru sebanyak itu, tidak mampu melukai mereka!"
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Reaksi Sujana keheranan
"Kau mau tau anak muda!. Senjata mainan mu itu tidak akan mampu melukai tubuh ku juga tubuh mereka itu!"
"Kalau senjata ku ini mungkin bisa!" Ucap Abhicandra mencoba mempengaruhi akal pikiran Sujana
Whus!
Bugh!
"Argh!" Teriak Sujana kesakitan
Dia melihat bahwa tubuhnya tertusuk senjata tajam, dan tembus sampai ke punggung
Darah banyak keluar dari luka akibat tusukan itu, tapi anehnya dia masih bisa berdiri
"Apa yang kau lakukan orang tua?"
"Mengapa kau menyerang ku secara diam diam?" Teriak Sujana tidak terima
"Itu akibat dari kesombongan mu anak muda!"
"Kepandaian baru seumur jagung, sudah berani mencari masalah dengan ku!"
"Coba kau perhatikan senjata apa yang aku gunakan untuk melukai mu itu" Jawab Abhicandra terkesan santai
"Eh!. Bukankah aku tadi terluka?. Tapi kenapa bisa sembuh kembali?" Reaksi Sujana keheranan
Kawan kawan serta anak buahnya, juga merasa heran, bagaimana senjata yang telah menembus tubuh Sujana mendadak hilang, dan luka diperutnya itu sembuh dalam seketika
Siapa sebenarnya orang orang itu?. Mungkinkah orang yang sedang mereka hadapi itu adakah siluman? Batin mereka dalam hati
"Ketua!. Apa yang harus kita lakukan?"
"Senjata senjata kita ini tidak berguna buat mereka!"
"Berarti mereka itu bukan manusia, tapi siluman yang menunggu hutan ini!"
"Apakah sebaiknya kita lari atau menyerah saja?" Tanya Handika, ketua dua kelompok tiga pada atasannya
"Aku tidak percaya dengan takhayul dan segala macamnya!"
"Mereka bukan setan dan sejenisnya. Mereka itu manusia!"
"Kalian lihat ini!. Akan aku buktikan bahwa apa yang kalian katakan itu tidak benar!" Jawab Sujana lantang
"Hai orang tua!. Jika peluru dari senjata kami ini tidak bisa melukai mu. Coba kau tahan pedang ku ini!"
"Aku yakin tubuh mu akan terpotong potong karena ketajamannya!" Ucap Sujana bersikap sombong
"Heh!. Dasar orang tidak sadar diri!. Dikasi hati malah minta jantung!"
"Aku pikir dengan pelajaran tadi, bisa membuat mu sadar!. Tapi malah berani menantang ku dengan pemainan pedang!" Jawab Abhicandra sangat menyayangkan
"Kenshin!. Tolong wakili aku untuk memberi pelajaran pada orang sombong itu!"
"Aku malas meladeninya!" Ucap Abhicandra pada salah seorang samurai yang dia bawa
Belum juga kering bibir Abhicandra berbicara. Orang yang bernama Kenshin tersebut sudah berada di depan Sujana, dan siap menyerangnya
"Lawan mu adalah aku!. Jadi bersiaplah!" Ucap Kenshin tidak main main. Kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi, Lalu...
Whus!
Slash! slash! slash!
Tidak sampai tiga detik, seluruh pakaian yang dikenakan oleh Sujana, sudah terpotong potong dan berserakan di bawah kakinya. Hanya tinggal celana pendek nya saja
Sedangkan Kenshin yang tadi menyerangnya, sudah kembali ke dalam barisan, dan berdiri diam di sana
"Apa yang terjadi?. Kenapa pakaian ku hancur?. Siapa yang melakukannya?" Teriak Sujana penasaran
"Anak muda juga kalian yang ada disini!. Dengarkan perkataan ku!"
"Ketahuilah oleh kalian!. Satu saja anak buah ku sudah mampu membuat kalian binasa!"
"Oleh karena itu menyerah lah!, dan ikut bersama kami untuk menghadap tuan muda!" Seru Abhicandra dengan suara lantang
"Bagaimana ini ketua?. Apakah kita harus menyerah atau tetap melawan?" Tanya Handika ingin ketegasan
"Melawan mata mu!. Apakah kau tidak melihat bagaimana ganasnya samurai itu?"
