
"Apakah kau berani?Apalagi kau sedang bersama dengan anak kecil. Apakah kau mampu melindunginya?" Reaksi laki-laki codet itu meremehkan.
"Oh itu urusanku!. Mampu atau tidaknya harus kita buktikan dulu."
"Tapi sebelum bertindak, aku bertanya dulu padamu!"
"Apa hubungan antara kelompok mu dengan kelompok Chakan?. Apakah kau kaki tangannya?" Ucap Dragon penasaran.
"Kau kenal dengan big bos itu?. Bagaimana bisa?" Reaksi laki-laki bercodet itu juga penasaran.
"Kau tidak perlu tahu tentang itu!. Tapi aku ingatkan, kalau orang yang bernama Chakan itu sudah aku taklukan. Bahkan 115 orang anak buahnya sudah aku buat pingsan."
"Jadi aku sarankan pada kalian, agar mengurungkan niat untuk merebut giok yang telah aku dapatkan itu, agar tubuh kalian tidak menjadi korban." Jawab Dragon penuh penekanan.
"Hahahaha!. Bocah tengik sepertimu mencoba menakuti ku?. Apakah kau pantas?" Respon Thakdan meremehkan.
"Ya kalau kau tak percaya apa boleh buat!. Nampaknya kau harus diberi pelajaran." Respon Dragon sangat menyayangkan.
Kemudian mengalihkan perhatiannya pada Dyah, Lalu berkata." Adik ku sayang!. Apakah kau sudah mengantuk?" Tanya Dragon pada adiknya itu.
"Sebenarnya tadi sudah mengantuk kak. Tapi melihat kebandelan orang-orang itu, Dyah jadi terpancing emosi."
"Tapi apa yang kakak ingin Dyah lakukan?. Apakah Dyah harus membunuh mereka semua?" Ucapnya ingin penegasan.
"Buat mulut mereka berdarah-darah saja!. apalagi ketuanya itu, karena kakak sudah muak melihat kebandelannya tersebut!" Jawab Dragon berterus terang.
"Siap kak!. Dyah akan melakukannya!" Respon Dyah kembali senang.
"Kalau begitu orang-orang itu aku serahkan padamu ya?. Sedangkan kakak hanya akan mengawasi mu saja. Bagaimana?" Respon Dragon bertanya.
"Beres itu!. Dyah akan melakukannya secepat mungkin, karena Dyah ingin segera pulang." Jawab Dyah bertambah senang.
Kemudian maju ke depan, dan langsung berhadapan dengan Thakdan dan anak buahnya tersebut.
Reaksi mereka tentu saja keheranan. Kelompok mereka yang berjumlah banyak itu harus berhadapan dengan seorang anak kecil, perempuan lagi. Kalau orang-orang pada tahu tentang itu, jelas mereka akan ditertawakan.
Tapi melihat sikap Dyah yang tidak main-main tersebut, akhirnya mereka jadi terbuka matanya, yaitu Dyah bukanlah anak sembarangan.
"Aku lihat bocah itu cukup cantik. Tundukkan dia saja, dan jangan sampai melukai kulitnya!"
"Aku tertarik dengan kecantikannya itu. Jadi ingat!. Jangan membuat dia terluka!" Reaksi Thakdan tidak terduga.
"Apakah si muka jelek itu orang yang paling kakak benci?. Jadi pada dia lah Dyah harus berlaku kasar ya?" Ucap Dyah bertanya pada kakaknya.
"Ya benar?. Makhluk itulah yang harus kau hancurkan! Buat semua giginya rontok, agar dia tidak bisa bergaya lagi." Jawab Dragon sengaja dikuatkan.
"Beres kak!. Dyah akan melakukannya untuk kakak." Jawab Dyah senang.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?. Jangan biarkan mereka menyerang duluan. Cepat bergerak, dan buat mereka bertumbangan!" Reaksi Dragon tenang.
"Halo bocah cantik!. Dari pada melawan, lebih baik kau ikut abang saja."
"Aku jamin kau akan hidup senang, dan tidak akan kekurangan suatu apapun. Karena abang akan memenuhi semua kebutuhan mu, asal kau mau ikut dengan ku!" Ucap Thakdan sangat menjijikkan.
Plak!
