
Beberapa saat kemudian, orang yang dipanggil Daksa tersebut, sudah berada di sisi Jeny, tapi Jeny tidak bereaksi, malah cuek sekali
Melihat akting murahannya tidak mendapat respon, membuat Daksa menjadi naik pitam. tapi cepat ditahannya, demi mendapatkan simpati dari kedua nya
Dragon yang melihat itu pun hanya diam saja. Dia ingin melihat, bagaimana Jenifer dan Anjani memberikan pelajaran pada laki laki Bergaya seperti itu
Dia malah asyik menikmati makanan ringan, yang dia anggap enak itu, dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya
"Halo manis!. Aku yakin kalian berdua kenal dengan ku, karena kita pernah bertemu sebelumnya."
"Aku Aron Daksa!. Ketua cabang yang menguasai daerah ini, termasuk daerah hulu tempat kalian tinggal itu."
"Apakah kalian sudah ingat, atau pura pura lupa pada ku?" Ucap Daksa memperkenalkan diri. Sambil berusaha meraih tangan Jenifer, yang memang cantik itu
"Mohon sopan sedikit. Aku tidak kenal kamu!" Ucap Jenifer pura pura takut, sambil memindahkan tangannya dari atas meja
"Benarkah?. Nanti akan kenal dengan sendirinya, setelah kau bersama dengan ku!" Jawab Daksa merayu
"Minggir!. Kenapa matamu melotot begitu?"
"Apakah kau ingin dihajar?" Ucap Daksa pada Leon dan mengusirnya untuk pergi
Demi penyamarannya tidak terbongkar, terpaksa Leon menuruti kata kata dari Daksa sombong itu, dan berdiri di dekat Abhicandra
"Nah itu kan bagus!. Daripada bonyok wajah jelek mu itu, lebih baik menghindar!" Reaksi Daksa merasa menang
"Tapi aku belum puas, sebelum kalian bertiga pergi dari sini, atau berdiri di pojok sana!" Ucap Daksa pada Dragon, Leon dan Abhicandra
"Biarkan dua nona manis ini menemani ku makan." Ucapnya lagi
"Pak Samsu!. Jika kau masih ingin hidup. Cepat hidangkan makanan dan minuman yang paling enak."
"Aku ingin merayakan kebersamaan ku dengan dua gadis cantik ini!" Ucap Aron Daksa lantang. Kemudian duduk di kursi yang ada disebelah Jenifer
"Kamu dengar tidak, atau pura pura tuli?"
"Aku tidak kenal kamu, dan selamanya tidak mau kenal!"
"Cepat pergi dari sini sebelum aku hajar!" Ucap Jenifer merasa kesal
"Hahahaha!. Kalian dengar itu!. Gadis cantik dan lemah ini ingin menghajar ku!"
"Apakah aku tidak salah dengar?" Jawab Daksa terkesan lucu
"Kratos!. Katakan pada gadis kecil ini, bahwa dia kalah jumlah!"
"Atau biarkan dia berakting. Aku ingin lihat, apakah kemampuannya sama kerasnya dengan mulutnya yang lancang itu! "Respon Daksa tidak senang, dan tetap mempermainkan perasaan Jenifer
"Ayo nona manis!.Tunjukkan tarian mu di depan ku!"
"Aku ingin melihat kemampuan mu sebelum menemaniku di ranjang." Ucap Daksa meremehkan, dan masih cengengesan di depan Jenifer
Plak!
Gdubrak!
"Ketua!"
"Ketua Daksa!" Reaksi anak buahnya terkejut
Mereka tidak menyangka, hanya dengan sekali tampar, tubuh ketuanya terpental begitu rupa, dan jatuh menimpa kursi yang ada di belakangnya
"Beraninya kau!. Tidak tahukah kalian bahwa dia saudara sepupu dari bos besar kami?"
"Jika dia tahu bahwa saudaranya kalian permalukan seperti ini, kau akan mati!" Ucap salah seorang anak buahnya pada pada Jeny
"Oh ya?. Kenapa harus tunggu pengecut itu datang?. Kenapa tidak kalian saja yang menghajar ku untuk membela jago mesum itu?" Jawab Jenifer cukup berani
"Kalian semua, maju!" Ucap orang tersebut lantang
"Tunggu!. Aku tidak apa apa, jadi jangan emosi!" Teriak Daksa mencoba bertahan
"Sialan anak ini!. tamparannya keras juga."
"Aku ingin lihat, apakah tubuh mulusnya itu akan keras saat berada dibawah ku?" Batin Daksa dalam hati
"Gadis manis!. Memandang persahabatan kita yang cukup baik ini, aku sarankan kau bersikap kooperatif, dan jangan coba coba melawan."
"Kalau tidak, sayang tubuh mulus mu ini akan lecet karena amukan mereka."
