Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Dyah dilawan


__ADS_3

"Untuk yang di luar sana masalahnya sudah clear. Ayah dari Achara secara diam diam mengintip pembicaraan kami."


"Tapi hatinya berkata bahwa dia setuju kalau Draco menikah dengannya, bahkan setuju kalau harus ikut keyakinan kita."


"Lalu bagaimana tentang di duakan itu?. Apakah dia tau tentang Clara?" Tanya Dion memotong penjelasan anaknya


"Tau!. Seperti ayah dululah!. Awalnya kan begitu. Akhirnya setuju juga walau terpaksa."


"Hahahaha!. Bisa saja kau ini!" Respon Dion spontan. Bertanya lagi karena penasaran. "Lalu bagaimana dengan Clara?. Apakah dia tau tentang itu?"


"Ya, jelas tau!. Draco harus jujur pada mereka, karena tidak mau ada dusta di awal cerita."


"Selanjutnya adalah tugas ayah untuk membuat semua itu menjadi nyata."


"Maksud mu melamar Clara pada kedua orang tuanya. Begitu?" Tanya Dion menguji kesungguhan anaknya


"Bukan hanya Clara saja, tapi putri Acha juga." Jawab Dragon tanpa ragu ragu


"Jadi kau mau ke dua-duanya?" Tanya Dion penasaran


"Ya. Jika itu memungkinkan!" Jawab Dragon tegas


"Kapan itu?" Tanya Dion lagi


"Lebih cepat lebih baik. Pun sambil menjelaskan, terutama pada orang tua Clara. Karena mereka belum tau tentang ini."


"Kalau ditunda tunda bisa menimbulkan preseden buruk buat kita."


"Jadi Draco mau ayah pergi ke sana untuk membuat segala sesuatu menjadi jelas."


"Masalah bagaimana harus pergi dalam waktu bersamaan, Draco punya solusinya."


"Bagaimana itu?" Tanya Dion penasaran


"Membelah diri, atau membuat tiruan tubuh ayah seperti yang Draco lakukan saat ini." Jawab Dragon memberi solusi


"Wah membelah diri!. Berarti tubuh ayah bisa berada dimana mana kapan saja ayah mau?. Asyik!" Respon Dion menggelikan


"Asyik memang asyik!. Tapi ingat!. Jangan pula mengada ada diluar sana tanpa sepengetahuan ibu!" Ucap Dragon memberi peringatan


"Kau tenang saja!. Ayah bukan orang yang seperti itu. Lagipula masa muda ayah sudah lama berlalu."


"Jadi ayah akan tetap pada jalurnya, dan tidak akan mengkhianati ibumu." Janji Dion pada anaknya


"Bagus!. Sekarang Draco akan berterus terang pada ayah, kalau Daco mempunyai...?"


"Mempunyai apa?. Kenapa tidak mengatakannya pada ibu, juga adik mu ini?" Sela Ivory tiba-tiba


"Ibu?, Dyah?" Reaksi Dragon terkejut


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Pantesan dicari kemana-mana tidak ketemu. Ternyata kalian sedang enak-enakan di sini tanpa mengajak kami lagi!" Ucap Ivory marah


"Maafkan Draco bu, adik!"


"Pada awalnya Draco hanya ingin duduk duduk saja sambil menikmati indahnya bulan di atas sana."


"Tapi tiba tiba ayah datang dan ikut duduk disini sama seperti kalian." Jawab Dragon apa adanya


"Ya sudahlah!. Tadi ibu dengar kalau kau mempunyai sesuatu. Apa itu?"


"Katakan pada ibu kalau tidak ibu marah!" Tanggapan Ivory penuh ancaman


"Duh sudah terlanjur begini. Apakah aku harus berterus terang, jika aku mempunyai dunia lain pada mereka?" Batin Dragon dalam hati


"Ceritakan saja cucuku!. Sekarang atau nanti akan sama saja!. Jangan ditunda tunda lagi!"


"Katakan kalau tubuh asli mu sekarang sedang berada di dunia jiwa."


"Atau bawa saja mereka kemari agar semua cerita menjadi jelas. Jangan ditunda tunda lagi!" Ucap eyang Prabu pada Avatar Dragon yang sedang berada di depan keluarganya


"Ayah, ibu, juga adik!. Malam ini.."


"Ternyata kalian disini ya?. Kakek sudah sibuk satu jam an mencari kalian. Ternyata sedang enak enakan kumpul disini?"

__ADS_1


"Kemana perginya semua pengawal?. Kenapa mereka tiba tiba menghilang?" Ucap tuan Birawa datang tanpa diundang


"Kakek!" Respon Dragon dan Ivory bersamaan. tanpa menjawab pertanyaan dari kakeknya tersebut.


Lalu disambung oleh Dragon dan Dyah juga merespon berbarengan


"Kakek buyut!. Maaf karena kami tidak menyambut!"


