Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Memberikan pilihan


__ADS_3

Sebuah ledakan besar segera terjadi. Dan menimbulkan suara yang sangat kuat sekali. Hingga membuat tempat itu rata dengan tanah


Ribuan orang yang menyusun formasi, tubuhnya terlempar cukup jauh, dan mati seketika akibat ledakan tersebut


Alih alih ingin mengurung serta membunuh Abhicandra juga orangnya. Nyawa mereka sendiri yang menjadi korban


Saat raja Jindaka ingin meledakkan formasi itu, Dragon pun tiba. dan langsung menembakkan jurus jari saktinya kearah formasi besar tersebut, dan langsung meledak tanpa sisa, serta menyebabkan orang orang yang menciptakannya mati seketika


Raja Jindaka yang paling dekat dengan ledakan itu, juga turut menjadi korban. Tapi nyawanya berhasil selamat, berkat ilmunya yang cukup tinggi


Namun tubuhnya mengalami luka yang cukup parah. Tapi bisa sembuh hanya dalam satu menit


Raja Rubasama dan raja Kolaka, yang jaraknya cukup jauh dari ledakan itu, hanya merasakan goncangan yang cukup kuat. Dan itu tidak mempengaruhi jiwanya untuk mundur


Namun banyak anak buahnya yang menjadi korban, termasuk belasan komandan, juga lima jendral yang turut membuat formasi penghancuran itu


Tapi dasar raja yang tidak bertanggung jawab. Melihat banyak anak buahnya mati, dia malah tersenyum senang, dan langsung menyerap aura jiwa mereka, serta dijadikan sumber energi untuk memperkuat basis kultivasi nya


Raja Kolaka juga demikian. Dia juga menyerap aura jiwa jiwa itu, dan dijadikan santapan jiwa iblis yang dia miliki, serta memperkuat teknik penghancuran, yang akan bisa digunakan saat menyerap satu juta jiwa


Kini tinggal seratus orang lagi yang harus dia serap jiwanya. dan menunggu orang yang baru muncul itu melakukannya


Sebaliknya buat raja Jindaka. Melihat formasi yang telah dibuatnya itu hancur, sontak membuatnya menjadi murka, dan menyalahkan orang yang telah menghancurkannya


Dalam kemarahan itu dia berkata." Siapa kau?. Kenapa berani mengacaukan rencana ku untuk membunuh mereka?" Ujarnya. Sesaat setelah asap tebal yang mengelilingi orang tersebut sirna


"Kau tidak pantas tahu siapa aku!"


"Yang jelas!. Kau telah berani mengusik ketenanganku, dengan mencoba membunuh orang-orang ku!" Jawab orang tersebut sangat tegas sekali


"Tuan muda!" Respon seluruh anak buahnya serempak, dan terlihat sangat senang sekali


"Tenanglah!. Kalian semua sudah selamat!"


"Ada aku di sini!" Jawabnya terkesan dingin


"Kurang ajar!. Dasar cari mati!"


"Tak tahukah kau siapa kami?" Respon Jindaka tidak senang


"Tidak perlu tahu siapa kalian!. Yang aku tahu kalian akan mati hari ini!"


"Jadi bersiaplah untuk menjemput ajalmu!" Jawab Dragon semakin dingin


"Kalian semua!. Dengarkan perintahku!"


"Gunakan ilmu tertinggi kalian, dan serang bersama-sama untuk menghancurkan bocah sombong itu!" Respon Jindaka memberi perintah


Tak lama kemudian. Tubuh Dragon sudah dikepung oleh bermacam-macam aura, dan langsung menindasnya supaya hancur


"Tuan muda!. Izinkan kami membantumu untuk mengusir aura tersebut!" Ucap Abhicandra terlihat khawatir


"Tidak perlu kakek Abi!. Aku sendiri sudah cukup untuk menghancurkan mereka!" Jawab Dragon cukup sombong sekali


"Tapi tuan muda!. Kami tidak mungkin membiarkan anda berjuang sendiri, demi untuk menyelamatkan kami!" Protes Leon tidak terima


