Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Putri Kipas Kumala


__ADS_3

Tujuh hari kemudian, atau tujum jam di dunia nyata. Prameswari, atau nama lengkapnya Dyah Isma Prameswari, sudah mengelilingi seperempat bagian tempat itu, dan sudah mendapatkan apa yang dia inginkan


Termasuk mendapatkan senjata yang cocok untuk dirinya, sebagai seorang anak perempuan


Senjata itu adalah kipas Kumala, yang terbuat dari bambu sakti pilihan. Tapi bisa berubah bentuk sesuai keinginan tuannya


Jika tuannya menginginkan. Benda itu bisa berubah menjadi kipas besi, emas, perak dan tembaga, maka detik itu juga dia berubah menjadi itu


Kalau dirubah menjadi bentuk lain pun juga bisa, seperti berubah menjadi pedang, belati, tombak dan lain sebagainya. Termasuk berubah menjadi chakra, atau panah bergerigi, mirip seperti shuriken, dan jumlahnya bisa digandakan, sesuai dengan keinginan pemiliknya


Bisa satu, sepuluh, seratus. bahkan seribu juga bisa. Malah sesuai dengan perkembangan usianya, jumlah chakra yang bisa dikeluarkan lebih dari seribu, tergantung kesaktian dari pemiliknya


Dengan kipas itulah suatu saat nanti. Dyah Isma Prameswari dikenal dengan sebutan, Putri Kipas Kumala, yang sepak terjangnya sangat membuat orang merasa takut, segan dan nurut


"Kakak!. Dyah ambil kipas ini saja. karena benda ini seperti menarik tangan ku untuk mengambilnya."


"Boleh tidak kak?" Ucap dan tanya Prameswari pada kakaknya


"Kalau adik tertarik ya ambil saja!"


"Lagipula kau cocok dengan senjata itu!"


"Kalau ambil pedang atau yang lainnya ya repot!"


"Tubuhmu masih kecil. Jadi sangat cocok dengan kipas itu."


"Cantik dan ringan!" Jawab Dragon seperti sedang meledak adiknya


"Kakaaak!.Jangan meledek adik!"


"Lihat iniii!"


Bamm!


Tubuh Dyah yang masih kecil itu, tiba-tiba berubah menjadi besar. Dengan aura yang sangat mengintimidasi sekali. Sampai membuat Dragon terheran heran


Penampilannya yang seperti itu, sesuai dengan julukannya, sebagai seorang penyandang gelar Dewi Kipas Kumala


Sontak saja semua senjata perubahan dari kipas itu, mengelilingi tubuh Prameswari. Bergerak seperti ingin dikomando


Ada pedang, belati, dan tombak terbang, yang mengitari tubuh perubahan Prameswari. Jumlahnya sangat banyak sekali


Yang lebih mengejutkan, ribuan panah berbentuk chakra, berputar putar di angkasa dunia tu, dan siap menghancurkan apa saja yang diinginkan


Pandangan matanya tajam, seperti ingin menelan apa saja, yang telah membuat dia marah. Termasuk kakaknya sendiri


Melihat itu Dragon jadi tercekat diam. dan seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi


Dia menyesal, karena telah berani mengusik ketenangan adiknya. Dan bergegas menanyakan itu pada gurunya


"Eyang!. Kenapa bisa begini?"


"Apa yang terjadi?" Tanya Dragon pada gurunya itu


"Apakah kau sudah lupa cucuku?, Bahwa dulunya kau juga pernah berbuat seperti itu, hingga membuat orang lain jugbertanya-tanya tentang mu!"


"Adikmu sekarang sedang bertransformasi, menjadi sosok Dewi yang menitis ke tubuhnya."


"Sosok itulah yang disebut dengan sebutan Dewi kipas Kumala."


"Saat bertransformasi itulah, kekuatannya sudah tidak terbendung lagi. Dan apapun yang terkena kibasan kipas tersebut, akan hancur menjadi debu."


"Musuh sekuat apapun, jika dia nekat melawan, akan terkena dampaknya!" Respon Ditya Prabu menjelaskan apa adanya


"Sekuat itukah dia guru?" Tanya Dragon ingin tahu


"Lebih kuat dari yang kau bayangkan!"


"Bahkan bisa melampaui kekuatanmu, jika kau tidak menggunakan Wahyu Taqwa, Dan teknik puncak dari kitab Kalamurka!"


