Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Mewujudkan rencana


__ADS_3

"Secara teori kenal. Tapi kalau bertemu dengannya boleh dikatakan tiap hari."


"Kami bagai pinang dibelah dua, dan akrab satu sama lain!" Jawab Dragon bersandiwara


"Wah bagus itu!. Apakah tuan muda itu ganteng seperti tuan ini?" Respon ibu Faidah kegirangan


"Lebih ganteng dari penampilan ku saat ini. Tapi kalau saya berpakaian rapih dan mahal. ganteng ku tidak akan kalah dengannya." Ucap Dragon berseloroh


Kemudian mengajak pak Darso dan melati untuk mampir di warung makan, guna makan siang bersama


Dragon tidak mau penyamarannya terbongkar, maka terpaksa mengarang cerita seperti itu, dan buru buru mengajak Darso serta anaknya pergi dari situ


Orang orang yang mengerubutinya pun ikut bubar, dengan seribu tanya di benaknya masing masing


Sejujurnya mereka belum puas dengan jawaban Dragon yang asal asalan itu. Tapi mau bagaimana lagi, orang pun masih punya kesibukan lain


Namun dalam hati mereka mengucapkan terima kasih, karena berkat Dragon. Kelompok perusuh dan pemalak itu, kini telah tunduk, dan bekerja untuk mereka.


Otomatis mereka merasa banyak terutang budi pada Dragon, dan telah menempatkan sosoknya sebagai pahlawan, baik dan kuat, serta seorang dermawan tak terlupakan


***


Satu setengah jam kemudian. Dragon pun sudah selesai dengan urusannya. Pak Darso atau yang nama aslinya Pramudya Aminata beserta putrinya itu, sekarang sudah menempati rumah kontrakan, yang biayanya di bayar oleh Dragon selama satu bulan


Dia melakukan itu karena setelah pulang nanti, bakal menemui pemilik rumah toko tersebut untuk bernegosiasi, apakah bisa dibeli atau tidak


Dari pada harus disewa, lebih baik dibeli sekalian.pikirnya


Selain untuk membeli rumahnya, Dragon juga ingin membeli lahan yang digunakan untuk pasar rakyat di kota kecil itu. Hitung hitung sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui


Dragon memang penuh dengan perhitungan. Dia tidak mau repot repot berurusan dengan masalah sepele, apalagi kalau menyangkut urusan tuntut menuntut itu


Perhitungannya, tanah yang akan dia bangun pasar itu harus jelas. Benar benar sudah menjadi miliknya. dan atas namanya pula


Jika sewaktu waktu ada ahli waris yang ingin menggugat nya, tinggal sodorkan surat tanah itu. Beres!


Dia sudah memperhitungkan semua itu sejak lama. Setiap membeli sesuatu apalagi tanah, harus jelas transaksinya. Tidak tinggal bayar, selesai


Apalagi dia merupakan pewaris kota emas. kota dimana pemilik tanah itu sedang mengembangkan usahanya di sana


Jika mengetahui bahwa Dragon atau Dion yang akan membelinya, mungkin orang tersebut akan merasa sungkan, dan harganya bisa saja diturunkan oleh pemiliknya. Sedangkan Dragon tidak mau hal itu terjadi


Jadi sebelum membelinya, Dragon harus mencari solusi, agar penyamarannya itu tidak diketahui oleh orang lain sebelum waktunya


Kini satu setengah jam berikutnya pun telah berlalu, semua urusan Dragon juga sudah selesai


Dragon berniat ingin kembali ke kota emas. untuk mengerjakan pekerjaan lain di sana


Tapi sebelum pulang itu, Dia berniat menemui sepuluh orang yang tadi dikalahkannya, untuk memberikan uang gaji di awal bulan, agar kerja mereka bertambah semangat, dan tidak perlu memikirkan lagi, untuk memalak orang lain demi menyambung hidup mereka dan keluarganya


Tentang urusan lain akan dikerjakan dihari berikutnya


Kini Dragon sudah berada di kota Emas, setelah mampir selama lima jam berada di perguruan Wahyu Taqwa


Saat ini Dragon terlihat sedang bersama dengan Dion ayahnya, tanpa kehadiran Ivory ibunya. Begitu juga dengan Dyah Isma Prameswari, apalagi kakek buyutnya. Dia juga tidak terlihat ditempat itu


"Ada apa kau ingin berbicara malam malam begini dengan ku Draco?"


"Apakah ada masalah serius?" Tanya Dion pada anak nya


"Hemm!"


