
"Kau bisa jawab sendiri. Bukankah kau seorang ahli urologi yang sudah bergelar profesor. Jadi jangan tanya aku"
"Hanya dengan memandangnya saja aku sudah tahu bahwa kau menderita penyakit itu."
"Kau kehilangan kontrol kandung kemih. dan saat tertawa, batuk bersin, marah, cemas dan lain lain, maka cairan itu akan keluar walau sedikit."
"Itu bisa saja disebabkan oleh racun. dan kulihat memang kau saat ini sedang keracunan. Bukankah begitu profesor?"
"Sungguh disayangkan. Bisa mengobati orang tapi tidak bisa mengobati diri sendiri!"
"Jika itu dibiarkan, maka ginjal mu juga akan kena, dan ku lihat memang sudah kena."
"Bukankah kau sering menahan kencing, karena asyik dengan pekerjaan mu?"
"Makanya kau bisa terkena inkontinensia. Benarkan?" Jawab Dragon cukup panjang dan membuat profesor Tama jadi termangu diam
"Aku sudah mencoba mengobati penyakit itu. Tapi entah mengapa tidak kunjung sembuh juga. Malah semakin parah. dan tadi sebelum kesini aku sudah mengkonsumsi obat terlalu banyak, hingga kehilangan kendali dalam kata kata."
"Jadi mohon maafkan aku yang tidak tau diri inilah. Aku sungguh kagum dengan penglihatan mu. kau lebih pandai dari ku!" Reaksi profesor Tama mulai melunak, dan sudah mengutarakan kata maaf nya
"Kalau boleh tau kau mengambil jurusan apa?. Kenapa pengetahuan mu tinggi sekali?"
"Aku saja tidak bisa mendeteksi racun itu tapi kau bisa. Luar biasa!" Ucapnya lagi dan tidak lagi menyembunyikan kekagumannya
"Aku mengambil jurusan hubungan internasional, yang tidak ada kaitannya dengan ilmu kedokteran.Tapi...." Jawab Dragon terputus, dan tidak mau melanjutkannya, karena sebenarnya dia juga mengambil jurusan kedokteran, tapi di universitas lain
Sementara di kampus tempat Ariandi Pratama menuntut ilmu, dia mengambil jurusan hubungan internasional. yang nantinya sangat berguna sekali saat dia menjadi pemimpin dunia
"Luar biasa!. Jurusan seperti itu bisa mengetahui tentang ilmu kedokteran."
"Coba kalau kau masuk ke fakultas kedokteran ku, maka aku akan membimbingmu, karena aku salah satu guru besar di sana."
"Eh maaf!. Aku baru sadar bahwa aku tidak pantas menjadi guru mu!"
"Ilmu mu jauh lebih tinggi dari ku. Jadi lupakan ucapan ku barusan ya?" Reaksi profesor Tama baru sadar akan posisinya
Kemudian menyalami Dragon. Lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas sambil berkata." Saudara saudara sekalian!. Aku sudah bertanya kepada anak ini, bahwa dia tidak berbuat curang. dan memang sudah mengerjakan soal hanya dalam waktu 3 detik!"
"Sekarang aku umumkan!. Dialah juara sejati yang sesungguhnya. Sedangkan Ariandi tidak ada apa apanya!"
"Siswa yang bernama Mahesa ini memang sangat luar biasa. aku juluki dia dengan manusia jenius sejagat raya!" Ujarnya berapi api, sampai membuatnya lupa bahwa celananya sedikit basah oleh air kencing akibat terlalu semangat
Prok! Prok! Prok!
Terdengar gemuruh tepukan di seluruh ruangan. Rata-rata mereka setuju dengan ucapan profesor Tama, kecuali Junandi dan anaknya
"Hentikan!. Aku tidak setuju!. Dia telah berbuat curang!"
