Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Iblis Kematian vs Semesta Dewi Nirwana


__ADS_3

"Ah persetan dengan semua itu! Yang jelas aku harus membuat perhitungan dengannya, karena telah berani membohongi ku!" Batin Balapaksa Milajanggi dalam hati. Dan terus menyesali kebodohannya


Namun dalam ketidakberdayaan itu, dia terus mengawasi jalannya pertarungan, antara siluman yang menipunya dengan Pringgandani, yang sejujurnya dia akui, bahwa keduanya mempunyai kekuatan yang seimbang


Tapi dalam satu gerakan yang cukup berbahaya, Pringgandani berhasil dipukul mundur oleh satu kekuatan kasat mata, dan dia belum pernah merasakan sebelumnya. Namun tindakan itu membuat Pringgandani marah


"Dasar siluman cabul!. Kau memanfaaatkan kelengahan ku untuk menjamah sesuatu yang berharga ditubuh ku!"


"Jika aku tidak bisa mematahkan tangan kotor mu itu, jangan panggil aku Dewi Pringgandani!" Teriaknya marah


"Hahahaha!" Reaksi siluman darah merasa senang. Lalu berkata kembali dengan niat merendahkan. "Ternyata kau masih seperti dulu dewi pujaan ku!"


"Kau masih saja malu dan tidak mau mengakui, bahwa kau merasa senang dengan sentuhan ku itu."


"Jika kau mau berterus terang, dan menerimanya dengan lapang dada, bukankah akan semakin mudah, dan kita bisa hidup selamanya sampai akhir?" Ujarnya menyakitkan


"Cuih!. Siapa juga yang sudi berpasangan dengan siluman jelek seperti mu?"


"Anjing saja tidak akan mau jika dikasi daging mu yang busuk itu!"


"Pergi mati sana!"


Boom!


Reaksi Pringgandani tidak terduga, dan tiba tiba menyerang siluman darah dengan kekuatan puncaknya


"Sialan!. Ternyata kau menguasai ilmu itu!. Bagaimana bisa?" Ucap siluman darah penuh rasa kejut. Kemudian pergi menjauh agar tidak terkena serangan lawannya lagi


"Hehehehe! Jangan kau kita hanya kau yang bisa menguasainya. Aku juga bisa!" Jawab Pringgandani dengan ekspresi cuek


"Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi dan tidak peduli apakah tubuh yang kau tempati itu rusak atau tidak!" Balas siluman darah tak mau kalah


Kemudian memompa kekuatannya sampai batas akhir yang dia punya


"Hiaaaaa!"


Boom!


Boom!


"Gawat!. Dia sudah mulai serius dengan jurus andalannya itu!. Sementara Pringgandani belum siap sepenuhnya"


"Aku harus mencegah agar Pringgandani tidak celaka!" Guman Brawijaya pada diri sendiri


Kemudian berseru lantang pada adik seperguruannya dengan ekspresi cemas." Pringgadani!. Hati hati!"


"Jurus yang dia gunakan bukanlah jurus sembarangan!. Itu jurus iblis kematian!"


"Siapapun yang terkena serangannya akan langsung hancur, dan rohnya tidak akan bisa menitis lagi!"


"Cepat lari, dan serahkan urusan itu pada kakang prabu!" Ujarnya mengingatkan


"Kakang tenang saja!. Jurus lemah seperti itu tidak akan mampu melukai apalagi menghancurkan roh ku!"


"Aku sudah bukan Pringgandani yang dulu yang bisa dia lecehkan!"


"Kakang lihatlah ini!"


"Hiaaaaa!"


Boomm!


"Semesta Dewi nirwana!"


"Wah!. Ternyata kau sudah menguasai ilmu tingkat tinggi itu Dewi?"


"Hebat! Hebat!. Itu baru adik ku!" Reaksi Brawijaya senang


Kemudian mengacuhkan teknik yang sedang diperagakan oleh siluman darah, dan terus mengagumi teknik yang dimiliki oleh adik seperguruannya tersebut, walau belum sepenuhnya sempurna


"Jangan senang dulu Braja!. Ilmu rendahan seperti itu mana bisa mengalahkan ku!"