"Argh!. Sialan!. Siapa yang telah memukul mulutku?" Reaksi Thakdan tidak kebingungan.
"Kami pun juga tidak tahu bos!. Tapi sepertinya ada seseorang yang bergerak dengan cepat, dan langsung menampar mulut bos!" Jawab salah seorang anak buahnya cepat, tapi masih meragukan keterangannya.
"Tapi siapa?. Tidak mungkin bocah cantik itu kan?"
"Apakah yang lain ada yang melihatnya. atau jangan-jangan bocah laki-laki itu yang melakukannya?" Jawab Thakdan pula, dan tidak mau menerima kenyataan.
"Hai bocah tengik!. Apakah kau yang menampar mulutku?" Tanya Thakdan pada Dragon dengan ekspresi menyelidik.
"Mana aku tahu!. Bukankah dari tadi aku hanya berdiri saja di sini?"
"Mungkin yang menampar mulut kotor mu itu adikku ini?" Jawab Dragon berterus terang.
"Tidak mungkin!. Mana ada anak kecil seperti dia mampu melukaiku?. Padahal selama ini aku dikenal kebal pukulan. Tapi gara-gara pukulan itu, mulutku jadi berdarah."
"Berarti orang yang melakukannya itu bukan orang sembarangan!" Respon Thakdan tidak percaya.
"Ya sudah kalau kau tidak percaya!. Terima saja nasibmu itu!"
"Sekarang kau hadapi saja adikku ini, karena aku malas meladeni orang lemah seperti kalian!" Ucap Dragon meremehkan.
"Sialan!. Kau pikir kami ini apa ha?"
"Selama ini belum pernah ada yang berani berurusan dengan kelompok ku, kecuali kalian!"
"Untuk kau tahu!. Kelompok ternama seperti kelompok ku ini, adalah kelompok terbesar nomor dua setelah kelompok Macan Putih!"
__ADS_1
"Nama kelompok ku ini adalah kelompok Macam Hitam, cabang dari kelompok macam putih pimpinan tuan Chakan itu!"
"Kalau kau merasa takut, berikan saja giok giok itu juga adik mu itu pada ku!"
"Aku jamin nyawa kalian akan selamat. dan adik mu yang cantik itu akan bahagia selamanya!" Respon Thakdan kembali menjijikkan.
"Oh ternyata begitu!. Tapi aku lihat dari tadi kau banyak bicara saja. Kapan mau menyerang adik ku ini?" Tanggapan Dragon meragukan kemampuan lawan bicaranya.
"Hah dasar bocah sialan!. Dikasi hati malah minta jantung!. Kau belum merasakan ya bagaimana kerasnya pukulan ku ini?"
"Kalau begitu rasakan lah, agar kau tahu siapa aku!" Respon Thakdan geram.
Kemudian memberi perintah pada anak buahnya untuk menyerang Dragon." Kawan kawan!.Tangkap bocah itu dan bawa kemari!"
"Aku ingin merobek mulutnya yang lancang itu. Dan sebagiannya lagi, tangkap juga bocah cantik itu, tapi jangan sampai dilukai!" Ucap Thakdan semakin geram.
"Huh banyak omong!" Reaksi Dyah mulai bosan.
Kemudian berkelebat kesana kemari dan merobohkan berandalan yang berjumlah banyak itu.
Thakdan, adalah berandalan yang paling banyak menerima pukulan. Dimana empat giginya dibuat rontok. Sebelah matanya dibuat bengkak, dan lehernya dibuat sakit, akibat Dyah mengarahkan pukulan ke tempat tempat itu dengan dibantu oleh Dragon secara diam diam.
Bukan hanya Dragon saja yang beraksi. Dewi Pringgandani dan Prameswari juga ikut berperan, guna memberi pelajaran pada Thakdan dan anak buahnya itu.
Hingga dalam sekejap saja, puluhan berandalan itu sudah dibuat tidak berdaya. Ada yang mengerang kesakitan, bahkan ada yang langsung pingsan.
Kini tinggal Thakdan seorang yang masih berdiri.Tapi kondisinya cukup memprihatinkan juga.
Empat giginya yang tanggal tadi, kini telah bertambah menjadi delapan, dan semuanya di bagian depan. hingga membuatnya seperti macam ompong yang kesepian.
