Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Kembali Rungsing


__ADS_3

"Perdana menteri!. Apa saja kerja anak buahmu?"


"Kenapa sampai saat ini orang orang yang mencoba mencelakai menantu ku belum mereka proses?"


"Apakah kau tau kalau masalah itu telah membuat putri ku khawatir?" Tanya raja pada perdana menterinya tidak senang.


"Maafkan kami yang mulia!. Sebenarnya masalah itu sudah lama selesai, karena menantu anda sudah mengatasinya sendiri tanpa perlu bantuan kami."


"Justru malah kami yang merasa terbantu, karena orang licin bagai belut itu akhirnya tertangkap secara tidak sengaja."


"Itu semua berkat menantu yang mulia!" Jawab perdana menteri menjelaskan apa adanya.


"Benarkah begitu?. Berarti menantuku sudah tidak apa-apa?" Reaksi Raja senang.


"Benar yang mulia!. Berkat kepiawaian tuan dewa, semua musuh-musuhnya itu sudah dibuat takluk, bahkan sekarang sudah menjadi pengikutnya."


"Orang terkaya nomor satu negara ini saja sudah ditaklukan, apalagi dengan orang terkaya lainnya?"


"Kebetulan saat itu mereka sedang berkumpul di sebuah gedung pelelangan, dan tuan dewa saat itu sedang berada di sana."


"Secara tidak terduga, dia menemukan tiga buah giok yang sangat langka, yang harganya bisa mencapai miliaran bath."


"Gara-gara itu para kepala keluarga besar merasa tidak senang, kecuali Bonsri Anaka."


"Mereka beramai-ramai memusuhi tuan dewa. Tapi dengan mudahnya mereka dikalahkan."


"Bahkan pada akhirnya semuanya mengaku takluk,


dan bersedia menjadi anak buahnya."


"Berarti tuan dewa itu hebat yang mulia?" Jawab perdana menteri menjelaskan.


"Baguslah kalau begitu, aku senang mendengarnya." Reaksi raja semakin bersemangat.


"Lalu apakah menantu juga besan ku sudah pulang?"


"Kenapa beritanya tidak sampai ke istana?" Ucap raja bertanya karena penasaran.


"Mohon ampun yang mulia!. Tuan dewa dan keluarganya meminta izin untuk masuk!"


"Mereka sekarang sedang berada di ruang tunggu!" Ucap seorang pengawal Raja memberi laporan.


"Cepat suruh mereka masuk!. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama!" Reaksi Raja senang.


"Ayah!. Apakah calon suami ku sudah datang?" Tanya Achara meminta penjelasan.


"Iya anakku!. Dia sekarang ada di ruang tunggu, dan sedang menuju kemari." Jawab raja berterus terang


"Ah!. Apakah aku kelihatan cantik ibu?. Aku malu bertemu dengannya." Respon Achara malu malu.


"Kau cantik anakku!. bahkan lebih cantik dari ibu!"


"Di seluruh negara ini, mungkin kau lah yang paling cantik?" Jawab ibunya membanggakan anaknya.


"Salam yang mulia!." Ucap Dragon dan keluarganya serempak.


"Ah menantu juga besan ku!. Jangan sungkan sungkan begitu!. Mari silakan duduk!" Reaksi raja tidak enak hati. dan langsung turun dari tahtanya, guna menyambut kedatangan calon menantunya tersebut.

__ADS_1


"Tidak perlu merendah begitu yang mulia!. Anda cukup duduk di singgasana. Biarkan kami duduk di sini saja." Ucap Dion membuka kata.


"Tidak masalah!. Tamu penting seperti kalian, memang sudah sepantasnya mendapat penghormatan dari kami."


"Justru kalau kami tidak menyambut anda, berarti kami pemimpin yang tidak menghormati tamunya." Jawab raja cukup bijaksana.


"Ah yang mulia bisa saja!" Reaksi Dion sejujurnya senang. Kemudian menempati kursi yang memang sudah disiapkan untuk mereka.