"Oleh karena itu jangan sampai membuatnya marah."


"Karena jika dia sudah marah, maka kekuatan Pringgandani akan muncul, serta mampu memporak-porandakan apapun yang ada di depannya!"


"Hanya ilmu yang berasal dari Wahyu Taqwa yang bisa meredam kemarahannya, serta menghilangkan kekuatannya."


"Oleh karena itu. Lindungilah adikmu, dan jaga jangan sampai dia marah!" Jawab Ditya Prabu apa adanya


"Baik guru!" Jawab Dragon patuh. Kemudian mengangkat tangannya, agar Prameswari mengakhiri aksinya tersebut


"Cukup adikku!. Kakak minta maaf!"


"Kau memang kuat. Dan tubuhmu bisa bertransformasi, seperti yang pernah kakak lakukan dulu!"


"Jika kau terus dalam kondisi seperti itu. Istana yang ada didepan itu akan hancur, dan semua isinya akan hilang!"


"Apakah kau tidak sayang, jika istana yang bagus itu akan hancur?" Ucap Dragon mencoba menenangkan adiknya itu.


Sedetik kemudian..


Blup!


Tubuh perubahan Prameswari yang besar itu. kini telah kembali ke bentuk semula. Itu berkat ucapan Dragon, yang cukup mengena di hati Prameswari, hingga dia mengakhiri aksinya, serta berubah menjadi kecil lagi, yang cantik serta manja


"Kakak!. Apa yang terjadi?. Kenapa tubuhku tiba-tiba menjadi lemah?" Ucap Dyah Prameswari merasa penasaran


"Itu biasa. Kakak dulunya juga begitu. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa." Jawab Dragon cukup bijaksana

__ADS_1


Padahal sesungguhnya tidak begitu. Dragon juga heran, kenapa itu bisa terjadi pada Prameswari


Kalau dulunya dia berbuat seperti itu, tapi tidak pernah merasakan hal demikian. Oleh karena itu, dia ingin mendapat penjelasan dari guru-gurunya tersebut


"Eyang guru?" Ujarnya seakan bertanya


"Tenanglah!. Adikmu belum bisa menyesuaikan dengan tubuh barunya tersebut."


"Tapi setelah dilatih beberapa kali, maka dia akan terbiasa."


"Eyang juga gurumu ini, akan membantu Prameswari, agar tidak mengalami hal seperti itu lagi!" Jawab Ditya Prabu menenangkan


Kemudian memasukkan aura spiritualnya ke tubuh parameswari, melalui kening yang ada tanda birunya tersebut


Prabu Brawijaya juga demikian. Dia memasukkan unsur kebijaksanaan, kewaskitaan, juga formasi penenang melalui tanda biru itu. Dan akibatnya, dua kekuatan spiritual, langsung menyatu, serta membuat Prameswari menjadi tenang. Karena pada dasarnya, yang berbuat seperti itu adalah jiwa atau sukma dari Pringgandani juga jiwa jiwa lain, yang masuk karena tertarik dengan perubahan spektakuler tubuh Prameswari


Jadi saat aura spiritual tersebut memasuki tubuh Prameswari. Pringgandani jadi tahu, bahwa itu merupakan perintah dari gurunya, yang menandakan, agar bisa mengontrol emosi, serta kekuatan yang akan dikeluarkan, agar tidak merusak jaringan tubuhnya, sampai pada masa yang diizinkan


"Kakak. guru dan eyang guru!"


"Tubuh Dyah sudah tidak lemah serta sakit lagi. Bahkan merasa sangat segar sekali!"


"Malah Dyah bisa merasakan, bahwa ada dua jiwa kuat yang sedang menempati tubuh Dyah ini!"


"Apakah mereka itu hantu eyang?" Tanya Dyah terdengar lucu


"Hush!. Ngaco kamu!"


"Jiwa jiwa itu bukan hantu, tapi pendamping mu, yang akan terus ada di dalam tubuh mu sampai kau mati. Dan akan menurun pada keturunan mu!"


"Jadi jangan kau risaukan!"


"Dengan keberadaan jiwa-jiwa itu, malah kau akan merasa tidak kesepian. Karena jiwa-jiwa itu, bisa kau panggil, serta menemanimu saat kau ingin bicara!"