__ADS_1
"Baru seorang saja sudah bisa membuat kita ketakutan, apalagi kalau semuanya turun tangan!"
"Sepertinya mereka bukan orang yang bisa kita lawan."
"Jadi?" Tanya Handika penasaran
"Ya menyerah lah!. Mau apa lagi?" Jawab Brandi, pemimpin satu kelompok enam cepat
"Huh!. Tidak ku sangka, orang sebanyak ini tidak mampu mengalahkan mereka!" Guman Brandi lirih
"Maaf ketua!. Kami dari kelompok lima tidak akan menyerah, sebelum membuktikan kekuatan mereka!" Ucap ketua lima pada Brandi
"Jadi apa yang akan kau lakukan Fariq?"
"Apakah kau ingin melawan mereka dengan senjata rongsokan itu?" Tanya Brandi keheranan.
"Tidak!. Cukup dengan kepalan tangan ku ini, sudah bisa membuat mereka mengakui kekuatan ku!" Jawab Fariq terkesan sombong
Kemudian maju mendekati Sujana, yang masih berdiri kebingungan
"Kau minggir lah!. Biar aku dan anak buah ku yang akan memberi pelajaran pada mereka!" Ucap Fariq dengan angkuhnya
"Huh!. Dasar katak dibawah tempurung!"
"Kau pikir bisa mengalahkan mereka?" Jawab Sujana merasa kesal. Kemudian menyingkir, dan bergabung dengan kelompoknya
"Kalau Sujana bisa kau kalahkan!. tapi belum tentu dengan ku!"
"Aku ingin melihat siapa anak buah mu yang jago berkelahi dengan tangan kosong. Kirimkan dia pada ku!" Ucap Fariq menantang
Whus! Whus! Whus!
Tiba tiba saja tiga orang petarung tangan kosong, sudah ada di depan Fariq, dan siap untuk meladeni tantangannya
"Aku hanya meminta satu, tapi kenapa kalian yang datang tiga?" Tanya Fariq tidak terima
"Bukankah kau tadi menantang kami?. Ini kami sudah datang!"
"Lagipula kami bukan hanya menantang mu, tapi menantang seluruh anak buah mu dari kelompok yang kau bawa!" Jawab Alvaro, anak buah komandan Eric cukup berani
"Kalian dengar itu!. Orang ini ingin menantang kelompok kita!"
"Tunggu apa lagi!. Ayo maju!, dan beri pelajaran padanya!" Ucap Fariq memberi semangat
Sebentar saja tempat dimana Fariq berdiri, sudah penuh sesak dengan kehadiran anak buahnya
Pandangan mereka sangat menusuk, dan penuh dengan hawa membunuh
Tapi Alvaro, Alberto dan Alvian, Tiga sekawan yang berjuluk angin, kilat dan petir, tidak mempan untuk diintimidasi. Mereka malah tersenyum sinis, dan menilai tatapan mereka seperti tatapan anak bayi
Dengan entengnya salah seorang dari mereka berkata." Jumlah yang sebanyak ini, tidak akan mempengaruhi langkah ku untuk menghabisi kalian!"
"Kalau kalian tidak percaya majulah!" Ujarnya
Serentak mereka bergerak, dan mengepung Angin dan dua temannya untuk dihabisi
Tapi tidak disangka, bukan angin yang tumbang, tapi yang menyerangnya malah bergelimpangan di tanah
Gerakan angin sangat cepat sekali, dan tidak bisa diantisipasi serangannya
Begitu juga dengan gerakan kilat dan petir. Mereka menyerang tanpa kenal ampun. Tiap serangannya tidak ada satupun yang meleset
Bugh! Bugh!
Plak! Des!
Bunyi pukulan, tendangan dan tamparan jelas terdengar, dan tubuh tubuh tak berdaya bertumbangan di tanah
Hanya dalam waktu dua menit, seluruh anak buah Fariq terkapar di tanah, dan hanya dia sendiri yang masih berdiri
Mulutnya melongo lebar, dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan
Dia kira dengan jumlah sebanyak itu, akan mampu mendesak serta mengalahkan tiga serangkai itu. Tapi ternyata perkiraannya salah, dan itu sangat mempengaruhi mentalnya
Bruk!