Satu setengah jam kemudian, pembicaraan antar dua keluarga sudah selesai dilakukan. Mereka membicarakan tentang kerjasama bisnis, yang dilandasi oleh rasa kepercayaan tinggi.


Perdana menteri yang saat itu didampingi oleh beberapa menteri menterinya, memerintahkan pada mereka, supaya membuatkan satu aturan buat perusahaan Birawa Group, agar bisa mengembangkan usahanya tanpa terhalang oleh aturan kuno.


Dragon dan Anong Achara juga sudah membicarakan kesepakatan bersama, bahwa mereka tidak mau cepat cepat menikah kalau belum menemukan titik temu antar dua perasaan.


Namun pembicara mereka, lebih banyak mengenai hal hal mesra ketimbang serius, karena itu memang sudah dunia mereka.


Setelah merasa cukup. Dion mengutarakan maksudnya untuk kembali ke Indonesia, dan akan datang kembali ke negara tersebut bila waktunya sudah tiba.


Dengan berat hati dan terpaksa, Rongkut Kittirong, raja negara tersebut, mengizinkan menantu serta keluarganya untuk kembali pulang ke Indonesia.


***


Satu jam kemudian.Dragon dan keluarganya sudah berada di villa emas, dan sedang menikmati hidangan yang disiapkan oleh pelayan istana, karena waktu sudah menjelang malam. Jadi mereka harus makan juga.


"Setelah ini apa yang akan kau lakukan anakku?. Apakah akan meluaskan usaha mu ke tempat lain?" Tanya Dion di sela makannya itu.


"Untuk sementara Draco akan fokus pada usaha yang sudah ada, dan belum memikirkan untuk membangun perusahaan lain."


"Kampung Rawa Buaya, yang pembangunannya sudah selesai, juga membutuhkan perhatian Draco."


"Kalau belum apa-apa sudah berencana untuk mendirikan perusahaan baru, maka tempat tersebut akan terbengkalai, Sedangkan Draco tidak mau itu terjadi."


"Namun walau demikian, Draco sudah mempunyai rencana, ingin mengembangkan usaha di Indonesia bagian timur. Karena bahan baku pertambangan cukup tersedia di sana."


"Tapi itu belum bisa Draco laksanakan, karena masih fokus pada dua tempat yang sedang Draco bangun. Mungkin ayah juga begitu?" Jawab Dragon apa adanya.


"Baguslah kalau begitu. Ayah senang mendengarnya." Respon Dion gembira.


"Dari tadi kalian asik membicarakan bisnis, bisnis ke bisnis!. Apakah uang kita belum cukup banyak?. Kenapa kalian berdua suka benar membicarakan bisnis di saat lagi makan?" Ucap Dyah kurang senang.


"Oh ayah minta maaf!. Kebetulan sedang makan ini ayah baru teringat. Waktu berada di Thailand tidak ingat sama sekali. jadi saat berkumpul ini baru ayah tanyakan, apakah kau kurang senang?" Respon Dion tidak enak hati.


"Ya jelas tidak senang! karena dari tadi kalian mengacuhkan ku!"


"Kalau kehadiran Dyah tidak berarti bagi kalian, maka Dyah memutuskan untuk masuk ke ruang jiwa kakak saja!" Jawab Dyah lemah tanda kecewa.


"Janganlah begitu adikku!. Kakak dan ayah serta ibu minta maaf. Lain kali tidak akan diulangi lagi, ya?" Reaksi Dragon membujuk adiknya.


"Nggak!. Dyah tidak mau tau!. Dyah tetap akan masuk ke dunia kakak, dan akan tinggal selamanya di sana!" Jawab Dyah benar benar marah.


"Ya sudah!. Kalau begitu kita pergi bersama sama ke sana, karena kakak juga ingin memulihkan tenaga kakak yang sebagian besar sudah hilang."


"Setelah makan ini kita pergi ke sana ya?" Pujuk Dragon lagi


"Janji ya kak. Jangan bohong!" Reaksi Dyah mulai senang.


"Apa yang tidak untuk adik ku yang cantik ini. Semuanya akan kakak turuti!" Jawab Dragon berniat ingin membuat adiknya senang.