__ADS_1
"Oh ya aku hampir lupa!. Aku lihat kau cantik juga nona!"
"Dari tadi ku lihat kau hanya diam saja. Apakah karena takut atau terpesona dengan ketampanan ku ini?" Ucap Daksa pada Anjani
"Oi pak tua!. Tolong izinkan dua anak gadis mu ini aku bawa, karena aku ingin bersenang senang dengan mereka!"
"Setelah puas baru aku kembalikan pada kalian!" Katanya pada Abhicandra
"Oh silakan!. Itupun jika kau mampu menyentuhnya!" Jawab Abhicandra santai saja
"Nah kan?. Apakah kalian tidak dengar perintah dari bapak mu itu?"
"Dia sudah mengizinkan, untuk kita bersenang senang." Ucap Daksa pada Jeny dan Anjani
"Kalian!. Cepat bawa dua gadis ini kebelakang!"
"Aku ingin bersenang senang dengan mereka!"
"Setelah aku puas baru giliran kalian!"
Plak!
Bug!
Des!
Bam!
Belum juga kering bibir Daksa berucap. wajahnya sudah terkenal tamparan dan pukulan cukup keras, hingga membuatnya terkapar dilantai warung itu
Dari mulutnya keluar darah segar, sedangkan tangannya bengkok dan dadanya sesak
Dia tidak tahu kapan seseorang melancarkan serangan. Yang dia tahu, tiba saja mulutnya ditampar, dan tangannya di tarik serta dadanya ditendang
Sedangkan dua gadis yang ada di dekatnya itu, terlihat tidak bergerak. Padahal sebenarnya bergerak dengan kecepatan tinggi, dan tidak seorangpun yang melihat gerakan cepat mereka, kecuali Dragon dan timnya
"Kurang ajar!. Apa yang telah kalian lakukan pada bos kami?"
"Apakah kalian yang melakukannya?" Ucap salah seorang anak buah Daksa pecundang itu emosi
"Ya!. Itu memang perbuatan ku!. Kenapa, tidak senang?" Jawab Jenifer santai
"Hehehe!. Ingin menangkap ku ?. Kalian belum pantas!" Jawab Jenifer enteng
Kemudian berkelebat kesana kemari, memukul dan menendang serta merobohkan anak buah Daksa, hingga mengerang kesakitan
Untung ruangan warung makan itu cukup luas. Berada di bantaran sungai, dan sedikit menjorok ke atasnya, hingga gerakan cepat Jenifer jadi leluasa, dan dapat merobohkan 25 orang itu dalam sekali gerakan
Tubuh Daksa yang sudah roboh itu tertimpa anak buahnya pula, hingga menambah rasa sakitnya bertambah parah
Dalam hatinya membatin, semengerikan itukah orang yang coba dia provokasi?. Padahal sejatinya kelihatan lemah, dan tidak menguasai keahlian apapun
Tapi kenyataan telah ada di depan mata. 25 orang laki laki yang biasa menindas, hari ini mereka pula yang ditindas. Sungguh memalukan!. Batinnya
"Bagaimana?. Apakah masih berminat ingin mengajak ku bersenang senang?" Tanya Jenifer pada Daksa penuh ejekan
"Siapa kau sebenarnya?. Kenapa bisa sekuat itu?" Ucap Daksa malah balik bertanya
"Aku?. Bukankah kau sudah tahu, bahwa aku ini adalah ibu mu, orang yang akan menghajar anak kurang ajar seperti mu?" Jawab Jenifer santai
Bug!
Bug!
Pergi sana!. Jangan menghalangi niat ku untuk memberi pelajaran pada anak durhaka ini!" Ucap Jenifer marah, sambil menendang tubuh tubuh tidak berdaya, yang menindih tubuh Daksa, hingga membuatnya terpental cukup jauh dan keluar dari warung tersebut
Orang orang yang berada disitu, termasuk Samsuar, hanya tercekat diam. Mereka tidak menyangka kelompok yang selalu memeras mereka itu, bisa kalah dengan satu orang wanita
Tapi itulah kenyataannya Semula mereka merasa khawatir, jika Jenifer dan keluarganya bakal susah, dan tidak bisa mengatasi kelompok pengacau itu
Namun kenyataan yang mereka lihat berbeda. Seluruh orang orang itu dibuat tidak berdaya, dan takluk tanpa sempat melakukan perlawanan
"Masih ingin bersenang senang dengan ku pecundang ?"
"Percuma berbadan besar. Tapi nyali kerupuk!"
"Hanya mengandalkan jumlah banyak, mencoba untuk memprovokasi kami!"
"Dasar tidak tahu diri!"
__ADS_1
Bug!
Blar!
