Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Sulit memutuskan


__ADS_3

"Apa yang ingin kau runding kan?.Apakah mengenai penyerahan tuan mu menjadi anjing ku?" Tanya Hayate Tamura merendahkan


"Jangan kurang ajar!. Kalau kau tidak mau aku hajar!" Respon Burgon tidak senang


"Oh, kau mau menghajar ku?. cobalah kalau kau berani?" Jawab Hayate berani menantang


Wus


Bugh!


"Argh!" Teriak Hayate kesakitan, saat Burgon tiba tiba muncul di depannya, dan langsung melayangkan pukulannya ke arah dada


Padahal dia juga seorang petarung, yang sudah malang melintang di arena pertarungan, juga seorang pelatih senior yang sangat disegani serta ditakuti oleh murid-muridnya. Tapi ditangan Burgon masih seperti anak kecil yang baru saja belajar berjalan


Anak buahnya yang melihat itu hanya bisa terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa Burgon berani melakukan hal tersebut. Padahal selama ini tidak ada yang berani memprovokasinya, apalagi memukulnya dengan telak seperti itu


Namun yang anehnya mereka tidak melihat kapan Burgon bergerak. Alih alih tuannya sudah terkapar dilantai, dengan darah segar keluar dari mulutnya


Baru setelah tuannya merintih kesakitan. mereka spontan bergerak, dan menyerang Burgon dan yang lainnya. Sedangkan Hayate tidak sempat untuk mencegahnya


Maka terjadilah pertarungan yang tidak seimbang. Tiga belas orang melawan kurang lebih seratus orang, yang terdiri dari berbagai macam keahlian. Ada ninja, karateka, pejudo bahkan kick bokser juga ada. Tapi lebih banyak ninja dan karateka nya


Gerakan mereka sangat terlatih, hingga membuat anak buah Dragon sedikit mengalami kesulitan. kecuali Taraka, Burgon dan Ling Hwa. Mereka dengan mudah menjatuhkan lawan lawannya satu persatu


Namun ada satu ninja yang sangat merepotkan. Gerakannya benar benar sulit ditebak arahnya. Kadang diatas kadang dibawah. menyerang secara signifikan dan areal yang dituju pun sangat mematikan. Beruntung anak buah Dragon sudah dibekali teknik inti pedang, jadi gerakan secepat apapun bisa dibaca arahnya


Sampai pada satu kesempatan, Ling Hwa berhasil mengakhiri aksi lawannya, dengan cara menyilang kan pedangnya di depan dada.


Musuh mengira lawan akan menangkis serangannya dengan cara seperti itu. tapi dia tertipu. Ling Hwa dengan gerakan cepat memajukan kaki kirinya kedepan, dan menebas tubuh lawan hingga terpotong menjadi dua, selesai


Tapi belum juga bernafas, datang lagi serangan lain, dimana seorang ninja yang jauh lebih kuat dari ninja pertama, menyabetkan katana tajamnya kearah leher Ling Hwa, dengan harapan menghabisinya dalam sekali serangan


Tapi Ling Hwa adalah petarung yang sudah digembleng cukup lama, yaitu semenjak berguru di perguruan terkemuka China. Ditambah lagi dengan pelatihan yang diberikan oleh senior seniornya di Birawa Group, juga oleh tuan mudanya. Menjadikan Ling Hwa menjadi sangat waspada


Serangan yang cukup cepat dan tak terduga itu, berhasil dia hindari, bahkan sempat pula memberi serangan balasan, dengan cara melayangkan tendangan terbaiknya, hingga membuat musuh mengerang kesakitan


Tak cukup sampai disitu, Ling Hwa yang sudah marah karena di bokong tadi, segera mengeluarkan teknik inti pedang tingkat tingginya hingga ke level puncak. Pedang yang ia pegang itu bertambah banyak, dan langsung bisa menguasai keadaan


Taraka, Burgon dan sepuluh anak buahnya juga berbuat demikian. Mereka juga merilis teknik inti pedang, yang membuat mereka seperti manusia pedang, karena tubuh tubuh mereka dikelilingi oleh puluhan pedang yang bersinar terang dan siap untuk diluncurkan