Tiba tiba saja dia menjatuhkan lututnya ke tanah, kemudian berucap seraya berkata. "Kami menyerah!"
"Tolong jangan bunuh kami!. Kasihanilah anak buah ku itu!. Jangan bunuh mereka!"
"Akulah yang bersalah. Hukum lah aku!. Tapi tolong lepaskan anak buah ku itu!" Ucap Fariq merasa bersalah
"Apakah masih ada yang ingin melawan?"
"Mumpung mereka masih di situ, silakan maju!, dan kalahkan anak buah ku itu!" Ucap Abhicandra memecahkan kesunyian
"Kami menyerah pak tua!" Ucap beberapa orang ketua dari masing masing kelompoknya. Kemudian menjatuhkan diri dan membuang seluruh senjata mereka ke tanah
Bruk!
Bruk!
Tindakan mereka yang begitu, diikuti oleh seluruh anak buahnya. Termasuk oleh anak buah ketua kelompok lima, walau badan mereka sakit sakit, dan sulit untuk berdiri
Sontak keadaan menjadi hening. Tidak ada satupun yang berani berbicara. Semuanya tertunduk diam, dengan hati harap harap cemas
"Bagus!. Kalau dari tadi kalian menyadari situasi, tidak mungkin terjadi hal seperti ini!"
"Sekarang bangunlah!, dan ikut dengan kami, untuk menghadap tuan muda!" Ucap Abhicandra dengan suara lantang
***
Tak lama kemudian. Orang orang yang berniat ingin menumbangkan kekuatan di lokasi itu, sudah berada di hadapan Dragon
__ADS_1
Semua tawanan itu tertunduk diam, dan tidak ada yang berani bertatap mata dengan Dragon
Tapi tak lama kemudian Dragon membuka suara." Dengarkan kalian semua!"
"Pada awalnya aku tidak mau berbuat seperti ini. Tapi keadaan yang memaksaku berbuat demikian!"
"Ini semua terjadi, karena ada sekelompok orang yang ingin menghancurkan perusahaan milik Birawa Group di pulau ini!"
"Disinyalir kelompok kalianlah yang telah melakukannya!"
"Oleh karena itu aku terpaksa melawan, untuk mencegah kehancuran itu terjadi!. Dan sekarang inilah hasilnya!"
"Ditempat ini sudah ada empat kelompok, dari sepuluh kelompok yang ketua kalian miliki."
"Semuanya tersebar di berbagai wilayah, tempat dan kota yang ada di pulau ini."
"Dengan bergabungnya kalian, maka ditempat ini lengkap menjadi tujuh kelompok."
"Tinggal membereskan tiga kelompok lagi, barulah keamanan perusahaan ku akan terjamin."
"Ketahuilah!. Setelah kalian berada disini, jangan harap bisa keluar!. Karena aku sudah menanamkan aura spritual berupa kutukan darah di tubuh masing masing!"
"Jika ada yang berani melawan, maka bersiaplah untuk mati!" Ucap Dragon saat memberikan arahan pada tawanan baru itu
"Sekarang pergilah!, dan bergabung dengan kelompok yang sudah ada di sana!" Ucap Dragon lagi
***
Keesokan harinya. Sekitar pukul delapan pagi
Dragon benar benar melaksanakan niatnya, untuk memperluas lokasi itu menjadi tanah lapang, agar mudah dibuat menjadi pemukiman
Lebih dari 100 orang berdiri sejajar, dengan Dragon berada ditengah tengahnya
Tak lama kemudian orang orang tersebut mengeluarkan ilmu andalannya, untuk membuat kayu kayu lapuk serta pohon pohon yang ada ditempat itu menghilang
Dragon mengerahkan ilmu Wahyu taqwa dan pukulan baji tingkat tingginya, untuk membereskan penghalang yang ada didepannya
Serentak ditempat mereka berbaris sejajar itu, terbentuk aura yang sangat kuat
Masing masing melingkupi tubuh mereka.Tapi aura milik Dragon, jauh lebih kuat dan besar dari aura yang dikeluarkan oleh anak buahnya
"Sekarang!. Lepaskan!"