"Bagaimana Thakdan?. Apakah sekarang kau percaya kalau adik ku ini bukan bocah sembarangan?"
"Jangankan hanya kalian!. Seratus kali lipat saja akan dibuatnya pingsan. Ini hanya berjumlah puluhan orang. Sungguh kasihan!" Ucap Dragon menyakitkan
"Siapa sebenarnya kalian?, Kenapa bisa mengalahkan kami?" Reaksi Thakdan penasaran.
"Kalau kau mau tau siapa kami. harap tunggu sebentar!"
"Aku akan memberikan jawabannya setelah orang yang aku panggil itu datang!" Jawab Dragon membuat penasaran.
Kemudian menghubungi seseorang dengan berkata. "Halo pak jendral!. Aku butuh bantuan mu!"
"Tolong perintahkan anak buah mu untuk datang. karena ada beberapa orang yang ingin merampok ku juga adik ku di jalan."
"Siap tuan dewa!. Aku yang akan datang sendiri. Anda tunggu saja kami di sana!"
"Lokasi anda juga sudah kami dapatkan. Jadi tinggal menunggu kedatangan kami saja!" Jawab panglima angkatan bersenjata negara tersebut keheranan.
"Si si siapa yang kau hubungi?. Apakah di negara ini kau kenal dengan seseorang?" Reaksi Thakdan ketakutan.
"Sebentar lagi kau akan tahu. Jadi tunggu saja ya?. Mohon bersabar!" Jawab Dragon membingungkan
"Itu mereka!. Cepat kepung, dan jangan beri kesempatan untuk lari!" Ucap seseorang yang baru datang dari arah belakang itu cukup lantang.
"Ketua Janang!. Syukurlah kau datang!. Aku dan anak buah ku telah dipukuli oleh orang orang itu, karena kami tidak mau memberikan tumpangan."
"Karena kami menolak. Maka dia mengancam kami mau dihabisi dan inilah hasilnya!" Reaksi Thakdan merasa senang. Tapi sikapnya sungguh memalukan
Dia sanggup mengarang cerita demi untuk mendapatkan simpati dari atasannya.Tapi sayangnya rencana tersebut tidak berhasil. Karena orang yang dipanggil Janang itu tidak memperdulikannya.
Dia malah sibuk mengatur pasukan, agar anak buahnya segera menangkap Dragon, demi untuk mendapatkan giok miliknya itu.
Sebagai ketua dua dalam kelompok macam hitam tersebut, Orang yang dipanggil Janang itu tentu saja memiliki kekuasaan lebih. Begitu juga dengan kekuatannya.
Saat dia datang saja dikawal oleh 150 orang, yang datang menggunakan puluhan mobil dan jenis kendaraan lainnya. hingga membuat jalanan yang cukup lebar itu menjadi sempit oleh keberadaan mereka.
Orang orang yang sempat melihat kejadian itu hanya berani menonton dari jarak jauh saja.
Mereka jelas tau siapa orang orang itu. Jadi mereka tidak berani mendekatinya, apalagi melerai pertengkaran tersebut.
Saat lagi ramai ramai nya. ketua dua yang dipanggil Janang tersebut terdengar bersuara."Bukan hanya memprovokasi tuan Chakan!. Kau juga telah melukai anak buah ku!"
"Kesalahan mu sudah tidak bisa dimaafkan lagi!"
"Tapi jika kau menyerahkan tiga giok yang kau punya itu, maka aku tidak akan mempermasalahkan perbuatan mu barusan. dan kau bisa pergi tanpa rasa khawatir lagi."
"Bagaimana?. Apakah kau setuju?" Ujarnya pelan tapi penuh ancaman.
"Aku rasa kau belum pantas mengancam ku orang tua!, karena kau tidak punya kekuatan untuk itu!"
"Mengenai aku yang telah melukai anak buah mu,itu memang benar. Tapi itu salah mereka sendiri, kenapa harus jadi orang lemah seperti itu?"
"Baru menghadapi anak kecil saja sudah kalah, apalagi menghadapi ku?"
__ADS_1
"Mungkin kalian akan ngompol di celana karena ketakutan?" Jawab Dragon sangat menyakitkan.
"Kurang ajar!. Tak taukah kau siapa aku?. Beraninya kau merendahkan ku?" Respon Janang tidak senang.