"Tenang saja!. Jika kalian ingin membantu, serang lah musuh yang ada di sebelah barat itu, dan tangkap pemimpinnya untukku!" Jawab Dragon memberi hati kepada pengawalnya


"Baik tuan muda!. Dengan senang hati kami akan melakukannya untuk anda!" Respon Leon mulai senang


Kemudian bersama dengan Jennifer, Awan serta Bumi, terbang ke arah orang yang dimaksudkan oleh Dragon, dan melancarkan serangan dari udara ke arah orang orang tersebut


Aksi mereka yang terbang itu, cukup membuat bangsa siluman menjadi terkagum kagum. dan hilang konsentrasi kekuatannya, yang menyebabkan formasi yang telah susah payah mereka bentuk, hancur berantakan di udara


Banyak dari prajurit Kolaka, Rubasama dan Jindaka bergumam sendiri


Mereka saling bertanya satu sama lain, dan sedang membicarakan aksi dari keempat orang itu


Belum juga rasa terkejut mereka hilang. Burgon, Abhicandra dan Langit, juga melakukan hal demikian. Mereka terbang mengitari para siluman yang ada di bawah itu, sambil melancarkan serangan kuatnya masing-masing. Hingga membuat barisan yang sudah tersusun rapi itu hancur berantakan


"Hentikan!. Jangan kalian teruskan itu!"


"Katakan siapa kalian, dan kenapa kalian berada di wilayah ini?" Ucap Jindaka dengan suara kuat


"Siapapun berhak berada di wilayah ini, karena sepanjang yang aku tahu, tempat ini tidak bertuan!"


"Jika kau menanyakan kenapa kami di sini, itu urusanku. Dan kau tidak punya hak untuk bertanya pada ku!" Jawab Dragon tidak mau kalah gertak


"Dasar tidak tahu diri!. Ditanya baik-baik malah ngegas begitu!"


"Apakah kau sudah bosan hidup ha?" Reaksi Jindaka tidak senang


"Justru kau yang sudah bosan hidup!"


"Kenapa kalian menyerang anak buahku, dan berniat ingin membunuhnya?" Jawab Dragon tidak kenal takut


"Hahahaha!. Kalian adalah sekumpulan semut, yang menghalangi niatku untuk mendapatkan harta pusaka di dalam gua itu!"


"Dengan harta harta tersebut. kami bisa menguasai dunia, dan menjadikan manusia seperti mu menjadi budak ku!"


"Karena niat kami dihalangi, maka terpaksa kami harus turun tangan, dan menghabisi anak buahmu itu!"


"Tapi kau malah menghancurkannya. Bahkan membunuh ribuan siluman serta bangsa jin. yang sedang mengendalikan formasi penghancuran tersebut!"

__ADS_1


"Aku yakin kau bukan orang sembarangan!" Tanggapan Jindaka selalu tidak senang


"Eh, tunggu dulu!. Bagaimana kau tiba-tiba bisa muncul di saat kritis seperti itu?. Apakah kau muncul dari dalam gua itu?" Tanya Jindaka baru tersadar akan tujuannya


"Kalau iya kau mau apa?" Jawab Dragon cukup menyakitkan


"Serahkan apa yang telah kau dapatkan dari dalam gua itu, agar aku bisa mempertimbangkan, bagaimana caranya kau mati!"


"Apakah dengan cara halus atau dengan cara kasar?. Mau utuh tubuhnya atau hancur menjadi debu?" Jawab Jindaka memberi tanggapan


"Luar biasa!. Orang lemah seperti mu, berani mengancamku?"


"Sungguh kau tidak pantas!" Reaksi Dragon geli sendiri


"Sialan!. Dikasi hati malah minta jantung!"


"Kau memang perlu dihajar!"


"Rasakan ini!"


Sing!


Bamm!


"Huh!. Serangan lemah seperti itu kau sebut serangan?"


"Coba kau lihat ini!"


Tik!


Boom!


"Apa?. Bagaimana kau bisa melakukan itu?"


"Jurus apa yang kau gunakan?"