Melihat itu para ninja berdiri diam, begitu juga dengan pengawal pengawal lainnya. Tamura yang menyadari nyawanya sedang terancam, juga bereaksi dengan meminta pada musuhnya untuk menghentikan aksinya, karena nyalinya mendadak ciut, dan rasa takut melanda hatinya yang paling dalam


Baru kali ini dia setakut itu. Biasanya dia lah yang sering menakuti orang, dengan mengandalkan anak buahnya. Tapi kali ini nasibnya sedang sial. Orang yang dianggap lemah tadi ternyata adalah kumpulan orang kuat, dan tidak mudah untuk dikalahkan


Jadi keputusannya sudah bulat. Dia ingin berunding sambil mencari kesempatan untuk membalas dendam, dan kekalahannya bisa dibayar bila ada kesempatan


Namun tiba tiba terdengar sebuah suara cukup lantang. "Kau ingin menipu kami orang tua?. Apakah kau pikir kami tidak tau apa yang kau rencanakan?" Ucap seseorang itu yang tiba tiba masuk ke ruangan tersebut, dengan dikawal oleh seseorang juga


"Salam tuan muda!" Reaksi Taraka dan anak buahnya serempak, sambil menunduk hormat ke arah orang yang barusan datang tadi


Taraka yang melihat itu segera bereaksi, namun belum juga menyadari keadaan. dengan sombongnya Dia berkata. "Siapa kau?. Kenapa ikut campur urusanku?"


"Keluar!" Respon Tamura marah


Slash!


Bamm!

__ADS_1


"Argh!" Pekik Tamura kembali kesakitan


"Itulah jawaban ku!" Ucap Dragon tidak senang. Kemudian mengangkat tubuh Tamura dari jauh, dan dilemparkan ke arah anak buahnya hingga bertumbangan


"Sekali lagi kau berani bersikap kurang ajar, maka nyawa mu sebagai gantinya!" Ucap Dragon penuh ancaman


"A a ampun!. Tolong ampuni kami!. Kami menyerah!" Jawab Tamura terbata bata


"Berlutut!" Bentak Taraka dengan suara lantang, disertai pula dengan tenaga dalam cukup tinggi, sampai membuat tempat itu bergetar


Serentak yang mendengar itu menjatuhkan lututnya kelantai, termasuk tamura yang baru saja berdiri itu. Mereka tidak mampu menahan tekanan suara tersebut, yang disertai dengan tenaga dalam cukup tinggi


Maka jadilah sekarang kondisi ditempat itu seperti prajurit yang sedang memberikan penghormatan pada rajanya. dan raja tersebut adalah Dragon


"Aku beri kalian dua pilihan. Menyerah atau mati!" Ucap Dragon mengintimidasi


Namun belasan diantara orang taklukannya itu tetap melawan, karena mereka menganggap bahwa mereka belum kalah, dan masih bisa melawan. Di antara orang-orang itu adalah beberapa orang ninja dan tiga orang karateka, Padahal tadi mereka sudah melihat banyak teman-temannya yang sudah terkapar di lantai dan berlumuran darah


Banyak dari mereka sudah tidak bernyawa lagi, karena pukulan anak buah Dragon sangat kuat sekali. Ada yang dadanya remuk, badannya berlubang, bahkan ada yang mati karena terpotong dan masih banyak lagi


Untung Tamara segera mencegahnya dengan berkata." Hentikan!. Jangan bertindak bodoh!"


"Orang yang kita hadapi itu bukan orang sembarangan!"


"Mereka orang orang sakti yang tidak mempan senjata tajam, apalagi sekedar pukulan ringan!"


"Mereka datang karena ingin berunding denganku, tapi kita sudah salah paham."


"Oleh karena itu jangan kepikiran untuk melawan!" Teriak Tamara cukup lantang


Kemudian menghadap Dragon masih dalam posisi berlutut." Maafkan kami yang tidak tahu tingginya gunung dan dalamnya lautan."


