
Keesokan harinya. Semua yang Dragon rencanakan sudah terbukti benar. Durna dan orang orangnya sudah ditangkap oleh pihak berwajib, dengan tuduhan penggelapan pajak dan manipulasi kesejahteraan karyawan
Bukan hanya dia saja yang ditangkap. Tiga bos farmasi lain juga mengalami hal yang sama. Mereka ditangkap karena tuduhan penggelapan pajak juga
Bersama dengan mereka juga ada beberapa pemegang saham, enam orang direktur, dan empat manajer keuangan. Mereka ditangkap karena membantu memuluskan rencana bosnya untuk berbuat jahat
Untuk sementara empat perusahaan farmasi tersebut ditutup, dan karyawannya diliburkan
Banyak orang yang tidak menyangka, bahwa perusahaan sebesar itu bisa berbuat curang. Ditambah lagi dengan sikap mereka yang tidak sportif, dengan tidak mau mengakui bahwa mereka salah
Sikap itu semakin membuat orang orang yang berseberangan dengan perusahaan menjadi semakin tidak suka, dan melabeli mereka dengan predikat pengemplang pajak. Jadi komplit lah gelar yang disandang oleh mereka, tapi sangat memalukan.
Segera setelah itu terpampang tulisan yang cukup besar. Disegel!
Dengan tulisan itu orang-orang jadi tahu, bahwa perusahaan tersebut telah ditutup. Sementara karyawannya tidak ada terlihat lagi.
Kini hiruk pikuk bunyi mesin dan suara-suara karyawan sudah tidak terdengar lagi, yang ada hanya kesunyian, seperti monumen yang sedang kesepian
***
Sementara itu ditempat lain. Doni dan beberapa orang suruhannya, terlihat sedang menunggu di suatu tempat. Mereka sengaja mengambil tempat itu untuk membuat perhitungan dengan Dragon
Tapi mereka salah perhitungan. Yang datang bukan Dragon tapi Rambaya. Dia disuruh oleh Dragon untuk menghadapi mereka
"Siapa kau?. Dimana Mahesa?" Tanya Doni tidak terima
"Orang seperti kalian belum pantas untuk berhadapan yang mulia!"
"Sebagai gantinya aku yang disuruh untuk menghajar kalian."
"Jadi bersiaplah!. Terutama kau Drona!"
"Gerombolan hantu malam yang tidak tahu diri dan lupa siapa tuannya!" Jawab Rambaya emosi
"Jangan macam-macam kau!. Aku tidak mempunyai atasan! Atasanku adalah Alex!" Reaksi Drona tidak terima
"Apakah kau lupa dengan orang yang selama ini mengayomi kalian, atau pura pura lupa?" Tanya Rambaya mengingatkan
"Ah itu alasan mu saja. Jangan pedulikan!"
"Cepat hajar orang itu, karena telah berani mengganggu kita!" Ucap Doni memotong pembicaraan
"Aku ingatkan dengan suatu nama Bi..."
"Hiaaa!"
Bugh!
Plak!
Bamm!
"Argh!" Teriak Drona kesakitan, saat tubuhnya ditendang dengan jurus cukup mematikan, yang dilakukan oleh Rambaya
Awalnya saat dia sedang bicara. Drona maju menerjangnya. Tapi serangannya tidak membuahkan hasil
Rambaya yang diutus itu bukan lah orang sembarangan. Dia merupakan komandan utama bawahan pangeran Daksa. Adik raja Kaladaksa, pengikut Dragon yang setia
Mendapat serangan itu bukan malah membuatnya panik. Malah dengan santainya menangkis serangan Drona, pun hanya menggunakan satu tangan dan kaki saja, hingga mengakibatkan tubuh Drona terluka
Anak buah Drona tidak bisa membantu, karena kejadiannya begitu cepat dan sudah berada di luar jangkauan mereka
Jadi yang bisa mereka lakukan adalah mendatangi atasannya, untuk memberikan pertolongan, minimal untuk berdiri
"Aku ingatkan pada kalian!. Jangan berani mengganggu tuan muda Mahesa lagi, karena kalian tidak pantas untuk berurusan dengannya!" Ucap Rambaya sambil berbisik
"Siapa dia sebenarnya?" Tanya anak buah Drona ingin tahu
"Kau belum pantas mengetahuinya. Tapi aku bisa menyadarkan kalian tentang Birawa Group..!"