"Apakah kau sebangsa dengan kami?" Reaksi Jindaka keheranan. Saat Dragon menghancurkan aura yang mengurungnya itu dengan mudah


"Raja Jindaka!. Untuk apa kau asik ngobrol seperti itu?"


"Lihat anak buahmu!. Mereka sedang menjadi bulan bulanan anak buah orang ini!. Cepat habisi dia!" Ucap raja Rubasama mengingatkan sahabatnya


"Kau sendiri sedang apa? Kenapa dari tadi kau tidak ikut bertarung?. Malah membiarkan anak buahmu menjadi korban. Dan lari dari sana serta minta perlindungan ku?"


"Apakah kau sengaja mengumpankan anak buahmu, untuk menjadi santapan nafsu setan mu itu?"


"Jangan sembarangan kalau bicara!"


"Jangan setan kau sebut setan, karena kau adalah setan itu sendiri!" Respon Rubasama tidak terima


"Untuk apa takut padamu!. Sekarang kekuatanku sudah jauh melampaui mu, berkat aura dari jiwa-jiwa yang menjadi korban itu, termasuk jiwa anak buah mu!"


"Sekarang aku tidak takut lagi pada mu! termasuk dengan si Kolaka licik itu!"


"Jika kita bertarung!. Hanya dengan menjentikkan jari saja, tubuhmu sudah hancur!"


"Kalau kau tidak percaya cobalah!" Jawab Rubasama mencoba memanas- manasi raja Jindaka, yang sebenarnya adalah sahabat baiknya itu


"Tunggu setelah pertempuran ini selesai. Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Respon Jindaka merasa geram


"Sudah! sudah!. Musuh ada di depan mata, kalian malah asik bertengkar!"


"Seharusnya kalian malu, dengan para prajurit kita, yang siap berkorban untuk melindungi rajanya!"


"Sementara kita asik terus berdiri, dan mementingkan diri sendiri!"


"Ayo kita gunakan kekuatan kita masing-masing, untuk menggempur bocah sialan itu!"


"Aku yakin dia tidak akan mampu menghadapi serangan gabungan dari kita bertiga!" Ucap raja Kolaka cukup mengena sekali


"Baik!.Jika itu yang kau inginkan. aku ikut saranmu!"


"Rubasama!. Kita tunda dulu perselisihan kita!. Nanti setelah pertempuran usai. satu minggu dari sekarang, aku tunggu kau di bukit Roka!"


"Jika kau tidak muncul, berarti kau orang pengecut!" Ucap Jindaka, cukup menyakitkan hati yang mendengarkannya


"Siapa takut!. Setelah inipun bisa!" Jawab Rubasama cukup jumawa


Kemudian memompa kekuatannya sampai ke level puncak, dan memamerkan aura penindasan yang cukup menyusahkan


Dragon yang melihat itu hanya diam saja. Sebaliknya raja Jindaka juga Kolaka menjadi takjub. Bagaimana dalam waktu singkat, kekuatan sahabatnya itu sudah meningkat setinggi itu


Apakah karena aura jiwa yang dia serap, benar benar telah membuat kekuatannya bangkit?"


Mungkinkah teknik yang dipelajari itu adalah teknik terlarang, yang tidak boleh diajarkan pada orang lain?


Kalau bukan teknik terlarang, bagaimana kekuatannya jadi sekuat itu?


"Pantas saja Rubasama sudah berani melawanku. Ternyata ilmunya sudah setinggi itu."


"Aku jadi tidak yakin, Apakah aku bisa mengalahkannya atau tidak?" Batin Jindaka dalam hati


"Jindaka!. Apakah kau sudah melihat kekuatanku?"

__ADS_1


"Atau perlu ku tunjukkan pada mu keseriusan ku?"


"Kalau begitu kau lihat ini!"


Swing!


Whush! Whush!


Slash!


Dhuaar!


"Apa yang kau lakukan?. Kenapa kau membunuh anak buahku?"


"Apakah kau sudah bosan hidup?" Teriak Jindaka tidak senang


"Itu contoh yang ingin aku tunjukkan padamu."


"Baru menggunakan sedikit kekuatan. Ratusan anak buahmu sudah mati!"