"Kalau kau tidak percaya lihatlah ini!"


Slash


Dhuaarr!


"Argh!" Reaksi Pringgandani kesakitan, saat tubuhnya dihantam oleh kekuatan yang dimiliki oleh lawannya secara tiba tiba

__ADS_1


Jelas dia belum siap dengan teknik andalannya itu. Malah secara tiba tiba diserang secara licik oleh lawannya. Tentu saja dia mengalami luka. Karena pukulan jarak jauh tersebut telak mengenai tubuhnya


Sedetik kemudian tubuhnya memudar, dan hampir saja menghilang .Tapi Ditya Prabu bertindak cepat, dengan mentransfer aura kesadarannya pada muridnya itu, dan akhirnya keberadaan Pringgandani berhasil diselamatkan


"Nyaris saja!. Ilmu itu memang luar biasa!"


"Teknik Pringgandani tidak berarti apa apa buat siluman darah"


"Ambara Moksa memang luar biasa!"


"Dia berhasil menciptakan ilmu yang lebih tinggi dari ilmu yang diciptakan oleh teman ku itu."


"Jika dia masih hidup, tentu dunia bisa di balikkannya!"


"Aku harus turun tangan, dan mencegah Pringgandani dari kehancuran." Guman Ditya Prabu pada diri sendiri


"Kenapa terburu buru Ditya Prabu?"


"Bukankah sebaiknya kau menunggu ku datang?" Ucap seseorang yang tiba tiba muncul dibelakang Ditya Prabu


"Ambara Moksa?. Bagaimana kau bisa datang kesini. Padahal tempat ini sudah aku pasangi formasi tanpa wujud!"


"Apakah selama ini kau bersembunyi di jurus itu?" Reaksi Ditya Prabu penasaran. Tapi sepertinya dia hanya berpura-pura saja


"Tepat sekali!. Kau nya saja yang lemah. Dan tidak bisa merasakan aura kehidupan ku!" Jawab Ambara Moksa cukup menyakitkan


"Ternyata begitu!. Pantas saja aku seperti merasakan ada jiwa lain dalam jurus itu. Ternyata itu kau!" Sambung Ditya Prabu kalem, dan menunggu reaksi dari musuh bebuyutannya tersebut


"Apakah sekarang kau menyesalinya Prabu, dan belum juga menyadari kehadiran seseorang?" Sambung Ambara Moksa meremehkan


"Siapa yang tak merasakan dan kenal dengan perempuan serakah seperti Durgandini itu?"


"Seorang perempuan penuh ambisi, yang bercita cita ingin menaklukkan dunia dengan kecantikannya?"


"Tapi malah jatuh ke tangan pendekar pemetik bunga yang licik seperti mu!"


"Jadi sia sia yang dia cita citakan selama ini. Dan sekarang malah mengekor di belakang mu!"


"Sungguh tak tau malu!" Jawab Ditya Prabu keras, yang ditujukan pada seseorang yang juga sedang bersembunyi didalam jurus mematikan tersebut. Lalu tersenyum penuh kemenangan


"Jadi selama ini kau mengetahui keberadaan kami Ditya?" Respon Ambara Moksa tidak percaya. Kemudian menyuruh pasangannya untuk keluar dari jurus itu


"Tentu saja!. Tidak ada satupun yang lolos dari pengamatan ku, apalagi lewat didepan ku tanpa aku ketahui."


"Bahkan kematian kalian pun juga sudah terlihat didepan mata ku!"


"Jadi untuk apa ngotot bertanya?" Jawab Ditya Prabu dengan cueknya


"Kurang ajar!. Ternyata selama ini kau telah membohongiku, dengan berpura-pura tidak melihat dan merasakan kehadiran kami!"


"Kalau begitu hari ini kau harus mati!" Respon Ambara Moksa emosi


Kemudian bersama-sama dengan durgandini menyerang Ditya Prabu dengan kekuatannya masing-masing


Boom!


Dhuar!


Bamm!


