Dragon, Sang Naga Dunia

Dragon, Sang Naga Dunia
Kaisar Pedang


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain. Ambara Moksa dan Durgandini yang emosinya meledak ledak karena diremehkan oleh pihak lawan, sedang mati matian melawan Ditya Prabu yang masih duduk dengan tenangnya, sambil menghalau serangan mereka berdua


Sedikitpun dia tidak beranjak dari tempat duduknya semula, karena dia menganggap kekuatan dua orang lawannya itu belum ada apa-apanya jika dibanding dengan kekuatannya


Mungkin jika kekuatan mereka digabung dengan 1000 orang lagi, Ditya Prabu belum tentu kalah dari mereka


Namun di suatu kesempatan, Dia terpaksa pergi juga dari tempat itu, karena dua orang lawannya tersebut melakukan serangan secara bolak-balik dari depan dan belakang, hingga sedikit merepotkan nya


Tempat yang dia duduki menjadi hancur lebur. Tapi orang yang mendudukinya berhasil selamat, dan terlihat sedang mengambang di udara, pun masih dalam posisi duduk bersila seperti saat awal diserang


Melihat serangan terkuat mereka tidak berhasil mencelakai lawannya. Ambara Moksa dan Durgandini mencoba keberuntungannya sekali lagi, dengan melontarkan pukulan jarak jauhnya dengan menggunakan ajian Pelebur Sukma, yang diketahui bahwa ilmu tersebut Ditya Prabu lah yang menciptakannya


Jadi dengan entengnya dia menyerap serangan tersebut, hanya dengan menggunakan jari telunjuknya saja, dan seketika serangan kuat itu hilang tanpa bekas


"Sialan!. sekuat apa dia?"


"Kenapa serangan kita berdua tidak mampu menghabisinya?. Padahal diketahui ajian Pelebur Sukma itu sangat kuat sekali, walau tidak tahu siapa yang menciptakannya?"


"Kita harus cari cara dengan mengitarinya, agar dia menjadi bingung." Respon Ambara Moksa tidak terima


"Ayo kakang! Aku juga sudah tidak sabar untuk merobek mulut lancangnya itu, karena dari dulu aku memang sangat membencinya!" Sambut Durgandini semangat sekali


"Sia-sia saja kalian melakukan itu!"


"Seberapa keras pun kalian berusaha, tidak akan mampu melenyapkan rohku ini, karena ia sudah dilindungi oleh kekuatan Ilahi. dan tidak ada seorang makhluk pun yang mampu untuk menghancurkannya, kecuali pemiliknya sendiri!"


"Jadi hentikan usaha kalian itu, dan menyerah lah, agar aku bisa menyempurnakan kematian kalian dengan mudah." Ucap Ditya Prabu mengingatkan


"Huh!. Aku tidak percaya kau tidak bisa mati, dan terus tinggal di tubuh anak itu!"


"Kau lihatlah ini!. Bukankah kau mengenalnya?"


"Dengan senjata ini, aku yakin akan mampu menghancurkan roh busukmu itu!" Ucap Ambara Moksa terdengar jumawa


"Apa?. Jadi selama ini kaulah yang telah mencurinya dari gudang penyimpananku?"


"Jika aku tahu bahwa kau lah yang telah mencurinya, maka sejak dulu aku sudah menghabisimu!"


"Tapi karena aku menghormati guru kalian, maka aku tidak melakukannya!"


"Namun jika aku tahu bahwa kaulah pencurinya, walaupun di depan luhurmu sendiri aku tidak peduli!"


"Aku akan tetap membunuhmu, walau dihalangi oleh langit sekalipun!" Reaksi Ditya Prabu marah tidak main main


"Hahahaha!. Apakah kau sekarang sudah mulai merasa takut Ditya Prabu?"


"Kemari lah!, agar aku bisa menyempurnakan kematianmu itu. Dan rohmu tidak akan bisa lagi menitis pada orang lain, apalagi menempati tubuh cucu busuk mu itu!" Tanggapan lawan sangat merendahkan


"Apa susahnya mengambil kembali apa yang menjadi milikku!"


"Aku bisa menariknya dari sini, dan tanpa dipaksa pun senjata yang sedang kau pegang itu bisa kembali kepadaku!"


"Jadi sekarang aku sarankan. kembalikan senjata sakti itu. Jika tidak..!"


