
"Sialan!. Sepertinya bocah ini mulai mencurigai ku?"
"Jika rencana ku ketahuan, alamat hidup ku akan segera berakhir."
"Adeline yang terlihat lemah itu sebenarnya adalah singa betina yang sangat kuat."
"Aku tidak boleh gegabah dalam bertindak. Untuk sementara lamarannya akan aku terima. Tapi di suatu saat nanti aku akan memutuskannya!" Batin Benyamin dalam hati dan tersenyum penuh kemenangan
"Ayah!. Laki laki brengsek di depanku ini punya rahasia besar, yang selama ini dia sembunyikan dari Clara dan ibunya "
"Sepertinya dia akan menipu kita dengan berpura pura menerima lamaran Dragon atas Clara."
"Tapi dimasa yang akan datang, dia berniat akan menghancurkannya." Ucap Dragon melalui tranmisi suara pada ayahnya
"Benarkah?. Coba kau cari tau apa yang direncanakan olehnya itu, agar kita bisa memberitahu Adeline tentang rencana tersebut, supaya cepat diantisipasi." Jawab Dion melalui transmisi suara juga
"Baik ayah!. Draco akan mulai mencari tahu dan terus memantaunya." Respon Dragon cukup cepat
Kemudian menaikkan level aura kesadarannya untuk memantau apa yang akan diperbuat serta diucapkan oleh Benyamin, termasuk apa yang direncanakan dalam hatinya
"Oh maaf!. Dari tadi kita hanya berdiri saja. Mari silakan masuk, kita bicara di dalam saja." Ucap Benyamin memecahkan kekakuan di antara mereka
Adeline yang melihat itu menjadi penasaran. Ada apa dengan sikap suaminya tersebut. Padahal selama ini dia baik-baik saja. Mungkinkah ada sesuatu yang dia sembunyikan?" Batin Adeline dalam hati
"Ya anda benar!. Suami mu itu memang mempunyai suatu rahasia besar. dan itu akan segera terbongkar."
"Aku jamin!. Sebentar lagi rahasia itu akan dikatakannya sendiri pada mu nyonya Adeline!" Jawab Dragon juga dalam hati, tapi tidak diteruskannya pada Adeline
Tak lama kemudian, mereka pun sudah berada di dalam rumah, dan segera dipersilakan untuk duduk di ruang tamu yang cukup luas tersebut
Namun saat memasuki ruangan itu, Dion seperti merasakan ada sesuatu yang ingin menghalanginya. Dragon juga demikian. Dia malah bisa melihat apa yang sesuatu itu
Ternyata Benyamin selama ini telah memelihara makhluk tak kasat mata, berjenis siluman buaya, yang ditempatkan pada sebuah lukisan pemandangan, yang berada di dinding putih abu abu itu.
Buaya tersebut terus menatap kearah mereka, terutama pada Dragon. Tapi Dragon pura pura tidak melihatnya.
Secara diam diam Dragon memanggil Rambaya dan anak buahnya untuk datang menghadap. Begitu mereka sampai langsung memberi hormat pada tuannya.
"Kalian lihat mahluk yang ada di dalam lukisan itu?"
"Tangkap dan bawa ke suatu tempat, serta tanyakan dari mana dia berasal."
"Jangan lupa bawa juga keluarganya, karena aku lihat mereka berjumlah banyak." Ucap Dragon memberi arahan
"Siap yang mulia !" Jawab Rambaya patuh. Kemudian menghilang dan memasuki lukisan itu dengan mudah
"Siapa kalian?. Kenapa memasuki dunia ku?"
"Tidakkah kau tau bahwa ini adalah Taman Larangan?" Ucap siluman buaya marah
"Hah!. Taman larangan macam apa ini?.Isinya cuma buaya buaya busuk saja!"
"Justru aku yang harus bertanya, kenapa kalian bisa ada di dalam lukisan ini.?"