"Argh!. Sialan!. Ku bunuh kau!" Ucap Durgandini marah, saat tubuhnya terkena pukulan dari lawannya


Tapi sekuat apapun dia berusaha, Ditya Prabu tidak terpengaruh apa-apa, malah dengan santainya meladeni serangan mereka berdua sambil duduk


Sementara itu di tempat lain, Pringgandani yang sedang berhadapan dengan siluman darah, terlihat sedang serius dalam bertarung. dan belum bisa dipastikan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah


Kemarahannya benar-benar memuncak, setelah tubuhnya berkali-kali dilecehkan oleh lawannya tersebut. Hingga pada satu kesempatan langka, dia berhasil menyarangkan serangan terkuatnya, hingga membuat dada siluman darah melesak ke dalam . dan mati seketika saat itu juga Kemudian tubuh malang itu hancur, serta dipastikan bahwa rohnya tidak akan bisa menitis pada orang lain


Entah mengapa setelah mendapatkan tambahan tenaga dari gurunya tersebut, tubuh Pringgandani menjadi kebal dengan serangan iblis kematian, walaupun secara berulang-ulang mengenai tubuhnya secara telak. namun jurus tarian nirwana, atau semesta dewi nirwana juga berhasil mengenai tubuh siluman darah, dan membuatnya benar-benar memuntahkan darah segar, bahkan sudah binasa karenanya


Dragon dan Brawijaya yang melihat itu menjadi tercekat diam. sedangkan Milajanggi juga demikian


Dia yang dari tadi belum turun tangan, menjadi ragu ragu saat melihat kematian jiwa yang mendiami tubuh muridnya itu. Dia saja belum tentu mampu mengalahkan siluman darah dalam satu atau dua buah jurus. Tapi Pringgandani malah dengan mudahnya menghabisi siluman yang dia anggap kuat itu


Apakah dia merasa beruntung atau malah sebaliknya?. Dia saja tidak tahu.


Karena kejadian itulah membuat hatinya bimbang. Padahal sejatinya kedatangannya ke tempat tersebut ingin membalaskan dendam. Namun tidak disangka dia menemui orang-orang kuat sejagat raya. Jadi mulai saat itu dia merasa ragu untuk melanjutkan niatnya, Apakah harus pergi atau tetap melawan mereka?


Apalagi setelah mendengar Ditya Prabu mengucapkan, bahwa salah seorang muridnya itu mempunyai raja dan penghulu senjata yaitu Cemeti Amar Rasuli, suatu senjata yang sangat ditakuti oleh golongan jin, siluman bahkan oleh iblis sekalipun

__ADS_1


Mengenang akan hal itu, keraguannya bertambah besar, dan berniat ingin melarikan diri. Namun Brawijaya mengetahui niatnya tersebut, dan meminta Dragon untuk mencegahnya


Sejurus kemudian Dragon sudah berada di depan Balapaksa dan sudah pula mengunci pergerakannya


"Kau tau apa ini Janggi?"


"Bukankah tadi kau sangat sombong sekali, Dan menganggap kami ini semua lemah?"


"Jika kau sudah merasakan betapa lezatnya setiap inci sebatan nya, maka kau akan tahu betapa kuatnya kami!" Ucap Dragon sangat mengintimidasi sekali


"Jangan!. Tolong ampuni aku!"


"Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan ku, dan akan pergi jauh-jauh dari tempat ini, serta tidak akan pernah lagi muncul di hadapan mu!" Jawab Milajanggi ketakutan


"Murid ku!. Jangan pedulikan kata-katanya!"


"Dia bukan manusia lagi, tetapi sudah berubah sepenuhnya menjadi siluman!"


"Jadi cepat pukul dia menggunakan Cemeti Amar Rasuli itu, agar jiwanya tidak bisa menitis ke orang lain!" Ucap Brawijaya mengingatkan


"Huh!. Kenapa juga kau yang sibuk?. Bukankah aku sedang meminta pengampunan kepada anak ini, bukan kepada mu?"


"Jadi minggir lah!. Jangan ikut campur urusanku!"


"Atau kenapa tidak kau sendiri yang turun tangan?"


"Bukankah dari tadi kau terus memprovokasi murid mu itu agar melarang ku. Berarti kau takut menghadapi ku?" Respon Milajanggi tidak senang.