"Jadi tolong maafkan tindakan kami, dan beri muka agar tidak dibunuh." Ucapnya penuh permohonan


"Kalau kami bukan orang kuat, maka kami akan menjadi bulan-bulanan kalian. Tapi karena kami kuat, maka seenaknya saja kalian mengatakan seperti itu!. Orang seperti apa kalian ini?" Reaksi Dragon tidak senang


"Tuan muda!. Tolong maafkan kesombonganku tadi. Aku benar-benar menyesal karena telah merendahkan tuan."


"Sekarang aku bersedia berunding dengan tuan, dan akan menyetujui apapun yang tuan katakan." Ucap Tamura mencoba membujuk Dragon dengan kata-kata manisnya


"Kau tidak mempunyai hak untuk berunding denganku, karena kau sudah melewatkan satu kesempatan yang anak buah ku berikan!"


"Sekarang kalian hanya perlu patuh padaku, dan menyatakan tunduk tanpa syarat."


"Jika kalian bersedia, maka nyawa kalian akan selamat. Tapi jika masih mencoba melawan, maka jangan salahkan aku jika anak buahku akan bertindak kejam!" Jawab Dragon cukup membuat tegang


Tamura tidak langsung menjawab pertanyaan Dragon. Dia menimbang dulu buruk baiknya. Apakah harus menerima tawaran Dragon atau tidak. Jika dia setuju, berarti bakalan menjadi bawahan, sedangkan jika menolak akan dibinasakan. Serba salah jadinya


Namun dalam masa menimbang itu, dia merasakan seperti ditekan oleh kekuatan yang sangat besar, sampai membuat badannya menjadi berat, lalu ambruk dan telungkup di lantai


Bukan hanya dia saja yang jatuh, tapi seluruh anak buahnya juga demikian. Mereka tidak kuat menahan tekanan itu, walaupun mereka bertahan dengan sekuat tenaga. tapi aura penindasan yang dikeluarkan oleh Dragon sangat luar biasa, hingga membuat mereka akhirnya menyerah


Tamura yang menjadi pemimpinnya, langsung memohon ampun, dan bersedia menjadi pengikut Dragon, asalkan mereka tidak dibunuh


Dragon yang mendengar itu menjadi senang, karena misinya telah berhasil, tanpa harus mengorbankan banyak orang. dan tak lama kemudian dia pun berkata. "Baiklah kalau begitu!. Aku terima penyerahan kalian, dengan catatan harus selalu setia dan tidak berusaha untuk melawan!"


"Jika ke depannya ketahuan, bahwa kalian mencari cara untuk mencelakai ku juga orang-orang ku, maka aku tidak akan segan-segan lagi untuk menghabisi kalian!" Ucap Dragon penuh ancaman

__ADS_1


Kemudian mengirimkan formasi kutukan dan formasi kesetiaan kearah Tamura dan orang orangnya. Jika nanti mereka berniat melawan, maka tubuh mereka sendiri yang akan menjadi korban, dan bisa juga membuat tubuh mereka meledak atau minimal cacat


Maka setelah menerima kutukan darah tersebut, Tamura dan orang orangnya langsung terdiam, dan menunduk hormat kearah Dragon


Kini resmilah Tamura menjadi bawahan Dragon, dan selamanya akan selalu setia padanya


***


Tugas kedua sudah selesai. Sekarang saatnya melihat apa yang sedang dilakukan oleh kelompok ketiga. Apakah tugas yang diberikan pada mereka berhasil diselesaikan dengan naik atau tidak?


Ternyata kelompok yang dipimpin oleh senior Abhicandra, Jenifer dan Ling Ma. berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, walau awalnya mendapatkan perlawanan yang cukup sengit, sampai membuat salah seorang pengawal terluka, karena di bokong dari belakang dengan menggunakan senjata api. Tapi akhirnya kemenangan berada di tangan mereka


Pada awal rencana disebutkan, bahwa mereka ditugaskan untuk mendatangi distrik Omate, sebuah distrik yang ditinggali oleh orang orang kaya negara itu


Saat mereka datang itulah belasan orang pengawal menghadang jalan mereka, dan tidak mengizinkan mereka masuk, karena di dalamnya sedang diadakan pertemuan antar orang-orang kaya sekota tersebut