"Birawa Group?. Apakah di di dia..? Respon Drona ketakutan
"Ssst!. jangan kuat kuat.!" Cegah Rambaya mengingatkan
"Ingat!. Jangan sampai masalah ini diketahui oleh orang lain, apalagi orang yang menyuruhmu itu. Karena identitas orang yang akan kalian sakiti itu tidak biasa."
"Jadi aku ingatkan pada kalian! Jika masih ingin hidup dan kelompok kalian masih ingin tetap ada. Cepat pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" Ucap Rambaya dengan suara pelan
"Ba ba baik!. Kami akan pergi!"
"Tapi izinkan kami memberi pelajaran pada bocah itu!" Jawab Drona terbata bata
"Silakan!. Tapi jangan berlebihan. "Sambung Rambaya mengijinkan
Kemudian pergi dari tempat itu, tanpa menoleh lagi, karena tugasnya sudah selesai
"Tunggu!. Setelah menghajar orang orang ku, mau pergi begitu saja. Enak benar!".
"Kak Drona!. Cepat hajar orang itu!, karena dia telah berani mengacuhkan ku!"
"Dia belum tahu siapa aku!" Teriak Doni dengan suara keras
Plak!
__ADS_1
Bugh!
"Aaahhh!"
"Apa yang kau lakukan?. Kenapa kau malah memukul ku?" Respon Doni kebingungan
Tapi bukan jawaban yang ia dapatkan, malah tamparan lebih kuat lagi yang mendarat di pipinya
Plak!
Plak!
"Argh!" Teriak Doni lagi
Kali ini tubuhnya tidak bisa berdiri lagi. Dia jatuh di tanah dengan wajah lebam
"Badjingan!. Kau sudah menjerumuskan kami ke lubang kematian!"
"Kalau tau bakal begini. sudah sejak awal kau ku hajar!"
"Hiaaaa!"
Bugh!
Bamm!
Suara Doni tidak terdengar lagi. Sepertinya dia pingsan, dan sedang bermimpi menghajar Dragon. Tapi keadaan mendadak sunyi. karena tempat itu jarang didatangi orang
"Ayo pergi, dan jangan pernah lagi berurusan dengan bocah itu!" Ucap Drona kesal
Kemudian meninggalkan Doni yang sedang terkapar pingsan
Sepeninggal Drona dan tiga anak buahnya. Tiga orang yang sudah kita kenal muncul dari tempat persembunyiannya
Salah seorang mereka berkata. "Siapa mereka?. Kenapa malah menghajar Doni?"
"Bukankah mereka orang yang dibayar oleh Doni untuk menghajar Mahesa?. Tapi kenapa malah Doni yang mereka hajar?"
"Apakah mataku tidak salah lihat?" Ucap Baron pada dua orang temannya
"Aku juga sedikit merasa aneh!. Kata Doni dia mempunyai kenalan dari geng hantu malam. Mungkin mereka orangnya?"
"Mereka memang kelihatan kuat, dan jika berhadapan dengan Mahesa tentu saja dia kalah, karena aku lihat Mahesa tidak bisa berbuat apa-apa, selain merayu cewek."
"Tapi anehnya malah Doni yang mereka hajar, bukannya Mahesa?"
"Ini jelas tidak benar!" Jawab Tino semakin membuat Baron kebingungan
Begitu mereka sampai. Tino pun berkata dengan ekspresi panik. "Ron lihat!. Mulut Doni berdarah. Mungkin organ dalamnya terluka?"
"Bisa jadi!. Lalu apa yang harus kita lakukan?. Jika kita biarkan Doni di sini takutnya dia akan mati."
"Tapi jika kita melaporkan keadaannya nanti kita pula yang akan dipersulit?" Jawab Baron menguatkan
"Lalu bagaimana Ron, apakah kita lari saja?" Tanya Mugi ingin penegasan
"Tunggu apa lagi?. Ayo pergi!"
"Nanti bakalan dia bangun sendiri?" Jawab Baron lepas tanggung jawab
Kemudian bergegas pergi meninggalkan Doni, yang masih terkapar pingsan di tanah
Namun tanpa mereka sadari, tak jauh dari tempat Doni pingsan itu, ada sesosok tubuh yang berdiri diam. Dia hanya mengamati Doni dari jarak jauh, dan mengirimkan aura penyembuhannya kepada Doni, lalu pergi
Sambil dia pergi itu dia berguman sendiri." Teman apaan itu?. Kawan sedang kesusahan malah ditinggalkan begitu saja!"