Tubuh Daksa yang sudah banyak luka itu, terseret beberapa langkah, akibat terkena tendangan cukup kuat dari Jenifer
Tak cukup dengan menendangnya, Jeny berniat ingin menghabisi Daksa dengan sekali pukul, agar kedepannya tidak membuat masalah lagi. Lalu mencengkeram kerah baju Daksa, dan ingin membanting nya
Tapi tindakannya itu dihentikan oleh Abhicandra dengan berkata. "Cukup Jeny!. Jangan lakukan itu!" Ujarnya
"Tolong biarkan Jeny menghajarnya guru, eh maksud ku bapak!"
"Jeny belum puas kalau belum mencabut senjatanya itu!" Bantah Jeny tidak terduga
Senjata apa yang ingin dia cabut itu?. Apakah senjata milik Daksa yang tadi ingin digunakan untuk merayu Jeny?. Jawabannya mungkin iya
"Sudah cukuplah!. Jangan ditambah penderitaan orang itu. Dia sudah pingsan akibat pukulan mu tadi!" Ucap Abhicandra cukup bijaksana
"Benar sekali kak!. Dia sudah pingsan. Tinggal mengurus sisanya saja." Sambung Dragon menguatkan dan sekaligus perintah
"Baiklah tuan muda!" Jawab Jenifer lirih, dan hanya dia sendiri yang mendengarnya
"Kamu!. Kemari!. Cepat!" Ucap Abhicandra tegas
"Baik! baik!" Jawab anak buah Dasta yang masih bisa berdiri ketakutan
"Katakan!. Dari kelompok mana kalian berasal?" Tanya Abhicandra tegas, sambil mengirimkan aura kesadarannya pada orang itu
"Ka ka kami berasal dari kelompok delapan, dari 10 kelompok yang ada!" Jawab orang tersebut gugup
"Siapa ketua besar kelompok mu?. Apakah pecundang itu?" Tanya Abhicandra mengintimidasi
"Bukan!. Dia hanya ketua tiga, dan masih ada dua ketua lagi, yang saat ini sedang berada di markas." Jawab orang tersebut merasa tertekan
Entah mengapa lidahnya lancar mengatakan itu. Apakah karena pengaruh dari aura penekanan, yang dikirimkan oleh Abhicandra padanya barusan
Padahal setiap anggota tidak boleh mengatakannya pada siapapun. Mereka lebih baik mati dari pada harus membocorkannya. Tapi sudah terlambat. Dia sudah terlanjur mengatakannya
Ternyata Dragon lah yang membuat semua itu menjadi lancar. Diam diam dia mengirimkan segel kejujuran pada orang tersebut, sehingga mulut orang itu lancar mengatakannya
"Berarti masih banyak lagi orang orang seperti kalian ini ya?" Tanya Abhicandra penuh selidik
"Benar sekali pendekar!" Jawab orang tersebut berterus terang
"Berapa jumlah seluruh anggota kelompok mu di daerah ini?" Tanya Abhicandra lagi
"Jumlah kelompok delapan berjumlah kurang lebih 450 orang, termasuk ketua satu dan ketua dua."
"Orang yang ada disini hanya sebagian kecil saja."
"Masih banyak lagi anggota lain yang tersebar di seluruh wilayah ini."
"Rata Rata mereka terdiri dari orang orang kuat, dan sulit untuk dikalahkan!"
"Jika hanya kalian berempat, sudah pasti akan kalah!" Jawab Kratos, orang yang tengah dimintai keterangan nya oleh Abhicandra
"Begitu kuat kah mereka, hingga kau meremehkan kami?" Respon Jenifer tidak senang. Begitu juga dengan Leon dan Anjani
Tapi Dragon malah santai saja." Kakek!. Mau sampai kapan kita disini?. Aku sudah bosan!" Ujarnya
"Tunggu sebentar cucu ku!. Kakek hanya ingin memastikan saja, kalau orang ini tidak berbohong!" Jawab Abhicandra bersandiwara
Padahal dia tahu, bahwa tuan mudanya ingin agar dia menyelesaikan permasalahan sepele itu secepatnya
"Apakah kau masih ingin hidup?" Tanya Abhicandra penuh intimidasi
"Mau! mau! mau!.Kami masih ingin hidup!" Jawab Kratos semangat
"Kalau begitu!. Maukah kau membawa kami ke markas ketua mu itu?" Ucap Abhicandra penuh terdengar mustahil
"Ta ta tapi itu tidak mungkin!"
"Sifat ketua satu kami sangat kejam."
"Bila ada anggotanya yang tertangkap, dan membocorkan rahasia, pasti akan dibunuhnya saat itu juga!" Reaksi Kratos tidak ketakutan
"Kalau begitu kau matilah disini!" Ancam Leon garang
"Pak Samsu!. Apakah kau tidak keberatan kalau orang ini mati di warung mu?" Tanya Leon sekedar memastikan
__ADS_1