
"Lagi lagi anak itu. Tidak ada kapok kapoknya dia?" Guman seseorang yang sedang mengamati keakraban Dragon dan Yunita di dalam kantin
"Apa yang harus kami lakukan bos?. Apakah mendatangi anak itu dan memperingatkannya lagi?" Respon anak buahnya cepat
"Kau ini bodoh atau apa?. Bukankah guru kita sudah mengatakan, agar tidak mencari masalah dengan bocah itu?"
"Kalau kita nekat membangkang, maka kita sendiri yang akan kena imbasnya!"
"Jadi tunggu dan amati saja, sambil mencari informasi siapa bocah itu sebenarnya?" Jawab David kurang senang
Kemudian menyambung lagi perkataannya. "Yang aku tidak mengerti, kenapa seorang Hermawan bisa takut pada anak itu?. Mungkinkah statusnya tidak biasa?"
"Tapi rasanya tidak mungkin?. Sehari-hari dia berangkat kuliah menggunakan motor matic, dan sudah kalian selidiki."
"Penampilan sehari-harinya saja serba sederhana seperti itu. Tidak berpakaian bagus dan mengenakan aksesoris mewah. Mirip seperti orang susah."
"Tapi kenapa pak Hermawan yang terkenal killer itu segan padanya, hingga memerintahkan kita agar tidak mencari gara-gara dengannya?"
"Ini aneh, benar-benar aneh!. Aku harus cari tahu melalui orang lain!" Batinnya sendiri dalam hati
Kemudian pergi begitu saja, dan malas melanjutkan pengamatan, terhadap dua orang sejoli yang sedang makan di kantin tersebut karena terbakar cemburu
***
Sementara itu di tempat lain. seseorang yang sangat dikenal, sedang mengamati David dan orang-orangnya. Dia adalah Rambaya, yang memang sudah ditugaskan untuk mengawal Avatar Dragon yang ada di kampus itu
Untuk diketahui. Rambaya adalah sebutan untuk para pengawal ghaib Dragon yang sudah menduduki posisi komandan. Nama aslinya adalah Pinot Cakka. Sedangkan yang di kampus lain bernama Cakala Rupa. Jadi mereka berbeda, tapi mempunyai wajah yang sama. Kekuatannya juga sama
Saat itu dia didampingi oleh empat orang anak buahnya, mendampingi sepuluh pengawal Dragon yang keberadaannya tidak diketahui
Saat mendengar David berkata seperti itu. Dia menjadi murka dan ingin menghajarnya saat itu juga
Tapi dia sudah dipesankan agar tidak terlalu mencolok, dan bertindak saat diperlukan. Namun hatinya kesal juga atas ucapan David yang merendahkan itu
"Pakal saja yang mulia mencegahku untuk tidak bertindak secara berlebihan. Kalau tidak sudah sejak awal wajahnya berdarah darah, dan sulit untuk dikenali lagi!" Batinnya dalam hati
"Rausal!. Ikuti orang itu dan terus awasi apa yang ingin dia lakukan pada yang mulia!"
"Jika terdapat bukti tindakannya membahayakan, segera bertindak!" Ucap Rambaya memberi perintah
"Siap komandan!" Jawab orang yang bernama Rausal itu patuh. Kemudian mengajak dua orang temannya untuk pergi
"Kak Mahesh!. Sejak kapan kau bisa bahasa Jerman?. Kenapa selama ini aku tidak tahu?" Tanya Yunita merasa penasaran
"Apakah aku harus memberitahumu, dan mengumumkannya di media massa, bahwa aku bisa bahasa Jerman?"