"Jadi aku umumkan, mewakili dewan juri, bahwa gelar juaranya itu telah dicabut. dan ini surat keputusannya!" Ucap Junandi dengan suara lantang, sambil mengangkat surat keputusan dewan juri yang menetapkan bahwa Dragon telah berbuat curang tinggi tinggi
"Sembarangan!. Kau telah berani melawan ku Junandi!. Apakah kau sudah melupakan siapa aku?" Reaksi Tama tidak senang
Junaedi termangu diam. Dia tidak berani bersuara karena notabenenya dia adalah murid dari profesor Tama juga. Tapi itu sudah cukup lama dan bukan mengambil jurusan kedokteran pula
Sementara itu profesor Tama, setelah mengucapkan kata-kata barusan. Dia sudah tidak peduli lagi kalau celananya akan semakin basah. karena dia mengira celananya itu berwarna hitam, dan sudah dilapisi dengan celana pendek, yang di dalamnya ada kantong khusus, yang digunakan untuk menahan air kencingnya pula
Namun walau demikian, yang namanya zat cair, pasti akan keluar juga jika sudah terlalu penuh. Namun hal itu tidak bisa dilihat orang lain kecuali oleh Dragon
"Profesor Tama!. Jangan terlalu bersemangat begitu!"
"Lihat kantong yang kau gunakan sudah mulai penuh. Lebih baik cepat pergi ke toilet, dan bersihkan di sana!" Ucap Dragon lirih, yang hanya bisa didengar oleh profesor Tama seorang
"Baiklah!. Aku turuti saranmu itu!. Tapi tunggu disini. jangan kemana mana!"
__ADS_1
"Aku ingin memberikan pelajaran pada orang tua dan anak yang tidak tahu diri itu!" Jawab profesor Tama patuh
Kemudian tanpa memperdulikan pandangan orang-orang, dia bergegas pergi ke toilet yang ada di ruangan itu. Namun terlindung oleh banyak dinding, jadi orang lain tidak bisa melihatnya.
Setelah sampai di sana, dia langsung membuka resleting celananya, dan memeriksa kantong yang selalu dia gunakan
Ternyata apa yang dikatakan oleh Dragon itu benar. Entah bagaimana anak tersebut bisa mengetahui sesuatu yang tersembunyi. Padahal Tama sudah menyembunyikannya begitu rapi. Tapi Dragon masih bisa melihatnya. Apakah dia mempunyai mata tembus pandang?
Sebenarnya boleh dikatakan iya. Kitab inti bumi dan kitab inti semesta yang sudah menyatu itu, ditambah lagi dengan ilmu-ilmu lain yang sudah Dragon kuasai. telah membuat pandangannya tidak terbatas. Bahkan ke ujung bumi pun dia bisa melihatnya tanpa perlu mengedarkan aura kesadarannya lagi, guna mendeteksi sesuatu benda di sana.
Pandangan itulah yang saat ini digunakan oleh Dragon, untuk untuk melihat kondisi Tama. dan ternyata dia menderita penyakit inkontinensia yang sudah mulai akut. Tapi sebenarnya Dragon bisa mengobatinya hanya dengan menyentuh atau menyalurkan aura penyembuhannya saja, dan itu akan dilakukan suatu saat nanti. Karena dia melihat profesor Tama sebenarnya adalah orang baik. Dia cuma terpengaruh dan akan dibayar oleh Junandi Pratama agar memenangkan anaknya
Mungkin suatu saat nanti profesor Tama akan berterus terang, bahwa dialah yang telah memberikan kertas jawaban pada Ariandi dengan urutan-urutan yang tepat. Tapi untuk saat ini dia masih malu mengakuinya, padahal Dragon sudah tahu cerita yang sebenarnya
Tak lama sesudah itu, profesor Tama pun keluar dari toilet dan langsung menuju ke arah Dragon
"Bagaimana?. Apakah sudah sedikit lega?" Tanya Dragon bercanda
"Iya!. Aku sudah sedikit lega."
"Sekarang aku mau terus terang padamu, aku lah orang yang telah memberikan kertas jawaban pada Ariandi dengan urutan-urutan yang tepat."
"Sedangkan padamu tidak. Tapi ternyata kau bisa mengalahkannya, dan entah bagaimana kau bisa menjawabnya dengan benar?"