"Bagaimana kalau aku menggunakan seluruh kekuatanku?. Mungkin kalian yang ada di sini akan mati semua. termasuk kau bocah sombong!" Jawab Rubasama berlagak sekali


"Huh!. Baru mempunyai kekuatan seperti itu sudah berani sombong di depanku!"


"Aku ingin lihat, apakah kau berani mengarahkan serangan itu kepada ku?"


"Jika aku kalah. Maka aku dan anak buahku akan tunduk pada kalian!"


"Tapi jika aku mampu menahan serangan itu. Kalian yang harus tunduk padaku!"


"Bagaimana?. Apakah tawaranku ini cukup menarik?" Ucap Dragon memberikan usul


"Apakah kau pantas bernegosiasi dengan kami?"


"Tidakkah kau sadar, bahwa jumlah kami jauh lebih banyak dari jumlah kalian?"


"Apakah kau sedang mengulur-ulur waktu agar kami tidak membunuh kalian?" Jawab Kolaka merasa direndahkan


"Pantas atau tidaknya. Mari kita buktikan!"


"Kerahkan semua kemampuan kalian! dan serang aku bersama-sama!"


"Jika aku mundur walau selangkah, maka aku akan mengaku kalah, dan akan menyerahkan apa yang aku dapatkan di dalam gua itu!" Respon Dragon tidak terduga


"Baik!. kau sendiri yang sudah memberikan pilihan!"


"Jangan salahkan kami jika harus membunuhmu!" Jawab Raja Kolaka sudah mulai merasa senang


Begitu juga dengan raja Jindaka serta raja Rubasama yang terkenal licik itu


"Bersiaplah!"


"Teknik keserakahan. Iblis mengambil sukma!" Teriak Rubasama cukup lantang


Disusul oleh teriakan Kolaka, yang jauh lebih kuat dari teriakan Rubasama


"Teknik iblis mengambil hati!"


"Tingkat dua belas penghancuran jiwa!" Teriaknya lebih lantang


Tapi lain lagi yang diucapkan oleh raja Jindaka. Sambil merapal mantra, dia juga menyerap kekuatan inti bumi, dan menyerap esensi langit, agar berkumpul ditangannya, serta siap ditembakkan ke arah Dragon


"Jurus iblis menelan semesta!"


"Penghancuran seluruh bumi!. Aktifkan!" Ujarnya. Dan...


Boom!


"Apa yang kau lakukan Jindaka?. Apakah kau ingin membunuh kami?" Teriak Kolaka merasa khawatir


"Aku benci bocah itu!. Terutama kau Rubasama!"


"Baru mempunyai ilmu segitu, sudah berani melawan ku!" Jawab raja Jindaka emosi. Kemudian...


"Hiaaa!"


Bhouumm!


Segera setelah itu. aura pekat berwarna hitam, muncul dari tubuh Jindaka, dan membentuk siluet iblis berkepala tiga, yang wajahnya sangat menyeramkan sekali


Bukan hanya itu saja. Siluet iblis tersebut juga mempunyai 6 tangan, yang masing masing memegang senjata, yang belum pernah dilihat oleh Kolaka serta Rubasama, apalagi Dragon


Aura kekuatannya memang sangat luar biasa, dan langsung mendominasi keadaan


Abhicandra, yang sedang membantai siluman-siluman itu menjadi terhenti aktivitasnya, karena tekanan aura yang cukup kuat dirasakannya


Begitu juga dengan Burgon, Leon, Jennifer, Awan, Langit dan Bumi. Mereka juga menghentikan aktivitasnya, karena berusaha menstabilkan posisinya agar tidak tertekan


Ternyata usaha mereka berhasil, dan sudah lepas dari tekanan kuat tersebut


Tapi anak buah raja Jindaka, Rubasama serta Kolaka, tidak bisa menghentikan tekanan itu. Hingga tanpa diserang pun, mereka terjatuh ke tanah dan meregang nyawa serta mati seketika


"Hemm!. Kuat juga tekanan mu!"

__ADS_1


"Tapi tidak cukup untuk menggeser posisi ku!" Ucap Dragon sangat menghina sekali


__ADS_2