"Jika tidak apa?. Apakah kau akan membunuhku?. Mimpi!" Jawab Ambara Moksa ketus, dengan memotong ucapan lawannya yang ingin ia selesaikan


"Kira-kira begitulah. Karena aku punya kuasa dan aku bisa berbuat sesuka hati yang aku kehendaki."

__ADS_1


"Kalau kau kurang percaya, lihatlah ini!" Jawab Ditya Prabu mendebarkan, dan membuat orang yang mendengarnya menjadi penasaran


Kemudian melipat jari-jarinya membentuk kepalan, tapi menyisakan jari telunjuknya saja, lalu mengarahkan ke arah Ambara Moksa untuk melakukan sesuatu


"Kaisar pedang!. Kembalilah padaku, karena aku adalah tuan mu!"


"Kalau kau tidak mengenaliku, maka sebaiknya kau menghancurkan diri saja!. Jika tidak aku yang akan melakukannya!" Ucap Ditya Prabu menimbulkan tanda tanya


Ambara Moksa dan Durgandini yang mendengar ujaran tersebut hanya tersenyum sinis saja. Baginya hal itu terdengar mustahil, walaupun dia tahu senjata tersebut dibuat oleh Ditya Prabu. Tapi mana mungkin senjata bisa mengenali tuannya


Tapi sedetik kemudian, senjata yang dipanggil kaisar pedang tersebut bereaksi, lalu bercahaya sangat menyilaukan dan membuat tangan yang memegangnya menjadi melepuh. Jika tidak cepat-cepat dia lepaskan, maka tangannya sendiri yang akan hancur


"Brengsek!. Kenapa bisa begini? Dasar senjata laknat!" Reaksi Ambara Moksa tidak percaya apalagi terima


"Kakang Moksa!. Apa yang terjadi?. Kenapa kakang melepaskan senjata sakti itu?. Bukankah kita bisa menggunakannya untuk membunuh Ditya Prabu?"Tanya Durgandini belum juga menyadari keadaannya


"Membunuh kepalamu!. Tidakkah kau lihat, bahwa tanganku hampir hancur karena senjata itu?"


"Jika aku tidak cepat-cepat melepaskannya, bukan tanganku saja yang akan hancur, tapi tubuhku juga!. Apakah kau mau ingin aku seperti itu?" Jawab Ambara moksa tidak terima


"Maafkan aku kakang, aku tidak tahu." Respon Durgandini Tidak enak hati. Lalu diam. Tapi Tak lama kemudian berkata kembali." Jadi apa yang harus kita lakukan kakang?. Apakah kita akan melawan orang itu dengan menggunakan kemampuan kita saja?" Ujarnya bertanya


"Lebih baik kita cari cara untuk melarikan diri. Karena kulihat Ditya Prabu sedang sibuk menimang- timang senjata aneh itu."


"Kalau kita pergi secara diam-diam dengan cara berpencar, Aku yakin dia tidak akan bisa menemukan kita!" Jawab Ambara Moksa mengatur rencana, karena sudah kehabisan akal dan kekuatan untuk melawan Ditya Prabu, yang terkenal sangat sakti dan tidak ada lawan di jamannya dulu


Tapi belum juga rencana tersebut berhasil. Ditya prabu sudah muncul di depan mereka, dan langsung menepuk punggung Ambara Moksa sedikit kuat, hingga membuatnya terjengkang ke depan, lalu menabrak Durgandini secara tidak sengaja sampai membuatnya juga jatuh ke tanah


Beberapa detik kemudian. mereka sudah bisa menguasai diri dan sudah pula memperbaiki posisinya. Tapi saat melihat lawan kuatnya tersebut berdiri dengan angkuhnya, nyali mereka mendadak ciut dan langsung menjatuhkan diri di depan Ditya Prabu untuk meminta pengampunan


"Mohon ampuni kami yang mulia Prabu!. Hari ini kami baru menyadari, bahwa Gusti Prabu benar-benar sangat kuat!. Guruku saja tidak mampu menghadapi tuan apalagi kami!"