"Oh ho!. Ada yang marah nih!. Berarti kau orang yang punya perasaan."
"Jika tidak mana mungkin tersinggung hanya karena aku merendahkan mu?"
"Berarti kau sangat sensitif sekali?" Jawab Dragon kembali menyakitkan.
"Badjingan!. Kalau hari ini aku tidak bisa merobek mulut mu yang kotor itu, jangan panggil aku Janang!"
"Aku singa jantan yang tak pernah terkalahkan!. Hari ini mengadu nyawa dengan mu!" Respon Janang emosi tidak tertahankan.
"Ah aku malas meladeni mu!. Kau hadapi saja adikku yang cantik ini. Aku jamin kau akan kalah." Jawab Dragon malas malasan.
"Hati hati ketua!. Dia bukan bocah sembarangan!"
"Anak buah ku saja tidak mampu menyentuhnya. begitu juga dengan ku."
"Kekuatan serta gerakannya tidak biasa. Sekali pukul langsung tumbang."
"Mungkin dia bocah berjenis siluman. Jadi aku sarankan agar ketua mengeroyoknya agar perhatiannya pecah dan mudah dikalahkan." Ucap Thakdan memberi peringatan.
"Sembarangan!. Yang lemah itu kau. Bukan aku!"
"Aku tidak mungkin kalah dari bocah ingusan itu. Aku Janang, singa hitam yang yang tak terkalahkan!"
"Menaklukkan bocah itu hanya butuh satu detik. Sekali pukul aku yakin sudah tumbang!" Jawab Janang meragukan peringatan tersebut.
"Hei!. Mau sampai kapan kalian berdiskusi seperti itu?. Aku sudah mengantuk!"
"Kalau kalian tidak berani berkelahi, pulang saja sana!" Ucap Dyah mengagetkan semua orang.
"Wah!. Bocah itu berani sekali?"
"Ketua Janang yang kuat saja tidak dianggapnya ada!"
"Aku yakin sebentar lagi dia pasti celaka!" Ucap seseorang pada temannya.
"Ya aku rasa juga begitu!. Kelihatannya ketua Janang sudah mulai marah, dan bergerak mendekati bocah kecil itu!"
"Aku yakin sebentar lagi dia akan beraksi!" Jawab temannya menguatkan.
"Sayang sekali!. Gadis cantik yang baru tumbuh, harus mati muda seperti itu."
"Mudah-mudahan ketua Janang berbelas kasih padanya."Timpal teman yang lain pula.
"Adik kecil!. Aku sarankan agar kau menyerah saja!, karena tangan ku ini tidak mengenal belas kasihan!"
"Aku takut tubuh kecilmu itu akan terluka saat aku pukul."Ucap Janang Thing memberi saran.
"Ah banyak omong kau!. Bosan aku jadinya!" Respon Dyah mengagetkan
"Mau menyerang atau tidak sih?.Jangan banyak bacot saja!"
"Kalau kau tidak mau biar aku saja yang memulainya." Ucapnya lagi.
"Jaga ucapan mu anak kecil!. Jangan Sampai membuat aku marah!" Respon Janang Thing tidak senang.
"Ah masa bodoh!. Terima serangan ku ini!" Jawab Dyah tidak peduli.
Wus!
Plak!
Bugh!
Bam!
"Argh sialan!. Bagaimana kau bisa melukai ku?. Siapa kau sebenarnya?" Respon Janang penasaran
"Kalau kau mau tau siapa aku. Lihatlah penampilanku, biar kau tidak mati penasaran!" Jawab Dyah mengagetkan
Blus!
"Ah!"
"Si si siapa kau sebenarnya?. Kenapa kau seseram itu?. Apakah Kau setan?"Reaksi Janang ketakutan.
"Aku malaikat maut yang akan mencabut nyawa mu. Jadi bersiaplah untuk menjemput ajal mu!" Jawab Dyah menakutkan
"Ja ja jangan!. Tolong ampuni aku. Aku menyerah!" Ucap Janang ketakutan.
__ADS_1
Apa sebenarnya yang dilihat oleh Janang itu, sampai membuatnya ketakutan. Apakah sosok Dyah berubah atau tetap seperti itu. Tunggu saja kelanjutannya ya?