Gaung Rasa

Gaung Rasa
Ponsel


__ADS_3

Handoko mengernyitkan dahi, menatap ponsel dan wajah Rafa bergantian. “Nita? Ada masalah apa kamu dengan Nita?”


“Saya nggak ada masalah dengan dia, Pak Han. Tapi gosip tentang dia yang menjadi masalah saya.”


Handoko menggeleng. “Apa gosip itu mengenai kamu?”


“Bukan,” katanya, tersenyum tipis. “Tapi saudara ipar saya.”


Saat Rafa melirik ke arahnya, Ashqar mendadak gugup karena pandangan Handoko juga mengarah padanya. Tengkuknya meremang entah untuk alasan apa, tapi satu hal yang pasti, Rafa tak seremeh dugaannya.


“Apa ini pengaruh dari keluarga besar Sumarno? Atau memang ini adalah sisi lain Rafa?” batin Ashqar bersamaan dengan pertanyaan lain Handoko.


“Saya nggak paham, Dit. Coba kamu jelaskan sama saya.”


“Hal ini bermula dari sebuah artikel gosip mengenai masa lalu Nita kalau dia adalah seorang single parent, seorang janda dengan satu anak, dan hal itu berbeda dari citranya selama ini,” ucap Rafa memulai penjelasan. Dia menarik kembali ponsel miliknya. “Saya dan keluarga nggak ada masalah dengan itu, sekalipun dia memang nggak mau mengakui masa lalunya itu bukan apa-apa buat kami. Tapi setelahnya banyak sekali artikel-artikel yang beredar di dunia maya sampai infotainment, beberapa diantaranya sengaja dibuat oleh manajemen bapak. Bahkan ada staff yang memberikan keterangan yang menyudutkan keluarga kami.”


Handoko menatap Rafa lamat, seakan baru menerima kabar mengejutkan. “Saya benar-benar nggak tahu menahu tentang masalah ini. Zul! Zul!” serunya. Tak lama seorang pria berkulit kuning, kira-kira seusia Rafa, berjalan cepat menghampiri Handoko.

__ADS_1


“Ada apa, Pak?”


“Telfon Bram, kasih tahu kalau saya mau bertemu siang nanti.”


“Maaf, Pak Han,” sela Rafa. “Tapi bukan itu bantuan yang saya inginkan.”


✿✿✿


Bibir tipisnya terus berkomat-kamit, lirih dan tajam. Sedangkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Dia sudah menyibak setiap jengkal tempat tidur, memeriksa laci dan lemari bahkan kloset hanya untuk menemukan ponsel miliknya. Namun sayangnya, ia tak menemukan benda pipih itu.


Safira menggeram dan mengacak rambut. “Dimana sih, aku naroh HP! Masa ilang di kamar sendiri.”


Safira mengangkat wajah sambil menghela napas dalam. Dihadapannya berdiri seorang perempuan yang tak lagi hanya memikirkan diri sendiri, dia seorang istri, seorang ibu, bahkan anak dan adik. Saat ini ia sudah memiliki keluarga yang seutuhnya.


“Hinaan dan cemoohan udah banyak aku terima, ini jelas nggak seberapa.” Safira menepuk kedua pipinya lalu sorot matanya seketika dipenuhi tekad. “Semangat, Fir!”


Saat seseorang sudah pernah berada dititik terendah dalam hidupnya maka ujian lainnya tidaklah seberapa. Rasa sakit seperti kawan lama yang rindu bersua, tapi seharusnya itu tak berlangsung lama. Begitu pula yang Safira yakini.

__ADS_1


Wanita pertengahan dua puluhan itu memaksa diri untuk bangun dan menghadapi kenyataan sekali lagi. Bedanya ia tak lagi bisa begitu impulsif dan seenaknya sendiri, ada orang-orang yang saat ini menjadi alasan terbesar untuk hidup lebih baik. Keluarganya, suami, ketiga anak dan calon bayinya yang datang tanpa diduga. Menyadari itu membuat senyum tipis mekar diwajah ayunya.


“Sehat terus ya, Nak. Berjuang sama mamah, ya,” bisiknya sembari mengusap perut.


Kemudian, dengan langkah yang lebih ringan, Safira membawa tubuh kembali ke kamar. Dan begitu netra coklatnya menangkap visual Harsha yang bergumul dengan selimut, ia tak kuasa menahan diri untuk bergabung.


Safira mengulurkan tangan, melepaskan Harsha dari jerat selimut lalu mengangkat tubuh gempal putrinya tinggi-tinggi hingga bayi mungil itu menjerit kegirangan. Suara renyah Harsha mengundang Safira untuk berbuat jahil dengan menggosokan wajahnya ke perut buncit si putri bungsu. Gelak tawa keduanya seketika memenuhi ruangan.


Namun, hal itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja Safira merasa sulit mengatur napas dan menjadi gelisah. Dia familiar dengan perasaan ini, serangan paniknya datang disaat tak tepat, saat ia tengah membawa Harsha dalam gendongan. Dalam keadaan yang ia coba kendalikan, Safira mundur perlahan hingga menabrak dinding dan menarik Harsha kedalam dekapan erat.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Maaf karna nggak update dalam beberapa hari. But, I'm back now! Konsisten itu nggak mudah dan aku harus bener-bener narik diri buat terus nulis, terus lanjutin cerita tanpa boleh nyerah.


Thanks a lot buat semua yang setia nunggu cerita ini update. See u soon~


__ADS_2