Tapi sayangnya, Ditya Prabu bukanlah orang lemah, dan tidak mengerti apa-apa. Sebagian besar ilmu yang Dragon kuasai itu berasal darinya, walaupun diturunkan oleh Brawijaya. Namun sejatinya itu adalah ilmu yang diciptakannya berdasarkan esensi langit, dan sudah mendapatkan pengesahan dari sana


Jadi saat Ambara Moksa membatin seperti itu, dan sedang mencari kelengahan dirinya. Ditya Prabu tetap tidak bergeming, dan terus saja bersikap cuek, serta pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Ambara Moksa. hingga pada suatu kesempatan yang cukup langka, Ambara Moksa tiba-tiba menyerangnya


Namun sebelum pukulan itu sampai. kaisar pedang yang sangat ditakuti oleh seluruh makhluk fana di dunia, termasuk bangsa iblis, bereaksi sangat cepat, dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa, serta langsung menghujamkan diri ke tubuh Ambara Moksa yang berniat ingin mencelakai tuannya


Sontak saja kejadian itu mengejutkannya. Walaupun dia belum mati karena senjata tersebut, tetapi rasa sakit yang dialaminya sangat luar biasa sekali


Sedetik kemudian tubuhnya secara perlahan membiru, kemudian meledak dengan suara kuat, hingga membuat tubuh Durgandini terkena imbasnya, dan terpental cukup jauh dengan nafas yang terengah-engah, serta rasa takut yang tidak tertahankan yang sedang melanda dirinya


Bersama dengan pasangan saja dia tidak mampu melawan, apalagi sendirian. Namun apa boleh buat. Menyerah salah mati pun salah


Menang ya menang kalah ya kalah!. Itu pikiran yang ada pada Durgandini


Kemudian melesat dengan gerakan cepat ke arah Ditya Prabu dengan dengan niat untuk menyarangkan pukulannya. Tapi sayang sekali, usahanya tidak berhasil


Senjata yang masih mengambang di depan Ditya Prabu segera bereaksi, dan menyongsong serangan Durgandini hingga membuatnya mundur, tapi sudah terlambat


Gerakan kaisar pedang tersebut sangat cepat sekali, seperti mempunyai jiwa sendiri, dan menyerang Durgandini dengan ganasnya


Sedetik kemudian tubuh Durgandini sudah terpotong potong dan meledak seketika tanpa sisa


"Selesai sudah!" Guman Ditya Prabu pada diri sendiri


Kemudian menoleh ke arah muridnya, dan mendapati bahwa Balapaksa Milajanggi yang bergelar guru agung itu, sedang menjadi bulan-bulanan Dragon yang sedang memainkan senjatanya tersebut

__ADS_1


Tubuh Milajanggi sudah banyak terdapat luka, karena Dragon memang sengaja berbuat seperti itu untuk menyadarkan, bahwa tidak semua tindakan jahat di dunia akan dibiarkan oleh Sang Maha Pencipta


Akan ada cara bagi Nya untuk menggerakkan seseorang, guna memberantas kejahatan itu. Mati satu tumbuh seribu. Itulah falsafah dan intisarinya


"Dragon!. Cepat selesaikan tugasmu!. karena waktu kami sudah tidak banyak lagi disini!" Ucapnya kemudian


"Baik eyang!" Jawab Dragon patuh, kemudian berniat mengakhiri aksinya tersebut


"Apakah kau merasa kesulitan untuk menghabisinya?" Tanya Ditya prabu tidak sabaran


"Sama sekali tidak eyang!. Aku memang sengaja mempermainkannya, supaya dia tahu bahwa di atas langit masih ada langit." Jawab Dragon cukup mengena di hati


"Baiklah kalau begitu!. Tapi apakah kau membutuhkan senjata lain?. Jika iya, aku berikan ini padamu, karena eyang sudah tidak membutuhkannya lagi!" Sambung Ditya Prabu menawarkan senjata tingkat legenda miliknya pada Dragon


Kemudian menjentikkan jarinya ke udara seperti memerintahkan kaisar pedang yang sedang mengambang di udara itu untuk menuju Dragon, dan mengenali tuan barunya


"Se se se senjata dewa!. Eh bukan senjata legenda kaisar pedang tingkat ilahi!"


"A a ampun!. aku masih ingin hidup!" Reaksinya sangat berlebihan sekali. Kemudian menghentikan serangannya terhadap Dragon, lalu berlutut di tanah untuk meminta pengampunan


"Kaisar pedang?. Apakah itu pegangan kaisar atau memang namanya benar-benar kaisar pedang?" Ucap Dragon penasaran


Namun belum juga jawaban itu terpecahkan. Tiba-tiba Cemeti Amar Rasuli yang sedang dipegangnya terlepas dari tangannya, dan melayang-layang di udara, serta ujungnya membungkuk ke arah kaisar pedang itu, yang menandakan bahwa kedudukannya lebih rendah dari kaisar pedang tersebut


Bukan hanya itu saja. Semua senjata langka yang berhasil dia dapatkan dari tempat tersembunyi itu juga mendadak keluar, dan memberikan penghormatan pada kaisar pedang tersebut. Itu menandakan bahwa kedudukannya sangat tinggi di mata mereka. Tapi apakah senjata punya mata?