"Aku rasa itu tidak perlu!. Cukup kau lihat dan dengar, maka itu sudah merupakan jawaban dari pertanyaan mu!" Jawab Dragon ketus
"Kenapa malah nyolot?. Aku kan cuma bertanya. Kenapa harus marah?" Respon Yunita merasa tersinggung
__ADS_1
"Maaf!. Aku sedang tidak mood menjelaskannya." Jawab Dragon acuh tak acuh. Kemudian melanjutkan makan. Dan tak lama sesudah itu dia pergi setelah meminta maaf sekali lagi pada Yunita
Pada dasarnya Dragon tidak menyukai Yunita karena sikapnya itu. Tapi tidak seluruhnya benar. Ada alasan lain kenapa Dragon tidak begitu menyukainya
Namun karena orang sudah berbuat baik, pun tidak membahayakan, maka Dragon tetap menanggapinya dengan baik juga. Walau kadang-kadang sikap Yunita itu terkesan ceriwis dan mau menang sendiri. Tapi Dragon tetap bersikap baik padanya
Jika dipikir pikir memangnya Yunita itu siapanya Dragon?. Bukankah hanya sekedar teman?. Itu pun hanya teman sekampus yang kebetulan berkenalan di dalamnya
Dia kuliah pun tidak satu jurusan dengan Dragon. Kalau Dragon mengambil jurusan manajemen bisnis. Sementara Yunita mengambil jurusan sastra Jerman, karena dia bercita-cita ingin bekerja di konsulat Indonesia yang ada di sana
Karena dia merupakan mahasiswa aktif di jurusan bahasa Jerman, maka saat Dragon berbicara menggunakan bahasa Jerman, yang susah payah dia pelajari itu, Yunita jadi penasaran. Dia ingin tahu, dari mana Dragon bisa mempelajari itu. Sedangkan mata kuliah yang dia ambil bukan jurusan tersebut
Tapi gramatika dan pengucapan lidah Dragon sangat pas sekali. mirip seperti aslinya. Oleh karena itu Yunita merasa sangat penasaran, dan ingin tahu bagaimana Dragon bisa mempelajarinya
Yunita saja yang tidak tahu, bahwa Dragon mampu mempelajari semua bahasa yang ia kehendaki. Bukan hanya bahasa Jerman saja. Dragon juga sudah menguasai bahasa Inggris, Prancis, Mandarin, Korea, Arab dan lain sebagainya
Tapi dia tetap rendah hati dan menunjukkannya saat diperlukan saja. Tidak perlu mengumbarnya di depan umum, jika mereka tidak meminta. Itulah sikap yang seharusnya orang lain juga punya
Jangan belum apa apa sudah berkoar koar kemana mana. Akulah yang hebat, akulah yang mulia, dan akulah yang pantas untuk dihormati. Tapi isinya kosong. Percuma juga?
Tapi Dragon tidak. Walaupun dia kaya, berkuasa, berpengetahuan luas, sakti lagi. Namun dia tetap rendah hati. Bahkan mau belajar dan terus belajar. serta mau mendengar saran orang lain
Jika dipikir pikir, apa yang tidak dia kuasai. Semuanya sudah. Tinggal legalitas saja. Bukankah itu mudah?
"Ah lupakan saja!.Toh dia hanya sekedar kawan. bukan pacar?" Gerutu Yunita pelan. Kemudian keluar dari kantin itu untuk mengikuti pelajaran
***
Seperti di perguruan Wahyu taqwa, Pertambangan emas, beberapa kilang minyak, Dua kota yang baru dibangunnya serta di kampung Rawa Buaya, dan masih banyak lagi. Mereka masih setia berada di sana
Malam pun berlalu seperti biasanya. Tidak ada hal-hal yang spesifik. berjalan apa adanya, Dragon dan keluarganya juga demikian
Setelah puas bercengkrama dan memeriksa keadaan pengawalnya, termasuk yang ada di markas besar mereka, Dion serta Dragon kembali ke istananya dan istirahat di sana
Keesokan harinya, para avatar Dragon kembali menjalankan tugasnya. Salah satunya pergi ke kampus yang berada di ibukota, dan di sana dia mengambil prodi hukum dan perundang undangan
Saat itu dosen yang masuk adalah dosen dari luar negeri, yang hanya bisa berbahasa Belanda dan sedikit kosakata Indonesia yang dia punya