"Siapa juga yang takut padamu?. Untuk menghadapi siluman licik seperti mu, cukup muridku saja yang turun tangan."


"Sepuluh siluman seperti mu, bahkan yang jauh lebih kuat dari mu, dia juga mampu menghabisi nya. Apalagi kau seorang?" Jawab Brawijaya cukup lantang


"Lalu kenapa kau mencegah ku untuk meminta pengampunan darinya?"


"Bukankah sudah aku katakan, bahwa setelah ini, aku tidak akan kembali lagi ke dunia dan membuat kekacauan. Tapi kenapa kau tidak percaya?" Bantah Milajanggi pura pura serius


"Siapa juga yang percaya dengan ucapan manis mu itu?. Semut saja tidak akan percaya, apalagi kami!"


"Jadi tidak ada salahnya jika aku menyuruh muridku itu untuk menghabiskan mu, supaya setelah ini dunia bisa kembali aman?" Bantah Brawijaya tidak mau kalah


"Hah!. Banyak omong!. Ku habisi kau!" Teriak Milajanggi tidak terima


Kemudian melesat ke arah Brawijaya, dan berniat ingin menghabisinya dengan sekali pukul


Tapi belum juga terlaksana, sebuah ledakan besar segera terdengar di belakangnya


Dragon yang sedari tadi sudah siap dengan cemeti amar rasuli nya segera bertindak cepat, dengan mengarahkan cemeti tersebut ke arah Milajanggi yang tubuhnya sedang melayang di udara itu, dan sontak saja membuat punggungnya menjadi sakit, serta terhempas ke tanah dengan kerasnya


"Kenapa kau lakukan itu?. Bukankah aku sudah meminta maaf pada mu dan berjanji tidak akan membuat kekacauan lagi. Tapi kenapa kau masih menyerangku?" Ucap Milajanggi protes sambil meringis kesakitan, dan berusaha bangkit dengan sudah payah agar bisa menghadap Dragon


"Yang akan kau serang itu adalah guru ku. Orang yang paling aku hormati setelah orang tuaku!"


"Tentu saja aku marah dengan sikap kurang ajar mu itu."


"Jadi kurasa tindakan ku itu benar, dan tidak melanggar norma kesopanan!" Jawab Dragon cukup mengena di hati. Kemudian berkata kembali.


"Selain itu kau belum layak berhadapan dengan guruku. Dia sangat mulia di mataku. karena lawanmu adalah aku dan itu pun karena terpaksa!" Ujarnya


"Apa maksudmu?. Apakah kau merendahkanku?" Reaksi Milajanggi mulai emosi


"Tentu saja iya!. Karena kekuatanmu belum ada apa-apanya di mataku!"


"Jika aku mau, sudah dari tadi kau akan mati!"


"Tapi aku sengaja membiarkanmu untuk melihat kebohongan nyata yang selama ini tidak kau sadari!" Jawab Dragon apa adanya dan terdengar sedikit sombong. dan itu memang disengaja olehnya


"Apa maksudmu dengan kebohongan nyata?. Apakah kau ingin menipuku supaya bisa membunuhku?" Reaksi Milajanggi tidak terima


"Kau lihatlah ke sana!. Bukankah murid yang kau banggakan itu sekarang sudah tidak ada lagi?"


"Ternyata selama ini kau sudah dibohongi oleh siluman yang kedudukannya jauh lebih tinggi darimu!. Ditambah lagi kau juga tidak menyadari keberadaannya selama ini!"


"Kau lihat juga ke sana. Apakah kau kenal mereka?"


"Bukankah dua makhluk besar itu juga telah membohongimu. apakah mereka berdua itu muridmu. Jawabannya pasti bukan."


"Ternyata dia bukanlah muridmu tapi mungkin leluhurmu sendiri?" Jawab Dragon penuh penekanan


"Masuk akal!. Batin Milajanggi dalam hati. Kemudian berniat mendatangi mahluk yang sedang bertarung dengan Ditya Prabu itu itu untuk meminta penjelasan

__ADS_1


__ADS_2