"Silakan duduk kek!" Ucap Dragon cukup sopan


"Tumben kalian semua pada kumpul kumpul disini?. Apakah ada hal serius yang dibicarakan?" Tanya tuan Birawa penasaran, dan sudah lupa dengan pertanyaannya tadi


"Awalnya biasa saja buyut. Tapi begitu semua sudah berkumpul, malah jadi serius." Jawab Dragon berterus terang


"Apa yang serius itu?. Coba ceritakan pada buyut mumpung suasana hati buyut lagi baik." Tanya tuan Birawa tak sabaran


"Begini uyut!" Jawab Dragon mulai menjelaskan


Lalu menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, yaitu tentang hubungan serta masalahnya dengan Anong dan Clara, serta intrik intrik yang menyertainya, hingga membuat semuanya terdiam, termasuk Dyah yang biasanya ceriwis itu


Walaupun dia masih kecil. Tapi sedikit banyaknya dia tau tentang hubungan antara seorang laki laki dan seorang perempuan. Apalagi dengan adanya Pringgandani dan ratu Prameswari, semakin membuatnya tahu sebelum waktunya


Ivory yang pernah berada diposisi itu juga tak bisa berbuat apa apa. Biasanya dia yang paling tampil duluan, kalau ada yang berbuat seperti itu


Tapi saat ini dia malah kebingungan. Di satu sisi anak, disisi lain calon menantu. Entah mengapa kali ini hatinya condong kepada Dragon. dan dalam lubuk hatinya yang paling dalam, menyetujui pilihannya itu


Tuan Birawa juga demikian. Dia yang sudah sepuh pun jadi penasaran, bagaimana seorang Dragon mampu memikat dua orang wanita yang berlatar belakang tidak biasa


Kalau dulu dia yang juga tampan, hanya digilai gilai oleh seorang perempuan saja. Sedang Dragon menurut penuturan, selain Anong dan Clara, juga disukai oleh beberapa orang perempuan ditempatnya menuntut ilmu


Tapi hati Dragon hanya condong pada Anong dan Clara saja, tidak pada yang lain. Namun setelah mendengar penuturan Dragon tersebut, mereka semua tidak ada yang bisa memberikan solusi, Mereka juga bingung siapa yang harus Dragon pilih di antara mereka Anong dan Clara


Jadi kesimpulannya, apa yang sudah diusahakan oleh Dragon itu menjadi sia-sia saja


"Baiklah semua!. Sekarang adalah bagian kedua yang ingin Draco sampaikan pada kalian!"


"Yaitu tentang ini!"


Whus!


"Eh tempat apa ini?. Kenapa indah sekali?. Apakah ini surga?" Teriak Dion penasaran, sesaat setelah ditarik oleh kekuatan yang sangat kuat, dan masuk ke dunia jiwa milik Dragon


"Betul!. Buyut juga penasaran tentang tempat ini. Mungkin ibumu juga?" Respon tuan Birawa juga demikian


"Anak ku!. Cepat jelaskan tempat apa ini?"


"Jangan membuat kami penasaran!"


"Eh!, di mana Dyah?. Kenapa dia tidak terlihat?" Ucap Ivory kebingungan. lalu bertanya kepada Dragon dengan memandang ke sana kemari namun dia tidak ada di sana


"Kakek?. Sudah lama tidak bertemu. Ternyata kakek tidak tua tua juga ya?"


"Apakah kakek tidak merindukan Dyah?" Ucapnya sesaat setelah bertemu dengan Ditya Prabu


"Mampus!. Baru enak-enak tidur eh malah diganggu oleh anak ceriwis ini!"


"Lebih baik aku pura-pura tidak melihat, dan cepat-cepat pergi dari sini." Batin Ditya Prabu dalam hati


Kemudian bangkit dari tempat tidurnya, dan pergi begitu saja. Tapi Dyah tahu akal bulus Ditya Prabu itu, dan langsung mencegahnya


"Mau ke mana kakek?. Jangan coba-coba tinggalkan Dyah!"


"Dyah masih kangen pada kakek!" Responnya mengancam, lalu menarik janggut Ditya Prabu hingga membuatnya meringis karena kesakitan


"Auw sakit tau!. Jangan tarik janggut kakek!. Nanti kakek nangis!" Teriaknya pura-pura kesakitan


"Idih!. Sudah tua tapi cengeng!. Malu tau?" Respon Dyah senang


"Oke! oke! oke!. Kakek nyerah dan janji tidak nangis lagi. Tapi lepaskan janggut kakek ini dan jangan tarik lagi." Jawab Ditya prabu serba salah


"Tidak! Sebelum kakek membawa Dyah terbang, Dyah tak akan melepaskan janggut kakek!"


"Janji dulu tapi jangan boong!. Ajari Dyah terbang seperti kak Daco. Kalau tidak Dyah akan tetap menarik janggut kakek dan mencubit pipi kakek yang keriput ini!" Jawab Dyah sambil mengerjakan apa yang dia ucapkan


"Baik, baik!. Kakek akan ajari Dyah terbang. Tapi lepaskan dulu janggut kakek ini ya?" Jawab Ditya Prabu penuh permohonan

__ADS_1


Flush!