"Apakah ada sesuatu yang kalian rencanakan bersama dengan manusia busuk itu?" Jawab dan tanya Rambaya tidak senang
"Ini bukan urusan mu!. Jadi cepat pergi dari sini kalau tidak mau kami celakai!" Respon Rukbaya, raja siluman buaya itu dengan ekspresi tidak senang juga.
"Hahahaha!. Lucu, sungguh lucu!. Siluman lemah seperti kalian mencoba menakuti ku!"
"Apakah kau tidak tahu siapa kami dan dari mana kami berasal?" Respon Rambaya merasa tertantang
"Aku tidak peduli siapa kalian!. dan tidak mau tahu dari mana kalian berasal!"
__ADS_1
"Yang jelas kalian berjenis siluman juga, tapi siluman lemah dan busuk, karena mau diperintah oleh manusia memalukan seperti diluar itu!"
"Kalau kalian tidak percaya akan aku buktikan!. dan lihat bagaimana aku akan memberi pelajaran pada tuan mu itu!" Jawab Rukbaya dengan ekspresi merendahkan
Tak lama kemudian dia muncul didepan Dragon, dan berusaha menarik tubuhnya agar masuk ke dalam lukisan.Tapi belum juga kesampaian, tubuhnya sudah terpental dan muntah darah di lantai, sampai melewati pembatas ruangan tersebut
Dion, Ivory, Adeline dan Clara tidak bisa melihat itu. Tapi Benyamin bisa. Namun Dragon pura pura tidak melihatnya. Dia malah asyik berbicara dengan Dion juga yang lain agar Benyamin tidak curiga
Menyadari itu, Benyamin pura pura meminta izin untuk melakukan sesuatu, padahal ia ingin menghampiri Rukbaya dan menanyakan ada masalah apa, dan ternyata usahanya berhasil
Begitu ia menghampiri Rukbaya, Benyamin pun langsung bertanya. "Kenapa kau keluar dan kenapa pula kau menghampiri bocah itu?"
"Apakah kau berniat mencelakainya?" Tanya Rukbaya melalui suara hatinya
"Maaf tuan!. Aku sedang bertaruh dengan seseorang yang sekarang sedang berada di dalam lukisan itu."
"Mereka berjumlah belasan orang, dan terdiri dari jenis siluman juga."
"Nampaknya orang orang tersebut adalah manusia suruhan dari calon menantu tuan itu, yang kekuatannya tidak bisa aku rasakan."
"Tapi saat aku ingin mendekatinya, tubuhku sendiri yang malah terpental dan terluka."
"Namun aku tidak tahu yang mana satu diantara mereka yang mempunyai kekuatan tersembunyi tersebut." Jawab Rukbaya apa adanya
"Aneh!. Kalaupun salah satu di antara mereka mempunyai kekuatan, tentu aura kesadaran ku mampu mendeteksinya. Tapi ini tidak?"
"Mereka sama sekali tidak mempunyai kekuatan. Itu terbukti dengan aura kesadaran ku yang tidak bisa merasakannya. Mungkin kau yang mengarang cerita saja Rukbaya!" Respon Benyamin meragukan
"Benar tuan Benyamin!. Aku tidak berbohong. Kekuatan tersembunyi orang tersebut sangat kuat sekali."
"Jika seluruh kekuatan siluman bergabung, aku tidak yakin kita bisa mengalahkannya."
"Kalau tuan kurang percaya silakan uji saja. Gunakan mata batin tuan untuk mendeteksi, apakah ada sesuatu di tubuh mereka?" Jawab Rukbaya memberi saran
"Tak perlu kau ingatkan!. Aku sudah menguji mereka. Tidak ada satupun yang mempunyai aura kekuatan, kecuali anak sambung kurang ajar ku itu!"
"Dia tidak tahu bahwa tujuanku menikahi ibunya adalah untuk mendapatkannya. Tapi setelah besar dia malah mengabaikan ku, dan tidak memperdulikan perasaanku!"