Tapi Abhicandra tidak kehabisan akal. Dia menggunakan teknik kekacauan jiwa, yang sudah diajarkan oleh Dragon, dan ternyata usahanya itu berhasil, walau waktunya tidak bisa lama


Namun sebelum itu terjadi, ada insiden yang tidak mengenakkan, di mana langkah Abhicandra dan kelompoknya mendapatkan rintangan yang cukup sulit


Salah seorang pengawal atau mungkin komandannya berteriak lantang dengan berkata. "Berhenti!. Ini bukan tempat umum, tapi properti milik pribadi!Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk!" Ucap komandan itu dengan suara garang


"Maaf!. Kami datang dengan niat baik, bukan untuk membuat kekacauan. Tapi ingin bertemu dengan pemilik gedung ini karena ada sesuatu hal yang ingin kami bicarakan!" Jawab Abhicandra mencoba bertahan


"Tidak bisa!. Apapun alasan yang kau katakan, kami tidak akan mengizinkannya!" Respon komandan tersebut tetap pada pendiriannya


"Atau begini saja. Tolong sampaikan kepada tuan mu, dan katakan padanya, bahwa ada beberapa orang utusan dari Asia Tenggara yang ingin menemuinya." Ucap Abhicandra tetap bersikeras untuk masuk


"Kalau kami katakan tidak bisa ya tidak bisa!. Kenapa kau bandel sekali?. Apakah kau tidak tahu bahasa manusia?" Jawab Nauta ketus


"Berapa kau dibayar untuk menjaga mereka?. Apakah kalian memang karyawan tetap di gedung ini?" Tanya Jenifer merasa tersinggung


"Huh!. Apakah kau ingin menyogok ku nona?"


"Ketahuilah!. Kami tidak akan mempan dibayar walau berapapun jumlahnya, karena kepercayaan itu jauh lebih penting daripada penghianatan."


"Jadi percuma saja usahamu untuk menyogok kami!. Oleh karena itu pergilah sebelum kami mengambil tindakan!" Jawab Nauta tegas


"Bagaimana kalau dengan ini? Apakah kau masih mencegah kami untuk masuk?" Tanya Abhicandra sambil merilis teknik kekacauan jiwa, dan ditujukan pada belasan pengawal tersebut


Mendadak sikap mereka berubah, yang tadinya garang menjadi lembut, seperti orang yang baru terkena ilusi, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. di saat kebingungan seperti itulah Abhicandra bersuara." Apakah sekarang kami sudah boleh masuk?. Kalau sudah tolong pimpin jalannya!" Tanya Abhicandra mempengaruhi jalan pikiran lawannya


"Baik!. Kami akan mengantar tuan-tuan untuk menemui bos kami. Kebetulan sekarang mereka sedang mengadakan pertemuan di dalam." Jawab Nauta mencengangkan


Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam ruangan, di mana di tempat itu sedang seru-serunya terjadi perdebatan


Takeshi Jinbanwa, yang memimpin jalannya pertemuan, terlihat sedang marah-marah, karena usulannya ditentang oleh lawan bicaranya, yang sama-sama ingin mempertahankan pendapatnya


Di saat yang genting seperti itulah, Abhicandra dan rombongannya masuk, dan langsung menghentikan perdebatan


Daisuke Otamachi, yang menjadi lawan bicara Takeshi Jinbanwa jelas merasa heran, bagaimana orang asing seperti mereka bisa masuk dan langsung mengacaukan keadaan


Maka tanpa berpikir panjang lagi, dia memberi arahan pada bawahannya, untuk menangkap Abhicandra dan orang-orangnya


Tapi usahanya tidak berhasil. Abhicandra tentu saja tidak mau diperlakukan seperti itu, dan sontak melakukan perlawanan


Pertarungan pun segera pecah, di mana ada kurang lebih 65 orang petarung yang mengepung mereka. Kebetulan tempat terjadinya pertemuan menempati aula yang cukup luas, jadi pertarungan bisa mereka lakukan didalamnya

__ADS_1


"Kepung terus mereka!. Jangan biarkan seorang pun lolos!"


"Aku ingin mereka mati, karena telah berani mengganggu jalannya pertemuan!" Teriak Otamachi cukup lantang


__ADS_2