"Di bilang serius sih tidak, dibilang tidak ya boleh juga dikatakan serius." Jawab Dragon mengandung teka teki


"Coba jelaskan. Ayah masih bingung dengan jawaban mu ini." Ucap Dion ingin penjelasan


"Begini ayah." Jawab Dragon mulai tidak ragu ragu lagi


Kemudian menceritakan dari awal hingga akhir, sampai pada rencananya ingin membeli rumah serta tanah di sebuah kota kecil, yang berada ditengah tengah antara kota B Dengan kota S


Dragon juga menceritakan, bahwa saat itu dia sedang melakukan penyamaran, agar orang yang ingin dibantunya tidak tahu statusnya


"Jadi kau pergi secara diam diam, tanpa mengikutsertakan pengawal mu?" Tanya Dion sedikit marah

__ADS_1


"Shut!. Pelan kan sedikit suara mu ayah!. Jangan sampai orang lain dengar." Reaksi Dragon merasa khawatir, sambil menyilang kan jari telunjuknya di diantara dua bibirnya


Kenapa?" Tanya Dion masih belum mau terima


"Kalau Draco melakukannya secara terang terangan. Orang lain sudah tidak heran lagi."


"Tapi kalau dilakukan secara sembunyi sembunyi dan dalam penyamaran. Orang lain pasti akan bertanya tanya, siapa sebenarnya anak muda berpenampilan biasa itu."


"Jadi apa yang kau inginkan?" Tanya Dion memotong penjelasan anaknya. Padahal duduk permasalahannya belum diceritakan semuanya


"Birawa Group kan milik ayah. Perlengkapannya juga milik ayah."


"Terus?.Itukan juga milik mu!"


"Draco ingin meminjam perlengkapan itu untuk membangun kota kecil tersebut menjadi kota yang sesungguhnya, lengkap dengan sarana jalan dan tempat tempat umum lainnya."


"Lagipula Draco sudah berjanji pada orang orang itu, bahwa Draco akan membeli serta membangun tempat itu menjadi sebuah pasar yang bagus."


"Waktu itu ada yang bertanya tentang jati diri dan asal Draco. Tapi Draco tidak mau mengatakannya."


"Draco cuma bilang bahwa Draco berasal dari wilayah barat atau tepatnya kota ini."


"Apa hubungannya dengan permintaan mu itu?" Tanya Dion ingin penjelasan


"Kebetulan waktu itu ada yang meragukan tekad Draco. Maka Draco bilang minta waktu satu minggu, dan Birawa Group yang akan melaksanakannya."


"Begitu dengar Birawa Group, apalagi kota kita ini, mereka sangat antusias sekali"


"Jadi mereka bertanya banyak hal tentang kota ini juga tentang pemiliknya."


"Ya Draco bilang bahwa Draco kenal dengan pemiliknya, dan bisa menghubungi orang orangnya untuk membantu niat Draco tersebut."


"Jadi tolong ayah realisasikan janji Draco ini, dengan mengirimkan tim untuk pergi ke daerah itu, serta katakan pada masyarakat kota kecil tersebut, bahwa janji penolong kalian akan dilaksanakan oleh Birawa Group, tanpa membongkar jati diri Draco."


"Karena yang tau masalah ini cuma kita berdua. Bagaimana?" Ucap dan jawab Dragon terkesan memaksa


"Hemm!. Cukup menarik!" Guman Dion lirih


"Bagaimana menurut ayah? Apakah ibu perlu tahu?"


"Kalau iya Draco ikut saja." Jawab Dragon pasrah


"Sebaiknya untuk saat ini jangan dulu. Sampai pada waktunya baru kita kasi tahu." Jawab Dion ragu ragu


"Terserah ayah saja." Respon Dragon senang


"Oh ya!. Tentang rencana mu itu. Besok atau paling lambat lusa, ayah akan terjunkan tim yang diketuai oleh James untuk pergi ke sana."


"Sehingga rasa percaya mereka terhadap mu akan naik, dan kau bisa leluasa meluaskan rencana mu ke tempat lain." Ucap Dion pada anaknya


"Terima kasih ayah!" Sambut Dragon senang, kemudian meminta izin untuk berlalu dari tempat itu, karena sudah mulai mengantuk


***


Kejadian itu, terjadi tiga hari sebelum Dragon pergi menumpas kelompok tentara bayaran, di perbatasan antara dua negara Asia tenggara yang telah diceritakan


Sekarang Dragon sudah kembali, dan membawa kemenangan gemilang, serta harta rampasan yang banyak


Kebetulan pula saat itu Dragon berencana ingin memberikan bantuan dalam segala bidang, pada orang orang yang kurang mampu, termasuk pedagang kecil dan petani yang kekurangan modal


Pas benar dengan rencananya untuk mengembangkan suatu daerah, agar daerah tersebut menjadi sebuah daerah maju, dan tidak terisolir letaknya


Ternyata janji ayahnya memang benar benar dilaksanakan. Setengah hari setelah Dragon pergi memerangi musuh yang berniat menyerang kota Emas. Dion pun mengirimkan orang orangnya untuk pergi ke kota kecil itu, lengkap dengan orang orang yang berkompeten di bidangnya


Nampaknya Dion tidak main main dengan rencana anaknya tersebut. Hitung hitung sebagai latihan buat anaknya, untuk menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab, dan memenuhi janjinya dimasa yang akan datang. pikirnya


Beberapa jam sebelumnya. Semua urusan Dragon dihandle oleh shio Lung beserta James


Mereka berdua lah yang mendatangi pemilik rumah dan tanah yang ingin dibeli oleh tuan mudanya. Tapi mereka taunya yang akan membeli itu adalah tuan besarnya, bukan Dragon