Karena dia dosen baru, walau sudah bergelar profesor. Tapi belum bisa berbahasa Indonesia, maka mau tidak mau dia menggunakan penterjemah untuk menyampaikan materi ajarnya
Hanya beberapa orang mahasiswa yang mahir berbahasa Belanda, dan bisa memahami apa yang ia ucapkan. Itupun mahasiswa yang berasal dari negara tersebut
Namun ada satu hal yang menarik, yaitu Dragon. Dia tidak butuh alat penterjemah, hingga membuat petugasnya marah. Hal itu juga diketahui oleh Carolus Diederik. Dosen mata kuliah hukum dan perundang undangan di yang mengajar saat itu
Dia heran. Kenapa ada seorang mahasiswanya yang tidak mau menggunakan alat penterjemah? Apakah dia menguasai bahasa Belanda hingga tidak membutuhkan alat itu?. Jika memang demikian, tentu dia bukan mahasiswa biasa.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Carolus Diederik menghampiri Dragon dan ingin mengujinya. "Wat is je naam?" Tanya dosen tersebut dengan suara yang dibuat sewibawa dan setegas mungkin
"Mahesa!" Jawab Dragon singkat
__ADS_1
"Ik Wil ke volledige naam weten." Tanya dosen itu lagi
"Dragon Mahesa Birawa. eerst semester rechtenstudent die Van niets weet." Jawab Dragon cukup lancar
"Kom je niet uit dit land Maar uit Nederland?" Tanya Carolus penasaran
"Ik Ben een geboran indonesier. Geboran in indonesie, en sterven voor Indonesie!" Jawab Dragon mantap, berjiwa nasionalis dan tidak takut diintimidasi
"Oke, welkom in mijn klas. Het spijt me dat ik aan je twijfekde."
"Geen probleem. Ga alsjeblieft verder met je werk." Jawab Dragon cukup sopan
Kira kira kalau di terjemahkan beginilah artinya.
"Siapa nama mu?"
"Mahesa!"
"Aku ingin tahu nama lengkap mu!"
"Dragon Mahesa Birawa. Mahasiswa semester satu yang ingin belajar hukum dengan anda."
"Apakah kamu bukan berasal dari negara ini, tapi dari Belanda?"
"Saya asli Indonesia. Lahir di Indonesia, dan mati pun untuk Indonesia!"
"Oke!. Selamat bergabung di kelasku. Maaf karena aku sudah meragukanmu."
"Tidak masalah!. Silakan lanjutkan tugas anda."
Jawaban Dragon yang tegas serta lancar tersebut, membuat kening profesor Carolus Diederik berkerut dalam
Dia tidak menyangka akan menemukan momen yang tegang seperti itu, di mana seorang mahasiswa yang untuk pertama kalinya selama debutnya mengajar hukum di banyak universitas, tidak bisa diintimidasi sama sekali
Biasanya mahasiswa yang ditanya seperti itu pasti akan gelagapan, dan hilang semua konsentrasinya. Tapi Dragon tidak
Peristiwa tersebut tentu saja membuat profesor kawakan dalam bidang hukum menjadi keheranan. Kemudian membatin dalam hati. "Ternyata di negara ini ada juga orang yang masih fasih berbahasa Belanda."
"Aku kira setelah puluhan tahun, mereka sudah lupa dengan bahasa negara ku."
"Ternyata masih ada yang melestarikannya."
"Jadi aku harus hati hati mengajar di kelas ini. Nampaknya anak itu bukan orang sembarangan."
"Sikapnya tegas dan tidak mudah untuk diintimidasi." Batin profesor Carolus dalam hati
"Mau main main dengan ku ya?. Kau kira aku tidak tau apa yang kau katakan dalam hati itu profesor?"
"Sayang nya aku sedang tidak ingin bermain main. Kalau tidak kau sudah aku permalukan di depan umum, karena sudah bersikap arogan di kelas ini."
__ADS_1
"Mau mengajar di Indonesia harus bisa bahasa Indonesia. Bukan seperti ini!" Ucap Dragon dalam hati juga
Kemudian tekun mendengarkan apa yang disampaikan oleh Carolus itu, sampai waktu perkuliahan di kampus ini habis, karena hari sudah menjelang siang, dan waktunya untuk pulang