Slash!
Boouuummm!
Ledakan dahsyat segera terjadi ditempat itu. Meluluh lantakkan apapun yang terkena ledakannya
Asap dan debu beterbangan di udara, dan tak lama kemudian hilang ditiup angin
Setelah ledakan mereda, dan debu pun menghilang, terlihatlah hamparan tanah lapang, yang sejauh mata memandang tidak ada pepohonan kecil yang masih berdiri
Kebetulan lokasi itu adalah bekas penebangan liar, hingga pohon pohon besar tidak banyak lagi yang berdiri. Hanya tinggal pohon pohon kecil dan semak perdu, yang menghalangi pemandangan
Tapi kini tempat itu sudah menjadi bersih, dan tinggal merapikannya saja
Orang orang yang melihat kejadian langka itu, semuanya melongo diam. Mereka tidak pernah menduga akan ada kejadian seperti itu di jaman modern ini
Pantas saja kelompok mereka bisa dikalahkan. Ternyata isinya terdiri dari orang orang sakti
Beruntung mereka masih bisa hidup, karena keputusan untuk menyerah adalah keputusan tepat
***
Satu minggu kemudian,
Tempat itu sudah mulai dibangun untuk tempat perkampungan semi modern. Tapi lahan yang strategis dikhususkan untuk dibangun pusat pertokoan
Dragon tidak main main dengan rencana itu. Dibantu oleh James, Shio Lung dan Erisha. Serta seluruh anak buahnya, membuat pekerjaan itu menjadi mudah
Hal pertama yang mereka bangun, adalah dermaga permanen di tepi sungai, agar lalu lintas barang menjadi mudah
Pekerja yang mereka ambil, adalah orang orang tawanan itu.Tapi mereka digaji sesuai dengan standar yang berlaku
Kebutuhan serta kesehatan mereka, adalah prioritas utama,agar pekerjaan proyek itu berjalan lancar
Satu minggu itu, sudah banyak yang mereka buat. Seluruh tepian sungai sudah dirapikan, dan mulai dipasangi beton untuk menahan timbunan tanah
Sepertiga wilayah itu, akan ditimbun dengan tanah hasil galian beberapa buah bukit yang ada di tempat tersebut dan itu sedang mereka kerjakan
Kini kesibukan terjadi dilahan milik Dragon. Tidak ada yang bermalas malasan, termasuk para ketuanya
Kepada mereka di beri tanggung jawab besar, yaitu menjadi pengawas lapangan, untuk mengawasi anak buahnya masing masing
Berkat pengawasan dan kesadaran yang tinggi. Semua pekerjaan itu menjadi mudah
Kini sepuluh hari telah berlalu. Tempat itu sudah menjadi lahan yang bagus untuk dibuat apapun. Cuma masalahnya adalah penerangan
Sementara ini mereka masih mengandalkan generator listrik, untuk menerangi lokasi itu dan itu dinilai Boros
Oleh karena itu, Dragon berencana ingin membuat bendungan di hulu sungai yang tidak ada penduduknya, dan dirubah menjadi listrik tegangan tinggi, agar kebutuhan listrik ditempat itu terpenuhi
Namun jika tidak bisa karena terbentur masalah perizinan, maka dia berencana akan memanfaatkan tenaga surya sebagai sumber listrik nya
Rencana ketiga jika tidak mencukupi juga, maka terpaksa harus mendirikan pembangkit listrik tenaga diesel, yang akan dibiayai oleh perusahaannya sendiri
Dragon terpaksa berbuat seperti itu, karena jaringan listrik negara tidak bisa menjangkau wilayah tersebut, disebabkan letaknya sangat jauh sekali
Tapi bila dibuat akses jalan penghubung, mungkin jaringan listrik, bisa masuk ke wilayah itu. Dan masih banyak lagi yang akan dilakukan oleh Dragon, untuk membuat tempat tersebut layak disebut sebagai tempat tinggal
Pada suatu masanya nanti, akan diubah menjadi sebuah kota besar
__ADS_1