"Huh!, selamat!." Guman Ditya Prabu sesaat setelah Dyah melepaskan tangannya dari janggut Ditya Prabu


Kemudian membatin dalam hati. "Terhadap anak ini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mirip sekali dengan Pringgandani, ceriwis dan mau menang sendiri. Tak takut pada siapapun walau saat itu aku seorang raja."


"Kali ini nampaknya aku akan direpotkan lagi, oleh titisan dewi yang ceriwis itu!"


"Kakek!. Kenapa malah diam?. Cepat bawa Dyah terbang, dan ajari bagaimana caranya bisa terbang!" Ucap Dyah setelah melihat Ditya Prabu tidak bereaksi


"Eh baik!. Maaf karena kakek sedang memikirkan kemana akan membawa Dyah terbang, karena semua tempat sudah kita datangi kecuali tempat itu." Jawab Ditya Prabu berterus terang


"Bawa Dyah kesana!. Cepat!" Respon Dyah semangat


"Dyah!. Ternyata kau di sini?. Apa yang kau lakukan?" Kenapa Eyang Prabu wajahnya memerah seperti itu?. Apakah kau sudah menyakitinya?" Tanya Dragon pura-pura marah


"Siapa dia Draco?. Kenapa Dyah begitu akrab dengannya?" Tanya Ivory ingin tahu, dan heran dengan kedekatan orang tua itu dengan anaknya


"Dialah leluhur kita ibu!. Namanya eyang Ditya Prabu, guru dari gurunya Draco."


"Dialah yang telah mengajari dan memberikan ruang jiwa ini pada Draco, lengkap dengan isinya."


"Untuk kalian tahu, Eyang Prabu ini adalah raja pertama yang memerintah di kerajaan tanah Jawa.


"Keturunannya sangat banyak sekali, hingga sampai ke kita." Jawab Dragon apa adanya


"Jadi? jadi?. Kita ini berasal darinya?" Tanya Ivory masih penasaran


"Benar ibu!. Kenapa ibu tidak menunjukkan sopan santun saat bertemu dengan leluhur kita?" Jawab Dragon sambil bertanya


"Leluhur!. Maafkan sikap Ivo yang tidak mengenali anda!"


"Ternyata selama ini Draco berguru pada anda juga." Respon Ivory sambil berlutut di tanah, diikuti oleh Dion juga tuan Birawa


"Bangunlah cucu ku. Kau tidak salah, karena baru tahu tentang keberadaan ku."


"Anakmu saja yang beruntung dari ribuan keturunan ku."


"Dia satu-satunya orang yang sanggup memikul beban, dengan menerima semua ilmu-ilmu ku, juga kitab yang belum sempat aku pelajari."


"Bahkan dia mampu membuat ruang jiwanya sendiri dengan ilmunya itu."


"Yang kau lihat sekarang ini adalah ruang jiwanya. Siapapun bisa masuk asal Dragon mau membawa serta." Respon Ditya Prabu apa adanya


"Ruang jiwa?. Apakah itu ada leluhur?" Tanya tuan Birawa cukup sopan, dan ikut-ikutan memanggil Ditya Prabu dengan sebutan leluhur


"Yang kau lihat ini apa?. Bukankah ini berada di ruang jiwa?"


"Coba kau lihat ke sana!. Itu adalah dunia luar. Sementara ini adalah dunia yang ada di dalam jiwa Dragon."


"Aku dan muridku yang sama-sama menjadi gurunya, juga tinggal di sana." Respon Ditya Prabu menjelaskan


"Luar biasa!. Baru kali ini aku mendengar ada dunia selain dunia yang diluar sana, yaitu dunia jiwa, dan itu dimiliki oleh keturunan ku!"


"Berarti aku orang yang sangat beruntung, karena mempunyai keturunan yang sangat luar biasa!" Batin tuan Birawa dalam hati


"Buyut tentu mengagumi duniaku ini kan?"


"Kalau begitu ayo kita berkeliling, dan mengunjungi tempat-tempat yang lebih indah daripada ini." Ucap Dragon setelah mengetahui isi hati dari kakek buyutnya


"Tidak bisa!. Dyah ingin belajar terbang!"


"Dyah tidak mau mengikuti mereka, karena Dyah sudah mengunjungi tempat-tempat itu!" Ucap Dyah tiba tiba


"Apa?. Jadi selama ini kau sudah pernah pergi ke sini?"


"Kenapa tidak bilang-bilang sama ibu?" Respon Ivory tidak senang


"Tanyakan saja pada kak Daco!. Dia lebih tahu tentang itu!" Jawab Dyah cuek


Kemudian menarik tangan Ditya Prabu untuk mengikutinya


"Ayo kakek kita pergi!. Bawa Dyah terbang!" Jawabnya sambil menarik tangan Ditya prabu kuat kuat


"Duh Gusti!. Tobat aku!" Ucap Ditya Prabu kewalahan

__ADS_1


__ADS_2