"Namun tidak boleh dilakukan di sebarang tempat. karena orang-orang akan merasa, bahwa kau sedang berbicara sendiri!"


"Nanti dikira orang gila dong!" Ucap Ditya Prabu, menggunakan istilah kekinian. yang dimaksudkan untuk bercanda dengan cucunya itu


"Maksudnya eyang?. Jiwa jiwa tersebut walaupun nanti muncul di depan Dyah, itu tidak nyata ya?"


"Apakah mereka itu tidak berwujud, atau tidak bisa dilihat oleh orang lain?" Respon Dyah merasa penasaran


"Iya!. Kau benar!"


"Mereka hanya bisa dilihat olehmu, oleh kakakmu, eyang juga guru kakak mu ini!"


"Selain itu, mereka tidak bisa terlihat. walaupun oleh ayah juga ibumu itu. sampai kau memperbolehkan, untuk mereka bisa melihatnya." Jawab Ditya Prabu berterus terang


"Ternyata begitu!. Lalu apa yang harus Dyah lakukan lagi eyang, kakak dan guru?"


"Apakah Dyah harus berlatih disini?" Ujarnya


"Karena di dunia mu, waktu saat ini sudah hampir pagi."


"Jadi menurut eyang!, sebaiknya kau kembali dulu, dan datang lagi saat kakak mu ada waktu senggang." Jawab Ditya Prabu menjelaskan


"Dunia ku?. Bukankah ini dunia juga eyang. Lalu tempat apa ini kalau bukan dunia?"


"Kenapa Dyah harus kembali?"


"Kembali kemana?" Respon Dyah kebingungan


"Aduh, katiwasan!. Kenapa aku keceplosan begini?"


"Dasar orang tua pikun!" Batin Ditya Prabu menyalahkan diri sendiri.


"Eyang!. Menurutku, lebih baik kita jelaskan saja tentang keberadaan dunia ku ini, agar Dyah tidak merasa penasaran."


"Lagipula untuk apa kita terus membohonginya, kalau eyang sudah berkata begitu."


"Dyah ini cerdas, dan serba ingin tahu."


"Kita berbohong sekalipun!, pada akhirnya dia akan tahu, bahwa ini bukan dunia biasa."


"Jadi menurut ku. Eyang ceritakan saja, dari awal sampai akhir tentang dunia ini."


"Karena eyang yang sudah membukanya sendiri!" Respon Dragon merasa senang


Kemudian pergi dari tempat itu, dan mengajak gurunya untuk ikut serta


"Mau ke mana kalian?. Kenapa kalian meninggalkan ku?"


"Kalian harus bertanggung jawab, karena gara-gara kalian, eyang jadi keceplosan begini!" Respon Ditya Prabu tidak terima


"Eits enak saja!. Itu salah eyang sendiri. Jadi eyang lah yang harus bertanggung jawab!. Bukan kami! "Jawab Dragon terkesan menggoda gurunya


"Kalau begitu kami pergi dulu eyang!. Selamat bersenang senang " Ucapnya lagi


Lalu ngeloyor pergi, memasuki istananya bersama dengan gurunya yang satunya lagi


"Huh!. Dasar mau enak sendiri!" Keluh Ditya Prabu kesal


Tapi tak lama kemudian. Dia melakukan tugasnya, untuk menceritakan tentang keberadaan tempat yang mereka diami itu pada Prameswari. Bahkan dari awal sampai akhir. Dan sedikitpun tidak ada yang tertinggal, dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak kecil sepertinya


Setelah selesai menjalankan tugasnya, Ditya Prabu jadi lega. Tapi tidak disangka, tanggapan Prameswari malah lain


Dia asyik mengerutkan keningnya, dan seperti tidak mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Ditya Prabu barusan

__ADS_1


Lalu dengan entengnya dia berkata."Apakah eyang bercanda?"


"Mana ada dunia didalam jiwa?. Yang ada hanya keinginan juga khayalan."


"Kecuali kalau film animasi. Disitu ada dunia fantasi. Dan itu hanya khayalan saja eyang!"


"Ada ada saja eyang ini!" Respon Prameswari tidak percaya


"Mati aku!"


"Percuma panjang lebar aku bercerita. Eh malah diledek begitu!"


"Dari pada menghadapi perempuan ceriwis seperti ini, lebih baik menghadapi musuh yang kuat!"