__ADS_1


"Hore !. Kita akan masuk ke dunia jiwa menyusul tubuh asli kakek buyut!"


"Selain itu Dyah juga sudah kangen pada guru guru kakak itu. Sudah lama kiranya tidak bertemu mereka! "Reaksi Dyah spontan.


"Mau apa jika kau sudah ketemu dengan guru-guru kakak itu?. Apakah kau akan mengusilinya lagi?" Tanya Dragon penuh selidik.


"Ah kakak ini!. Di dunia kakak itu asyik, bisa terbang seperti burung!"


"Sedangkan di dunia ini mana bisa?" Jawab Dyah berterus terang.


"Bukankah ingin ketemu dengan guru kakak itu, karena kau ingin mengusilinya, dan menarik jenggot Eyang Prabu agar mau menuruti keinginan mu?" Tanya Dragon langsung pada intinya.


"Hehehehe!. Kakak tau saja!: Reaksi Dyah malu malu


"Gawat!. Bocah ceriwis itu mau datang lagi."


"Lebih baik aku sembunyi, daripada harus menjadi korbannya?" Ucap Ditya Prabu yang sempat menangkap pembicaraan mereka.


Lalu berkemas-kemas untuk pergi dari dunia jiwa, menuju ke istana langit


"Guru mau ke mana?. Kenapa tergesa-gesa?" Tanya Brawijaya merasa penasaran.


"Guru mau ke istana langit, untuk memberi pelajaran pada murid durhaka itu!" Jawab Ditya Prabu mengarang cerita.


"Aneh!. Bukankah istana langit itu sudah tidak mengijinkan guru untuk datang? Tapi kenapa guru mau pergi ke sana?" Reaksi Brawijaya keheranan.


"Biarlah!. Walaupun mereka sudah tidak mengizinkan guru untuk datang, tapi mereka bisa berbuat apa jika guru tiba-tiba ada di sana?" Jawab Ditya tenang.


"Benar juga kata guru! Kenapa aku tidak terpikirkan sebelumnya?" Reaksi Brawijaya malu sendiri.


"Jadi bagaimana?. Apakah kau sudah paham? atau ingin mengikut! niat guru itu?" Tanya Ditya Prabu ingin ketegasan.


"Iya!. Braja ingin ikut, karena Braja ingin melihat Bagaimana kondisi tempat itu sekarang?" Jawab Brawijaya cepat.


"Eyang!" Teriak seseorang mengejutkan keduanya


"Mati aku!. Kenapa datang diwaktu yang tidak tepat?" Ucap Ditya Prabu terlepas kata.


"Oh jadi ini penyebab guru ingin pergi ke istana langit itu?. Ternyata karena bocah itu ya guru?" Respon Brawijaya atau Braja penasaran.


"Hus! Jangan kuat kuat!. Cepat kita pergi, mumpung dia belum melihat kita!" Sergah Ditya Prabu pada muridnya.


"Kena kalian!. Ayo, mau pergi kemana?. Mau melarikan diri ya?" Ucap Dyah tiba tiba.


"A itu, anu!. Eyang mau ke belakang mau pipis!" Jawab Ditya Prabu asal mengarang saja.


"Eyang mana bisa pipis, Eyang kan cuma bayangan?" Reaksi Dyah mengejutkan.


"Mati aku!. Duh Gusti!. Apa dosa ku pada mu?. Kenapa kau kirim bocah ini kembali pada ku?" Rintih Eyang Prabu nelangsa.


"Ayo eyang, bawa Dyah terbang!. Dyah sudah lama tidak melakukannya!. Dyah kangen!" Ucap dia mengejutkan.


"Ajak saja eyang yang satunya lagi. Eyang mau tidur!" Jawab Ditya Prabu tidak mau.


"Pokoknya eyang!. Dyah tidak mau dengan yang lain!" Jawab Dyah berang.


"Hehehehe!. Selamat menikmati guru!. Kami pergi dulu!" Reaksi Brawijaya penuh ejekan. Kemudian pergi dari tempat itu dan menuju ke tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2