"Kalau itu aku, di kemudian hari jika aku tahu mereka berbuat demikian, maka aku akan membuat perhitungan dengan mereka. Tapi untungnya bukan aku." Guman nya sendiri, lalu melanjutkan perjalanannya
Satu jam kemudian. Doni sudah siuman dari pingsannya, dan mendapati tubuhnya sudah tidak apa-apa. Tidak lagi merasa sakit, dan tidak ada sedikitpun yang terluka.
Tapi dia tidak tahu, secara diam diam seseorang yang ternyata adalah Dragon, sudah memasukkan formasi kutukan ke dalam tubuhnya. Jika pada suatu saat Doni berbuat kejahatan lagi, maka tubuhnya akan meledak, minimal lumpuh, dan tidak ada siapapun yang bisa dituduh telah membunuhnya
"Apa yang terjadi?. Kenapa aku tergeletak di sini?. Lalu ke mana orang-orang yang aku bayar itu?"
"Ah sekarang aku baru ingat!. Bukankah mereka yang telah menghajar ku?. Tapi kenapa?" Tanya Doni pada diri sendiri
Kemudian bangkit dari tanah, dan berjalan pergi dari tempat itu untuk mencari teman-temannya
Sepuluh menit kemudian. Doni menjumpai teman-temannya sedang makan di kantin sambil tertawa-tawa. Dia tidak tahu kalau Baron juga yang lain tadi sudah melihatnya tergeletak di tanah, yang berada di belakang kampus. Jadi dia tetap mendekati mereka untuk menceritakan apa yang telah dialami
"Hai Doni!. Ke mana saja kau?"
"Kami sudah puas mencari mu. Ternyata kau datang sendiri." Ucap Baron memulai pembicaraan
"Dasar kalian ini!. Teman dalam kesusahan malah kalian enak enakan makan di sini."
"Apakah kalian tidak tahu bahwa aku barusan saja dihajar, dan tubuh ku penuh dengan luka?"
"Kau lihat pipiku ini!. Pasti lebam akibat dihajar oleh para badjingan itu!" Jawab Doni emosi
"Dihajar?. Oleh siapa?. Sepertinya kau baik-baik saja?"
"Kalau dihajar tentu pipimu tidak seperti itu. Pasti bengkak, merah ataupun luka, tapi ini tidak?"
__ADS_1
"Kau nya saja yang bercanda. Ada-ada saja kau ini!" Respon Baron pura-pura tidak tahu
"Benar!. Aku barusan dihajar oleh orang yang aku bayar itu!. Tapi entah bagaimana mereka malah menghajar ku dan bukan malah menghajar Mahesa!"
"Eh tunggu dulu!. Bukan Mahesa, tapi seseorang yang aku tidak kenal."
"Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Drona yang aku bayar itu, dihajar habis-habisan oleh orang tersebut. Dan dia tidak mampu melawan sedikitpun!"
"Bahkan secara samar aku mendengar, orang tersebut memberikan peringatan pada Drona, dan ada sebuah kata tapi tidak jelas sesudahnya. Dia seperti mengatakan kata bi,Tapi aku tidak tahu apa artinya."
"Bi?. Apakah itu singkatan?" Tanya Tino penasaran
"Entahlah!. Aku juga tidak tahu apa maksud dari kata bi itu."
"Mungkin kode sesama geng, atau jenis peringatan yang sering mereka gunakan."
"Tunggu, tunggu, tunggu!. Sepertinya aku pernah mendengar kata bi itu, tapi apa ya?"
"Bi bi. Bisa jangan macam macam. Jangan kemana-mana!. Jangan ganggu lagi dan lain lain."
"Tapi ah sudahlah!. Merepotkan saja!"
"Ayo duduk. Kenapa berdiri saja?.