"Senang mengambil tindakan sedangkan ini..?"


"Huh menyebalkan sekali!" Batin Ditya Prabu dalam hati


Kemudian mengirimkan transmisi suara pada Pringgandani


"Dewi!. Apakah kau yang mengajari bocah ini untuk menjawab pertanyaanku?" Ucapnya kesal


"Murid tidak berani guru!. Perkataan itu asli berasal dari dirinya!" Jawab Pringgadani apa adanya


"Lalu siapa yang mengajari bocah ini. Apakah itu kau Wari?" Tanya Ditya Prabu pula


"Hamba tidak berani Gusti Prabu!" Jawab ratu Prameswari jujur juga


"Cucu ku!. Apa yang harus eyang lakukan, agar kau percaya, bahwa eyang tidak sedang bercanda?" Ucap Ditya Prabu mendapatkan ide


"Bawa Dyah pulang. Kalau memang ada dunia lain, dan langsung menuju kamar Dyah, jika eyang memang sedang tidak bercanda!" Jawab Dyah tegas


"Baik. Akan eyang lakukan!" Responnya kembali senang


Lalu tanpa aba aba lagi, langsung mengabulkan keinginan dari cucu keturunannya itu


"Tunggu dulu eyang!. Dyah belum pamit pada kak Draco!"


"Nanti dia mencari cari Dyah pula!" Ucapnya tak enak hati


"Tidak perlu!. Sudah tidak ada waktu lagi!" Jawab Ditya Prabu tak mau tahu


Kemudian menyentuh tubuh Prameswari, dan langsung menghilang dari tempat itu


Sedetik kemudian. Mereka berdua sudah berada di kamar Prameswari, yang belum berubah sama sekali


"Bukankah ini kamar mu?. Berarti eyang tidak berbohong kan? Ujarnya bertanya, dan terkesan terburu-buru


"Ya benar!. Berarti eyang tidak berbohong!"


"Jadi kak Draco memang mempunyai dunia itu ya eyang?"


"Berarti Dyah juga bisa kan?" Responnya menggelikan


"Belum waktunya untukmu memiliki dunia itu."


"Untuk sementara kau pinjam saja dengan saudaramu itu!"


"Kapanpun kau ingin pergi. Kau bisa menghubungi kakakmu."


"Jika dia tidak ada waktu. beritahu eyang!" Jawabnya terkesan menasehati


"Siap laksanakan komandan!" Respon Prameswari terlihat lucu. Sambil meletakkan telapak tangannya di kening, seperti orang yang sedang memberikan penghormatan


"Huh!. Dasar anak Dion!. Awas kau ya!" Batin Prabu sedikit kesal


Kemudian mendatangi kamar Dion, dan langsung menjewer telinganya, dengan menggunakan aura kesadarannya


"Ada apa ini?. Siapa yang menjewer telingaku?. Apakah itu kau Ivo?" Reaksi Dion sangat terkejut


"Ada apa pa?" Ucap Ivory bertanya


"Tadi sepertinya ada orang yang sudah menjewer telingaku."


"Papa pikir itu mama?" Jawab Dion apa adanya


"Tidak pa!. Ivo tidak melakukannya. Mungkin papa hanya bermimpi tadi." Jawab Ivory berterus terang


Sementara itu dikamar Prameswari. Dia belum bisa tidur juga. masih menganalisa apa yang terjadi padanya barusan


Dalam dia kebingungan seperti itu. Ditya Prabu pun datang, dan langsung berkata.


"Sambung lah tidurmu. karena eyang akan kembali ke dunia tersebut." Ujarnya


"Tunggu dulu eyang!"


"Dyah tidak mau tidur lagi!"


"Dyah mau membangunkan Ayah juga ibu, untuk memberitahu mereka, bahwa Dyah barusan pergi ke dunia jiwa, dan bertemu dengannya di sana." Ucapnya tidak mau tahu


"Eh jangan!. Belum waktunya untuk mereka tahu!"


"Cukup kau saja yang tahu, mereka jangan dulu!" Respon eyang Prabu tidak terima


"Biarlah!. Kalau Dyah mau, eyang bisa apa?" Jawabnya lugu


"Huh merepotkan!" Respon Ditya Prabu kalah argumen

__ADS_1


Kemudian menghilang dari tempat itu, dan kembali ke dunia jiwa milik Dragon


__ADS_2