Dragon tentu saja keheranan, begitu juga dengan Brawijaya. Selama ini dia tidak mengetahui, bahwa masih ada senjata yang jauh lebih kuat daripada cemeti amar rasuli. Apakah ini berarti bahwa Dragon akan menjadi tuan barunya. Tapi kenapa selama ini dia tidak mengetahui akan keberadaan senjata tersebut. Apakah gurunya berniat merahasiakan itu darinya. atau ada alasan lain?


Dalam kebimbangan dan keraguan seperti itu. Tiba-tiba telinganya mendengar gurunya berkata, bahwa seyogyanya senjata itu akan diberikan pada Brawijaya dulu. Tapi belum juga terlaksana niat tersebut, seseorang sudah mencurinya, dan Ditya Prabu tidak mengetahui siapa yang mencuri senjata tersebut


Pada hari ini akhirnya dia mengetahui, bahwa yang mencurinya adalah Ambara Moksa, dan dia tidak mempercayai akan hal itu. Tapi kenyataan sudah ada di depan mata. yang anehnya mata tingkat Ilahi yang dia miliki tidak mampu menemukan keberadaan senjata tersebut, padahal jiwanya sudah terhubung dengan senjata itu


Apakah Ambara Moksa mempunyai rahasia tersendiri, hingga pemiliknya tidak mampu mendeteksi keberadaan senjata tersebut. dan itu masih menjadi tanda tanya buat Ditya Prabu sendiri


Tapi sekarang pencurinya sudah dia hukum, dengan mencabut nyawanya, serta tidak akan bisa lagi menitis pada orang lain


Sekarang yang dia pikirkan adalah, agar Dragon menggunakan senjata tersebut untuk membinasakan Balapaksa, yang merupakan musuh terakhir yang masih ada di tempat itu


Namun tanpa dia sadari, sepasang mata sedang mengawasi mereka dari jarak jauh. dan itu tidak disadari baik oleh Ditya Prabu, Brawijaya maupun Dragon juga Pringgandani, apalagi oleh ratu Prameswari


Namun Balapaksa Milajanggi bisa merasakan, bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasinya, dan sedang pula berusaha pula untuk menyelamatkannya


Tapi di detik-detik terakhir yang yang sangat menentukan, anehnya pedang tersebut bisa merasakan keberadaan seseorang, yang sedang mengawasi mereka, dan tanpa membuang waktu lagi. langsung melesat ke arah Milajanggi, dan langsung menembus jantungnya, serta membuat tubuhnya meledak seketika


Setelah aksinya tersebut terlaksana. Kaisar pedang segera melesat ke arah langit, Dan seperti sudah mengetahui di mana jiwa yang sedang mengawasi mereka itu berada.


Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang sangat kuat dari gumpalan awan yang sangat tebal tersebut, hingga membuyarkan awan-awan tebal itu menjadi serpihan-serpihan kecil


Tapi keberadaan jiwa yang dari tadi mengawasi mereka tidak ditemukan. seperti sudah mengetahui bahwa keberadaannya sudah ditemukan, walaupun oleh sebuah pedang


Kejadian tersebut tentu saja membuat Ditya Prabu, Brawijaya, Dragon serta Pringgandani yang masih duduk bersila itu menjadi keheranan


Serentak mereka melihat ke langit, dan ingin mengetahui apa yang ada di sana. Namun setelah mereka mencari sekian lama. mereka tidak menemukan apa-apa


Tapi kenapa pedang yang berjiwa tersebut pergi ke langit, dan tak lama kemudian terdengar ledakan yang sangat kuat dari atas sana?


Apakah dia menemukan sesuatu, atau menemukan seseorang yang sedang mengawasi mereka?

__ADS_1


Kalau iya. Kenapa Ditya Prabu juga yang lain tidak bisa merasakannya. Apakah ada seseorang yang ilmunya jauh lebih tinggi dari mereka?


"Kalaupun iya. Lalu siapakah dia?"


__ADS_2