"Dengar kau Rukbaya. Aku memelihara mu karena ingin tetap abadi. Apabila aku mendapatkan darah perawan nya, maka tubuhku akan tetap awet muda, dan kalian akan bisa menjelma menjadi manusia."
"Tapi entah bagaimana, setiap ingin mendekatinya, tubuhku sendiri dibuat tidak berdaya, dan dibuat terpental serta tidak mampu melakukannya."
"Sebelum dia berangkat ke Indonesia, sudah puluhan kali aku mencoba untuk memilikinya, tapi selalu tidak berhasil."
"Entah kekuatan apa yang melindungi tubuhnya itu. Sedang mata batinku tidak bisa melihatnya."
"Sekarang datang pula seorang pemuda yang ingin melamarnya. Jika aku menolak, tentu Adeline sebagai ibu kandungnya akan marah, Clara apalagi."
"Tapi jika aku menerimanya, maka kesempatanku akan buyar." Ucap Benyamin berterus terang
"Bukankah masih ada gadis-gadis lain tuan?. Kenapa tuan malah memilih dia?" Tanya Rukbaya keheranan
"Yang lain memang banyak. Tapi beda dengan si Clara itu. Darahnya sangat murni, dan aku bisa melihat sewaktu dia masih kecil."
"Kekuatan darahnya tidak biasa. Apabila aku bisa melakukan jurus ganda dengannya. maka kekuatanku, kesempurnaan tubuhku, dan hidupku akan semakin panjang, bahkan jika sudah melakukan berkali-kali, maka aku akan terlihat awet muda, dan tidak akan pernah tua seperti ini!" Jawab Benjamin apa adanya
"Lalu apa yang harus aku lakukan tuan?. Apakah aku harus merasuk di tubuhnya?" Tanya Rukbaya ingin tahu
"Aku saja tidak mampu apalagi kau?. Kekuatan yang ada di dalam tubuhnya itu bukan kekuatan sembarangan!"
"Saat satu kekuatan ingin mencelakainya, maka kekuatan itu akan mengenai diri sendiri."
"Aku bisa merasakan itu saat waktu Clara masih kecil. Saat itu kami bertiga pergi ke Indonesia, Aku ingat pemuda itulah yang sudah menyembuhkan nya."
__ADS_1
"Namun saat itu aku tidak bisa merasakan, kalau dia mempunyai kekuatan. Cuma mulutnya saja yang komat kamit seperti orang yang sedang membaca mantra."
"Namun entah mengapa sifat Clara berubah 180 derajat. Tidak ada lagi dendam, dan tidak lagi berkeinginan untuk menghabisi pemuda tersebut juga keluarganya. Padahal aku yang terus memanas-manasi agar dia membalas dendam."
"Tapi sejak saat dia diobati itu, sikapnya langsung berubah, bahkan berbalik mencintainya!" Jawab Benyamin apa adanya
Termenung sejenak lalu melirik ke arah Dion dan keluarganya. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Beruntung tempat jatuhnya Rukbaya itu terlindung lemari besar, yang menjadi pembatas antar ruang tamu dan ruang keluarga. Jadi mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Benyamin dan peliharaannya itu
Tapi Dragon tahu dan mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan oleh mereka. Apalagi saat Rukbaya berkata. "Lalu bagaimana selanjutnya tuan?. Kekuatan ku sudah hilang akibat ingin mendekati pemuda itu, dan tenagaku semakin lama semakin melemah. Aku sudah tidak bisa bangkit lagi tuan." Ucap dan tanya Rukbaya meminta masukan
"Untuk sementara kau kembali ke dalam lukisan itu, dan katakan kepada siluman yang ada di sana agar tidak mengganggu mu!" Jawab Benyamin memberi saran
"Kau tidak perlu kembali ke dalam lukisan itu Rukbaya, karena seluruh anak buah mu serta duniamu sudah sudah aku taklukkan."
