
Pukul tiga dini hari lewat saat Nita masuk ke dalam mobil. Sisa-sisa kemeriahan dari pesta kemenangan yang agensinya adakan masih melekat ditubuh. Asistennya sudah teler di bangku belakang, membuat seisi mobil penuh dengan bau alkohol yang menyengat.
“Mira teler?” tanya manajernya, menutup pintu lalu memasang sabuk pengaman.
Nita melirik sinis. “Besok siang aku masih ada jadwal. Kalau dia teler begitu, yang nyiapin keperluanku siapa?” ujar Nita ketus, bersamaan dengan suara mesin mobil yang dinyalakan.
Satu-satunya alasan Nita menolak untuk minum adalah karena jadwalnya sangat padat sampai akhir bulan, sementara dia harus menyelesaikan semuanya tepat waktu atau rencananya untuk berlibur bersama Zain akan gagal. Saat ini tidak ada kesenangan yang lebih menarik daripada karir dan putranya.
“Tenang aja, nanti aku yang atur.” Manajer Nita menyerahkan dua piala emas dengan hati-hati.
Nita mengulurkan tangan, menerima piala itu dengan kedua tangannya. Salah satunya bertuliskan ‘Aktris Pendatang Baru Terbaik’, sementara satunya bertuliskan ‘Pemeran Utama Terbaik’. Piala Citra dari ajang penghargaan bergengsi tahunan tanah air yang hanya menominasikan deretan nama pekerja seni terbaik di bidangnya berhasil ia bawa. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
“Aku masih nggak percaya kalau kamu berhasil memenangkan dua kategori sekaligus.”
Nita menaikan wajah, menatap Heru—manajernya, yang tengah mengotak-atik ponsel di kursi samping supir. “Abang benar, aku juga masih nggak percaya,” katanya melirik lagi piala di tangan.
“Dengan keberhasilan kamu ini, aku yakin mereka yang memandang kamu sebelah mata pasti akan berbalik untuk jadi penjilat.”
Nita tidak tertarik untuk menanggapi. Sambil menaruh piala di kursi samping, Nita membuang wajah ke luar jendela. “Akhir pekan nanti tolong pesan tiket kayak biasanya, Bang.”
Heru melirik dari balik bahu. “Manajemen meminta agar kamu mengurangi intensitas bertemu Zain. Pak Bram dan Bu Siska juga minta kamu buat nggak membeberkan fakta kalau kamu pernah menikah dan punya anak.”
“Kenapa aku harus menutupinya?” tanya Nita tidak senang.
__ADS_1
Dia baru saja merasakan kedekatan dengan Zain setelah sekian lama anak itu terus menganggapnya orang asing. Bahkan baru dua kali Nita berhasil mengajak Zain bermain walau tetap harus ditemani Alvin. Jadi sudah pasti dia keberatan dengan keputusan sepihak yang manajemennya lakukan.
“Apa kamu mau bernasib sama seperti Lina?” Heru menghembuskan napas berat sambil menyandarkan punggung jok mobil. “Posisi kamu sekarang ini karena dia yang kesandung masalah pernikahan dan penelantaran anak. Masa kamu mau mengikuti skandal yang dia hadapi.”
“Tapi aku dan Lina itu beda, Bang. Aku nggak jadi istri siapapun saat ini, apalagi jadi seimpanan orang.”
“Pokoknya kamu turuti permintaan Pak Bram dan Bu Siska. Ini juga demi kebaikan kamu, Nit. Masa depan kamu juga.” Heru memejamkan mata dan memasang earphone. “Jangan sampai kamu jadi bulan-bulanan netizen +62, paham?”
Nita menggertakan gigi sambil membuang muka. Lina adalah aktris yang sebelumnya mengambil peran yang Nita mainkan dalam film Berujung Rindu. Film yang mengantarkannya sebagai pemenang dari dua piala Citra malam ini.
Harus Nita akui jika jalan kesuksesan yang baru terbuka ini karena jatuhnya karir seseorang. Tentu saja dia tidak ada urusannya dengan scandal yang tengah Lina hadapi, menjadi simpanan bahkan sampai memiliki seorang anak di luar nikah. Hasil kumpul kebo, begitu yang banyak orang gosipkan.
Dan jika dia harus menahan diri atas kebenaran tentang Zain apalagi sampai tidak bertemu putranya, Nita rasa dia belum tentu sanggup. Namun, kalau dia tidak mengikuti permintaan dua orang penting dalam manajemen, sudah pasti karirnya bisa terancam.
Beberapa tunawisma tertidur di bahu-bahu jalan, beralaskan lembar-lembar koran yang disusun, mungkin berharap bahwa dinginnya udara malam bisa teratasi oleh berita-berita panas yang disajikan jurnalis. Manik matanya tak sengaja tertuju pada seorang wanita dan dua anak—entah apa jenis kelaminnya karena potongan rambut yang seadanya, meringkuk di emperan toko sambil saling memeluk.
Untuk sesaat Nita merasa bersyukur bahwa dulu dia tidak membawa Zain bersamanya ke Jakarta. Mungkin jika dia nekat, maka ia dan Zain akan bernasib sama dengan wanita tunawisma itu.
“Walaupun pada akhirnya aku juga jadi ibu yang gagal karena menelantarkan Zain bersama almarhum mamak,” batin Nita bersamaan dengan napasnya yang dihembuskan perlahan.
Kemudian tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan ibu kota, Nita merogoh tas kecil asal Italia dan mengambil ponsel dari dalamnya. Fokusnya beralih pada layar datar enam inci. Dua pesan whatsapp berasal dari Safira yang belum dia buka sama sekali.
Selamat atas keberhasilannya
__ADS_1
Begitu bunyi satu pesan yang dikirim Safira sejak beberapa jam yang lalu. Sementara pesan lainnya berisi foto Zain yang sepertinya tengah mengerjakan tugas sekolah.
Makasih banyak. Salam buat Zain dan Alvin
Balas Nita lalu menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Sepertinya dia harus memikirkan permintaan pihak manajemennya dengan matang, karena biar bagaimapun hal ini juga akan berpengaruh pada Zain.
“Atau … sebaiknya aku coba bicara dengan Ashqar?” batin Nita.
.
.
.
✄................................................
Ada yang rindu aku?
Balik lagi dengan cerita Keluarga Cemara season 2. Seperti yang udah aku kasih tau di IG, cerita ini akan sedikit berbeda dari sebelumnya. Dimana nggak cuma masalah psikologi anak aja yang jadi poin, tapi juga romansa pasutri.
Jadi yang penasaran silahkan ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa untuk dukung cerita ini, yaaa…
ps. untuk yang pertama kali baru baca cerita ini, disarankan untuk baca seri pertamanya, Anak Suamiku.
__ADS_1