"Aku sungguh takluk padamu!. Maukah kau menjadi guruku!" Bisik profesor Tama di telinga Dragon dengan suara lirih
"Anda jauh lebih pandai dari dari yang lain, termasuk aku. Tidak mungkin aku yang masih muda ini akan menjadi gurumu. Apa kata dunia?" Jawab Dragon sedikit berkelakar
"Aku tidak peduli!. Mau dikata hitam mau pun putih aku tidak peduli!"
"Aku seorang yang gila akan ilmu, dan aku akan belajar sampai kapanpun, walaupun harus menuntut kepada anak kecil termasuk denganmu!" Jawab profesor Tama berapi api
"Jadi mau kan kamu jadi guruku?" Jawab dan tanya Tama tidak terduga dengan tekadnya itu. hingga membuat Dragon tersipu malu
"Setinggi apapun ilmu, jabatan seorang anak, dia tetaplah anak. Mana ada orang tua yang memanggil anaknya dengan panggilan pak, tuan dan lain sebagainya, sama dengan Dragon saat ini
Jika dia menerima profesor Tama yang sudah lama berkecimpung di bidangnya itu menjadi muridnya. tentu dia akan dianggap sangat kurang ajar, dan itu akan selalu dihindari oleh Dragon yang berbudi luhur tersebut
"Oh ya setelah ini maukah kau makan bersamaku?. Aku akan mentraktir mu." Ucap profesor Tama membuyarkan lamunan dragon dan sedikit mengagetkannya
"Kau pasti punya tujuan kan?" Tanya Dragon langsung pada intinya
"Hahaha!. Kau tahu saja!"
"Iya!. Aku ingin meminta bantuanmu untuk mendeteksi penyakitku juga yang lain. dan jika memungkinkan bisa mengobatinya!"
"Apakah anda bersedia?" Reaksi Tama malu malu dan apa adanya
"Baiklah!. Undangan mu aku terima, dan akan mengusahakan mengobati penyakitmu itu, karena ku lihat belum begitu parah baru diambang ikut mungkin aku bisa?"
"Tapi dengan syarat bahwa kau akan tetap berjalan di jalan lurus dan jangan mau dibayar oleh orang lain!. Bisa?" Jawab Dragon tegas
"Oke deal!" Jawab profesor Tama bersemangat
"Untung uang yang dijanjikan itu belum dibayarkan oleh Junandi itu. Kalau sudah maka aku tidak akan mau menolongmu!. Tapi walau demikian aku sedikit kecewa!"
"Namun untuk kali ini aku maafkan. Walau sedikit terlambat tapi belum terjadi." Sambung Dragon berterus terang
"Terima kasih anak muda!. Eh bukan master!. Aku setuju dengan pendapatmu itu!" Jawab profesor Tama sudah mulai merubah panggilannya terhadap Dragon
"Baik!. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dragon ingin tahu
"Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan!. Aku adalah guru besar, wakil rektor, dan sebentar lagi akan menjadi rektor!"
__ADS_1
"Oleh karena itu aku bisa berbuat sesuatu di luar perkiraan orang!" Jawab profesor Tama sambil mengusap hidungnya
Kemudian tak lama sesudah itu dia menghadap kepada hadirin yang ada, dan berkata." Saudara-saudara sekalian!. Tadi aku sudah mengumumkan, bahwa anak ini yang telah menjadi juaranya, karena aku sudah bisa melihat, bahwa dia tidak berbuat curang!"
"Masalah ketentuan yang sudah diputuskan oleh tim juri, itu bohong!. Karena sejujurnya mereka telah dibayar oleh Junandi Pratama untuk memenangkan anaknya!"
"Oleh karena itu mari kita sepakat denganku. bahwa Mahesa lah yang berhak menyandang juara! Apakah kalian setuju?" Ujarnya cukup lantang
"Setuju!. Kami sangat setuju profesor!"