"Pesan makanan yang kamu suka. Aku yang traktir!" Ucap Baron mulai bosan
Sedang mereka makan itu, lewat seseorang yang sangat mereka kenal, dia adalah Clara, orang yang sangat mencintai Dragon. Tapi dia tidak datang sendiri, namun bersama dengan dua orang temannya sesama perempuan
Mereka juga ingin makan di kantin tersebut, karena hari sudah siang, dan tidak sempat untuk membeli dari luar kampus, karena mata kuliah masih harus mereka selesaikan sampai pukul 2 nanti
"Lihat itu bidadari mu!. Apakah kau tidak ingin mencari perhatian darinya?" Tanya Mugi memanas manasi
"Gila kau!. Apakah kau tidak lihat 4 orang pengawalnya itu?. Mereka selalu mengikuti kemanapun Clara pergi. Jika aku mendekat, mati lah aku!" Reaksi Baron hilang keberanian
"Tapi mereka kan cuma pengawal. Tidak apa-apa jika kau bertanya baik-baik, dan berusaha menarik perhatiannya?" Bantah Tino memberi semangat
"Benar juga katamu. Biar aku coba!" Reaksinya mulai senang
Kemudian berdiri dari kursinya, dan berjalan mendekati tempat Clara serta dua orang temannya duduk itu
Begitu dia hampir sampai, Baron langsung memasang tebar pesona, dengan berpura-pura menyingsingkan lengan bajunya supaya terlihat macho
Aksinya yang kampungan itu, membuat dua orang teman Clara tersenyum geli, kemudian mencolek tangan Clara agar melihat ke arah Baron
"Lihat Playboy kampus itu!. sepertinya ingin menarik perhatian salah seorang diantara kita?"
"Tapi aku yakin itu kamu Clara." Ucap Sharon sambil melirik ke arah Baron
"Orang lemah seperti itu ingin mendekatiku?. Mimpi!"
"Coba kau lihat pertunjukan ku! Aku jamin dia tidak akan sampai di sini!" Jawab Clara, sambil mengambil kacang tanah yang sudah terkelupas kulitnya
Kemudian menjentikkan kedua jarinya ke arah Baron. Lalu kacang tanah yang tadi dipegangnya, meluncur deras ke arah Baron, dan telah mengenai otot kakinya
Tiba-tiba saja Baron terjatuh, kemudian ambruk ke belakang, karena otot kakinya di totok oleh Clara dari jarak jauh, hingga membuat keseimbangan tubuhnya tidak bisa lagi dipertahankan
Malangnya dia jatuh menimpa meja gurunya yang sedang asyik makan, dan Baron tidak menyadarinya. Dia memang selalu makan di situ, karena dia juga tidak sempat pulang ke rumahnya
"Apa-apaan kau ini?. Kenapa kau menabrak mejaku, hingga menumpahkan makanan yang sedang aku makan ini?" Reaksi gurunya tidak terima
Kemudian mendekati Baron, dan mencengkram kerah bajunya. seperti ingin menamparnya. Tapi begitu melihat mulut Baron yang seperti kesurupan itu, dia baru menyadari bahwa Baron sedang menahan rasa sakit
Kemudian memanggil yang lain untuk memberikan pertolongan pada Baron
Sebentar saja di sekeliling guru itu juga Baron sudah penuh dengan mahasiswa yang ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi
Di sela-sela mereka melihat itu, mereka baru menyadari, bahwa yang sedang menjadi tontonan orang orang adalah Baron, Playboy yang sangat terkenal di kampus tersebut
"Rasain!. Sekarang kau baru terkena batunya. Bukan aku tidak tahu kau ingin menggoda Clara!"
"Tapi sayangnya kau telah mempermalukan diri sendiri!. Belum apa-apa kau sudah jatuh dan berperilaku seperti ini!"
"Memalukan!" Ucap salah seorang mahasiswi pada temannya
"Ssst!. Jangan kuat-kuat!. Nanti dia mendengarnya, dan akan membuat perhitungan denganmu!" Sambung temannya memperingatkan
"Ah biarlah!. Aku tidak takut dengannya!"
"Aku bisa meminta bantuan dengan Clara. Aku lihat dia sepertinya menyembunyikan kekuatan yang dia punya."
"Pernah aku melihat Clara mengalahkan dua orang mahasiswa yang ingin mengganggunya. Saat itu dia sedang berjalan sendiri, dan keadaan sangat sepi."
"Namun dengan mudah Clara mengalahkan mereka. Ternyata bukan mahasiswa, tapi orang luar yang menyamar sebagai mahasiswa." Jawab temannya cukup mengejutkan
"Kapan itu?" Tanya temannya ingin tahu
"Dua hari yang lalu." Jawab temannya apa adanya
"Benarkah?" Respon temannya tidak percaya
"Ah sudahlah!. Ayo kita lihat apa yang akan dilakukan oleh pak Maryono itu?"
"Apakah dia akan membuat perhitungan dengan Baron atau malah mengobatinya?" Sergah mahasiswi itu dengan ekspresi kesal
__ADS_1