"Bahkan mereka sudah dibuat tidak berdaya."
"Sekarang tinggal menangkap mu dan menghadapkannya pada yang mulia." Ucap Rambaya mengingatkan. lalu menatap mata Rukbaya dengan tatapan tajam
"Kau sedang berbicara pada siapa Rukbaya?. Kenapa kau ketakutan seperti itu?" Tanya Benyamin merasa penasaran
"Tidak ada tuan raja!. Aku hanya merasa lemah saja. Lagipula tenaga ku sudah habis, jadi aku merasa mengantuk." Jawab Rukbaya mengarang cerita
Padahal dia diancam oleh Rambaya dengan tatapan mematikan. Jika dia berani membocorkan rahasia, maka habislah dia
Setelah itu Rukbaya tertidur, dan sudah tidak bisa lagi berbuat apa apa. Benyamin yang melihat itu hanya diam saja, karena dia tidak punya kemampuan untuk mengobati anak buahnya
Tak lama kemudian dia keluar dari tempat itu, dan berpura pura baru habis dari kamar mandi
"Bagaimana perundingannya. apakah sudah bisa dimulai?" Tanya Benyamin mencoba bersikap biasa
"Terlambat!. Lamaran sudah pun selesai. Kau hanya tinggal memberi selamat pada Clara saja, karena dia sudah menerima lamaran itu." Jawab Adeline apa adanya
"Kenapa tidak menungguku?. Dianggap apa aku ini?" Respon Benyamin tidak suka dan seperti terlepas kata
"Sekarang aku yang harus bertanya, dari mana saja kau selama ini?"
"Kenapa begitu lama ke kamar mandi? Apakah ada sesuatu yang kau kerjakan di sana?" Jawab Adeline melupakan situasi
"Aku sedang sakit perut, jadi agak lama di sana!" Jawab Benyamin bersandiwara
"Ah alasan!. Pasti kau sedang kesal karena Clara dilamar oleh pemuda ini!"
"Bilang saja kalau kau tidak suka!" Respon Adeline sudah lupa daratan
"Mama!. Apa yang kalian berdua lakukan?. Apakah tidak malu dengan tamu yang sudah datang?" Tanya Clara tidak enak hati
"Maaf! apa sebenarnya masalah kalian. Kenapa tiba tiba meledak begini?"Respon Dion keheranan
"Maaf calon besan!. jika terjadi situasi ini."
"Sejujurnya suami ku ini tidak senang kalau Clara menikah dengan anak anda."
"Jadi saat tau bahwa lamarannya sudah di terima, dia jadi marah hingga terjadi hal yang tidak diinginkan." Jawab Adeline berterus terang
"Dragon!. Sebenarnya ada apa ini?. Kau bilang mereka berdua baik-baik saja, tapi kenapa bisa terjadi peristiwa yang seperti ini?. Apakah kau berbohong pada ayah?" Tanya Dion melalui transmisi suara pada anaknya
"Tidak ayah!. Draco sudah tahu alasannya kenapa ayah sambung Clara bisa marah seperti itu."
"Sebenarnya dia menginginkan agar Clara itu menjadi istrinya atau katakanlah sebagai sarana untuk dia menjadi abadi."
"Menjadi abadi?. Maksudmu bagaimana?. coba jelaskan!" Tanya Dion penasaran
"Panjang ceritanya ayah. Tapi yang jelas orang yang bernama Benyamin ini bukan orang baik. Dia sudah bekerja sama dengan siluman yang sudah anak buah Dragon tundukkan itu."
__ADS_1
"Karena kesempatan yang sudah hilang maka dia menjadi marah."
"Tapi agar ayah dan yang lainnya tidak penasaran, Draco akan menunjukkan siapa dia sebenarnya!" Jawab Dragon menjelaskan. Kemudian merilis teknik dari kitab Wahyu Taqwa, agar jati diri Benyamin terbuka di depan mereka