"Anda sungguh hebat!. Kami mendukungmu!" Ucap ratusan hadirin yang hadir di aula tersebut berbarengan
Junandi Pratama dan anaknya, serta balasan panitia serta empat dewan juri menjadi gelagapan. Mereka tidak menyangka bahwa kedoknya akan mudah sekali terbongkar. Tapi apa yang dikatakan oleh profesor Tama itu belum terbukti. Dia baru berkata saja. Mereka yang hadir tidak akan tahu, bahwa di bawah meja mereka sudah ada amplop yang begitu tebal, dan itu dimasukkan ke dalam tas-tas mereka
Jika orang lain memeriksa tas mereka. Maka akan ketahuan, bahwa mereka telah disogok demi untuk memenangkan Ariandi Pratama yang gila akan kehormatan itu
"Tidak bisa!. Di sini akulah yang menentukannya! bukan kau! Reaksi Junandi Pratama tidak terima
Kemudian seperti ingin melakukan sesuatu, dengan mengeluarkan handphonenya. Namun belum juga dibuka, tiba-tiba terdengar bunyi..
Bib!
Itulah bunyi notifikasi yang masuk di handphone Junandi yang datang secara tiba tiba. Lalu segera memeriksanya. Tapi alangkah terkejutnya dia begitu membaca pesan itu. yang berbunyi." Kamu dipecat!" Tertanda Dion Mahesa Birawa
Dia membacanya berulang-ulang. dan seakan tidak percaya, bahwa pemilik hotel yaitu Dion telah memecatnya. Dia terus berpikir, kenapa pemilik hotel melakukan itu?. Apakah dia sudah melakukan kesalahan?
Mungkinkah Dragon ada hubungannya dengan pemilik hotel ini, sehingga gara-gara mencari masalah dengannya dia jadi dipecat
Namun dia tidak mau percaya, pasti bukan Dragon. Pasti ada orang yang sudah melaporkan tindakan sewenang-wenang nya di hotel tersebut?
Kalaupun benar Dragon yang melakukannya dia pasti tidak akan percaya. Pun bagaimana seorang Dragon bisa menjatuhkannya?
Buntu terasa pikirannya, dan tetap tidak mau mengakui bahwa Dragon lah yang telah menyebabkannya jatuh seperti itu
Dia hanya berdiri diam, dengan kaki gemetaran, dan memandang Dragon berkali-kali juga pada hadirin yang ada. Mereka yang dipandang juga merasa keheranan. Kenapa tiba-tiba orang terkaya di hotel itu berubah seperti ketakutan, dan suaranya tidak terdengar lagi semakin lirih lirih dan lirih
"Ada apa Ayah?. Kenapa ayah gemetaran seperti itu?"
"Apa yang terjadi?" Tanya Ariandi merasa penasaran
Plak!
"Dasar anak pembawa sial!. Gara-gara kau aku dipecat! dan hanya diberi pesangon sebesar tiga bulan gaji!"
"Jika bukan karena kau! Ayah masih duduk enak dengan posisi general manager di hotel bintang lima ini!"
"Tapi setelah kau mengadu, dan ingin mengadakan debat, posisi ayah jadi hilang!. Itu semua gara-gara kau anak pembawa sial!" Jawab Junandi Pratama berterus terang. Kemudian jatuh ke lantai lalu pingsan
***
Satu hari kemudian. Dragon terlihat sudah berada di universitas ternama di ibukota. Di tempat itu dia mengambil jurusan kedokteran, atau tepatnya sekarang dia berada di halaman fakultas kedokteran yang terlihat agak sepi, karena belum banyak mahasiswanya yang datang
Hanya ada beberapa mahasiswa yang lalu lalang di dekat situ, dan itu pun mungkin bukan mahasiswa kedokteran. itu terlihat dari pakaian mereka yang sangat santai
Tapi satu jam kemudian. Serombongan anak muda datang. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, datang dari satu arah, dan langsung memasuki ruang di mana pelajaran akan dimulai
Begitu mereka semuanya masuk, Dragon pun menyusulnya
Tapi begitu dia sampai. Alangkah terkejutnya dia. Ternyata yang ada di tempat itu sangat dia kenal
"Kau?"
"Jadi?"
__ADS_1