Tentu saja pemilik tanah itu terkejut bukan kepalang, karena yang sedang berurusan dengannya itu adalah top 30 dari orang orangnya Dion, yang notabenenya pemilik kota tersebut


Dengan senang hati dia memberikan tanah dan rumah tersebut secara cuma cuma. Tapi James dan Shio Lung tidak mau menerimanya

__ADS_1


Namun dia mengatakan, bahwa rumah itu telah disewa oleh seseorang untuk satu bulan, dan dia tidak enak hati untuk mengusirnya


Jadi dia meminta tolong, agar yang menempati rumah itu diberikan waktu untuk pindah


"Kau tenang saja!. Masalah itu serahkan pada kami!" Ucap James mencoba menenangkan lawan bicaranya


"Baiklah kalau begitu. Semua keputusan saya serahkan pada tuan tuan ini."


"Mengenai harga rumah dan tanah, tuan Shio Lung pasti bisa menghitungnya." Jawab Pandu Dinata, pemilik rumah dan tanah itu dengan sikap ramah


"Baiklah pak Dinata. Aku sudah menyelidiki harga tanah di daerah itu, dan mendapati, bahwa harganya cukup rendah, bila dibandingkan dengan daerah lain."


"Jadi aku akan membayarnya sebesar 250 ribu permeter nya. karena lokasi tanah anda sangat strategis."


"Tapi kalau boleh tahu. Berapa luas tanah anda seluruhnya?" Tanya Shio Lung ingin tahu


"Tunggu tuan!. Saya jadi tidak enak hati pada tuan penguasa kota ini."


"Harga tanah di sana tidak semahal itu. Paling banter permeter nya seharga 110 sampai 150 ribu saja."


"Itupun jarang terjadi, dan setahu saya cuma satu kali saja kejadiannya."


"Jadi harga yang anda tawarkan terlalu tinggi, dan saya tidak berani menerimanya." Ucap Pandu Dinata merasa tidak enak hati


"Tidak apa apa!, karena itu kehendak tuan besar dan anda tidak boleh menolaknya!" Jawab Shio Lung tegas


"Baiklah kalau begitu."


"Luas tanah yang saya miliki sesuai suratnya, kalau tidak salah seluas 100,7 ribu meter persegi, atau seluas 10.7 hektare lebih."


"Sedangkan luas tanah tempat rumah itu berdiri, hanya seluas 5.500 meter persegi, atau setengah hektare lebih." Ucap Pandu Dinata apa adanya


"Bagaimana dengan rumahnya?" Tanya Shio Lung ingin penegasan


"Itu hanya rumah toko berlantai dua. Luasnya pun cuma 60 meter persegi per lantainya" Jawab Dinata mengira ngira saja


"Kalau begitu luas keseluruhan nya, 120 meter persegi."


"Oke deal!. Kami akan membayar rumah berikut tanah itu sesuai dengan harga yang sudah ditentukan."


"Hari ini juga kau sudah boleh menerima uang pembayaran itu." Ucap Shio Lung tegas.


Kemudian mengirimkan uang pembayaran tersebut melalui aplikasi bank milik Birawa Group, yang jumlahnya sangat fantastis sekali


"Terima kasih tuan!. Mulai hari ini rumah dan tanah itu sudah menjadi milik Birawa Group."


"Tolong sampaikan salam hormat saya pada tuan besar!" Reaksi Dinata kegirangan


"Baik akan kami sampaikan!" Jawab Shio Lung datar. kemudian pergi dari tempat itu, untuk melaporkan pada tuan besarnya


Sepeninggal James dan Shio Lung. Pandu Dinata yang tanah beserta rumahnya telah terjual. berjungkrak jingkrak kegirangan, sambil berkata. "Akhirnya terjual juga rumah dan tanah itu!


"Aku tak perlu repot repot lagi mengurus tanah tersebut, yang selama ini merupakan beban pikiran."


"Selain itu, anak anak ku yang sudah menikah, bisa ku belikan rumah, karena memang bagian mereka ada di situ."


"Hahahaha!" Tawa Pandu Dinata lepas, hingga mengejutkan istri dan anaknya, yang kebetulan sedang mau keluar itu


"Ada apa ayah?. Kenapa ayah berjingkrak jingkrak kegirangan seperti itu?" Tanya istrinya


"Rumah dan tanah kita telah terjual, dan pembelinya adalah penguasa kota ini!"


"Mari lihatlah!. Inilah uang kita, hasil dari transaksi barusan!" Ucap Dinata merasa senang


"Banyak sekali ayah!" Reaksi anak perempuannya ikut merasa senang


"Ini berkat kemurahan hati tuan besar!"


"Tanah kita dihargai tinggi, begitu juga dengan rumah toko itu." Jawab Dinata berterus terang


"Tapi tunggu dulu!. Untuk apa ya tuan besar membeli tanah itu?"


"Apakah dia ingin mengembangkan daerah tersebut menjadi sebuah kota maju?" Ucap Pandu Dinata baru tersadar dari rasa senangnya

__ADS_1


__ADS_2